NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 23

Ruang kepala sekolah berada di lantai dua, ujung koridor paling kanan. Pintunya terbuka, dan dari dalam terdengar suara radio tua memutar lagu-lagu Mandarin jadul. Seorang wanita berusia sekitar lima puluh tahun duduk di balik meja kayu besar, berkaca mata baca yang melorot ke ujung hidung, rambutnya hanya sepangkal leher.

Ketuk. Ketuk.

“Bu Kepala,” Chen Hao mengetuk pintu yang sudah terbuka. “Ini Xiao Han, calon asisten pelatih yang aku bilang.”

Wanita itu menaikkan kaca matanya, irisnya menilik Xiao Han dari ujung rambut hingga ujung tongkat di tangannya.

“Duduk,” katanya singkat.

Xiao Han duduk di kursi kayu yang keras. Chen Hao berdiri di samping pintu, tidak ikut duduk. Sedangkan Kepala sekolah meletakkan penanya, menilai Xiao Han dengan mata yang tidak bisa ia baca.

“Coach Chen bilang kau mantan pemain Hangzhou No. 9. Finalis turnamen nasional. Cedera parah di semifinal, dan tidak bisa bermain lagi.” Suaranya datar, seperti membaca daftar belanja. “Benar?”

“Benar, Bu.”

“Kau baru lulus SMA.”

“Benar.”

“Kau belum punya lisensi pelatih?”

“Belum, Bu. Tapi aku berencana mengurus lisensi D dari CFA jika memungkinkan.”

Kepala sekolah menyandarkan punggung ke kursi. Matanya menyipit. “Jujur, Xiao Han. Sekolah ini tidak punya anggaran besar untuk tim sepak bola. Tim junior kami hanya lima orang sekarang. Tidak pernah juara apa pun dalam tiga tahun terakhir.”

Xiao Han, mendengarkan itu, tiga tahun terakhir, itu ketika dirinya lulus dari Hangzhou Xuejun Middle School, dan memasuki Hangzhou no. 9 Highschool.

“Sepak bola hanya dijadikan ekskul biasa di sekolah ini tanpa gebrakan dan ambisi yang pasti. Kenapa kau mau datang ke sini? Sedangkan sepak bola saja sudah tidak hidup lagi,” lanjut kepala sekolah.

Xiao Han menarik napas. Lorong imajinya melompat ke ruang tanpa suara, ia membayangkan Shen Yuexi yang mencari informasi Hangzhou Xuejun, datang ke sekolah, berbicara dengan Chen Hao seorang diri, mengatur semuanya tanpa ia ketahui. Ia membayangkan ibunya yang menentang, Pak Guan Tian yang menolak, dan kaki yang masih sakit setiap kali ia berdiri terlalu lama.

Tapi yang ia ingat paling jelas adalah Wei Ying di halte bus, bocah dua belas tahun dengan jersey Zhejiang kebesaran, yang berkata. Aku ingin sekolah di sana sebagai pesepak bola, bukan hanya sebagai penggemar sepak bola.

“Karena,” kata Xiao Han. “Aku tidak ingin ada anak yang kehilangan mimpi hanya karena tidak ada yang membimbing mereka.”

Kepala sekolah hanya mendelik diam. Chen Hao yang sejak tadi senyap, mengangkat alisnya.

“Aku tahu tim ini kecil,” lanjut Xiao Han. “Aku tahu tidak ada yang menjanjikan. Tapi aku pernah jadi anak-anak itu. Aku pernah punya mimpi yang tidak didukung siapa pun kecuali satu orang. Dan aku ...” ia menunduk sebentar, lalu menatap kepala sekolah dengan mata yang binar tidak berkedip. “Aku ingin menjadi orang yang mendukung mereka.”

Radio tua di sudut ruangan terus memutar lagu. Kepala sekolah mengambil pena, menulis sesuatu di atas secarik kertas putih.

“Coach Chen,” katanya hanya melirik lembar. “Menurutmu?”

Coach Chen Hao menarik udara halus. “Aku punya satu bulan untuk menilainya.”

Kepala sekolah mengangguk. Ia melipat kertas itu, lalu menyerahkannya ke Xiao Han. “Masa percobaan satu bulan. Coach Chen akan jadi mentormu dalam kurun waktu yang diberikan. Kalau dalam satu bulan tidak ada perkembangan, kontrak tidak akan kami perpanjang.”

Xiao Han menerima kertas itu. Tangannya sedikit gemetar.

“Satu hal lagi,” kepala sekolah menaikkan kaca mata lagi, matanya lebih serius. “Kau masih muda. Murid-murid kita di sini baru berusia dua belas sampai empat belas tahun. Mereka butuh contoh, bukan sekadar pelatih. Jaga sikapmu, aku mengawasimu.”

“Akan saya ingat, Bu.”

Kepala sekolah mengangguk sekali, lalu kembali ke berkas di depannya.

Interview pun selesai. Tak ada ucapan selamat, maupun senyuman. Namun, sebelum Chen Hao membukakan pintu. “Semoga beruntung, namaku Ya Lin,” Ibu Kepala Sekolah memperkenalkan namanya.

“Tentu, mohon kerja samanya,” jawab Xiao Han.

“Aku antar ke parkiran,” kata Chen Hao, pintu telah menganga.

Xiao Han lantas diantar kembali ke tempat di mana Shen Yuexi menunggu. Senyum tak redup dari bibirnya, tapi kepercayaan yang diberikan Kepala Sekolah jatuh seperti vonis hukuman mati, ada tekanan yang harus dirinya hadapi untuk benar-benar bisa bertahan hidup di masa-masa percobaan sepak bola Hangzhou Xuejun Middle School.

Hingga derap Chen Hao membawa Xiao Han ke parkiran, Kepala Pelatih hanya melambaikan tangan tanpa sepatah kata lalu pergi, calon asistennya? Hanya membungkuk setengah tubuh tanda mohon kerja samanya untuk satu bulan pembuktian ke depan.

Di luar, hujan sudah reda menjadi gerimis tipis. Shen Yuexi berdiri di samping mobil, payungnya tidak dibuka. Rambutnya basah, jaketnya kuyup di bagian bahu, tapi ia tersenyum begitu melihat Xiao Han keluar.

“Bagaimana?”

“Aku hanya khawatir, mereka akan mengenaliku sebagai alumni di sekolah ini.” Xiao Han mengangkat kertas yang digenggam. “Tapi sepertinya mereka tidak ingat.” Walau berbicara demikian, surat kontrak masa percobaan ia perlihatkan.

Shen Yuexi membaca sekilas, lalu tertawa kecil. “Selamat, Asisten Pelatih Xiao Han.”

“Hanya masa percobaan. Belum tentu jadi.”

“Tapi kau diterima.” Shen Yuexi membuka pintu mobil. “Ayo kita makan. Aku sudah janji traktir, kan?”

Mobil pun berjalan, meninggalkan kabar baik yang sudah ada dalam genggaman. Sesampainya di tempat tujuan, di restoran tempat Shen Yuexi akan mentraktir. Mobil di parkirkan, dan mereka melangkah masuk seperti sepasang kekasih yang tak bergandeng tangan.

Memilih meja yang sepi, duduk berdua di restoran kecil yang tak jauh dari SMP Hangzhou Xuejun. Shen Yuexi memesan semangkuk mie dan pangsit goreng. Xiao Han hanya minum teh jahe saja, tangannya masih gemetar karena adrenalin yang belum reda.

“Kau tadi bilang apa ke kepala sekolah?” tanya Shen Yuexi, menyedot mie dengan suara yang sengaja dibuat berisik.

Xiao Han tersenyum. “Bilang aku tidak mau anak-anak kehilangan mimpi.”

Shen Yuexi berhenti mengunyah. Matanya menetap di wajah Xiao Han, tak mampu berpaling, lalu ia tersenyum. Ekspresi hangat yang sama seperti saat ia membasuh lukanya di rumah sakit, sudut bibirnya hampir kepada—Aku percaya padamu, Han—Kala itu.

“Kau bilang itu?” suaranya lembut, seperti Shen Yuexi yang paling Xiao Han kenal, penuh penasaran tapi terdengar bukan seperti sebuah tanya yang dilayangkan.

“Iya.”

“Dulu, siapa yang mendukung mimpimu?”

Xiao Han menatapnya. Di luar jendela, gerimis mulai reda. “Kau,” katanya, senyum bangkit dengan tegar, tersimpan sesuatu yang sulit dirinya jelaskan secara harfiah, dari hatinya yang hangat, di sebalik tirai hujan yang tersulam sendu langitnya.

Di dalam restoran ber-AC. Shen Yuexi membisu, menunduk malu. Dirinya melanjutkan makan dengan senyum yang mustahil ia sembunyikan, mengabaikan rona merah di pipinya yang lahir jujur dari satu kata, bibir Xiao Han yang manis, terasa berbuah budi.

Tatkala waktu beranjak dengan lembut di nadi waktu, denyutnya beralun dalam dekapan yang tidak merangkul satu sama lain, hangatnya menguar dari dua insan saling bertukar senyum.

Hingga senja berkata di ufuk barat, sampai jumpa kepada dunia hari ini. Mereka pulang saat langit mulai lelah, namun hangatnya tidak ikut terbenam.

Shen Yuexi mengantar Xiao Han sampai depan pagar rumah, namun tidak mampir lebih dulu, baginya sudah cukup merasakan satu hari penuh dengan yang disukainya, tak perlu meminta lebih daripada ini.

“Han.”

“Hm?”

“Besok, atau lusa, aku mungkin sudah tidak bisa sering-sering begini. Urusan kuliah, persiapan berangkat, semua harus cepat.”

Xiao Han mengangguk. Ia sudah tahu.

“Tapi aku senang,” lanjut Shen Yuexi. “Sebelum aku pergi, kau sudah punya tempat untuk memulai.”

“Yue.”

“Iya?”

“Terima kasih. Untuk semuanya.”

Shen Yuexi tersenyum. “Sudah kubilang, aku tidak melakukan apa-apa. Kau sendiri yang memilih untuk bangkit.”

Ia menyalakan mesin mobil, melambatkan jendela, dan melambaikan tangan.

“Sampai jumpa, Asisten Pelatih Xiao Han.”

Mobil itu melaju perlahan, meninggalkan Xiao Han di depan pagar rumahnya. Di tangannya, surat kontrak masa percobaan masih tergenggam.

Ding.

[ Misi baru : Pertahankan posisi asisten pelatih selama 30 hari. ]

[ Hadiah: Akses skill baru/Exp signifikan — Tergantung pengembangan diri ]

Dia memerhatikan sistem yang muncul tersebut.

Ya, sistem ini bukan semata-mata alat bantuku saja, pikir Xiao Han. Aku harus berkembang, bukan hanya untuk hadiahnya, tapi ... untuk diriku sendiri juga.

[ Event Time : Jadikan Sepak Bola ekstrakurikuler yang diminati banyak siswa ]

[ Hadiah : 200 Exp ]

[ Catatan : Perjalanan dimulai. ]

Xiao Han memasukkan surat itu ke dalam saku, melangkah masuk ke rumah.

Di dapur, ibunya masih memasak. Aroma tumis bawang dan kecap memenuhi ruang tamu. Tidak ada yang bertanya bagaimana hasil interview. Tidak ada senyum, tidak ada pelukan.

Tapi di meja makan, ada semangkuk sup ayam hangat dengan porsi lebih banyak dari biasanya.

Xiao Han duduk, mengambil sendok, dan mulai makan. Dari kejauhan, ponselnya bergetar. Pesan dari Shen Yuexi.

| Besok jangan lupa pakai jaket. Masih hujan |

Ia membalas dengan stiker kelinci tersenyum.

Hari-hari pun berganti, dengan satu kenangan yang terukir di hati. Shen Yuexi, dialah rembulan yang hadir di balik gulitanya malam, sinar yang benderang tanpa syarat berbintang.

Tiga hari kemudian, Xiao Han berdiri di depan gerbang SMP Hangzhou Xuejun untuk pertama kalinya, ransel berisi buku catatan dan surat kontrak, tanpa Shen Yuexi di sisinya.

Tapi ia membawa semua yang ia perlukan, ingatan tentang hari di sebalik tirai hujan yang tersulam sendunya langit, tentang senyum di restoran kecil, tentang sup ayam hangat di meja makan, dan tentang janji yang belum ia ucapkan.

Bahwa ia tidak akan sia-siakan kesempatan ini.

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!