Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 13 OMONGAN YANG DIPELIHARA
Siang itu rumah besar kembali ramai.
Bukan oleh tamu penting.
Tapi oleh suara perempuan-perempuan yang merasa paling tahu segalanya.
Gadis itu duduk di ruang tengah.
Buku di pangkuannya tidak terbaca.
Matanya kosong.
Tubuhnya masih lemah, tapi tidak ada pilihan selain bangun.
Langkah kaki terdengar.
Satu.
Dua.
Tiga.
Para bibi datang bersamaan.
Pakaiannya rapi.
Senyumnya siap.
Mulutnya… lebih siap lagi.
“Oh, sudah duduk,” kata salah satu bibi sambil melirik ujung mata.
“Kupikir masih manja di kamar.”
Gadis itu berdiri setengah.
“Maaf.”
“Duduk saja,” sahut bibi lain cepat.
“Nanti dibilang tidak tahu adat.”
Ia duduk kembali.
Bibi pertama menyilangkan kaki.
Menarik napas panjang—
napas orang yang akan berbicara lama.
“Begini ya,” katanya pelan,
“kami ini bukan mau jahat.”
Kalimat pembuka klasik.
“Kami cuma… prihatin.”
Ia menoleh ke bibi lain.
“Iya kan?”
“Iya,” sahut yang lain.
“Prihatin sekali.”
Bibi pertama kembali menatap gadis itu.
“Kamu itu sekarang sudah jadi istri orang.”
Ia menekankan kata istri.
“Bukan anak kecil yang bisa seenaknya.”
Ia mendekat sedikit.
“Cara dudukmu, cara bicaramu, cara kamu menarik napas pun—”
Ia berhenti, menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki.
“Kelihatan.”
Gadis itu menunduk.
Bibi kedua ikut masuk.
“Orang tidak perlu tanya asalmu, sudah ketahuan.”
Ia tertawa kecil.
“Bukan karena kami sombong.”
Ia menggeleng.
“Tapi kebiasaan itu susah disembunyikan.”
Bibi ketiga menyahut,
“Perempuan dari bawah itu memang begitu.”
Ia mengibaskan tangan.
“Bukan hinaan. Fakta.”
Mereka saling angguk.
Sepakat.
Gadis itu meremas ujung bajunya.
Tidak bicara.
Bibi pertama kembali memimpin.
“Kamu tahu tidak, dulu istri-istri di keluarga ini seperti apa?”
Ia tersenyum bangga.
“Dididik sejak kecil.”
Ia menunjuk lantai.
“Cara melangkah saja ada aturannya.”
Ia menatap gadis itu tajam.
“Bukan seperti kamu. Jalan saja masih ragu-ragu.”
Bibi kedua tertawa.
“Maklum.”
Ia mendekat.
“Orang yang hidupnya sering takut, jalannya memang begitu.”
Kata takut diucapkan santai.
Padahal itu isi hidup gadis itu.
Bibi ketiga menyeduh teh.
Lalu berkata panjang tanpa menoleh,
“Kami ini sudah kenyang melihat perempuan macam kamu.”
Ia menyeruput teh.
“Awalnya diam, kelihatan lugu.”
Ia meletakkan cangkir.
“Nanti pelan-pelan minta ini itu.”
Ia melirik cepat.
“Kamu jangan bilang kamu tidak seperti itu.”
Gadis itu menggeleng kecil.
“Saya tidak pernah—”
“Shh,” potong bibi pertama.
“Jangan membela diri.”
Ia tersenyum tipis.
“Perempuan pintar itu tahu kapan harus diam.”
Gadis itu terdiam kembali.
Bibi kedua mengangguk puas.
“Bagus.”
Ia mencondongkan badan.
“Kami hanya mengingatkan.”
Ia menarik napas panjang.
“Kamu itu numpang hidup.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tapi berat.
“Jangan sampai lupa,” lanjutnya.
“Kalau hari ini kamu ada di sini—”
Ia menunjuk lantai.
“Itu bukan karena kamu hebat.”
Ia tersenyum.
“Tapi karena kamu dibutuhkan.”
Bibi ketiga menambahkan,
“Dan barang yang dibutuhkan bisa diganti.”
Sunyi sejenak.
Lalu bibi pertama tertawa kecil.
“Kami ini sudah tua,” katanya.
“Tidak suka drama.”
Ia menatap gadis itu.
“Jadi jangan menangis, jangan sakit-sakitan, jangan membuat cucu kami repot.”
Ia berhenti.
“Dan yang paling penting—”
Ia mencondongkan wajah.
“Jangan bermimpi.”
Kalimat itu diucapkan pelan.
Seperti nasihat.
Seperti kutukan.
Gadis itu menahan napas.
Dadanya sakit.
Ia ingin pergi.
Tapi kakinya tidak bergerak.
Bibi kedua berdiri.
“Sudah cukup.”
Ia menepuk bahu gadis itu—
bukan lembut.
Bukan keras.
Tepat.
“Kami harap kamu mengerti posisi.”
Ia tersenyum.
“Kalau tidak… nanti sakitnya lebih panjang.”
Mereka berjalan pergi.
Suara langkahnya rapi.
Terlatih.
Gadis itu duduk sendiri.
Tangannya dingin.
Kepalanya berdengung.
Dari jauh, pemuda itu berdiri di koridor.
Ia mendengar.
Semua.
Tangannya mengepal.
Rahangnya mengeras.
Tapi kakinya…
belum melangkah.
Gadis itu menunduk lebih dalam.
Air matanya jatuh ke lantai marmer—
cepat diseka.
Di rumah itu,
omongan dipelihara seperti warisan.
Dan perempuan yang tidak pernah dipilih
harus belajar—
bahwa diam pun ada harganya.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid