NovelToon NovelToon
Batas Jarak Dan Baktimu

Batas Jarak Dan Baktimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:271
Nilai: 5
Nama Author: DearlyBoa

​Pertemuan mereka diawali oleh rintik hujan dan aspal basah di sebuah asrama militer. Aura Shenina, gadis kecil dengan imajinasi setinggi langit, harus merasakan perihnya luka demi sebuah tabrakan yang tak disengaja. Di sisi lain, Pradipta Arya, remaja laki-laki yang membawa beban nama besar sang ayah, terikat pada rasa bersalah yang perlahan menjelma menjadi sebuah janji penjagaan yang tak kasat mata.
​Waktu berlalu, membawa mereka ke dua dunia yang kontras. Nina meniti sunyi di atas panggung tari dengan gemulainya selendang, sementara Arya menantang maut di belantara hutan dengan senapan di pundak.
Pertemuan kembali di kota budaya, Yogyakarta, menyeret mereka ke dalam pusaran rasa yang lebih dewasa. Namun, saat rindu mulai menemukan muaranya, badai besar datang menghantam pilar terkuat dalam hidup Nina. Di tengah duka yang pekat, sebuah pundak hadir menawarkan perlindungan, namun sekaligus membawa bayang-bayang status sosial yang jurangnya begitu dalam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benang yang Kusut

​Menteng di sore hari tetaplah sama; megah, teduh, namun menyimpan rahasia di balik pagar-pagar tingginya. Di ruang keluarga rumah kediaman Letnan Jenderal Sudrajat, suasana terasa begitu mencekam. Ibu Lastri duduk dengan punggung tegak di kursi kebesarannya, namun gurat kekhawatiran dan amarah tak bisa disembunyikan dari wajahnya yang mulai termakan usia.

​Di hadapannya, Maura duduk bersimpuh sambil terisak. Dokter muda yang biasanya tampil penuh wibawa dengan jas putihnya itu kini tampak rapuh. Pertahanannya selama berbulan-bulan telah runtuh. Ia tidak bisa lagi menyimpan rapat-rapat borok rumah tangganya yang hambar.

​"Mami... Maura tidak tahu harus bagaimana lagi," isak Maura di sela tangisnya. "Mas Arya... dia seolah menganggap Maura tidak ada. Kami satu atap, tapi kami seperti orang asing. Jangankan nafkah batin, menatap mata Maura saja dia enggan."

​Ibu Lastri memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang berdenyut. "Apa benar yang kamu katakan, Maura? Sampai detik ini... belum terjadi apa-apa di antara kalian?"

​Maura mengangguk lemah, wajahnya memerah karena malu sekaligus sedih. "Mas Arya lebih memilih tidur di sofa atau menghabiskan waktu di kantor sampai subuh. Dia bilang... dia sudah memenuhi janji untuk menikahi Maura, dan itu sudah cukup baginya."

​Mendengar itu, Ibu Lastri merasakan dadanya kembali sesak. Amarahnya memuncak. Ia segera meraih telepon rumah dan menghubungi ajudan Arya. "Cari Kapten Arya. Suruh dia pulang ke rumah Papi sekarang juga. Tidak ada alasan tugas!"

*

​Satu jam kemudian, deru mesin mobil dinas Arya terdengar di halaman. Arya masuk ke dalam rumah dengan seragam yang masih melekat, tampak kusam dan wajah yang menyimpan keletihan luar biasa. Ia sudah bisa menebak apa yang terjadi saat melihat Maura duduk dengan mata sembab di samping maminya.

​"Duduk, Arya," perintah Mami dingin.

​Arya duduk di kursi tunggal, berseberangan dengan dua wanita itu. Ia tidak menunjukkan rasa takut, hanya tatapan datar yang kosong.

​"Apa yang Maura ceritakan itu benar?" tanya Mami tanpa basa-basi. "Kamu menelantarkan istrimu sendiri? Kamu tidak menyentuhnya sama sekali sejak malam pernikahan?"

​Arya menarik napas panjang, ia menyandarkan punggungnya. "Mami ingin Arya menikahi Maura, dan Arya sudah melakukannya. Arya sudah memboyongnya ke rumah dinas, memberikan akses pada semua fasilitas yang dia butuhkan, dan menjaga nama baiknya. Bukankah itu yang Mami inginkan? Sebuah status?"

​"Jangan kurang ajar, Arya!" bentak Mami sambil menggebrak meja. "Pernikahan bukan cuma soal status! Kamu punya kewajiban memberikan keturunan bagi keluarga ini! Apa kata kolega Papi kalau sampai tahun depan Maura belum juga hamil? Kamu mau mempermalukan Mami lagi?"

​Arya terkekeh sinis, sebuah suara yang terdengar sangat menyakitkan bagi siapa pun yang mendengarnya. "Keturunan? Mami ingin seorang anak lahir dari hubungan yang tanpa cinta? Mami ingin aku memaksakan diri meniduri wanita yang setiap kali kulihat, hanya mengingatkanku pada kehancuran jiwaku sendiri?"

​"Mas... tega sekali kamu bicara begitu di depan aku," potong Maura dengan suara serak.

​Arya menatap Maura, namun tidak dengan kebencian, melainkan dengan rasa iba yang dingin. "Maura, sejak awal aku sudah jujur padamu. Kamu yang memilih untuk tetap masuk ke dalam api ini. Jangan salahkan aku kalau kamu terbakar."

​Arya beralih kembali ke maminya. "Mami dengar baik-baik. Kewajibanku sebagai anak untuk berbakti dan mengikuti kemauan Mami soal pernikahan ini sudah tuntas. Aku tidak akan menceraikannya karena aku tahu itu akan merusak martabat Papi. Tapi jangan minta aku untuk menjadi suami yang sesungguhnya. Aku tidak bisa memberikan apa yang sudah mati di dalam sini. Jangan harap ada cucu, jangan harap ada kemesraan. Ini adalah harga yang harus Mami bayar karena telah menukar kebahagiaanku dengan ego kasta."

​Setelah mengucapkan kalimat itu, Arya berdiri dan memberi hormat singkat, lalu melangkah pergi mengabaikan teriakan histeris maminya yang kembali memanggil namanya. Di dalam mobil, Arya merosot di kursi kemudi. Ia merasa hancur, namun ada kepuasan pahit karena akhirnya ia bisa menyuarakan kebenarannya.

​***

​Sementara itu, di Amsterdam, kehidupan Nina mulai bergerak ke arah yang lebih berwarna. Kesuksesannya di panggung tari internasional membawanya ke lingkungan baru yang lebih prestisius. Suatu sore, setelah mengisi sebuah workshop di Amsterdam University of the Arts, Nina sedang merapikan tasnya ketika seorang pria menghampirinya.

​Pria itu bertubuh tinggi, dengan rambut cokelat gelap dan tatapan mata yang sangat cerdas. Namanya Julian van den Berg, seorang kurator seni dan arsitek panggung yang cukup ternama di Belanda.

​"Pertunjukan yang luar biasa tadi, Nina," ujar Julian dalam bahasa Inggris yang sangat fasih. Ia menyodorkan botol air mineral pada Nina. "Gerakanmu... ada bagian di mana kamu seolah sedang berbicara dengan bayangan. Sangat emosional."

​Nina menerima botol itu dengan senyum sopan. "Terima kasih, Julian. Tari memang caraku bicara."

​"Kalau begitu, maukah kamu bicara lebih banyak denganku? Bukan soal tari, tapi soal hal-hal lain di luar studio ini," Julian menatap Nina dengan ketertarikan yang tidak ditutup-tupi. Ia adalah pria yang jujur dan blak-blakan, tipikal orang Belanda pada umumnya.

​Nina sedikit tertegun. Ini adalah pertama kalinya ia merasa ada seorang pria yang menatapnya bukan hanya sebagai penari, tapi sebagai seorang wanita. Julian mulai sering muncul di sanggar, membawakan Nina kopi hangat atau sekadar menunggunya selesai latihan untuk berjalan pulang bersama menyusuri kanal.

​Julian tidak seperti Arya yang penuh dengan protokoler militer dan beban keluarga. Julian adalah pria yang bebas, menghargai seni, dan sangat suportif terhadap karier Nina.

​"Kamu terlalu sering bekerja, Nina," kata Julian suatu malam saat mereka duduk di sebuah bar kecil. "Hidup bukan cuma soal panggung. Ada keindahan lain yang harus kamu nikmati."

​"Aku hanya... takut kehilangan fokus, Julian," jawab Nina pelan.

​Julian meraih tangan Nina di atas meja, sebuah gerakan yang lembut namun penuh makna. "Kamu tidak akan kehilangan apa pun. Aku di sini bukan untuk menghambat langkahmu, tapi untuk menjadi tempatmu bersandar saat kakimu lelah menari."

​Nina menatap tangan Julian. Hangat. Namun, di dalam hatinya, masih ada sekerat memori tentang tangan yang kasar dan kokoh milik Arya. Nina segera menarik napas dalam, mencoba menghalau bayangan itu. Ia harus membuka diri. Ia harus memberi kesempatan pada Julian, atau setidaknya pada dirinya sendiri untuk merasakan kebahagiaan yang normal.

​*

​Malam itu, di apartemennya, ponsel Nina kembali bergetar.

​Arya: Nin, hari ini Mami memanggilku. Rumah ini terasa seperti neraka. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Aku merindukanmu, Nin. Benar-benar rindu.

​Nina membaca pesan itu, namun kali ini ia tidak merasakan sesak yang sehebat dulu. Di sampingnya, ada sebuah buket bunga tulip dari Julian dengan kartu kecil bertuliskan: "Terima kasih untuk tarian yang indah hari ini. Istirahatlah, Matahariku."

​Nina mematikan layar ponselnya. Ia tidak lagi ingin menjadi pelarian bagi Arya yang terjebak dalam pilihannya sendiri. Ia memilih untuk tidak merespon, membiarkan Arya berurusan dengan konsekuensi keputusannya di Jakarta.

​Sari masuk ke kamar Nina dan melihat bunga tulip itu. "Dari Julian?"

​Nina mengangguk.

​"Dia pria yang baik, Nin. Sangat berbeda dengan... yang di Jakarta," ujar Sari hati-hati.

​"Aku tahu, Sar. Aku sedang mencoba," jawab Nina pendek.

​Sari memeluk pundak Nina. "Baguslah. Kamu sudah terlalu lama menderita. Jika Julian bisa membuatmu tersenyum lagi, biarkan dia masuk. Kamu pantas mendapatkan cinta yang tidak mengharuskanmu menangis setiap malam."

​Nina tersenyum kecil. Di kejauhan, lonceng gereja di Amsterdam berbunyi, menandakan waktu istirahat bagi kota yang sibuk itu. Di Belanda, Nina mulai menemukan potongan-potongan dirinya yang sempat hilang. Ia mulai belajar bahwa hidup adalah tentang hari ini, bukan tentang janji masa kecil yang telah dikhianati atau restu yang tidak pernah turun.

​Namun, di Jakarta, di sebuah meja kantor yang gelap, Arya sedang menatap foto Nina di layar ponselnya, menyadari bahwa semakin ia mencoba meraih Nina, semakin jauh gadis itu terbang meninggalkannya. Ia adalah seorang pemenang di medan perang, namun ia adalah pecundang paling malang dalam urusan hati.

​Depresi Arya semakin dalam, menyelimutinya seperti kabut hitam yang pekat, sementara Nina mulai menatap fajar yang baru bersama Julian di negeri kincir angin.

1
falea sezi
kapok. jd cowok. kok. lemah ibumu. cm akting
falea sezi
ma emak nya aja kalah laki plin. plan pengecut makan itu karir
Erlina Candra
kereen karyanya Thor..semakin penasaran
Boa: Terima kasih banyak kak, semoga suka ya 🙏☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!