Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 14 KALAU MULUT SUDAH DIBUKA, JANGAN BERHARAP DIHENTIKAN
Sore itu ruang keluarga dipenuhi suara.
Bukan suara tawa.
Bukan juga obrolan ringan.
Tapi suara perempuan-perempuan yang sudah lama menyimpan pendapat—
dan hari itu memutuskan mengeluarkannya sekalian.
Gadis itu duduk di ujung sofa.
Punggungnya tegak.
Tangannya terlipat di pangkuan.
Wajahnya tenang—tenang yang dipelajari dari terlalu sering disalahkan.
Satu bibi membuka kipas kecilnya.
Mengibas perlahan.
Gerakannya santai, seolah ini hanya sore biasa.
“Sebetulnya ya,” katanya membuka percakapan,
“aku dari kemarin mau ngomong.”
Ia melirik ke kanan, ke kiri.
Mencari dukungan.
Bibi-bibi lain mengangguk.
Senyum mereka seragam.
“Cuma aku pikir,” lanjutnya,
“ah nanti saja. Kasihan.”
Ia berhenti.
Menatap gadis itu.
“Eh tapi kok kelihatannya kamu tidak peka-peka.”
Kalimat pembuka selesai.
Kereta mulai jalan.
“Kamu itu,” sambungnya,
“sekarang posisinya jelas.”
Ia menunjuk lantai.
“Sudah masuk ke keluarga besar.”
Ia menekankan,
“Besar.”
Bibi lain ikut nimbrung,
“Tapi caramu itu masih seperti orang numpang.”
Ia tertawa kecil.
“Bukan menghina, ya.”
Kalimat yang selalu diikuti hinaan.
Bibi pertama melanjutkan, suaranya makin panjang,
“Orang numpang itu biasanya tahu diri.”
Ia menyipitkan mata.
“Bangun pagi, gerak cepat, tidak banyak diam.”
Ia menatap gadis itu tajam.
“Lha kamu?”
Ia menghela napas panjang.
“Jalan pelan, duduk pelan, ngomong pelan.”
Ia menggeleng.
“Kelihatan sekali tidak biasa hidup di rumah besar.”
Gadis itu menunduk sedikit.
Tidak bicara.
Bibi kedua menyambar,
“Betul. Rumah besar itu bukan cuma soal uang.”
Ia mengangkat telunjuk.
“Tapi sikap.”
Ia melirik gadis itu dari atas ke bawah.
“Sikapmu itu… ya ampun.”
Ia tertawa pendek.
“Bukan jelek.”
Ia berhenti.
“Menyedihkan.”
Kata itu jatuh lembut.
Lebih menyakitkan.
Bibi ketiga menyilangkan tangan.
“Nak,” katanya sok lembut,
“kami ini sudah tua.”
Ia mendekat sedikit.
“Sudah kenyang makan asam garam.”
Ia tersenyum.
“Perempuan seperti kamu itu mudah dibaca.”
Gadis itu menelan ludah.
“Diam,” lanjutnya,
“tunduk.”
Ia mengangguk.
“Iya, kelihatannya baik.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan,
“Tapi biasanya menyimpan.”
Senyum mereka makin lebar.
“Kami ini tidak bodoh,” sambung bibi pertama.
“Kamu jangan pikir kami tidak tahu apa tujuanmu ke sini.”
Gadis itu mengangkat kepala sedikit.
Matanya berkaca-kaca.
“Saya—”
“Shh,” potong bibi kedua cepat.
“Dengar dulu.”
Ia tersenyum puas.
“Perempuan sepertimu itu sering merasa, ‘Aku tidak minta apa-apa’.”
Ia menirukan suara lirih.
“‘Aku cuma ingin hidup tenang.’”
Ia tertawa kecil.
“Lucu.”
Ia menggeleng.
“Kalau memang tidak minta apa-apa, harusnya tidak ada di sini.”
Sunyi sejenak.
Lalu bibi ketiga melanjutkan panjang,
“Kami dengar masa lalumu itu tidak mudah.”
Nada suaranya dibuat prihatin.
“Tumbuh di lingkungan yang… ya begitu.”
Ia mengibaskan tangan.
“Kekurangan.”
Ia menatap gadis itu lurus.
“Perempuan dari lingkungan seperti itu biasanya punya satu kebiasaan.”
Ia berhenti.
“Mengejar rasa aman.”
Kata mengejar ditekan.
“Dan rasa aman itu,” lanjutnya,
“biasanya datang dari uang.”
Gadis itu menggeleng kecil.
Tidak berkata apa-apa.
Bibi pertama mendecak.
“Lihat, diam lagi.”
Ia tersenyum miring.
“Itu yang kami maksud.”
Ia mencondongkan badan.
“Kalau kamu tidak merasa begitu, harusnya berani bilang.”
Ia menepuk pahanya.
“Tapi kamu tidak.”
Ia menghela napas.
“Karena kamu sendiri tahu.”
Bibi kedua ikut menambah,
“Perempuan pintar itu tahu diri.”
Ia menunjuk dadanya sendiri.
“Tahu batas.”
Ia menatap gadis itu.
“Dan tahu kapan harus mundur.”
Kata mundur menggantung di udara.
Bibi ketiga berdiri, berjalan pelan di depan gadis itu seperti mengelilingi barang pajangan.
“Kami ini cuma tidak mau nanti repot.”
Ia berhenti tepat di depan.
“Kalau suatu hari kamu sakit hati.”
Ia mengangkat bahu.
“Jangan salahkan kami.”
Ia tersenyum tipis.
“Kami sudah mengingatkan.”
Bibi pertama tertawa kecil.
“Iya, kami ini baik.”
Ia mengangguk-angguk.
“Kalau tidak baik, kami diam saja.”
Ia menunjuk gadis itu.
“Biarkan kamu salah langkah sendiri.”
Ia berhenti.
“Tapi nanti jatuhnya lebih sakit.”
Gadis itu menggenggam bajunya lebih erat.
Dadanya naik turun.
Bibi kedua kembali duduk.
“Makanya,” katanya panjang,
“jangan terlalu berharap.”
Ia menyandarkan punggung.
“Di keluarga ini, harapan itu mahal.”
Ia menatap tajam.
“Dan biasanya, yang tidak punya modal, cuma jadi penonton.”
Bibi ketiga mengangguk setuju.
“Betul.”
Ia melirik ke arah tangga.
“Kamu kira posisi kamu aman?”
Ia tertawa kecil.
“Perempuan seperti kamu itu bisa tergeser kapan saja.”
Ia mengangkat bahu.
“Bukan karena kami jahat.”
Ia tersenyum.
“Tapi karena dunia memang begitu.”
Kalimat demi kalimat mengalir.
Tidak berhenti.
Tidak memberi celah.
Tentang cara bicara.
Tentang cara duduk.
Tentang masa lalu.
Tentang masa depan—yang katanya tidak pantas ia impikan.
Gadis itu diam.
Seperti yang selalu mereka mau.
Di ambang pintu, pemuda itu berdiri.
Wajahnya kaku.
Matanya gelap.
Ia mendengar semuanya.
Setiap kata.
Setiap penilaian.
Bibi pertama masih belum selesai,
“Pokoknya ya,” katanya panjang lebar,
“kalau kamu pintar, kamu jaga diri.”
Ia menatap gadis itu.
“Jangan bikin masalah.”
Ia berhenti.
“Dan jangan bikin kami harus turun tangan.”
Sunyi jatuh.
Pemuda itu melangkah masuk.
Langkahnya tidak cepat.
Tidak keras.
Tapi cukup untuk menghentikan napas.
“Sudah,” katanya.
Satu kata.
Semua menoleh.
Ia berdiri di samping gadis itu.
Tidak menyentuh.
Tapi dekat.
“Mulut kalian,” lanjutnya pelan,
“panjang sekali.”
Bibi pertama tersenyum kaku.
“Kami hanya—”
“Tidak,” potongnya.
“Kalian menikmati ini.”
Sunyi.
Ia menatap satu per satu.
“Mulai hari ini.”
Nada suaranya rendah.
“Tidak ada lagi ceramah.”
Ia berhenti.
“Kalau masih mau bicara.”
Ia menunduk sedikit.
“Bicara ke aku.”
Bibi-bibi itu terdiam.
Ia menoleh ke gadis itu.
“Berdiri.”
Gadis itu menurut.
Kakinya gemetar.
“Kita pergi.”
Ia mengajaknya berjalan.
Meninggalkan ruang itu.
Di belakang, tidak ada yang mengejar.
Tidak ada yang menahan.
Karena untuk pertama kalinya—
kereta omelan itu dihentikan paksa.
Dan rumah besar itu tahu,
permainan sudah naik level.
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid