Mau menyimpan bangkai serapat apa pun, pada akhirnya akan tercium juga.
Niat hati memberi kejutan untuk suami tercinta di tahun ke 2 pernikahan. Nyatanya aku, yang di beri kejutan yang menjadi awal runtuhnya kepercayaan dan hancurnya hati ku. Hingga perpisahan gak lagi bisa ku hindari. Dari pada hidup bersama pria yang sudah menghianati.
Di balik ruang kebesaran Joseph.
"Pelan pelan, sayang!"
"Gak bisa, mas! Aku udah gak sabar pengen piton kamu!"
"Kamu ini, selalu saja pandai memu4skan ku! Kamu agresif, inisiatif, aku suka itu!"
"Siapa dulu dong, Karin! Kekasih mu! Karena aku, kamu bisa berada di posisi ini! Ingat itu! Aku pahlawan mu, mas!"
"Dan sayangnya aku harus berkorban menikahi si Jenny. Wanita bodoh, manja, menyusahkan, dan gak bisa apa apa!" gerutu Joseph.
Ceklek.
"Je- Jenny, ka- kamu ngapain ke sini?"
Hingga aku di pertemukan kembali, dengan bocah yang mampu mengusik hidup ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
...🌻🌻🌻🌻🌻...
“Jenny! Mau bangun atau papa coret nama kamu dari kartu keluarga!” tegas Jaya di ujung tempat tidur Jenny.
Mendengar ancaman dari sang ayah, membuat Jenny terperanjat bangkit dari tidurnya dengan selimut yang kian merosot.
Sreeek.
“Paaah! Jen masih ngantuk! Tolong kasihani Jen! Biarkan Jen tidur!” rengek Jenny, memaksakan matanya terbuka.
“Gak ada tawar menawar lagi, Jen! Mulai sekarang papa harus tegas dengan mu, sebelum hidup mu semakin kacau! Papa tunggu kehadiran mu, 10 menit dari sekarang di meja makan!” tegas Jaya, sebelum meninggalkan kamar Jenny.
Jenny berdecak kesal, ia bah kan menyeret kakinya dengan malas menuju kamar mandi.
“Ihsss papa gak berperasaan!”
20 menit kemudian, Jenny baru ke luar kamar, dengan pakaian santai, rambut hitam panjangnya tergerai bebas.
“Ini sudah lewat 10 menit dari batas waktu yang papa berikan pada mu, Jen!” protes Jaya, usai melihat Jenny yang tengah menuruni anak tangga.
“Wanita butuh bersiap, pah! Emang papa mau, Jen ke luar kamar dengan wajah bantal, masih pake piyama? Kan gak lucu, pah!” kilah Jenny.
Jaya menyendokkan nasi ke piring Jenny, melihat sang anak sudah menapakkan kakinya di lantai dasar rumah.
“Kamu ini, selalu mencari alasan! Hari ini kamu gak ada kegiatan kan?” beo Jaya dengan santai.
“Harusnya sih ada acara, bah kan Jen bakal jauh lebih sibuk dari hari biasanya! Sebelum papa mengacaukan rencana besar Jen dengan Serli dan Lia pastinya.” gerutu Jenny dengan percaya diri. Ia mendarat kan bobot tubuhnya di kursi. Bergabung dengan sang ayah di meja makan.
Jaya menatap remeh Jenny, memperhatikan apa saja lauk yang di ambil Jenny untuk sarapannya.
“Justru papa yakin, dengan kamu mengandal kan Serli dan Lia. Pergerakan mu akan lambat. Berbeda dengan orang suruhan papa.”
Jenny menaruh sepotong daging rendang ke piring Jaya, “Alah, papa mah gede omong! Orang suruhan papa paling baru bergerak. Sekedar mencari tahu siapa wanita yang di simpan mas Jo.”
“Sembarangan kamu! Jangan meremeh kan orang orang papa! Kamu pasti gak akan menyangka dengan bukti baru yang papa terima dari orang kepercayaan papa itu!
Dan bukti itu bahkan sudah papa kirim ke om Rendra. Dia kan yang akan mengurus gugatan perceraian mu?”
Jenny yang hendak melahap makanan nya, menghentikan nya seketika. Menatap Jaya penuh selidik.
“Papa serius bantu Jen berpisah dari mas Jo? Terus bukti apa yang papa terima? Itu beneran bukti yang akurat? Bukan bukti yang di buat buat, pah?” tuduh Jenny tanpa saringan.
“Papa sudah janji sama mama. Gak akan membiarkan kamu menghadapi masalah sekecil apa pun seorang diri, Jen!” kilah Jaya.
Jenny memperlihatkan senyum manisnya, “Beruntung nya aku punya papa yang bisa di andalkan!”
Jaya mendengus kesal, “Papa selalu bisa di andalkan. Kamu saja yang gak pernah mau mendengarkan perkataan papa! Untuk menikahi Joseph saja, kamu berani menentang papa!”
Jenny mengerucutkan bibirnya kesal, “Jangan bahas itu lagi kenapa, pah! Namanya juga cinta, membutakan akal sehat.”
Jaya berubah serius, “Jadi sekarang kamu udah gak buta karena cinta Joseph lagi? Sudah kuat hati mu melihat fakta suami mu?”
“Emang apa yang bisa di lakukan mas Jo, selain membelikan rumah untuk selingkuhan nya, pah? Hubungan itu pah?” tanya Jenny penuh selidik.
Jaya mengerutkan keningnya gak percaya, “Kamu masih bisa bersikap santai, mendengar pria yang masih sah jadi suami mu membelikan sebuah rumah untuk selingkuhannya?”
“Aku harus menangis, pah? Marah marah saat melihat wanita lain melum4t batang suami ku?” tanya Jenny sembari menyantap makanannya, melahap nya dengan santai.
Sayangnya gak berlaku dengan Jaya. Pria paruh baya itu tersedak, saking syok nya mendengar penuturan Jenny.
“Uhuk uhuk uhuk!”
‘Astagaaa, ternyata pilihan ku selama 2 tahun untuk diam, dan tutup mata untuk keberlangsungan rumah tangga putri ku ini sudah salah. Membiarkan Jenny menanggung kepahitan rumah tangganya seorang diri!’ jerit batin Jaya.
Jenny beranjak, menghampiri sang ayah. Memberikannya segelas minuman.
“Minum dulu, pah!” beo Jenny.
Jaya meminumnya dengan perlahan, satu tangannya bergerak. Seakan memberi isyarat jika ia baik baik saja.
“Sudah! Papa gak apa apa! Kamu lanjutkan makan mu!” titah Jaya.
Jenny masih berdiri di samping Jaya, dengan tatapan khawatir, “Yakin udah gak apa apa?”
Jaya beranjak dari duduknya, “Papa cuma tersedak aja. Kamu lanjut kan sarapan mu!”
“Lah terus papa mau kemana? Gak lanjut makan?”
Jaya menggiring Jenny kembali duduk di kursinya semula.
“Papa sudah ada janji dengan orang! Nanti jam 3 sore akan ada yang ke rumah untuk menjemput mu! Biar orang itu yang akan menemani mu bertemu dengan om Rendra. Papa jalan ya!”
“Lah bisa gitu? Jenny bisa pergi sendiri, pah!” tolak Jenny.
“Papa gak mau di bantah, Jen! Baik baik kamu di rumah!” tegas Jaya, sebelum meninggalkan ruang makan.
“Hati hati, pah!” teriak Jenny.
Jenny melanjutkan sarapannya, namun pikirannya masih melalang buana.
“Siapa yang papa tugasin buat temenin aku ya? Apa mungkin pak Eko?” gumam Jenny.
Jenny menatap tajam, pintu yang menghubung kan pintu belakang dengan paviliun.
“Biiiii! Papa udah pergi! Cepat ke luar kalian dari tempat persembunyian! Jen tau kok kalian bersembunyi!” teriak Jenny.
Bi Yati dan bi Sari muncul dari balik pintu, dengan meringis malu.
“Hehehehe kok Non tau kami bersembunyi di sini?” beo bi Sari.
Bi Yati terkekeh malu, "Bibi pikir, kami bersembunyi di balik pintu bakal aman."
Jenny melambaikan tangan pada keduanya, “Tau lah! Kalian bersembunyi tapi ngedumel. Ayo sini kalian temani Jen sarapan!”
Bi Sari tampak segan dengan ajakan Jenny, “Tapi, Non. Kerjaan bibi …”
Tapi Jenny sudah lebih dulu menyelanya, “Gak ada yang boleh nolak”
Grap.
Bi Yati mencengkram tangan bi Sari. Menyeretnya mendekat ke ruang makan.
“Udah ayo! Kita gak boleh nolak!” desak bi Yati
***
Pukul 9 pagi, saat matahari sudah condong menerangi bumi. Karin baru memarkir mobilnya di halaman rumah.
“Kamu sudah buat aku terluka, mas!” gumam Karin, melihat dari kaca spion tengah. Perban yang membalut keningnya.
Karin beralih, pada kursi penumpang yang ada di sampingnya. Seringai terbit di bibir bergincu merahnya, “Dan sekarang sudah waktunya kamu membayarnya! Aku bukan Jenny yang akan diam saat kamu tindas, mas!”
Kreeeek.
Karin membuka pintu rumahnya, dengan tangan menenteng bag makanan dari restoran favorit Joseph dan dirinya.
Rumah masih tampak sunyi, seakan tanpa penghuni. Sementara gorden masih tertutup rapat.
Karin meletakkan bag makanan di atas meja ruang tengah, “Dasar kebo! Pasti masih tidur!”
Suara khas orang bangun tidur, terdengar menyahuti, “Siapa yang kamu maksud kebo, Rin?”
Karin menelan salivanya sulit, menoleh ke asal suara, "Ka- kamu udah bangun, mas? A- aku pikir kamu masih tidur!"
Bersambung…