Siena Hartmann, gadis keras kepala dan sedikit bar-bar, selalu bisa membuat ayahnya pusing tujuh keliling. Tapi siapa sangka, di balik tingkahnya yang bebas, ada pria yang diam-diam selalu ada saat dia butuh.
Bastian Asher Grayson, muncul di hidupnya sebagai bodyguard baru dikeluarga Hartmann. Dia profesional, dingin, tapi entah kenapa selalu berhasil membuat hati Siena berdebar meski dia menolak mengakuinya.
Hingga skandal di malam wisuda membuat mereka terpaksa berada dalam satu atap, dan keputusan mengejutkan pun diambil. Namun, sesuatu tentang pria itu masih disembunyikan. sesuatu yang bila terungkap, bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna_Ama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE DUA PULUH EMPAT
"Bas, kau yakin ingin pulang dengan kondisimu seperti ini?" ujar Siena, suaranya dipenuhi kekhawatiran saat Bastian bersikeras ingin kembali ke rumahnya. Padahal pria itu bahkan belum sepenuhnya pulih.
"Iya, Nak. Menginaplah di sini," Ibu Margaret ikut menimpali lembut.
Bastian menoleh, menatap Ibu Margaret lalu Siena secara bergantian. Seulas senyum tipis tersungging di wajah tampannya, meski kelelahan masih jelas tergambar di sana.
"Nyonya… Nona, saya baik-baik saja. Tidak perlu khawatir. Saya harus pulang karena ada urusan lain yang harus saya selesaikan," jawabnya dengan suara rendah namun tetap tenang dan sopan.
"Baiklah, Ibu juga tidak bisa memaksamu untuk tetap tinggal. Tapi jika tubuhmu tidak kuat, jangan dipaksakan. Menginaplah semalam di sini. Ibu akan meminta bibi menyiapkan kamar untukmu," kata Ibu Margaret lembut.
Ia sengaja menekankan kata ibu dalam ucapannya. Bukan tanpa alasan. Perempuan paruh baya itu ingin menghapus jarak kaku yang sejak tadi Bastian bangun melalui panggilan formalnya. Sebuah isyarat halus bahwa di rumah ini, Bastian tidak perlu berdiri sebagai pengawal, melainkan sebagai seseorang yang diterima layaknya didalam keluarga.
Bastian terdiam sejenak. Sorot matanya berubah samar, seolah tak menyangka akan perlakuan itu. Rahangnya mengeras tipis, bukan karena menolak, melainkan karena sesuatu yang jarang ia rasakan kehangatan yang asing namun menenangkan.
"Terimakasih nyonya atas tawaran anda, tapi saya tetap harus pulang". Tolak Bastian sopan.
"Baiklah kalau itu mau mu, nak". Ibu Margaret menoleh menatap kearah putrinya. "Sie, tolong panggil pak Rusli minta dia untuk antarkan Bastian pulang".
Siena mengangguk dan lekas berdiri dari duduknya. Tapi, dengan cepat Bastian langsung mencekal pergelangan tangannya.
"Nona tidak perlu, saya bisa pulang sendiri". Ujar Bastian sembari mencoba menegakkan tubuhnya.
Siena refleks menahan gerakan Bastian sebelum pria itu benar-benar berdiri.
"Jangan memaksakan diri," tegurnya pelan, alisnya bertaut. "Kamu bahkan masih pucat."
Bastian menggeleng kecil. Tangannya perlahan melepas cekalan di pergelangan Siena, namun sorot matanya tetap tenang, nyaris tak terbaca.
"Saya sudah terbiasa," jawab Bastian singkat.
Ucapan itu justru membuat dada Siena terasa tidak nyaman, seolah ia merasa ada bagian dari hidup pria itu yang terlalu sering berhadapan dengan rasa sakit hingga menganggapnya hal biasa.
Siena baru saja membuka mulut ingin menyahut, namun tiba-tiba suara Rani terdengar menyela.
"Sie," panggil Rani pelan. "Kami pamit dulu, ya. Kayaknya situasinya sudah lebih tenang."
Siena menoleh cepat. "Kalian mau pulang sekarang?"
Dena mengangguk kecil. "Iya. Lagian sudah malam juga. Besok kita kabari lagi."
Livia tersenyum tipis sambil melirik sekilas ke arah Bastian. "Jaga diri baik-baik, ya. Jangan sok kuat terus."
Bastian hanya mengangguk sopan sebagai balasan.
Siena berjalan sebentar mengantar ketiga sahabatnya hingga ke ambang pintu. Ada tatapan penuh arti yang saling mereka tukar—campuran penasaran, khawatir, sekaligus sesuatu yang belum sempat diucapkan.
"Hati-hati di jalan," ujar Siena pelan.
"Pikirkan juga dirimu sendiri, bukan cuma dia," bisik Rani sebelum akhirnya mereka benar-benar pergi.
Pintu rumah tertutup kembali, menyisakan keheningan yang terasa lebih intim dari sebelumnya.
Saat Siena kembali ke ruang tamu, ia mendapati Bastian sudah berdiri meski sedikit goyah. Pria itu tetap berusaha mempertahankan postur tegapnya, seolah tubuhnya menolak terlihat lemah di hadapan siapa pun.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Hanya ada jarak tipis di antara keduanya yang terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Namun, Siena dengan cepat langsung memutus pandangan itu dan mengalihkan pandangannya menatap kearah lain.
Bastian yang melihat itu tersenyum tipis lalu mencoba berdiri perlahan, menahan napas sejenak sebelum akhirnya benar-benar tegak. Sedikit goyah, tapi dengan cepat ia menyeimbangkan diri, seolah tubuhnya menolak menunjukkan kelemahan lebih lama.
Siena langsung mendekat tanpa sadar.
"Tunggu… setidaknya biar aku antar sampai depan," ujar Siena pelan.
"Tidak perlu, Nona—"
"Bas," potong Siena lirih, nadanya lembut namun tegas. "Sekali ini saja jangan membantah."
Kalimat itu membuat Bastian terdiam. Sorot matanya turun sesaat menatap wajah Siena yang berdiri begitu dekat dengannya. Ada kekhawatiran tulus disana, sesuatu yang terasa asing, namun hangat.
Akhirnya Bastian mengangguk kecil. Kemudian, keduanya berjalan berdampingan menuju pintu depan. Langkah Bastian sedikit lebih lambat dari biasanya, dan tanpa banyak kata Siena menyesuaikan langkah kakinya.
Tangannya sesekali bersiap di dekat lengan pria itu, seolah takut Bastian tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
"Nona cukup sampai disini saja..Silahkan anda kembali masuk dan beristirahat.. Tubuh nona juga masih belum sepenuhnya pulih". Kata Bastian
Jujur saja, sebenarnya bukan seperti itu yang Bastian inginkan. Semua kalimat yang terlontar dari bibirnya baru saja itu hanya alibi.
Siapa yang tidak senang jika terus berdekatan dengan seseorang yang sudah lama menarik hati. Tapi, sayangnya demi menjaga image Bastian harus menahan diri dan bersikap profesional.
"Aku sudah lebih baik, Bas. Aku akan antar kau pulang, tunggulah disini aku akan ambil mobil dulu". Siena melepas pegangan tangannya dilengan Bastian.
Tapi, dengan cepat pria itu langsung mencekal pergelangan tangan Siena.
"Apa?" ujar Siena kebingungan
Bastian menggeleng pelan. "Saya bisa pulang sendiri nona. Sebaiknya anda segera masuk".
"Ck! Kamu ini jangan ngeyel Bas. Luka mu saja separah ini, masih bilang kau bisa pulang sendiri huh?"
Bastian terdiam sesaat mendengar nada kesal Siena. Tatapannya turun pada tangan gadis itu yang masih ia genggam, lalu perlahan mengangkat wajahnya kembali.
"Saya tidak ingin merepotkan Anda," ucap Bastian tenang, namun nadanya tegas dan penuh penekanan.
Siena langsung mendecih.
"Bas, kamu ini keras kepala atau memang hobi bikin orang khawatir?" balasnya cepat. Tangannya justru balik mencengkeram lengan Bastian agar pria itu tidak melangkah lagi.
Bastian menatap tangan itu sebentar, lalu pada wajah Siena yang kini berdiri sangat dekat dengannya.
Hening sejenak.
Bastian menghela napas tipis, rahangnya mengeras. Tangannya perlahan turun, lalu dengan lembut namun pasti ia melepaskan pegangan Siena.
"Jika Anda terus seperti ini," gumamnya pelan, "saya yang akan sulit menjaga diri."
Siena mengerutkan kening. "Menjaga diri dari apa?"
Bastian tidak menjawab.
Ia hanya berbalik dan mulai berjalan menuju gerbang, langkahnya tetap tegap meski sedikit berat.
"Bas!" panggil Siena.
Pria itu berhenti, namun tidak menoleh.
"Kalau kamu tidak mengabari saat sudah sampai," lanjut Siena dengan nada setengah mengancam, "aku sendiri yang datang ke rumahmu."
Sudut bibir Bastian terangkat tipis, senyum kecil yang nyaris tak terlihat.
"Baik, Nona," jawabnya akhirnya.
Dan entah kenapa, ancaman itu justru terdengar seperti sesuatu yang ingin ia dengar.
.
.
.
Bersambung..... Jangan lupa dukungannya sayang-sayang kuu 🫶🏻♥️
ayo lanjut lagi
secangkir kopi susu manis untukmu
sebagai teman up date
ok👍👍👍
tetap semangat yaaaaa
lanjut