NovelToon NovelToon
Yakusoku No Mirai

Yakusoku No Mirai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius
Popularitas:465
Nilai: 5
Nama Author: RavMoon

Akira Ren hidup dalam dua dunia yang berbeda. Di sekolah, ia adalah siswa kelas 12 yang tampak acuh tak acuh dan sering membolos. Namun di balik pintu dapur restoran bintang lima "Ren’s Cuisine", ia adalah koki jenius yang mewarisi ketajaman rasa ayahnya dan ketangguhan fisik ibunya, seorang mantan atlet bela diri dunia.
​Ren hanya ingin menjalani masa mudanya dengan tenang tanpa sorotan. Namun, takdir berkata lain saat satu per satu wanita di hidupnya—mulai dari guru matematika yang kaku hingga teman masa kecil yang kompetitif—mulai melihat celah di balik topengnya. Dengan bantuan "Insting" yang tajam (Sistem), Ren harus menyeimbangkan antara ambisi kuliner, janji masa lalu, dan perasaan tulus yang mulai tumbuh. Ini bukan sekadar cerita tentang memasak; ini adalah tentang bagaimana sebuah rasa bisa menyatukan masa depan yang retak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33.Bahan Utama Yang Mengejutkan

Udara di dalam aula utama Balai Sidang Nasional terasa seperti listrik statis yang siap meledak. Pendingin ruangan yang diatur pada suhu rendah tidak mampu meredam hawa panas yang terpancar dari tiga puluh kompor induksi berkekuatan tinggi yang sudah menyala. Di tribun penonton, ribuan pasang mata menatap ke arah panggung, sementara lampu sorot LED putih menyinari setiap sudut stasiun masak yang tampak steril dan futuristik.

Ren berdiri di balik stasiun nomor 13—angka yang oleh sebagian orang dianggap sial, namun bagi Ren hanyalah sebuah posisi koordinat. Di sisi kiri dan kanannya, Hana dan Yuki mengenakan apron putih bersih yang sudah disetrika rapi oleh Bu Keiko pagi tadi. Ren bisa merasakan getaran halus dari tangan Hana yang sesekali merapikan pisau-pisau cadangan di atas meja marmer.

"Tenang, Hana," bisik Ren tanpa menoleh. Matanya tetap tertuju pada tirai besar di tengah panggung yang masih tertutup. "Napasmu terlalu pendek. Oksigen yang kurang ke otak akan membuat insting rasamu tumpul."

Hana menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. "Aku hanya... aku terus memikirkan Kenjiro, Ren. Lihat dia."

Di stasiun nomor 1, yang terletak tepat di pusat perhatian, Kenjiro berdiri diam seperti patung porselen. Kacamata pintarnya memantulkan cahaya lampu panggung, memberikan kesan bahwa ia bukan bagian dari kerumunan manusia di sana. Di sampingnya, Ryuji tersenyum tipis ke arah kamera, tampak sangat percaya diri dengan dukungan logistik Asuka Group yang memenuhi seluruh meja kerja mereka.

Tiba-tiba, suara gong besar bergema di seluruh ruangan, diikuti oleh suara bariton sang Ketua Juri Nasional, Chef Adrian, yang dikenal sebagai 'Lidah Tuhan' karena kepekaannya yang ekstrem.

"Para koki muda dari seluruh nusantara!" seru Chef Adrian. "Hari ini, di babak penyisihan pertama, kami tidak ingin melihat teknik yang rumit. Kami ingin melihat bagaimana kalian menghormati kesederhanaan. Bahan utama hari ini adalah..."

Tirai besar itu terbuka, menyingkapkan sebuah akuarium raksasa berisi tumpukan es batu, dan di atasnya tergeletak ribuan buah berwarna kuning pucat dengan kulit tipis yang lembut.

"... Pir Salju (Snow Pear)."

Seluruh ruangan seketika riuh dengan bisikan bingung. Para peserta saling pandang. Pir salju adalah buah yang sangat halus, manisnya tipis, dan teksturnya sangat mudah hancur jika terkena panas berlebih. Biasanya buah ini hanya digunakan sebagai pencuci mulut ringan atau obat herbal. Menjadikannya bahan utama dalam sebuah hidangan kompetisi utama adalah sebuah anomali.

Wajah Yuki memucat. Ia segera membuka catatan kecilnya. "Ren... ini buruk. Jahe merah hutan yang kita beli semalam... jahe itu punya karakter pedas yang sangat liar dan panas. Jika kita mencampurnya dengan pir salju yang karakternya sangat lembut dan dingin, jahe itu akan 'membunuh' rasa pirnya seketika. Kita akan didiskualifikasi karena menenggelamkan bahan utama."

Hana menatap kantong kecil berisi jahe merah di sudut meja mereka dengan tatapan putus asa. "Kita menghabiskan malam untuk mencari senjata rahasia yang sekarang justru menjadi racun bagi masakan kita?"

Di stasiun nomor 1, Kenjiro tampak tidak terkejut sedikit pun. Tangannya mulai bergerak dengan kecepatan yang konstan. Kacamata pintarnya pasti sudah memberikan ribuan resep optimal untuk mengolah pir salju dengan presisi kimiawi.

Ren menatap tumpukan pir salju itu, lalu melirik jahe merah di atas mejanya. Logika narasinya berputar kencang. Ia teringat kata-kata ibunya: Jangan biarkan api amarah membakar masakanmu.

"Tidak, Yuki. Jahe ini bukan racun," ucap Ren tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat tenang, membuat Hana dan Yuki serempak menoleh padanya. "Jahe merah ini adalah tanah, dan pir salju ini adalah awan. Jika kita hanya menyajikan awan, juri akan merasa hampa. Kita butuh tanah untuk membuatnya membumi."

"Tapi Ren, rasionya harus sangat tepat!" potong Yuki.

Ren melangkah mendekati Hana, ia memegang tangan Hana yang sedang memegang pisau. "Hana, ingat aroma tanah setelah hujan di pasar semalam? Itulah yang akan kita buat. Kita tidak akan membuat pir salju yang manis seperti sirup. Kita akan membuat 'Hujan di Hutan Karasu'."

Kemistri di antara mereka bertiga mendadak mengental kembali. Ketegangan yang tadinya melumpuhkan kini berubah menjadi fokus yang tajam. Ren tidak lagi melihat Kenjiro sebagai ancaman; ia melihat pir salju di depannya sebagai sebuah kanvas kosong yang menanti untuk dilukis dengan kenangan mereka.

"Waktu kalian dimulai dari... SEKARANG!"

Bunyi sirine panjang menandakan dimulainya pertempuran. Suara pisau yang menghantam talenan seketika memenuhi aula seperti suara senapan mesin.

Ren mengambil satu buah pir salju, mengupas kulitnya dengan satu gerakan memutar yang sangat presisi menggunakan pisau cadangannya—ia belum menggunakan Seruni Hitam. Ia mencicipi sedikit daging buahnya. Dingin, berair, dan sangat rapuh.

"Hana, parut jahe merahnya, tapi jangan ambil seratnya. Aku hanya butuh 'embun' dari sari jahenya saja," perintah Ren. "Yuki, siapkan teknik poaching dengan suhu rendah. Kita tidak boleh membuat pir ini layu, kita harus membuatnya 'bangun'."

Di tengah keriuhan itu, Ren melirik ke arah tribun. Ia melihat Bu Keiko yang mengepalkan tangannya di dada, dan Arata yang mengangguk kecil dari kejauhan. Dukungan diam mereka memberikan kekuatan tambahan yang sangat manusiawi bagi Ren.

Saat Ren mulai membelah jahe merahnya, aroma pedas yang getir namun harum mulai menguar dari stasiun nomor 13. Aroma itu sangat berbeda dari aroma mentega dan krim yang mulai mendominasi aula. Beberapa juri di meja depan mulai mendongak, hidung mereka mencoba melacak sumber aroma tanah yang sangat autentik tersebut.

Namun, di stasiun nomor 1, Kenjiro sudah mulai memasukkan pirnya ke dalam tabung vakum bertekanan tinggi. Ia bergerak tanpa keringat, tanpa keraguan.

"Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai," gumam Ren dalam hati, sambil akhirnya meraih gagang Seruni Hitam. "Mari kita lihat, apakah algoritma bisa merasakan hangatnya tanah setelah hujan."

1
Jack Strom
Cerita yang cukup menarik. Namun saya cukup aneh dengan lokasi cerita, kota Jayapura-Indonesia, tapi tokoh dan cerita ala Jepang??? 😁
Jack Strom
Owalah... Ngaku banyak uang, tapi masih main sabotase segala... Pengecut!!! 😁
Jack Strom
Oh, ini tentang rasa dan keahlian memasak toh..? Mantap mantap mantap!!! 😁
Jack Strom
Halah... Modus!!! 😁
Jack Strom
Wow... Betul² kosong!!? 🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!