Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Ungkapan Hati
Satu minggu setelah kunjungan ke rumah orang tua Nara, suasana di kantor pusat Setiawan Group terasa mencekam. Danu Setiawan duduk di kursi kebesarannya, namun pikirannya tidak tertuju pada laporan kuartal yang terpampang di layar monitor. Pikirannya terus berputar pada piring tempe goreng, tawa tulus Nara di dapur kecil itu, dan rasa bersalah yang kini menetap di dadanya seperti batu besar.
Ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Belum sempat ia memberi izin, pintu sudah terbuka. Aroma parfum niche yang sangat kuat aroma yang dulu sangat Danu sukai menyesaki ruangan.
Vanya berdiri di sana. Ia tidak lagi meledak-ledak seperti saat di mansion. Kali ini, ia mengenakan gaun sutra berwarna merah marun yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.
Wajahnya dipoles dengan riasan flawless yang menonjolkan kecantikannya sebagai sosialita papan atas.
"Danu," suaranya lembut, hampir seperti bisikan.
Danu tidak berdiri. Ia hanya menatap Vanya dengan pandangan datar. "Aku sudah bilang jangan datang lagi, Vanya."
Vanya melangkah mendekat, mengabaikan ketegasan Danu. Ia duduk di pinggir meja kerja Danu, sebuah tindakan yang dulu dianggap Danu menggoda, namun kini terasa sangat tidak sopan.
"Aku tahu kamu sedang tertekan, Sayang. Papa Surya memaksamu, kan? Aku tahu pernikahan itu hanya sandiwara untuk menutupi kesalahan kecil di malam itu," Vanya mengulurkan tangan, mencoba membelai rahang Danu, namun Danu memalingkan wajahnya.
Vanya tidak menyerah. Ia bangkit dan berjalan ke belakang kursi Danu, meletakkan tangannya di bahu pria itu.
"Ingat saat kita di Paris dua tahun lalu, Danu? Di bawah menara Eiffel, kamu berjanji bahwa tidak
akan ada wanita lain yang memakai marga Setiawan selain aku," bisik Vanya di telinga Danu.
"Ingat bagaimana kita merencanakan rumah di tepi pantai Bali? Kita adalah pasangan sempurna, Danu. Kita dari dunia yang sama. Kita berbicara bahasa yang sama."
Vanya memutar kursi Danu agar menghadapnya. Ia berlutut di depan Danu, menatapnya dengan mata yang sengaja dibuat berkaca-kaca.
"Lepaskan wanita itu, Danu. Dia tidak pantas untukmu. Dia hanya akan menjadi beban dalam kariermu. Berikan dia uang yang banyak, dia pasti akan pergi. Ceraikan dia, dan kita kembali seperti dulu. Aku akan membantumu bicara pada Papa Surya. Aku akan memaafkan semuanya, asalkan kamu kembali padaku."
Danu menatap Vanya. Ia mencoba mencari getaran cinta yang dulu selalu membuncah saat ia melihat wanita ini. Namun, yang ia temukan hanyalah kekosongan. Kata-kata Vanya tentang
"dunia yang sama" justru terdengar menjijikkan di telinganya sekarang.
Dunia Vanya adalah dunia tentang status, merk tas, dan citra. Dunia Nara... adalah dunia tentang nyawa, pengabdian, dan ketulusan.
"Sudah selesai?" tanya Danu dingin.
Vanya tertegun. "Danu?"
"Semua yang kamu sebutkan tadi Paris, Bali, janji-janji itu adalah memori dari pria yang sudah mati, Vanya. Pria sombong yang mengira dunia ini bisa dibeli dengan uang," Danu berdiri, membuat Vanya terpaksa ikut berdiri.
"Nara bukan beban. Dan aku tidak akan menceraikannya hanya untuk kembali ke kehidupan kosong yang kamu tawarkan. Silakan keluar."
Wajah Vanya memerah, bukan karena malu, tapi karena murka. "Kamu akan menyesal, Danu! Kamu memilih guru miskin itu daripada aku?! Kamu menghancurkan reputasimu sendiri!"
"Keluar, Vanya. Sebelum aku memanggil keamanan," ucap Danu tanpa emosi sedikit pun.
Danu pulang ke mansion lebih awal sore itu. Biasanya, ia akan menghabiskan waktu di bar atau bekerja hingga larut agar tidak perlu bertemu Nara. Namun hari ini, kakinya seolah ingin segera sampai ke rumah.
Begitu memasuki lobi, ia tidak mendengar suara denting gelas atau musik klasik yang biasa diputar ibunya. Ia mendengar suara tawa kecil dari arah ruang tengah.
Danu melangkah pelan. Di sana, ia melihat Nara sedang duduk di lantai bersama Tuan Surya, sedang ibu Sofya duduk dikursi sambil membaca majalah. Nara dan Pak Surya sedang bermain catur. Tuan Surya tampak sangat bersemangat, sebuah pemandangan yang jarang Danu lihat sejak ayahnya jatuh sakit.
"Skakmat, Pa!" seru Nara dengan mata berbinar.
Tuan Surya tertawa terbahak-bahak, memukul lututnya sendiri. "Aduh, Nara! Kamu ini guru Bahasa atau guru catur? Papa kalah terus!"
Nara tertawa lepas, lalu dengan cekatan ia memberikan segelas air putih dan obat sore ayahnya.
"Sudah, tawanya nanti lagi. Sekarang minum obatnya dulu."
Danu berdiri di balik pilar, terpesona. Di rumah ini, Nara tidak pernah menuntut kemewahan. Ia tetap memakai gamis sederhananya, namun kehadirannya memberikan nyawa pada bangunan batu yang dingin ini.
Nara menoleh dan menyadari kehadiran Danu. Seketika, senyumnya menghilang, digantikan oleh ekspresi formal yang kaku. Ia segera berdiri dan menunduk sedikit.
"Pak Danu sudah pulang," ucapnya datar.
Danu merasa ada sesuatu yang sakit di dadanya saat melihat perubahan drastis ekspresi Nara. Ia merindukan tawa yang baru saja ia lihat.
Malam harinya, Nara sedang berada di perpustakaan mansion, mencari referensi soal olimpiade untuk murid-muridnya. Ruangan itu luas dan sunyi, hanya diterangi lampu meja yang temaram.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Danu masuk membawa sebuah nampan berisi dua cangkir cokelat panas dan sepiring kecil biskuit.
Nara terkejut. Ia segera merapikan bukunya. "Maaf, saya akan segera selesai. Saya tidak tahu Bapak ingin memakai ruangan ini."
"Duduklah, Nara," ucap Danu lembut. Ia meletakkan nampan itu di atas meja. "Aku tidak ingin memakai ruangan ini. Aku hanya... ingin bicara."
Nara tetap berdiri, menjaga jarak sesuai kontrak mereka. "Soal Papa? Atau soal administrasi rumah sakit?"
Danu menghela napas. Ia duduk di kursi seberang meja Nara. "Bukan soal itu. Aku hanya ingin memberikan ini. Cokelat panas ini bagus untuk fokus."
Nara menatap cangkir itu dengan curiga. "Terima kasih, tapi Bapak tidak perlu repot-repot."
"Aku tidak repot," sela Danu cepat. "Nara... soal Vanya yang datang tadi siang ke kantor. Dia mengajakku kembali dan memintaku menceraikanmu."
Nara terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Itu hak Bapak. Jika Bapak ingin mengakhiri kontrak ini lebih cepat untuk kembali padanya, saya tidak akan keberatan. Saya hanya mohon jaminan untuk ayah saya tetap berjalan."
Danu meremas jemarinya sendiri. "Kenapa kamu selalu berpikir aku ingin melepaskanmu?"
Nara mendongak, matanya bertemu dengan mata Danu. "Karena itu yang masuk akal, Pak Danu. Bapak mencintainya, bukan? Kalian memiliki dunia yang sama. Saya hanya pengganggu di tengah hidup Bapak yang sempurna."
"Hidupku tidak pernah sempurna sebelum kamu datang, Nara," ucap Danu dengan suara bergetar.
Nara tertegun. Kalimat itu terdengar sangat asing keluar dari mulut Danu Setiawan yang angkuh.
Danu berdiri, namun ia tetap tidak melewati batas jarak yang ditentukan Nara. "Vanya mengingatkanku pada masa lalu. Dan saat dia bicara, aku menyadari betapa dangkalnya hidupku dulu. Aku menghabiskan waktu dengan orang-orang yang hanya mencintai hartaku, termasuk diriku sendiri yang mencintai kekuasaanku."
Danu menatap buku-buku di depan Nara. "Lalu aku melihatmu. Kamu mengajar anak-anak di ruko pengap dengan sepenuh hati. Kamu merawat papaku seolah dia ayah kandungmu sendiri. Kamu tetap bangga dengan rumah kecilmu yang hijau itu."
Danu menarik napas panjang. "Aku tidak menolak Vanya karena aku marah padanya. Aku menolaknya karena aku mulai menyadari... bahwa pria yang dia inginkan sudah tidak ada. Aku ingin menjadi pria yang layak duduk di rumah hijau itu bersama keluargamu, Nara."
Nara merasa jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu harus merespons apa. Luka di hatinya masih ada, trauma malam itu masih sering membayanginya saat ia memejamkan mata. Namun, ketulusan di suara Danu malam ini sulit untuk diabaikan.
"Pak Danu... jangan katakan hal-hal yang tidak bisa Bapak tepati," bisik Nara.
"Aku tidak meminta dimaafkan sekarang, Nara. Aku juga tidak meminta kamu mencintaiku. Aku hanya ingin diizinkan untuk... mengenalmu. Benar-benar mengenal Nara Setianingrum, bukan sebagai istri kontrak, tapi sebagai manusia."
Danu mengambil satu langkah kecil mendekat, namun segera berhenti saat melihat Nara sedikit menegang. Ia tersenyum sedih.
"Cokelatnya diminum sebelum dingin. Selamat malam, Nara."
Danu berbalik dan keluar dari perpustakaan, meninggalkan keheningan yang kini terasa berbeda.
Nara menatap cangkir cokelat panas yang masih mengepulkan uap. Ia mengambilnya perlahan, merasakan kehangatan yang menjalar di telapak tangannya. Ia menyesapnya sedikit. Manis, dengan sedikit rasa pahit kakao yang pas.
Ia menyandarkan punggungnya di kursi, menatap deretan buku-buku mahal di sekelilingnya.
Untuk pertama kalinya sejak ia menginjakkan kaki di mansion ini, ia tidak merasa sedang berada di penjara.
Di luar, di balik pintu, Danu berdiri sejenak. Ia tidak lagi memikirkan Vanya atau Paris. Ia hanya memikirkan bagaimana cara mendapatkan kembali senyum Nara yang ia lihat saat bermain catur tadi.
Malam itu, di dalam mansion Setiawan, dinding es yang membeku selama berminggu-minggu mulai menampakkan retakan yang nyata. Vanya mungkin mencoba menarik Danu kembali ke masa lalu, namun Danu sudah melangkah terlalu jauh ke masa depan yang kini ia harapkan ada Nara di dalamnya.
...***...