Colette Winter adalah sebuah cangkang kosong. Sejak peristiwa kelam di masa kecilnya, ia mengunci jiwanya rapat-rapat di balik tembok trauma yang tak tertembus. Ia menjalani hidup layaknya robot—bekerja, makan, dan bernapas tanpa benar-benar "hidup". Baginya, laki-laki adalah ancaman, dan dunia adalah tempat yang terlalu bising untuk hati yang hancur. Ia tidak melawan saat ditindas, tidak menangis saat dimarahi; ia hanya diam, tenggelam dalam kesuraman yang abadi.
Khawatir melihat putri sulungnya yang kian kehilangan kemanusiaannya, sang Ibu—atas dorongan adik laki-laki Colette yang prihatin—memutuskan untuk mengambil langkah terakhir yang tak masuk akal. Mereka membawa Colette ke sebuah sudut tersembunyi di kota, menemui sosok yang namanya hanya beredar di antara bisikan orang-orang tertentu yang putus asa.
Di sanalah ia bertemu dengan Caspian Hawthorne Sinclair.
seorang dukun yang diminta untuk membantu nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Percakapan dengan Semesta
Suara deru mesin mobil tua keluarga Sinta perlahan menghilang, tertelan oleh rimbunnya hutan jati yang kembali ke pelukan sunyi. Caspian berdiri di ambang pintu, menatap jejak debu yang ditinggalkan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Senyum jenaka yang tadi ia tunjukkan pada Sinta dan Aris luruh seketika, digantikan oleh gurat wajah yang dingin dan penuh konsentrasi.
Cklek.
Ia menutup pintu kayu gubuknya rapat-rapat. Suasana di dalam ruangan itu mendadak berubah. Cahaya matahari yang masuk dari celah dinding kayu seolah meredup, memberikan ruang bagi kegelapan alami yang selalu setia menemani Caspian.
Pria itu melangkah ke tengah ruangan, tepat di atas lingkaran bunga melati yang tadi sempat ia siapkan. Ia duduk bersila dengan punggung tegak sempurna. Sebelah tangannya menyentuh lantai kayu, sementara tangan lainnya membentuk mudra di atas lutut.
Caspian memejamkan mata. Napasnya menjadi teratur, sangat lambat, hingga detak jantungnya seolah selaras dengan detak jantung hutan di sekelilingnya.
Bibirnya mulai bergerak, merapal mantra kuno dalam bahasa yang sudah punah dari peradaban manusia. Suaranya rendah, bergema di setiap sudut gubuk hingga debu-debu di udara tampak menari mengikuti irama suaranya. Ia tidak sedang memanggil hantu atau roh jahat; ia sedang mengetuk pintu takdir.
Ia ingin jawaban yang pasti. Benarkah gadis berambut panjang yang tampak hancur itu adalah kepingan puzzle yang hilang dari hidupnya? Benarkah Colette—si "Gadis Gagak Kecil"—adalah sosok yang tertulis dalam kitab leluhur Sinclair sebagai pendamping sang penjaga gerbang?
Tiba-tiba, suhu di dalam gubuk turun drastis. Lilin-lilin yang tadi padam mendadak menyala dengan api berwarna biru keputihan.
Di balik kelopak matanya yang tertutup, Caspian mulai melihat bayangan. Bukan bayangan masa lalu, melainkan fragmen masa depan. Ia melihat dirinya mengenakan setelan jas hitam di tengah hiruk-pikuk kota, berdiri di bawah lampu jalan yang temaram. Dan di sana, tepat di bawah lindungan lengannya, ada seorang wanita yang mengenakan gaun sutra kelabu. Wanita itu tidak lagi menyembunyikan wajahnya di balik rambut. Ia mendongak, menatap Caspian dengan mata yang bersinar penuh keberanian.
Wanita itu adalah Colette.
Caspian membuka matanya perlahan. Api biru di sekelilingnya padam seketika, menyisakan asap tipis yang beraroma mawar hutan.
"Jadi benar..." bisik Caspian pada kesunyian. "Kau bukan sekadar tugas terakhirku, Colette. Kau adalah alasan mengapa aku harus meninggalkan hutan ini."
Sebuah senyum miring kembali muncul di wajahnya. Kali ini bukan senyum jenaka, melainkan senyum seorang pemburu yang telah menemukan harta karun yang paling berharga.
Senyum miring yang tadi menghiasi wajah Caspian perlahan luruh, digantikan oleh garis wajah yang tegang dan rahang yang mengeras. Keheningan di dalam gubuk itu mendadak terasa mencekam, seolah-olah udara di sekelilingnya menjadi berat dan berdenyut.
Sebuah pertanyaan besar menghantam batinnya: Bagaimana mungkin seorang pria yang telah mendedikasikan hidupnya pada hal-hal klenik dan mistis bisa menjalani kehidupan normal, apalagi menikah?
Tangan Caspian yang masih bersila mulai bergetar hebat. Tiba-tiba, suara-suara tanpa wujud mulai memenuhi setiap sudut gubuk. Itu bukan suara angin, melainkan bisikan berlapis-lapis yang menggelegar langsung di dalam kepalanya—suara para leluhur keluarga Sinclair yang selama ini ia puja.
"Kau telah salah jalan, Darah Suci..."
"Hutan ini bukanlah tempatmu yang sebenarnya!"
Caspian terengah, keringat dingin membasahi keningnya. Suara-suara itu semakin keras, menyingkap tabir rahasia yang selama ini ia tutup rapat-rapat bahkan dari dirinya sendiri.
Kenyataan pahit itu akhirnya terucap oleh para leluhur: Caspian Hawthorne Sinclair sebenarnya tidak pernah ditakdirkan menjadi seorang dukun.
Garis takdirnya yang asli adalah menjadi seorang pemimpin di dunia manusia, seorang pria dengan kuasa dan pengaruh besar di balik meja-meja mewah kota. Namun, bertahun-tahun yang lalu, karena kemarahan dan rasa muak pada kepalsuan dunia modern, Caspian sengaja "melarikan diri". Ia mencoba melawan garis takdirnya dengan cara mengasingkan diri ke hutan jati dan memaksa dirinya mendalami ilmu hitam—hanya agar ia memiliki alasan untuk menjauh dari semua orang.
Ia telah menjadi "dukun" bukan karena panggilan jiwa, melainkan sebagai bentuk pemberontakan terhadap takdirnya sendiri.
"Jadi... semua kekuatan ini... hanyalah topeng?" bisik Caspian dengan suara parau, menatap telapak tangannya yang sering kali dianggap sakti oleh orang-orang.
Bisikan leluhur itu kembali menggema, kali ini lebih lembut namun tegas:
"Gadis itu bukan pasienmu, Caspian. Dia adalah jembatanmu untuk kembali ke tempatmu yang seharusnya. Melaluinya, kau akan menemukan jalan pulang."
Caspian terdiam lama. Ia menyadari bahwa pertemuannya dengan Colette bukan sekadar urusan mistis, melainkan cara semesta untuk menariknya kembali ke dunia nyata. Keputusannya untuk pindah ke kota tiga hari lagi kini terasa lebih dari sekadar "mengawasi" Colette; itu adalah langkah pertamanya untuk berhenti menjadi dukun dan mulai menjadi pria yang seharusnya.