𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 18 - DUA BULAN, DUA UJIAN, DAN JARAK YANG TETAP TERHUBUNG
Waktu bergerak pelan, tapi pasti.
Dua bulan berlalu sejak sore hujan itu—
sejak Ayu dan Lala melihat Vhiena berjalan bersama Rizuki di bawah
Rintik Hujan yang lembut. Sejak saat itu, kota terasa sama…
namun bagi dua orang di sisi barat dan selatan kota, segalanya sedikit berubah.
Tidak ada langkah berdampingan.
Tidak ada hujan yang mereka lewati bersama.
Hanya waktu, jarak, dan layar kecil di genggaman tangan.
DUA BULAN MENJELANG UJIAN — SEKOLAH RIZUKI
Di sekolah Rizuki, suasana berubah drastis.
Spanduk besar bertuliskan UJIAN AKHIR terpasang di koridor utama.
Jadwal ujian ditempel di setiap papan pengumuman. Guru-guru terlihat lebih serius, suara mereka lebih tegas.
Siswa-siswa kelas akhir bergerak seperti pasukan kecil yang sedang menuju medan perang.
Rizuki berjalan di antara mereka—
masih tenang, masih sunyi.
Namun kali ini, ketenangannya bukan karena jarak emosional.
Melainkan karena disiplin yang terlatih.
Ia duduk di perpustakaan sepulang sekolah, membaca buku-buku ujian sambil sesekali mencatat. Tidak terburu-buru. Tidak panik.
Seorang siswa duduk di depannya, menghela napas berat.
“Rizuki… kamu nggak takut gagal?”
Rizuki menutup bukunya perlahan.
“Takut tidak membantu.”
Siswa itu mengerang.
“Gila, kamu aneh.”
Rizuki tidak menanggapi.
Karena pikirannya sedang tidak sepenuhnya di sekolah.
SEKOLAH VHIENA — UJIAN KENAIKAN KELAS
Di sisi timur kota, Vhiena juga menghadapi masa sibuknya sendiri.
Ujian kenaikan kelas menunggu. Tidak sepenting ujian akhir Rizuki, tapi tetap menentukan. Buku-buku menumpuk di meja belajarnya, catatan warna-warni ditempel di dinding kamar.
Ayu dan Lala sering menemaninya belajar.
“Fokus, Vhin,” kata Ayu.
“Kalau kamu nggak naik kelas, aku malu.” sahut lala.
Vhiena tertawa kecil.
“Aku fokus kok.”
Namun di sela-sela belajar, tangannya sering bergerak ke ponsel.
Bukan untuk membuka media sosial.
Bukan untuk hal lain.
Hanya satu chat.
CHAT DI ANTARA JARAK
Mereka tidak bertemu.
Bukan karena tidak mau.
Bukan karena masalah.
Hanya karena waktu tidak memberi celah.
Namun setiap hari— selalu ada pesan.
Kadang pagi.
Kadang malam.
Kadang hanya satu kalimat.
Hari ke-5 bulan pertama
Rizuki:
“Belajarnya jangan terlalu dipaksakan.”
Vhiena:
“Kamu juga.
Jangan sok kuat.”
Rizuki membaca itu di perpustakaan, sudut bibirnya naik sedikit.
Minggu kedua
Vhiena:
“Hari ini aku capek.”
Rizuki:
“Istirahat 10 menit.
Lalu lanjut.”
Vhiena:
“Kamu seperti ayahku.”
Rizuki:
“Itu pujian atau ejekan?”
Vhiena:
“Pujian.” Vhiena tersenyum kecil lalu meletakkan ponselnya dan bersiap untuk tidur.
KESIBUKAN RIZUKI — DUA DUNIA BERTUMPUK
Selain sekolah, Rizuki tetap memikul dua dunia lain.
Bluesky berjalan stabil.
R Technology tetap dalam mode pengawasan.
Namun selama dua bulan itu, Rizuki sengaja tidak menyentuh Project Convergence.
Ia tahu prioritas.
Ujian akhir bukan soal nilai—
melainkan menyelesaikan satu identitas sebelum ia melangkah lebih jauh.
Di malam-malam panjang, ia belajar dengan tenang, lalu mengecek satu pesan sebelum tidur.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
VHIENA — PERHATIAN KECIL
Vhiena juga berubah.
Ia tidak lagi terlalu sering menatap langit dari jendela, menunggu sosok datang menjemput.
Ia tahu—
saat ini bukan waktunya.
Namun perhatiannya tetap ada, kecil tapi konsisten.
Suatu malam
Vhiena:
“Besok aku pelajaran matematika.”
Rizuki:
“Kamu bisa.”
Vhiena:
“Kamu selalu bilang begitu.”
Rizuki:
“Karena itu benar.”
Vhiena tersenyum sendiri di kamarnya.
BULAN KEDUA — UJIAN MAKIN DEKAT
Waktu semakin mendesak.
Di sekolah Rizuki, wajah-wajah tegang semakin sering terlihat. Bahkan siswa yang biasanya santai mulai gelisah.
Namun Rizuki tetap sama.
Guru-guru memperhatikannya dengan heran.
“Dia seperti tidak terpengaruh,” bisik salah satu guru.
Mereka tidak tahu—
bahwa ketenangan Rizuki bukan karena kurang peduli.
Melainkan karena ia telah belajar menghadapi tekanan jauh lebih besar.
UJIAN DIMULAI — RIZUKI
Hari ujian akhir tiba.
Rizuki duduk di ruang ujian, meja kayu rapi, lembar soal dibagikan.
Jam dinding berdetak pelan.
Ia membaca soal pertama.
Tenang.
Satu per satu, soal dijawab dengan presisi. Tidak terburu-buru. Tidak ragu.
Di sela-sela ujian, pikirannya sempat melayang.
Vhiena juga sedang duduk di ruang ujian ,untuk ujian akhir semester sekarang.
Ia tersenyum kecil, lalu kembali fokus.
UJIAN KENAIKAN KELAS — VHIENA
Di sekolahnya, Vhiena menggenggam pulpen dengan serius.
Soal tidak mudah, tapi tidak menakutkan.
Ia mengingat pesan Rizuki tempo hari.
“Kamu bisa.”
Entah kenapa, kalimat itu cukup.
Ia mengerjakan soal dengan percaya diri.
CHAT DI TENGAH KESIBUKAN BELAJAR UNTUK UJIAN (MALAM)
Setelah hari ujian pertama selesai—
Rizuki:
“Bagaimana harimu?”
Vhiena:
“Capek.
Tapi aku senang.”
Rizuki:
“Aku juga.”
Tidak perlu penjelasan panjang.
Mereka tahu arti “aku juga”.
UJIAN SELESAI — TANPA PERAYAAN BESAR
Hari terakhir ujian tiba dan berlalu.
Tidak ada pesta.
Tidak ada euforia.
Hanya kelegaan yang tenang.
Rizuki keluar dari ruang ujian terakhir, menghela napas panjang.
Selesai.
Di sisi lain kota, Vhiena menutup buku terakhirnya dan merebahkan diri di ranjang.
Selesai.
CHAT SETELAH UJIAN
Malam itu—
Vhiena:
“Akhirnya selesai.”
Rizuki:
“Selamat.”
Vhiena:
“Kita sudah lama tidak bertemu.”
Rizuki menatap layar itu lama.
Rizuki:
“Iya.”
Beberapa detik hening.
Vhiena:
“Tapi kita tetap di sini.”
Rizuki tersenyum kecil di apartemennya.
Rizuki:
“Itu yang penting.”
DUA BULAN YANG TIDAK SIA-SIA
Mereka tidak berjalan berdampingan selama dua bulan itu.
Tidak berbagi langit.
Tidak saling menatap langsung.
Namun jarak tidak membuat mereka menjauh.
Justru sebaliknya.
Perhatian kecil.
Pesan singkat.
Diam yang saling dipahami.
Semua itu… membangun sesuatu yang lebih kokoh.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/