NovelToon NovelToon
Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Cinta Yang Dikubur Bersama Dia

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Diam-Diam Cinta / Teman lama bertemu kembali / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pasaribu

Seorang laki-laki yang sudah lama mencintai seseorang dalam diam, berhasil menikahinya tapi bukan dengan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Takut Terulang Lagi

Malam semakin larut di ruang rawat itu. Naya duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan ayahnya. Ibunya berdiri tak jauh, menatap keduanya dengan mata sembab namun berusaha tegar.

"Nay... " Mengelus rambut putrinya. "Kamu pulang aja, besok kamu kan kerja. Ibu aja yang jaga disini." Ucap Ibunya pelan.

Naya langsung menggeleng tanpa berpikir. "Naya nggak mau pulang, Bu."

Ibunya sangat paham maksud dari putrinya itu.

"Tapi kan kamu capek, Nak. Dari pagi kan kamu kerja."

Naya menunduk, suaranya bergetar. "Kalau Naya pulang.... terus ayah kenapa- napa gimana?"

Ibunya terdiam. Pertanyaan itu adalah ketakutan yang sama sepertinya namun disimpan dalam hati.

"Nak..... " Ibunya mendekat, menyentuh bahu Naya lembut. "Tapi ayah juga pasti nggak mau kamu sakit."

Air mata Naya akhirnya jatuh. Ia menunduk, bahunya bergetar kecil. "Kemaren Naya sudah kehilangan satu orang penting dalam hidup Naya, Bu. Naya nggak akan sanggup kalau harus kehilangan..... "

Ibunya langsung memeluk erat Naya sebelum Naya selesai melanjutkan perkataannya.

Di atas ranjang, ayahnya bergerak sedikit. Jemarinya seperti mencoba membalas genggaman Naya, lemah, tapi terasa.

Naya akhirnya tertidur di kursi samping ranjang, kepalanya bersandar di tepi kasur. Tangannya masih menggenggam tangan ayahnya erat, takut melepaskannya.

Ibunya memandangi mereka berdua dalam diam.

Perlahan, ia bangkit dari kursinya. Dengan langkah hati-hati agar tidak membangunkan Naya, ia mengambil selendang dari tas menyelimutkan ke bahu putrinya. Jemarinya mengusap rambut Naya lembut.

"Anak ibu... " bisiknya pelan.

Ibunya kembali duduk, menatap suaminya yang terbaring lemah.

Malam itu terasa sangat berbeda. Biasanya Naya melewati malam di kamarnya, dengan lampu tidur yang redup. Tapi kali ini, ia tertidur di kursi rumah sakit, dengan aroma yang tidak nyaman.

Pagi datang dengan suasana yang tak pernah diinginkan.

"Nay.... Bangun, Nak." suara ibunya lembut. "Sudah jam enam."

Naya membuka mata perlahan. Lehernya pegal, tangannya masih menggenggam tangan ayahnya yang hangat. Tanpa menjawab ibunya, Ia langsung menoleh ayahnya, memastikan napas itu masih ada.

"Ayah stabil, ayah baik-baik saja," Kata ibunya pelan, seolah tahu apa yang dipikirkan Naya.

Naya menghela napas lega.

"Kamu pulang dulu aja bentar, siap-siap. Kamu harus kerja pagi ini, kan? "

Wajah Naya langsung berubah. Ia duduk lebih tegak, menggeleng pelan namun tegas.

"Naya nggak masuk kerja hari ini, Bu."

"Tapi... " jawab ibunya.

Naya langsung memotong ucapan ibunya, "Naya udah izin kok, Bu."

Ibu menatap Naya lama. Ia tahu putrinya keras kepala jika sudah menyangkut ayahnya.

_

Pagi yang sama, suasana kantor sudah mulai ramai. Kursi-kursi terisi. Namun satu meja masih kosong.

Nadira meletakkan tasnya pelan, melirik ke arah kursi yang tepat di sampingnya.

"Naya belum datang?" gumamnya.

Nadira duduk, menggigit bibirnya pelan.

Perasaannya tidak enak sejak hari itu.

Dia meraih ponselnya, "Naya juga engga ada kasih kabar apa-apa." lanjutnya.

Dia mengetik cepat, "Nay, kamu dimana? Udah jam segini, kok belum sampe kantor?"

Pesan itu terkirim.

Dia memilih tak langsung menanyakan kondisi ayahnya, takut Naya semakin khawatir. Lebih baik Naya sendiri yang akan cerita.

Beberapa detik terasa lama. Nadira menatap layar, menunggu tanda centang berubah.

Ia kembali melirik ke meja kosong itu, hatinya diliputi khawatir.

Ponsel Nadira akhirnya bergetar.

Nama Naya muncul di layar.

"Dir, aku nggak masuk hari ini. Aku sudah izin sama pak Arga tadi pagi. Aku masih di rumah sakit."

Nadira langsung membaca dengan napas tertahan. Jantungnya sedikit lega karna setidaknya Naya memberi kabar.

Seperti biasa, CEO itu berjalan melewati ruang kerja staf sebelum naik ke lantai atas. Langkahnya tenang, jasnya selalu rapi. Asistennya mengikuti setengah langkah di belakang.

Beberapa staf langsung memberi sapaan hormat saat melihatnya.

Namun Nadira, orang yang biasanya paling menunggu kehadiran CEO itu setiap paginya, tidak menyadari kehadirannya. Tatapannya tetap ke layar komputer, pikirannya masih kepada Naya, sahabatnya.

CEO itu selalu memastikan lebih awal tentang kehadiran Naya. Kursinya kosong.

Biasanya gadis itu sudah duduk tegak, terlihat fokus saat dia datang ke kantor. Tapi hari itu, mejanya tampak rapi. Tidak ada tas kecilnya.

Ia hampir saja bertanya pada Nadira yang duduk di samping kursi Naya. Dia sudah melangkah, satu langkah. Tapi Ia menahannya.

Biasanya dia selalu tersenyum pagi menuju lift, namun kali ini wajahnya datar, tanpa ekspresi.

Di ruangannya, Ia segera meletakkan map di meja.

"Candra, tolong minta Kepala Administrasi ke ruangan saya."

Tak lama, kepala Administrasi itu masuk dengan sikap formal.

"Selamat pagi, Pak." sapanya sopan.

"Pagi." CEO itu duduk, menyandarkan punggungnya. Nadanya tenang, terkontrol, "saya ingin memastikan kehadiran tim hari ini. Apakah ada yang izin?"

Arga, Kepala Administrasi itu membuka catatannya. "Ada, Pak. Satu orang. Naya mengajukan izin satu hari. Ayahnya sedang dirawat di rumah sakit."

Ekspresi CEO itu tetap tenang, hampir tak berubah. "Pastikan pekerjaannya tetap terkoordinasi."

Setelah Kepala Administrasi itu keluar, ruangannya kembali hening.

CEO itu menatap berkas di depannya, tapi pikirannya tidak benar-benar fokus. Ia mengambil ponselnya, meminta asistennya segera ke ruangan.

Asistennya segera masuk dengan tablet di tangan, "Iya, Pak?"

CEO itu berdiri, berjalan pelan ke arah jendela. Nadanya tetap datar.

"Terkait karyawan yang izin hari ini, staf administrasi, Naya."

Asisten itu mengangguk, siap mencatat.

"Pastikan perusahaan mengirimkan paket buah dan kartu ucapan. Atas nama manajemen." jelasnya.

"Baik, Pak. Ke alamat rumahnya?"

CEO itu terdiam sebentar.

"Tidak. Ke rumah sakit tempat ayahnya dirawat."

Asistennya sedikit terkejut, namun tetap profesional. "Baik, Pak. Saya akan konfirmasikan ke bagian administrasi untuk detail alamat rumah sakitnya."

CEO itu mengangguk singkat. Kembali duduk di kursinya.

Asisten pribadinya kembali masuk setelah beberapa menit.

"Pak, sudah saya konfirmasi. Ayah Naya dirawat di Rumah Sakit Harapan Medika. Saya juga sudah pastikan pengiriman parsel buahnya, Pak. Sudah dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Harapan Medika."

CEO yang semula sedang membaca dokumen berhenti sejenak. Tatapannya tidak berubah, tetap tenang.

Asistennya menunggu instruksi selanjutnya.

CEO itu berdiri, merapikan jasnya.

"Saya ada agenda keluar satu jam. Tunda meeting pukul sepuluh."

Asistennya itu langsung mengerti, "Apakah saya perlu....."

CEO itu langsung menyela perkataan asistennya itu, "Tidak. Saya menyetir sendiri."

CEO itu berjalan keluar ruangan dengan langkah mantap. Wajahnya tetap dingin dan sulit ditebak.

1
kurniasih kurniasih
ceritanya bagus banget lanjut dong
Pasaribu: Ditunggu yaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!