Pernah sesekali terlintas untuk pergi dari dunia ini selamanya. Mengakhiri takdir yang telah digariskan, yang terkesan tak adil. Karena sudah terlalu lelah dengan semuanya. Akan tetapi hati kecilnya kerap berkata, 'Jangan...!!'
Hingga suatu ketika dia benar-benar tak ingin melawan lagi. Bahkan untuk protes saja tak bisa dia lakukan lagi. Karena menurutnya itu tidak akan mengubah apapun pada kehidupannya...
Karena ketidakadilan sudah terlanjur mendarahdaging dalam dirinya...
Menjalani semuanya, apapun itu. Hingga tiba waktunya. Itulah keputusan terakhirnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itsaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kehidupan Baru
Menjelang siang, pak Jodi dan keluarganya mendatangi rumah orang tuanya. Di rumah mewah itu, pak Jodi dan istrinya dimaki habis-habisan oleh pak Imron, papa Jodi.
"Bagaimana bisa kalian membiarkan Yumna pergi?!" pak Imron sangat kesal..
"Dia yang memilih jalannya sendiri." balas pak Jodi tak peduli.
"Kalau papa bisa bicara baik-baik padanya. Dan tidak mengusirnya. Dia tidak akan pergi." sahut Bu Indri. Dia tak suka dengan kalimat yang baru saja diucapkan oleh suaminya.
"Apa?!!" sahut pak Imron. Dia belum pernah mendengar hal itu sebelumnya.
"Dia mulai membangkang, pa. Bahkan dia menjadi simpanan pria bejat di luaran sana. Kalau papa jadi saya, apa akan diam saja?!!" bantah pak Jodi.
Tiba-tiba pak Imron teringat anaknya yang lain. Sasa. Kejadian yang menimpa Sasa, sampai saat ini masih menghantuinya.
"Selama ini dia selalu berusaha melukai adiknya. Bahkan nyaris membunuhnya. Saya masih bisa sabar. Dan berharap dia akan berubah lebih baik. Tapi kenyataannya apa?? Dia semakin salah jalan." begitulah penuturan pak Jodi.
"Paa...!!" sentak Bu Indri.
Bu Indri semakin tak tahan dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya itu. Biar bagaimanapun juga, Yumna adalah anak yang dia rawat sejak bayi. Sekalipun bukan anak kandungnya. Dia merasa sakit hati, ketika Yumna dijelek-jelekkan seperti itu.
"Terlepas dari semua itu. Yumna sekarang ada di tangan Elbara Wiranata. Dan menjadi bagian dari keluarga penguasa bisnis. Kamu pasti tahu, menjadi bagian dari Wirnat Grup adalah impian semua pengusaha. Dan Yumna, dia bahkan sudah berstatus istri Elbara. Ini keuntungan besar, Jodi...!! Buka mata kamu lebar-lebar...!!!" ujar pak Imron menegaskan.
"Semua orang harus tahu, kalau sekarang kita adalah bagian dari keluarga Wiranata. Setelahnya, pasti akan banyak pengusaha yang mendekati kita." pak Imron menyeringai tipis.
Pak Jodi masih diam, dia membenarkan semua ucapan papanya. Memang benar, jika semua tahu kalau dirinya adalah mertua Elbara. Maka semua orang akan berbondong-bondong datang padanya. Dan otomatis peluang untuk melebarkan sayap di dunia bisnis akan semakin mudah. Tapi masalah, Yumna bukan anak kandungnya. Lebih parahnya lagi, dia sudah menghapus nama Yumna dari keanggotaan keluarganya. Apa yang bisa dia lakukan setelah ini...?!!!
"Kalian memang tidak punya hati nurani!"
Suara itu mengejutkan tiga orang dewasa yang sedang berkumpul di ruang keluarga. Dia adalah Sasa. Entah sejak kapan dia datang, tiba-tiba saja dia sudah berada di dekat mereka.
"Masih punya muka, mengakui diri kalian sebagai orang tua Yumna?" cibir Sasa sambil menatap Pak Jodi dan Bu Indri bergantian.
"Setelah kalian menganiaya Yumna, menghinanya, merusak mentalnya. Dan jangan lupa, kalian juga sudah menghapusnya dari daftar keluarga." ujar Sasa kembali mengingatkan apa yang terjadi.
"Apa yang Sasa katakan itu benar?!" pak Imron menatap tajam pak Jodi, menuntut penjelasan.
"Dia tidak akan mengakuinya, pa. Satu keluarga ini, mereka adalah manusia tak punya hati." sahut Sasa ketus.
"Sasa, jaga bicaramu!!" sahut Bu Indri, menegur Sasa.
"Kenapa mbak? Mbak mau bilang kalau mbak adalah orang yang paling menyayangi Yumna. Iya...?!!" balas Sasa, senyum yang terukir di wajahnya terkesan meremehkan Bu Indri.
"Saya memang menyayanginya!" sahut Bu Indri, mengakui hal itu.
"Lalu, kenapa mbak diam saja saat anak kesayangan mbak itu ditindas, difitnah, dan dianiaya di rumah kalian yang sudah seperti neraka itu?!!" nada suara Sasa meninggi. "Kemana mbak Indri, saat suami mbak memukuli Yumna?" imbuhnya.
"CUKUP...!!" seru pak Imron.
"Sasa, kamu ini bicara apa?!!" tanya pak Imron, sedikit membentak.
"Papa tanya saja sama mereka." balas Sasa.
Sasa kemudian pergi meninggalkan mereka begitu saja. Dia hendak mengunjungi makam putrinya di belakang rumah.
"Karena kalian diam, saya anggap semua yang Sasa katakan itu benar." begitulah kesimpulan yang pak Imron ambil.
"Kalian benar-benar tak berguna!!" teriaknya. "Harusnya kalian menjaga Yumna dengan baik. Lihatlah, harta berharga kita sekarang sudah pergi. Akibat ulah kalian sendiri."
"Lebih baik dia pergi. Daripada kalian manfaatkannya untuk kepentingan kalian sendiri." Bu Indri menggerutu, lalu dia keluar dari ruangan itu dengan rasa kesal yang mendalam. Kesal karena sikap mertua dan suaminya. Juga karena dirinya sendiri yang waktu itu tidak bisa melindungi Yumna.
"Papa tidak perlu berlebihan. Kita masih punya Nasya. Dia sekarang sedang dekat dengan Damar, anak pak Hendra." pak Jodi berusaha mengalihkan topik.
"Hendra itu tidak ada apa-apanya dibanding Elbara. Apa kamu buta, hah...?!!" sahut pak Imron.
"Setidaknya dia bukan dari kalangan bawah yang miskin. Mereka keluarga terpandang, dan berpendidikan." bantah pak Jodi, yang selalu membanggakan hubungan Nasya dan Damar.
"Keluarga Wiranata tetap tak tertandingi. Kita harus bisa membuat Yumna kembali. Sehingga kita diterima oleh keluarga Wiranata." sahut pak Imron.
"Kalau memang mereka satu-satunya jalan menuju kejayaan kita. Kita bisa mengaturnya." pak Jodi menyeringai, seperti sudah miliki rencana licik lainnya.
"Apa maksudmu?" tanya pak Imron masih tidak paham.
"Biar bagaimanapun, Yumna adalah anak liar peliharaan pria-pria tak jelas di luaran sana. Saya yakin, Elbara salah satu dari mereka. Bisa jadi dia menikahi Yumna karena Yumna sedang hamil. Kita hanya perlu melenyapkan anak itu. Lalu membuat bukti, kalau Yumna tak hanya berhubungan dengannya. Elbara pasti akan kecewa, karena dia pikir anak itu darah dagingnya. Padahal itu adalah anak tak jelas. Benih dari beberapa pria hidung belang yang pernah tidur dengannya. Setelah itu, kita kirim Nasya masuk dalam hidup Elbara yang sedang hancur-hancurnya." tutur pak Jodi menjelaskan rencananya.
"Apa kamu yakin Yumna seperti itu?" pak Imron sedikit ragu. Pasalnya selama ini Yumna selalu menjadi anak yang baik dan penurut.
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya, papa." kalimat itu hanya bisa dia gumamkan dalam hati.
"Nasya saksinya, paa." begitulah kata pak Jodi.
"Lakukan apapun. Tapi semua harus rapi. Ingat, Elbara bukan orang yang mudah dipermainkan." kata pak Imron memperingatkan.
"Sehebat-hebatnya dia, pasti ada titik lemahnya." sahut pak Jodi.
"Yumna adalah anak pertamanya. Yang dia dapatkan dengan susah payah. Dia juga mengeluarkan banyak uang untuk program kehamilan di luar negeri. Kenapa dia begitu tega menghancurkan Yumna? Padahal ada jalan yang lebih baik, dengan mendekatinya dengan lembut dan membawanya kembali." umpat pak Imron dalam hatinya.
___
Malam harinya di dalam kamar pasangan pengantin baru. Yumna duduk di depan meja riasnya, ada serangkaian skincare kiriman dari salah seorang tamu yang kemarin datang. Yumna diam melihatnya, bukan berarti dia tidak tahu. Dia hanya merasa semua itu berlebihan.
"Jika tidak suka, tidak perlu dipakai. Itu hanya hadiah." ujar Elbara dari atas kasur.
Yumna menatap Elbara dari pantulan cermin. Lalu dia berdiri, dan beranjak dari sana.
"Saya hanya tidak biasa memakainya." balas Yumna.
Tanpa sungkan Yumna naik ke kasur dan duduk di samping Elbara. Meski masih menyisakan jarak yang cukup jauh. Karena kasurnya sangat besar.
"Pak, em..." Yumna terdiam. Dia masih kikuk harus memanggil nama Elbara.
"Terserah kamu saja mau panggil apa." sahut Elbara.
"Maaf, saya belum terbiasa." kata Yumna.
"Katakan, ada apa?"
"Soal orang tua saya." gumam Yumna pelan.
Elbara kemudian meletakkan ponselnya di atas nakas. Dia akan fokus mendengarkan apapun yang akan disampaikan oleh Yumna.
"Menurut pak Bara, apa salah kalau saya tidak ingin mengetahui siapa orang tua saya?"
Elbara merasa tersentuh, pertanyaan itu artinya Yumna sedang meminta pendapat dan masukan darinya.
"Tidak sepenuhnya salah, tapi bukan berarti benar juga." kata Elbara menanggapinya.
"Kamu hanya mendengar dari satu pihak saja. Dan itu adalah pihak yang sebelumnya telah diprovokasi oleh orang lain, sehingga sangat membenci kamu." imbuhnya lagi.
"Jadi, menurut pak Bara. Saya sebaiknya mencari tahu dulu kebenarannya?" tanya Yumna.
"Betul." jawab Elbara tanpa ragu.
"Sekarang, lihat bagaimana sakitnya kamu ketika Nasya memfitnah kamu. Padahal kamu tidak seperti itu. Lalu, kalau orang tua kandung kamu tahu. Kamu sebenci itu sama mereka, lantaran ucapan orang lain yang belum tentu kebenarannya. Apa menurut kamu mereka tidak merasa sakit hati juga?" tutur Elbara.
"Pak Bara benar." batin Yumna.
"Kalau kamu berubah pikiran. Saya akan lanjutkan pencarian orang tua kamu." kata Elbara lagi.
"Sebenarnya kemungkinan itu sudah ada. Beberapa bukti sudah ditemukan. Hanya tinggal dokumen pengadopsian yang belum ketemu. Itu yang akan memperjelas siapa kamu sebenarnya." batin Elbara.
"Iya. Saya ingin mencari mereka." itulah keputusan yang Yumna ambil.
Elbara tersenyum. Dia refleks menepuk-nepuk ubun-ubun Yumna, seperti yang biasa dia lakukan pada Aluna. Yumna tidak menyangka Elbara akan memperlakukannya seperti itu.
"Baiklah. Jangan khawatir." katanya. "Sekarang tidurlah, sudah malam." ujarnya lagi.
"Em." Yumna pun mengangguk.
Sebenarnya Elbara tidak pernah menghentikan pencarian itu. Waktu itu dia sengaja berbohong, hanya untuk menjaga perasaan Yumna. Dia tak ingin karena ulahnya, Yumna semakin dingin hingga tak sanggup dia sentuh.
"Apa...?? Sentuh...?! Elbara, apa yang kamu pikirkan. Kamu hanya pria brengsek yang memaksa perempuan tak berdaya menjadi istri kamu. Hanya untuk membuat Felly cemburu dan berhenti mengganggumu. Jangan berharap terlalu banyak dari pernikahan ini."
Elbara seperti sedang menampar dirinya sendiri. Agar dia sadar, apa yang dia perbuat pasti ada konsekuensinya.
___
Yumna mulai bisa beradaptasi dengan status dan lingkungan barunya. Selain mengurus Elbara, Bu Kartika, dan Aluna. Yumna juga kerap membantu pekerjaan para ART di rumah itu. Sekalipun pernikahan mereka bukan atas dasar rasa cinta yang tulus. Yumna adalah istri sah Elbara. Menantu keluarga Wiranata. Jadi dia harus menjalankan tugasnya dengan baik dan sepenuh hati. Yumna tidak peduli dengan akhir dari keputusannya hari itu akan seperti apa. Sudah cukup baginya mengharapkan banyak hal indah, berekspektasi terlalu tinggi. Karena pada akhirnya takdir baik tak pernah perpihak padanya.
Seperti saat ini Yumna sedang membantu bi Nuri dan bi Yulis merawat sayuran di halaman belakang. Lalu Bu Kartika menghampirinya.
"Yumna, mama masak ikan bakar kesukaan Bara. Bisa kamu antarkan ke kantor?" tanya Bu Kartika.
"Apa tidak akan mengganggu pekerjaan pak Bara?" Yumna balik bertanya.
"Kamu ini. Sudah menjadi istri masih panggil dia pak." tegur Bu Kartika.
Bi Nuri dan bi Yulis menahan tawa mendengar Bu Kartika menegur Yumna. Bukan mengejek Yumna, hanya saja sikap nyonya muda mereka itu unik sekali. Dan interaksi tuan dan nyonya baru mereka yang kadang malu-malu. Selalu menjadi momen yang ditunggu oleh para penghuni rumah itu.
"Belum terbiasa, ma." balas Yumna agak sungkan.
"Makanya mulai dibiasakan dari sekarang." katanya.
"Iya, ma."
"Ya sudah. Cepat siap-siap. Mama akan suruh supir menyiapkan mobil." ujar Bu Kartika.
"Sini, nyonya. Biar saya lanjutkan." bi Yulis mengambil gunting di tangan Yumna.
"Terimakasih, bi." kata Yumna membalas.
Yumna kemudian kembali ke dalam rumah. Bu Kartika tersenyum penuh arti melihat kepergian menantunya itu.
"Mereka ini, kalau bukan saya yang berusaha mendekatkan. Pasti malu-malu terus." gumam Bu Kartika.
"Iya nyonya." balas Bi Nuri yang sependapat dengan Bu Kartika.
"Tapi tuan Bara dan nyonya Yumna sangat menggemaskan, kalau malu-malu begitu nyonya." celetuk bi Yulis.
"Sepertinya kalian bisa diandalkan. Kita akan sama-sama membuat mereka lebih romantis." tutur Bu Kartika penuh harap.
"Siap, nyonya!!" sahut bi Yulis sangat bersemangat.
Bi Nuri yang lebih kalem, hanya mengangguk pelan. Dia sangat bersyukur karena setelah Yumna keluar dari rumah itu. Yumna justru diterima dengan baik oleh keluarga Elbara. Bahkan Bu Kartika juga sangat menyayanginya.
......................