Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Jarak mereka tinggal setengah langkah. Tidak ada yang bergerak. Tapi justru karena itu, suasananya terasa semakin menekan.
Cokro masih berdiri di depan Melati. Tatapannya tidak lagi ragu, tapi juga belum sepenuhnya berani. Seolah ia sendiri sedang menimbang, maju atau tetap menjaga garis yang selama ini ia buat.
Melati bisa merasakan napas pria itu, hangat tidak tidak bisa untuk ditolak ataupun dihindari tatapan Cokro seolah mengunci matanya.
“Mas…” suaranya nyaris bergetar.
Cokro menelan ludah. Tangannya kembali terangkat sedikit, lebih tinggi dari tadi. Kali ini tidak berhenti di udara. Ujung jarinya akhirnya menyentuh pelan sisi rambut Melati yang jatuh di pipinya.
Hanya merapikan, itu saja. Tapi sentuhan sesederhana itu seperti aliran listrik yang menjalar sampai ke ujung kaki Melati refleks memejam sepersekian detik.
Deg.
Cokro ikut membeku saat menyadari apa yang ia lakukan. Namun kali ini ia tidak menarik tangannya secepat tadi. Jemarinya masih di sana. Dekat. Terlalu sadar akan keberadaan satu sama lain.
“Aku belajar pelan-pelan,” ucapnya rendah.
Belajar apa, tidak dijelaskan. Tapi Melati mengerti.
Ia mengangkat wajahnya sedikit. Tatapan mereka kembali bertemu. Tidak ada masa lalu di antara mereka saat itu. Tidak ada Rani. Tidak ada bayangan siapa pun.
Hanya dua orang yang sama-sama berhenti berpura-pura. Cokro mendekat setengah langkah lagi, jarak mereka kini benar-benar tipis.
Melati bisa saja mundur, tapi ia tidak melakukan itu, ia hanya belajar pasrah biar cinta menemukan jalannya sendiri.
Begitu pula dengan Cokro ia bisa saja mencium kening istrinya, tapi ia berusaha untuk tidak gegabah, karena ia ingin ciuman pertama untuk sang istri benar-benar terkesan tidak terburu-buru dan membiarkan cinta itu datang karena terbiasa.
Dan justru karena tidak ada yang benar-benar dilakukan… ketegangan itu terasa berkali lipat lebih kuat.
“Aku nggak mau kamu merasa sendirian di kamar ini lagi,” bisik Cokro.
Kalimat itu jauh lebih intim daripada sentuhan apa pun.
Pipi Melati memanas. “Mas juga nggak sendiri,” jawabnya pelan.
Hening sejenak, angin malam yang berhembus, seolah terlewatkan begitu saja, Cokro perlahan menarik tangannya. Bukan karena ragu lagi, tapi karena ia tahu… ia ingin melakukannya dengan benar, sekali lagi tidak dengan terburu-buru.
Ia mundur satu langkah, bukan menjauh, hanya memberi ruang agar mereka bisa bernapas lagi.
“Malam ini aku di sini,” katanya sederhana.
Bukan janji besar. Tapi cukup.
Melati tersenyum kecil, jantungnya masih belum normal. “Iya.”
Lampu kamar diredupkan. Mereka berbaring di sisi masing-masing. Jarak di ranjang masih ada… tapi tidak terasa selebar biasanya.
Keduanya tidur dengan hari yang kau lebih tenang dari sebelumnya, meskipun rasa canggung itu masih terasa dan mereka sadar betul. Bahwa sesuatu sudah berubah, tanpa mereka sadari.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan paginya…
Langit masih cerah dengan sisa embun pagi ketika mobil berhenti di depan sekolah dasar Mahendra. Hari itu Melati yang mengantar. Mahesa sudah lebih dulu diantar ke TK oleh susnya.
Melati turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Mahendra. Anak itu melompat turun dengan tas ransel di punggungnya.
“Semangat ya, Kakak Mahen,” ucap Melati lembut sambil merapikan kerah seragamnya.
“Iya, Ma.”
Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang sekolah, namun saat kaki sudah berjalan beberapa langkah, di situlah Melati melihatnya.
Seorang perempuan berdiri tak jauh dari gerbang. Kacamata hitam besar menutupi sebagian wajahnya, tapi penampilan dan aura itu… sulit salah.
Rani memang sengaja berdiri di sana. tidak tersembunyi, bahkan tanpa ragu, ia seolah ingin benar-benar terlihat dan menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Tatapannya langsung tertuju pada Melati dan Mahendra, lalu perlahan ia melepas kacamata hitamnya. Senyumnya tipis, tenang, dan penuh percaya diri, senyum seseorang yang merasa masih punya kendali atas sesuatu.
Mahendra ikut melihat ke arah yang sama, tapi wajahnya justru menunjukkan kebingungan. Langkahnya melambat bukan karena mengenali, melainkan karena merasa asing. Ia menatap perempuan di depannya beberapa detik sebelum akhirnya berbisik pelan, “Ma… itu siapa?”
Satu pertanyaan itu membuat Melati ikut terdiam. Jantungnya bergetar kecil. Jadi… Mahen memang tidak mengenalinya. Wajar. Sejak kecil ia tidak pernah benar-benar bertemu langsung. Rani sudah lama pergi dari hidup anak itu.
Rani sempat terlihat terkejut sepersekian detik, tapi cepat sekali ia menutupi ekspresinya. Ia tetap melangkah mendekat, tumit sepatunya berbunyi pelan di atas paving. “Mahen…” ucapnya lembut, mencoba terdengar akrab, “Mama.”
Mahendra justru semakin merapat ke sisi Melati. Tatapannya penuh tanda tanya. Tidak ada spontanitas. Tidak ada rasa familiar.
Melati hendak membuka suara, namun Rani lebih dulu mengalihkan perhatian padanya. Perempuan itu tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangan dengan gerakan tenang dan percaya diri.
“Rani,” katanya ringan. “Ibunya Mahendra.”
Melati benar-benar kaget meski berusaha tidak menunjukkannya. Tangannya sempat terasa dingin sebelum akhirnya membalas uluran itu.
“Melati,” jawabnya sopan. “Saya yang mengantar Mahen sekarang.”
Ada jeda tipis setelah kalimat itu. Rani menangkap maksudnya.
“Oh, tentu,” balas Rani dengan nada halus. Tatapannya menyapu Melati dari atas sampai bawah, bukan terang-terangan merendahkan, tapi jelas menilai. “Saya hanya ingin melihat anak saya. Sudah lama sekali.”
Mahendra masih berdiri diam. Tangannya kini benar-benar menggenggam ujung baju Melati. Rani melihat gerakan kecil itu, lalu tersenyum lagi, senyum yang sulit ditebak artinya.
“Kamu memang belum ingat Mama,” katanya pada Mahendra dengan nada lembut yang dibuat-buat. “Waktu Mama pergi, kamu masih kecil sekali.”
Kalimat itu sengaja dipilih. Waktu Mama pergi. Seolah kepergian itu bukan keputusan sepihak. Seolah ia tetap bagian yang utuh.
Lalu Rani menoleh lagi pada Melati. “Cokro tahu saya ke sini,” ucapnya santai, seakan informasi biasa. “Dia selalu bilang, kalau soal keluarga… perasaannya nggak pernah benar-benar berubah.”
Deg.
Kalimat itu tidak diucapkan keras, tapi cukup jelas. Seolah pesan yang ingin disampaikan bukan untuk Mahendra, melainkan untuk Melati.
“Dia orang yang sulit melepas,” lanjut Rani ringan, hampir seperti berbagi cerita lama. “Apalagi kalau sudah pernah mencintai.”
Udara pagi mendadak terasa lebih berat. Melati menahan napasnya sejenak. Jadi ini tujuannya. Bukan hanya memperkenalkan diri sebagai ibu kandung. Rani ingin menunjukkan bahwa dirinya masih punya ruang di hati Cokro, atau setidaknya ingin membuat orang lain percaya begitu.
Mahendra menoleh ke Melati lagi, bingung. “Ma… kita masuk aja?”
Satu kalimat polos itu seperti jangkar.
Melati akhirnya tersenyum lembut pada anak itu. “Iya, nanti terlambat.”
Ia menoleh pada Rani dengan sopan, tetap tenang meski dadanya tidak sepenuhnya stabil. “Kalau memang ingin bertemu Mahen, mungkin bisa dibicarakan dulu waktunya dengan Mas Cokro.”
Rani mengangkat alis tipis. “Tentu. Kami memang masih sering bicara.”
Sekali lagi, kalimat itu sengaja, dilontarkan.
Melati hanya mengangguk kecil. Tidak membalas. Tidak terpancing. Namun dalam diam, ia sadar, ini baru permulaan.
Bersambung ....
Semoga suka ya