NovelToon NovelToon
Sekte Aliran Abadi

Sekte Aliran Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Dan budidaya abadi / Sistem
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i

​Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
​Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
​Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24 guntur yang padam di lembah sunyi

​Debu dari ledakan gerbang utama belum juga mengendap ketika jeritan pertama terdengar dari dalam Paviliun Pedang Guntur. Lei Hu, sang Ketua Paviliun yang baru saja tertawa sombong, melompat keluar dari aula pesta dengan wajah merah padam. Arak mahal masih membasahi janggutnya, namun matanya sudah melotot tajam ke arah sosok pemuda yang berdiri di tengah puing gerbang.

​"Li Yun?! Bocah sampah dari Puncak Qingyun?!" Lei Hu berteriak, suaranya parau karena kaget. "Bagaimana mungkin kau menembus gerbang ini sendirian?"

​Li Yun tidak menjawab dengan kata-kata. Dia merentangkan kedua tangannya. Sepasang Cakar Guntur di lengannya mulai mendesis, mengeluarkan percikan listrik berwarna biru keputihan yang sangat kontras dengan guntur kuning redup milik para murid Paviliun Pedang Guntur.

​"Ketua Lei, namaku mungkin sampah di matamu kemarin," Li Yun sedikit membungkuk, matanya berkilat haus akan pertarungan. "Tapi hari ini, aku adalah akhir dari sektemu."

​"SOMBONG! MATI KAU!" Lei Hu menghunuskan pedang besarnya. Petir kuning menyambar-nyambar di sekitar bilahnya. Sebagai ahli Tingkat 5 Puncak, dia merasa terhina ditantang oleh seorang pemuda yang baru beberapa bulan lalu bahkan tidak bisa menahan tekanannya.

​Lei Hu melesat maju, pedangnya menebas udara dengan kecepatan suara. Teknik Pedang Guntur: Kilat Penghancur!

​CLANG!

​Bukannya melihat tubuh Li Yun terbelah, Lei Hu justru melihat pemuda itu menahan tebasan pedang besarnya hanya dengan satu cakar. Li Yun bahkan tidak mundur satu langkah pun. Tanah di bawah kakinya retak, namun tubuhnya kokoh seperti gunung.

​"Hanya segini?" Li Yun menyeringai. "Gunturmu... terlalu pelan."

​BZZZT!

​Listrik dari cakar Li Yun menjalar ke pedang Lei Hu. Sang Ketua Paviliun tersentak; dia merasa lengannya mati rasa seketika. Sifat Paralysis dari senjata baru Li Yun bekerja sempurna.

​"Lin Yue, sekarang!" teriak Li Yun.

​Dari kegelapan langit, helai-helai kain putih panjang meluncur turun seperti ular-ular es. Pita Sutra Es Abadi milik Lin Yue menyapu medan perang. Setiap murid Paviliun yang mencoba mengeroyok Li Yun tiba-tiba merasakan kakinya membeku di tempat.

​Lin Yue mendarat dengan anggun di atas sebuah atap bangunan kayu. Wajahnya yang cantik tampak tanpa ekspresi, seolah-olah dia sedang menari di sebuah pesta, bukan sedang membantai musuh.

​"Seni Es: Hujan Jarum Embun Jiwa," bisik Lin Yue lembut.

​Ribuan jarum transparan terbentuk dari kelembapan udara di sekitarnya. Dengan jentikan jari, jarum-jarum itu melesat turun, mengincar titik-titik meridian para murid musuh.

​Jleb! Jleb! Jleb!

​"AAARRGGHH! Kakiku! Aku tidak bisa merasakan Qi-ku!"

​Hanya dalam hitungan menit, halaman depan Paviliun Pedang Guntur berubah menjadi neraka beku yang tersengat listrik.

​Di Atas Awan

​Su Lang mengamati dari ketinggian, berdiri tenang di atas Pedang Naga Hitam yang melayang. Di sampingnya, Chen Ling menggenggam Kuali Racun Hijau-nya dengan gugup.

​"Kenapa tidak menyerang, Guru?" tanya Chen Ling.

​"Ini panggung mereka, Ling'er. Jika aku turun sekarang, mereka tidak akan pernah belajar bagaimana rasanya menghadapi tekanan yang sesungguhnya," Su Lang menoleh ke arah Chen Ling. "Tapi, sepertinya ada tamu tak diundang yang mencoba melarikan diri lewat jalur belakang. Pergilah. Gunakan racunmu untuk memastikan tidak ada satu pun informasi yang keluar dari tempat ini."

​Chen Ling mengangguk mantap. Dia melompat turun, jubah hijaunya berkibar. Di gerbang belakang, sekelompok murid elit dan utusan dari Balai Tujuh Bintang mencoba menyelinap pergi untuk mencari bantuan.

​"Mau ke mana, Tuan-Tuan?" suara manis Chen Ling terdengar.

​"Hanya seorang gadis kecil? Minggir!" Utusan Zhao dari Balai Tujuh Bintang menghunuskan pedangnya.

​Chen Ling tidak takut. Dia memutar kuali kecil di tangannya. "Asap Kabut Hitam: Nafas Kematian."

​Asap ungu gelap yang sangat pekat menyembur dari kuali, menelan seluruh jalur belakang. Utusan Zhao dan anak buahnya mencoba menahan napas, namun racun Chen Ling bukan hanya bekerja lewat pernapasan; racun itu meresap melalui pori-pori kulit.

​Dalam lima detik, mereka semua jatuh tersungkur. Kulit mereka berubah menjadi kehijauan, dan tubuh mereka lumpuh total namun mereka masih sadar sepenuhnya—sebuah siksaan mental yang mengerikan yang dirancang oleh Chen Ling selama enam bulan di Ruang Waktu.

​Di Pusat Pertempuran

​Lei Hu sudah compang-camping. Pedang besarnya patah menjadi dua. Dia menatap Li Yun dengan horor. Pemuda ini... dia baru Tingkat 4, tapi kekuatan fisiknya jauh melampaui itu.

​"Siapa kalian sebenarnya?! Tidak mungkin Sekte Aliran Abadi berkembang secepat ini!" raung Lei Hu.

​"Kami adalah bayangan masa depan yang kau abaikan," jawab Li Yun dingin. Dia menyilangkan kedua cakarnya di depan dada. "Seni Guntur: Cakar Naga Penghancur Surga!"

​Li Yun melesat. Kecepatannya meninggalkan jejak listrik biru di udara.

​SHRIIIIK!

​Cakar itu menembus zirah dada Lei Hu, merobek jantungnya seketika. Sang Ketua Paviliun jatuh dengan mata terbelalak, tidak pernah membayangkan bahwa sektenya yang berumur ratusan tahun akan hancur dalam satu malam oleh dua remaja.

​Su Lang turun dari langit, mendarat dengan tenang di tengah mayat-mayat yang bergelimpangan. Dia berjalan melewati Li Yun dan Lin Yue yang sedang mengatur napas mereka.

​"Bagus. Kalian sudah lulus ujian pertama," kata Su Lang.

​Dia mengangkat tangannya, dan Api Roh Langit Biru muncul di telapak tangannya. Dengan lambaian tangan, api itu menyebar, membakar seluruh bangunan Paviliun Pedang Guntur. Dalam hitungan detik, simbol kekuatan aliansi itu menjadi abu.

​Su Lang menoleh ke arah kegelapan hutan di luar sekte. "Utusan dari dua sekte lainnya pasti sudah merasakan ini. Kita tidak punya waktu untuk beristirahat. Kita akan melanjutkan perjalanan ke Sekolah Awan Mengalir sebelum matahari terbit."

​Li Yun menyeka darah di pipinya, matanya menyala dengan semangat juang. "Siap, Guru! Siapa selanjutnya?"

​"Kita akan membuat mereka tahu," Su Lang menatap ke langit yang mulai memerah di ufuk timur. "Bahwa 'Perintah Pembunuhan Bintang' mereka bukan hanya sebuah kegagalan, tapi surat kematian bagi mereka sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!