"Fania, kamu tahu pernikahan ini hanya sebuah formalitas saja. Aku harap kamu merelakan aku untuk menikah dengan Zelina." __ Raditya Mahardika.
"Mas, beri aku 30 hari saja untuk mengabdi sebagai istri yang Solehah untukmu. Aku hanya ingin mewujudkan wasiat Ayah. Setelah itu, kamu berhak menceraikan aku, dan kamu bisa menikah dengan wanita itu."
Hidup Raditya Mahardika kacau sejak dijodohkan dengan Fania Azalea. Semua terjadi karena Raditya mempunyai wanita idaman lainnya.
Fania Azalea meminta waktu agar dirinya bisa mewujudkan wasiat mendiang Ayahnya. Dia ingin menjadi seorang istri yang baik untuk suaminya. Namun, takdir berkata lain. Raditya justru ingin menikah lagi dengan wanita pujaan hatinya. Dia ingin berpoligami dan meminta Fania untuk menyetujui niatnya.
Baca selengkapnya di sini!
Follow IG : romansa_love94
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romansa Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 24 (Mulai Sehat)
Beberapa hari berlalu, Fania sudah sadar dan kondisinya mulai membaik. Dia sudah bisa duduk, tapi belum mau berinteraksi. Meski terkadang ada rasa takut menyelimuti hatinya karena dia belum sepenuhnya terlepas dari cengkeraman suaminya. Sebagai orang tua, Halimah terus mendukung dan menghibur putrinya agar selalu kuat menghadapi cobaan. Padahal dia sendiri sudah sangat diuji kesabarannya.
"Nak, ayo dimakan buburnya! Kamu harus cepat sehat, untuk pergi dari sini membutuhkan kekuatan yang penuh. Jika kamu belum sehat sepenuhnya, bagaimana bisa kita berdua pergi dari sini," ucap Halimah dengan nada iba.
Sejak siuman, Fania masih belum mau bicara. Dia hanya melamun dan menatap kosong ke luar jendela. Ekspresinya berubah jika ada Raditya datang. Dia sangat ketakutan dan seperti trauma. Sikap itu yang membuat Halimah sedih, putrinya tidak bisa ceria seperti dulu lagi.
Halimah sangat putus asa karena tidak bisa membujuk Fania. Dia seperti tidak mempunyai harapan lagi. Bahkan raut wajah bahagia itu telah hilang. Helaan napas panjang terus terdengar berat dan rapuh. Semua serba salah, dan tidak tahu harus meminta tolong pad siapa lagi. Raditya mengancam akan membawa pergi Fania jika Halimah nekat bertemu dengan Devan.
Di tempat lain, Devan sedang mencari cara untuk bisa bertemu dengan Halimah. Hanya itulah cara untuk bisa bertemu lagi dengan Fania. Sejak ruangan dipindahkan, Devan sangat kesulitan saat ingin bertemu dengan Fania.
"Bagaimana caranya aku bisa bertemu lagi dengan Ibu Halimah? Satu-satunya cara adalah menunggu Fania pulih. Jika tidak, maka kesempatan itu tidak akan pernah tercipta." Devan sedang berpikir di meja kerjanya. Dia sangat sibuk karena banyak sekali kasus yang harus dia selesaikan.
Devan sudah mengirim orang untuk memata-matai Raditya. Dia ingin mencari celah untuk masuk ke dalam rumah tangga Fania yang sudah tidak isa diselamatkan lagi. Seperti saat ini, Devan mendapatkan kabar bahwa dia bisa berkomunikasi lewat salah satu suster yang bertugas. Tentu saja hal itu membuatnya senang. Dia bisa tahu bagaimana harus bertindak.
Setelah berpikir sejenak, Devan segera pergi menuju ke rumah sakit. Dia akan bertemu dengan Halimah di kantin belakang. Harapannya sangat tinggi, dia ingin membantu Fania lepas dari sikap kejam suaminya. Kurang lebih setengah jam dia sudah sampai di rumah sakit.
Devan keluar dan segera menuu ke kantin yang ada di belakang gedung. Ternyata Halimah sudah menunggunya di sana. Wanita paruh baya itu tampak gelisah karena pertemuan rahasianya.
"Ibu Halimah, maaf sudah menunggu lama!" seru Devan membuat Halimah menoleh.
"Nak Devan, syukurlah kamu datang. Ibu khawatir sekali, Ibu pikir kamu tidak akan ke sini menemui Ibu," ucap Halimah dengan nada gemetar.
Devan menjawab lembut, dia tidak ingin membuat Ibu Fania itu khawatir. "Maaf saya sedikit terlambat. Bagaimana kondisi Fania, Bu? Apa diasudah mau diajak bicara?"
Halimah menggeleng, dia kembali sedih dan menceritakan apa yang terjadi. "Ibu bingung sekali, Fania belum mau bicara sama sekali. Dia bahkan tidak merespon perkataan Ibu. Apa mungkin mental Fania terganggu atas insiden itu? Ibu tidak lagi harus bagaimana? Ibu bingung harus meminta bantuan siapa? Nak, hanya kamu yang bisa membantu Ibu? Tolong lepaskan Fania dari orang jahat itu. Ibu mohon."
Devan menarik napas berat, dia ikut berpikir dan tidak menemukan jalan keluar. "Bu, bisakah saya menjenguk Fania? Mungkin dengan kondisinya saat ini bisa untuk laporan. Saya butuh bukti medis untuk melaporkan masalah ini."
"Bisa, ayo ikut Ibu sekarang. Pria jahat itu tidak mungkin ke sini, karena tadi pagi dia sudah ke sini." Halimah mengajak Devan ke ruangan Fania dirawat. Keduanya berjalan depan dan belakang saling beriringan.
Sementara itu di dalam ruangan, Raditya sedang berbicara dengan dokter. Dia ingin membawa Fania pergi dari rumah sakit. Dia harus melakukan itu karena sudah melihat keberanian Devan datang untuk menemui Fania tanpa izin.
"Dokter, saya ingin merawatnya di rumah saja. Meski di ruangan khusus, tetap saja saya tidak merasa aman. Hari ini saya akan membwa istri saya pulang," ucap Raditya pada dokter yang memeriksa kondisi Fania.
"Anda boleh membawa istri Anda pulang. Tolong selalu perhatikan kondisinya, karena saya menduga ada sedikit kelainan yang membuat istri Anda diam. Mungkin ada rasa trauma, jadi harus mendapatkan perhatian khusus," sahut Dokter, dia sedikit menyayangkan karena kondisi Fania yang belum sepenuhnya stabil.
Raditya menggendong istrinya dari ranjang. Dia pergi setelah mendapatkan arahan dokter. Dalam langkahnya, dia tersenyum licik. "Dasar wanita tua sialan. Aku sudah memberikanmu peringatan, tapi dengan beraninya kamu melanggar. Untung saja aku melihat pengacara itu di parkiran. Jika tidak, aku pasti sudah kecolongan. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi."
Langkah Raditya semakin cepat, dia memilih jalan memutar untuk menghindari Ibu mertuanya. Saat dia sudah sampai bawah, Halimah dan Devan baru masuk ke dalam ruangan. Keduanya terkejut saat melihat ranjang yang sudah kosong dan rapi.
"Fania ... Nak, kamu di mana?" panggil Halimah sembari mengecek ke dalam toilet, tetapi tidak ada siapapun.
Halimah sudah mulai bingung, dia terus memanggil putrinya dan tidak sahutan. "Nak Devan, bagaimana ini? Apa orang jahat itu sudah membawa Fania pergi? Bagaimana ini? Pasti dia sudah membawa putriku pergi. Nak Devan tolong Ibu. CarIkan Fania, Ibu tidak ingin kehilangannya.
"Ibu tenang, kita tanya dokter dulu. Mungkin dokter membawa Fania untuk periksa." Devan menenangkan Halimah yang mulai kacau lagi. Dia segera mencari dokter untuk menanyakan keberadaan Fania.
Keduanya sangat terkejut saat mendengar jawaban dokter. Ternyata Fania sudah dibawa pergi oleh suaminya. Halimah langsung lemas, wanita itu teringat dengan peringatan Raditya yang ternyata tidak asal ucap.
"Putriku, bagaimana ini? Ke mana dia membawa putriku? Nak Devan, tolong Ibu. Pertemukan Ibu dengan Fania." Halimah lemas tidak berdaya.
Devan semakin serius, dia sudah tidak bisa bersikap lembek lagi. "Ibu tenang saja, saya tidak akan membiarkan Fania dalam bahaya lagi. Saya akan membantu Ibu untuk mencarinya."
Sementara itu di lokasi lain, Raditya sudah sampai di rumah utama. Dia akan tinggal di sana setelah orang tuanya meninggal. Dalam rumah itu banyak sekali pelayan, jadi mereka bisa mengawasi Fania yang masih belum sehat.
Raditya sengaja menjauhkan Fania dari Zelina, dia tidak ingin menambah masalah lagi mengingat keduanya tidak bisa akur sama sekali. "Sekarang kamu akan aman di sini, istriku. Orang tua itu tidak akan bsa menemukanmu di sini. Aku juga tidak akan membiarkan pengacara itu menghancurkan rumah tangga kita."
Raditya merebahkan istrinya di atas ranjang. Setelah itu dia pergi keluar untuk mencari tahu kabar tentang Halimah dan Devan yang sedang kebingungan. "Ayo kita lihat, siapa yang akan menang dalam drama ini. Kamu atau aku? Selamat berpusing ria, pengacau.'
.ambil sapu ato apa kh gitu hantamkan ke kepalanya biar kapok...jd laki kok g jelas siram pake karbol sj..lagian mau mau nya nunggu smpe 30 hr..bisa mati kamu mun lemah kya itu😡😡