Apakah kamu percaya cerita Cinderella?
Amina Arafat hanyalah seorang gadis yatim piatu, imigran dari Palestina dan tinggal bersama paman bibinya serta sepupunya di Brussels Belgia. Amina memiliki wajah cantik yang khas, membuat Akira Léopold, putra mahkota kerajaan Belgia, jatuh cinta pada pandangan pertama.
Amina yang merasa tidak pantas bersanding dengan seorang pangeran dan putra mahkota, mencoba menjauh dari Akira tapi dia salah. Akira adalah keturunan Léopold yang tidak akan menyerah begitu saja demi mendapatkan wanita yang sudah mencuri hatinya sejak bangku sekolah.
Generasi 8 klan Pratomo
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku, Mina
Amina tahu dirinya tidak bisa pergi terus. Banyak gadis yang rela melemparkan tubuhnya demi bisa tidur dengan Akira. Kesungguhan hati Akira, dan tidak adanya berita soal kedekatan pria itu dengan wanita lain setelah mereka berpisah, membuktikan bahwa pria itu adalah pria green flag yang langka di jaman sekarang. Apalagi dia seorang pangeran dan kaya raya.
"Akira ...."
"Ya sayang?"
Rasanya aku sudah bertahun-tahun tidak mendengar nada suara seperti itu. "Terima kasih."
Akira mengernyitkan keningnya. "Buat?"
"Tetap memilih aku." Mata hijau Amina menatap lembut wajah Akira.
Senyum bahagia tersungging di wajah pangeran itu. "Akhirnya. Aku tidak tahu harus bagaimana membuat kamu yakin bersamaku."
"Aku ... memang terlalu insecure karena aku bukan siapa-siapa, Akira."
"Hei, kamu bukan siapa-siapa? Kamu yang bukan siapa-siapa ini bisa masuk UZH dengan kemampuan kamu sendiri! Aku tidak kamu beritahu, paman bibimu juga! Magister pula! Bagaimana aku tidak bangga padamu?" senyum Akira sambil mencium bibir Amina lembut.
"Kamu ... Suka aku kuliah?" tanya Amina bingung.
"Tentu saja! Siapa yang tidak suka melihat pasangannya memiliki gelar sarjana dari kampus prestisius? Tanpa bawa-bawa aku dan siapapun! Padahal mungkin mereka tahu kamu adalah pacarku," jawab Akira. "Aku sudah bertanya pada Rektor UZH."
"Sampai segitunya?" Amina menatap sebal ke Akira. "Apa kamu tidak percaya padaku, Akira?"
"Bukan begitu sayang ... Kamu kan pergi meninggalkan aku. Jadi aku ingin tahu apakah kamu benar-benar kuliah lagi atau tidak ... Aaaddduuuhhh!" Akira mengaduh karena kakinya diinjak Amina dengan sandal bulunya.
"Aku sebal padamu Akira! Aku tidak percaya kamu tidak mempercayai aku!" amuk Amina sambil melepaskan pelukannya.
"Mina ... jangan marah!"
"Aku marah padamu!" Amina masuk ke dalam kamarnya dan membantingnya di depan Akira. Suara kunci pintu pun terdengar.
"Waduh! Baru senang dikit, sudah ngambek! Tunggu ... Kenapa gen opa di aku semua sih!" seru Akira sebal. Dia sudah sering mendengar cerita Omanya bagaimana Opanya yang tidak percaya karena takut kehilangan. "Haddeehhhhh!"
Akira mengacak-acak rambutnya kesal karena salah langkah. Maksud hati mau jujur, malah membuat Amina marah.
"My Prince ... Kopi anda." Bea datang membawakan secangkir kopi.
"Letakkan saja di meja, Bea. Aku sudah membuat Amina ngambek." Akira menatap pintu kamar Amina. "Apakah kalian nyaman tinggal di Swiss?"
"Nyaman My Prince."
"Bagaimana Amina disini? Apakah ada pria lain?" tanya Akira. "Kamu hanya laporan kegiatan perkuliahan Amina."
"My Prince, nona Amina itu hidupnya sangat monoton. Kuliah, perpustakaan, kerja akhir pekan, belajar. Repeat. Nona tidak memperdulikan ajakan kencan atau jalan-jalan. Fokusnya lulus dengan cepat dan kembali ke Belgia. Makanya, perabotan disini minimalis agar bisa cepat dipacking bawa pulang ke Belgia."
Akira melihat sebuah meja yang dipakai Amina belajar karena disana ada laptop dan buku-buku tebal tertata rapi. Akira mendekati meja itu dan melihat foto-foto Amina dan dirinya. Saat piknik, saat berjalan bersama, saat hendak deploy dan saat mereka berciuman dua tahun lalu di pelabuhan.
"Nona Amina masih mencintai anda, My Prince. Memang tidak pernah bilang tapi saya tahu, dia sangat memikirkan anda," sambung Bea.
"Begitu ya." Akira melihat kalender digitalnya Amina. Dia tersenyum karena Amina mencatat berapa lama mereka tidak pernah berkomunikasi lagi.
"My Prince. Nona Amina tidak tahu kalau kami dibantu Queen Mother. Tahunya saya bekerja di mini market," bisik Bea.
Akira mengangguk. "Thanks Bea. Takutnya nanti aku keceplosan lagi."
Bea tersenyum. "My Prince, saya akan ke cafe depan. Biar anda dan nona Amina bisa bicara berduaan tanpa ada saya."
"Bea, kamu sangat pengertian."
Bea pun berpamitan pergi dan Akira berjalan menuju kamar Amina. Dia mengetuk pintu dengan pelan.
"Mina ... Sayang ... Jangan marah dong. Aku berusaha jujur padamu ... Maafkan aku. Aku tidak percaya padamu ...."
Akira menunggu dan lima menit kemudian pintu itu terbuka. Akira bisa melihat wajah Amina yang cemberut dan matanya terlihat basah. Akira tahu, Amina marah dan tersinggung.
"Mina ...."
"Aku benci padamu, Akira! Bagaimana bisa kamu tidak mempercayai aku! Aku benar-benar mendaftar beasiswa! Aku sudah senang kamu puji tapi kenapa kamu masih tidak percaya!" Mata hijau Amina tampak marah. "Bagaimana bisa kamu tidak mempercayainya aku! Kalau hal seperti ini saja kamu tidak percaya, lebih baik kita sudahi! Aku paling tidak bisa memiliki hubungan tanpa ada rasa percaya!"
Akira menatap sendu ke Amina. Bagaimana dia begitu bodoh mengulangi hal yang sama seperti Opanya. Bahkan Opanya sampai harus kehilangan Oma dan ayahnya yang masih dalam perut hingga tiga tahun.
"Maafkan aku, Mina. Aku hanya ingin tahu ...."
"Akira, tolong. Jika kita mau hubungan ini berjalan dengan baik, saling percaya. Itu yang penting! Percaya, menghormati, menghargai dan mencintai! Jika kamu tidak ada salah satu dari itu, aku tidak tahu harus bagaimana bisa bersama kamu!" potong Amina.
"Bagaimana denganmu? Apakah kamu bisa melakukannya?" tanya Akira.
"Aku sudah melakukannya, Akira. Hanya saja aku memang tidak yakin dengan diriku sendiri bisa bersama kamu."
Akira meraih tangan Amina dan menggenggamnya. "Jangan pernah kamu merasa tidak percaya diri jika bersamaku, Mina. Kamu bisa masuk ke kampus prestisius dengan percaya diri. Kamu bisa menghadapi semua disini tanpa aku. Jika kamu tidak percaya dengan dirimu sendiri, tidak mungkin kamu bisa menyelesaikan magister kamu tepat waktu bukan? Satu tahun tujuh bulan lho Mina dari dua tahun."
"Aku hanya tekun belajar."
"Aku tahu."
"Aku minta kamu jangan seperti itu padaku," pinta Amina.
"Tidak sayang."
"Kamu pulang kapan?" tanya Amina.
"Menunggu kamu maju sidang. Aku akan menemani kamu disini," jawab Akira kalem.
"Apa? Bagaimana dengan King Arsya? Ya Allah Akira ... Aku kan jadi tidak enak! Kamu punya tanggung jawab di Belgia! Jangan seperti i ...."
Omelan Amina terhenti saat Akira mencium bibirnya panas dan tangannya yang kekar memeluk tubuh gadis itu.
"Kamu terlalu cerewet, Mina," kekeh Akira setelah mencium bibir Amina.
"Kamu ... Menginap dimana?" tanya Amina dengan nada bergetar karena tidak menduga mendapatkan ciuman panas Akira.
"Disini lah!" jawab Akira cuek.
Mata Amina terbelalak. "Kamu mau tidur dimana? Kamar disini hanya dua!"
"Ya tidur sama kamu lah Mina ... Aaaddduuuhhh!" Akira menjerit kesakitan karena Amina menjewer telinganya. "Mina! Kamu seperti Mommy dan Omaku!"
"Kamu berani tidur bersamaku, aku laporan ke Queen Mother!"
"Ya paling Queen Mother bilang 'ya sudah, kalian nikah saja daripada tidur bersama duluan," jawab Akira.
***
Yuhuuuu up malam yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
prince Akira seperti pria-pria keturunan Pratomo lainnya
coba kalo nggak pasti bukan hanya para sesepuh yang masih hidup, tapi Kanjeng Raden Ayu The God Mother dari dunia arwah terlebih Kanjeng Raden Mas Haryo Pratomo akan turun tangan
memang sih orang tuanya berjasa buat kamu tapi si hikmah nggak bisa menempatkan diri