Menikah dengan sepupu sendiri? Canggung pastinya, apalagi belum didasari rasa cinta.
Itulah yang dialami oleh Pandji Marthadipura, seorang abdi negara usia 36 tahun. Akibat ulah bedjat adik laki-lakinya, Panji terpaksa mengambil alih tanggung jawab menikahi adik sepupunya sendiri -- Melitha Lisana -- yang masih SMU, padahal dirinya sudah bertunangan dengan seorang dokter.
Tidak mudah memang. Pandji harus menghadapi kemarahan sang tunangan, sementara Melitha harus siap menghadapi sanksi sosial karena kehamilannya diluar nikah.
Mampukah keduanya menjalaninya? Akankah tumbuh cinta? Yuk, ikuti kisah mereka dalam Novel Menikah Dengan SEPUPU.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Payang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Tak Pernah Lupa
"Bibi kalian mana?" Pandji memandangi dua keponakannya yang masih duduk menunggu tanpa Melitha.
"Ke toilet, Paman," sahut Adri cepat.
"Hm... Tatit pelut tatanya," Naomi ikut menerangkan sambil memegangi perutnya sendiri.
"Tunggu di sini sebentar ya, jangan kemana-mana, Paman segera kembali membawa Bibi kalian."
Adri dan Naomi mengangguk patuh, menatap Pandji beranjak menuju toilet.
...***...
Brak!
Toilet pria dibuka paksa dari luar, beberapa pria yang sedang menjulurkan kran pribadinya masing-masing dibuat kaget karenanya, sontak menarik resleting dan menutup rapat aset berharga mereka tidak terkecuali Arya.
"Ma-maaf! Sa-saya tidak sengaja!" Kedua tangan Melitha spontan menutupi wajahnya karena malu akan kecerobohannya, setelah melihat para pria itu menatap kaget padanya.
Tak tahan lagi, Melitha langsung memuntahkan hasil makanannya tadi yang sudah naik dan menumpuk di tenggorokan. "Hueeek..... Hueeek..... Hueeek... "
Dalam sekejap lantai penuh cairan padat yang belum sempurna digiling oleh lambung.
Para pria itu kembali dibuat kaget oleh ulah Melitha. Bau asam, anyir seketika naik ke udara, memenuhi ruangan, membuat para pria itu spontan menutup hidung dan ikut mual melihat tumpahan muntahan Melitha di lantai toilet pria.
"Jorok amat sih!" tanpa aba-aba, para pria itu berlomba untuk keluar, melompat sana sini agar pijakan kaki mereka tak terinjak cairan menjijikan itu.
Melitha cepat berlari ke westafel, dan kembali memuntahkan makanan dari lambungnya yang naik ke tenggorokan.
"Kamu sakit, Dek?" Arya yang iba tidak ikut keluar, memandangi Melitha dari pantulan kaca toilet yang ada di hadapan mereka.
Melitha tidak menjawab.
Rasa mualnya semakin intens, lambungnya serasa diaduk di dalam sana, semua makanan yang tadinya sempat masuk ke lambungnya kembali ia keluarkan tanpa memberi jedah dirinya untuk bernafas.
Melihat kondisi Melitha yang semakin memprihatinkan, tanpa menunggu persetujuan, Arya langsung beraksi membopong tubuh mungil di depannya, tentu saja Melitha meronta berusaha melepaskan diri walau tenaganya sebenarnya sudah terkuras habis.
"Jangan takut, saya dokter, saya hanya ingin membantu kamu," Arya mendudukan Melitha di meja wastafel.
"Tolong buka dasi dan satu kancing baju sekolah bagian atas biar kamu tidak kesulitan bernapas." perintahnya, membuat Melitha yang tadinya melawan kini sedikit tenang.
Dengan gerakannya yang gesit, Arya berhasil membantu Melitha yang lambat melonggarkan dasi dan membuka kancing seragam teratasnya.
"Huek!" Melitha kembali memuntahkan makanan yang mengganjal di tenggorokannya pada lubang wastafel di sisi kirinya.
"Muntahkan saja bila kamu ingin muntah," suruh Arya. "Sekarang, dongakan kepala ke atas!"
Melitha menurut.
"Tarik napas, lalu buang sedikit demi sedikit," Arya kembali memberi instruksi. "Dan ulang lagi sampai napasmu lega...."
Sementara Melitha melakukan yang diinstruksikannya, ketiga ujung jari Arya mulai menekan di bawah lipatan pergelangan tangan Melitha, berusaha menemukan titik yang berada di antara dua tendon (urat).
Begitu menemukannya, ibu jari Arya menekan secara kuat namun lembut, melakukan gerakan melingkar kecil.
Setelah hampir satu menit berlalu, Melitha mulai merasakan mualnya mereda.
Brak!
Hempasan pintu toilet mengagetkan Arya dan Melitha, keduanya sama-sama menoleh ke pintu.
"Apa yang kamu lakukan pada adikku," hardik Pandji, rahangnya mengeras, dibelakangnya Elok turut menyusul.
'Arya, kamu selingkuh!" Mata Elok membola melihat Arya memegangi pergelangan tangan Melitha. "Pantas saja kamu ke toiletnya lama sekali!" semburnya lagi dengan hati panas.
"Maaf, Mas.... " Arya langsung melepaskan pegangannya dari pergelangan Melitha, seraya menegakan tubuh atletisnya.
"Bukannya bermaksud tidak sopan, saya hanya membantu adiknya Mas yang tiba-tiba saja muntah-muntah saat masuk ke toilet pria ini beberapa menit lalu," sambil menunjuk muntahan Melitha di lantai.
Pandji menyapu pandangannya pada lantai, begitu juga Elok. Raut suram yang keduanya tunjukan langsung berubah.
"Maaf kalau saya salah faham," ucap Pandji penuh rasa terima kasih.
"Sama-sama, Mas. Sebaiknya ambilkan air jahe hangat dulu, kasihan adiknya," Arya menunjuk Melitha yang berwajah pucat dan lemas.
'Mel, sebentar ya, Mas ambilkan minum."
Melitha mengangguk lemah memandang Pandji yang bergegas pergi.
"Sayang, maaf... Aku tadi salah faham sama kamu," Elok tersenyum, menggenggam tangan Arya mesra di depan mata Melitha.
"Inikah laki-laki yang membuat mbak Elok berpaling dari mas Pandji?" batin Melitha, pura-pura tidak melihat adegan itu.
"Nggak papa, aku mengerti," Arya tersenyum. "Sebaiknya, kamu saja yang membantu membersihkan noda muntahan di wajah dan baju gadis SMU itu, kalau aku yang melakukannya, nanti kamu salah faham lagi." Arya menyodorkan kotak tisu yang ia ambil dari meja toilet.
Elok cepat menerima, lalu membawanya pada Melitha.
"Biar saya aja, Dok..." Melitha tersenyum, mengambil alih tisu yang hendak diusap ke wajahnya oleh Elok.
"Nggak papa Mel, kaya orang lain aja. Biasanya manggilnya 'Mbak'," ucap Elok tersenyum ramah seperti biasanya, kembali mengambil tisu baru setelah yang sebelumnya di rebut Melitha.
"Jangan, Dok... Ini menjijikan... " Melitha kembali merebut tisu baru dari tangan Elok langsung membersih wajah dan bajunya sendiri.
Arya menatap interaksi antara Melitha dan Elok dalam diam, sedikit ganjil melihat keakraban yang ditunjukan oleh kekasihnya tapi tak berbalas.
"Mel," Pandji muncul dengan segelas jahe hangat dan sebotol air mineral, di belakangnya seorang petugas kebersihan ikut masuk lengkap dengan peralatan kebersihannya.
Elok bergeser, memberi ruang pada Pandji, cepat merapat pada Arya yang berdiri tidak jauh darinya, sementara petugas kebersihan segera melakukan tugasnya dengan hati-hati setelah memohon izin pada Arya yang menepi ke dinding toilet bersama Elok.
"Ma kasih ya, Mas...." Melitha menatap Pandji setelah meneguk segelas jahe hangat yang diberikan pria itu.
Pandji mengangguk, tersenyum lega. "Kamu baik-baik saja? Maaf, Mas lambat menemukanmu, tadi ke toilet wanita sebelah sana," ucapnya, sambil membantu Melitha turun dari meja toilet.
"Iya... Aku nggak sempat liat tulisan di atas toilet, Mas... keburu muntahnya mau keluar," sahut Melitha memberi sedikit penjelasan.
"Dek Meli sudah merasa lebih baik?" tanya Arya lembut, saat Melitha menatap ke arahnya dari samping Pandji.
"Iya, Dok.' Melitha tersenyum. "Terima kasih banyak ya... Entah apa yang terjadi andai tadi tidak ada Dokter yang menolong saya."
Arya balas tersenyum. "Jangan sungkan, itu memang tugas saya sebagai seorang dokter," ucapnya, kembali terlintas bagaimana Melitha sempat berontak di awal dirinya menolong.
"Saya juga mengucapkan banyak terima kasih, Dok..." Pandji ikut berbicara setelah menyelipkan beberapa lembar pecahan lima puluh ribuan ke tangan petugas kebersihan yang sempat menolak pemberiannya.
"Sama-sama, Mas. Saya Arya," Arya mengulurkan tangannya lebih dulu untuk berjabatan tangan. "Kita pernah ketemu saat saya pulang dari rumah Elok kalau Mas tidak lupa."
Pandji tidak langsung menyambut, ia menatap tangan Arya yang masih menggantung. Baik Elok, maupun Melitha, dua perempuan itu sama-sama menanti reaksi Pandji selanjutnya.
Dari tangan, Pandji beralih pada wajah tulus Arya. "Aku memang tidak pernah lupa.... tapi bukan kamu Arya..... Rasa sakit yang Elok torehkan dihatiku masih terasa sampai saat ini..."
"Iya, saya ingat Anda, Dok. Tapi baru malam ini tahu nama Anda," Pandji akhirnya menyambut jabatan tangan Arya, dan tidak mengulas senyuman di wajahnya. Dari rautnya, Pandji dapat menilai bila dokter muda itu memang belum pernah mengenal dirinya sebelumnya, dan tidak pernah tahu menahu bila dirinya dan Elok pernah ada hubungan istimewa.
"Syukurlah, saya senang bila Mas masih ingat pada saya," Arya kian tersenyum lebar. "Boleh saya bicara empat mata sebentar?"
Pandji kaget, cepat menatap pada Melitha.
"Aku sudah lebih baik, Mas," Melitha seakan mengerti sorot mata Pandji yang mengkhawatirkan kondisinya pasca muntah-muntah tadi.
"Mas silahkan mengobrol saja, aku jalan lebih dulu ke depan bersama dokter Elok menemui anak-anak," ucap Melitha lagi, ia yakin dokter yang menolongnya itu ingin berbicara hal pribadi tentang Elok setelah melihat apa yang dipertontonkan keduanya di depan matanya tadi.
Berbeda dengan Elok, dirinya diliputi rasa cemas, takut Pandji membongkar hubungan yang pernah ada di antara mereka.
Bersambung✍️