NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Novel ini memiliki tempo yang lambat.

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan berdirinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Mendengar pertanyaan itu, mata Tabib Sari yang tadi menerawang sontak menajam. Ia menatap Jihan lekat-lekat, ekspresinya yang tadi sedih kini berubah menjadi keruh dan sangat serius. Udara di antara mereka terasa menegang.

Sang tabib membuka mulutnya, seolah hendak membisikkan sebuah jawaban penting, sebuah rahasia yang bisa mengubah segalanya.

Namun, tepat sebelum sepatah kata pun keluar dari bibirnya...

PLAK!!

Ujung joran itu menghantam permukaan air dengan keras, menciptakan suara tamparan yang merobek keheningan. Tali pancing menegang lurus seperti kawat, bergetar hebat ditarik oleh sesuatu yang dahsyat di bawah sana.

Momen hening itu seketika lenyap, digantikan oleh adrenalin murni. Didorong oleh insting, Jihan langsung berdiri, menancapkan kakinya di antara bebatuan untuk menahan tarikan balik yang kuat.

“Tahan! Jangan sampai lepas!”

Jihan mencengkeram jorannya dengan kedua tangan. Tarikan baliknya begitu buas, hampir membuatnya terlempar dari atas batu. Otot-otot di lengan dan punggungnya mengencang hingga terasa panas, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan batas kekuatan baru yang ia miliki benar-benar diuji. Setelah pertarungan tarik-ulur yang singkat namun brutal, ia merasakan perlawanan itu sedikit melemah. Inilah kesempatannya. Dengan satu sentakan terakhir yang mengerahkan seluruh tenaganya, ia berhasil mengangkat dan membanting hasil tangkapannya ke darat.

Di atas tanah basah, seekor Ikan Sungai Perak yang besar menggeliat hebat. Sisiknya yang utuh berkilauan seperti kepingan logam di bawah sinar matahari.

Melihat ikan sebesar itu, Tabib Sari tertawa kecil, sebuah tawa tulus yang menghapus sisa ketegangan di antara mereka.

“Sepertinya sungai ini telah memberimu jawaban yang lebih nyata hari ini,”

Jihan menatap ikan itu, napasnya masih terengah, lalu kembali ke arah Tabib Sari. Ia tahu, kesempatan untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan tadi telah hilang, ditelan oleh tarikan ikan dari dasar sungai. Percakapan penting mereka telah berakhir bahkan sebelum sempat dimulai.

Dengan pikiran yang berkecamuk, Jihan mengamankan ikan besar itu di dalam salah satu embernya. Ia kemudian mengangkat pikulan kayu dan menyeimbangkannya kembali di atas pundaknya yang kokoh. Sebelum pergi, ia menatap Tabib Sari sekali lagi, memberikan sebuah anggukan kecil sebagai ucapan pamit.

“Hati-hati di jalan, Jihan,”

Jihan tidak menjawab, hanya mengangguk lagi sebelum akhirnya berbalik dan melangkahkan kakinya menjauhi sungai.

Perjalanan pulangnya terasa jauh lebih berat.

Beban air dan ikan yang besar itu tidak ada apa-apanya dibandingkan beban pertanyaan dan rahasia baru yang kini bersarang di benaknya. Dunia yang ia kira sederhana kini telah terkelupas, menunjukkan lapisan-lapisan yang rumit, dan misterius.

Ia merenung. Perjalanannya pagi ini hanya bertujuan untuk mengisi dua ember kosong. Siapa sangka, perjalanan itu justru membawanya pada kepingan masa lalu ibunya yang tak pernah ia ketahui. Dan seolah itu belum cukup, takdir memberinya seekor ikan perak raksasa, hidangan mewah yang sudah bertahun-tahun tidak pernah menyentuh meja makan mereka.

‘Hari ini benar-benar aneh,’

Gumamnya, sebuah hari penuh keberuntungan yang tak terduga, yang terasa begitu kontras dengan kehidupannya yang selama ini hanya diwarnai oleh kerja keras dan keputusasaan.

Setibanya di rumah, Jihan tidak langsung masuk. Ia berjalan memutar ke bagian belakang gubuk, tempat tempayan air besar mereka diletakkan. Dengan hati-hati, ia menuangkan isi dari satu ember hingga tempayan itu kembali terisi penuh. Sementara itu, ember kedua yang berisi ikan perak raksasa itu ia biarkan tergeletak di tanah.

Tugasnya mengambil air telah selesai. Namun, persiapan yang sesungguhnya baru akan dimulai.

Pikirannya kini sepenuhnya terfokus pada seleksi Perguruan Pedang Awan yang akan diadakan besok. Seketika, ia teringat sesuatu yang pernah dikatakan Kakek Danu, sebuah konsep yang dulu terdengar seperti dongeng, namun kini terasa begitu nyata yang terbentang dihadapanya.

‘Jika aku tidak salah ingat, Kakek Danu pernah berkata bahwa para pendekar bisa menyerap energi alam langsung ke dalam tubuh mereka,’

‘Apakah… aku juga bisa melakukannya?’

Tanpa ragu, Jihan memutuskan untuk mencobanya. Ia segera duduk bersila di tanah yang kering, memejamkan mata, dan berusaha meniru apa yang pernah ia lihat. Sebuah ingatan samar tentang Kakek Danu yang pernah duduk tenang seperti ini di tepi air terjun; punggungnya lurus, napasnya teratur, seolah menyatu dengan alam di sekelilingnya.

Jihan mencoba menenangkan napasnya, memfokuskan pikirannya, dan berusaha merasakan energi yang dikatakan sang kakek. Namun, menit-menit berlalu dalam keheningan yang hampa. Ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada kehangatan, tidak ada getaran, tidak ada aliran energi sedikit pun yang masuk ke dalam tubuhnya.

Hanya kekosongan.

Mendapati hal ini, Jihan menghela napas, menatap tanah di depannya. Mungkin caranya yang keliru… atau mungkin ia belum benar-benar memahami konsep itu. Kali ini, ia memutuskan untuk memulai dari sesuatu yang lebih nyata, lebih membumi.

Sisa hari itu Jihan habiskan dalam serangkaian ritual tanpa nama. Ini adalah persiapannya, bukan untuk pertarungan fisik, melainkan untuk sebuah perjalanan jiwa.

Ritual pertamanya adalah kayu bakar. Dengan kapak tua di tangan, ia berdiri di hadapan tumpukan kayu gelondongan. Setiap ayunan kapak terasa berbeda dari hari-hari sebelumnya. Kekuatan baru di tubuhnya membuat pekerjaan yang biasanya menguras tenaga itu terasa ringan dan penuh tenaga.

KRAK!

Kayu jati yang keras terbelah bersih dalam sekali ayun. Ini bukan lagi sekadar pekerjaan. Setiap potongan kayu yang ia tumpuk dengan rapi di dekat tungku adalah perwujudan dari baktinya. Ini adalah kehangatan yang ia tinggalkan, perisai melawan dinginnya malam-malam yang mungkin akan ibunya lewati sendirian saat ia pergi.

Ritual keduanya berlangsung di dalam gubuk. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip-kedip, Jihan duduk bersila, menjahit robekan kecil di satu-satunya pakaian layaknya. Jemarinya yang kasar dan kapalan, yang terbiasa mencengkeram gagang kapak, tampak canggung memegang jarum kecil. Gerakannya lambat namun mantap, setiap jahitan adalah simbol dari harga diri yang akan ia bawa.

“Jihan…”

Suara lirih Wulandari memecah keheningan. Jihan mengangkat kepala, terkejut. Ia mengira ibunya sudah tertidur pulas.

Wulandari menatapnya dari pembaringan, matanya yang sayu kini dihiasi seberkas kehangatan yang belum pernah Jihan lihat selama berbulan-bulan. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang pucat.

“Tangan yang sama yang dulu hanya bisa menggenggam satu jariku… sekarang mahir memegang kapak sekaligus jarum,”

Jihan merasakan pipinya menghangat. Ia menunduk, kembali fokus pada jahitannya untuk menyembunyikan rasa harunya.

“Pakaian ini harus layak, Bu"

"Untuk besok nanti… Aku tidak akan membiarkan mereka memandang rendah kita di sana.”

“Ibu tahu,”

“Jika kau berhasil lolos seleksi itu, berjanjilah pada Ibu.”

“Jadilah kuat di sana, Nak. Sekuat yang kau bisa.”

“Tapi…” ia berhenti sejenak, seolah mencari kata yang paling tepat.

“Jangan pernah lupakan siapa dirimu. Jangan biarkan dunia yang keras di luar sana mengubah hatimu yang baik.”

Jihan tidak menjawab, tetapi ia mengangguk pelan. Nasihat itu meresap ke dalam hatinya, menjadi bekal lain yang akan ia bawa, lebih berharga dari bekal mana pun.

Ritual terakhir adalah yang paling penting: makan malam bersama.

Aroma gurih dari Ikan Sungai Perak yang dipanggang di atas bara kecil memenuhi seluruh sudut gubuk yang pengap, mengalahkan aroma obat-obatan yang biasa menempel di dinding. Asap tipis yang wangi menari-nari di udara, membawa kehangatan dan janji akan sebuah kemewahan yang telah lama hilang dari kehidupan mereka.

Bahkan Wulandari, yang biasanya hanya bisa terbaring pasrah, kini dengan segenap sisa tenaganya, berhasil mendorong tubuhnya untuk duduk bersandar di dinding gubuk. Matanya yang sayu kini tampak berbinar, terpikat oleh aroma lezat yang seolah membangunkan selera makannya yang telah lama tertidur.

Jihan tersenyum melihatnya. Dengan hati-hati, ia menyiapkan sepiring nasi hangat dengan suwiran daging ikan yang putih dan lembut di atasnya, lalu duduk di tepi pembaringan.

“Sudah lama sekali Ibu tidak mencium wangi masakan seenak ini,”

Jihan mengambil sendok itu, siap menyuapi ibunya.

“Ikan ini sangat besar, Bu. Saat menariknya, rasanya seperti sedang bertarung dengan monster sungai.”

Wulandari mengunyah perlahan, matanya terpejam sejenak, menikmati setiap rasa yang meleleh di mulutnya. Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka, hanya diisi oleh suara kunyahan pelan dan desis api kecil.

“Dulu,”

Jihan memulai cerita dengan pelan, mengisi keheningan di antara suapan,

“Ayah pernah mengajariku cara membuat kail dari tulang ini. Katanya, ikan paling besar selalu menyukai umpan yang paling sederhana.”

Mendengar itu, tangan Wulandari yang berada di atas selimut sedikit menegang. Matanya membuka, menatap Jihan dengan sorot yang sulit diartikan. Ia tidak terlihat sedih, melainkan… menerawang, seolah melihat bayangan lain di wajah putranya.

“Ayahmu akan bangga melihatmu sekarang,”

“Kau… sudah menjadi pria yang bisa diandalkan, Jihan.”

Pujian itu menghantam Jihan lebih keras dari pukulan mana pun. Inilah pengakuan yang selama ini, tanpa sadar, ia dambakan. Matanya terasa panas. Ia cepat-cepat mengambil suapan berikutnya untuk menyembunyikan emosinya yang meluap.

Mereka menyelesaikan makan malam dalam keheningan yang nyaman, sebuah pemahaman mendalam yang tak lagi membutuhkan kata-kata.

Setelah Jihan membantu ibunya kembali berbaring dengan nyaman, ia membersihkan sisa makan malam mereka tanpa suara. Ia menunggu dengan sabar di sisi pembaringan hingga napas Wulandari menjadi dalam dan teratur, pertanda wanita itu telah terlelap dalam tidur damai yang sudah lama tidak ia rasakan.

Merasa butuh udara, Jihan melangkah pelan ke ambang pintu gubuknya.

Di bawah langit yang bertabur bintang, ia menatap ke dalam gubuknya yang remang, tempat seluruh dunianya berada, lalu pandangannya beralih ke kejauhan.

Tangannya merogoh saku, menggenggam erat liontin giok merah pemberian Raras yang terasa hangat. Pandangannya lurus menembus kegelapan, tertuju pada siluet panggung kayu di alun-alun desa, gerbang menuju takdirnya.

Semua bekal telah ia siapkan. Restu ibunya tersimpan di hati, janji pada dunia luar tergenggam di tangan. Angin malam meniup rambutnya, membawa bisikan tentang hari esok.

Ia siap.

1
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
DownBaby
jejak
Ancient
Terimakasih yang sudah mampir untuk membaca, jangan lupa vote dan beri dukungan novel ini agar author semangatt
Ancient
Halo reader!, jangan lupa untuk meninggalkan jejak dengan like dan komen😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!