Bagi Brixton, pernikahan ini bukanlah awal dari sebuah kebahagiaan, melainkan lonceng kematian bagi kebebasannya. Di bawah sumpah yang dipaksakan oleh ambisi keluarga, ia harus merelakan wanita yang ia cintai menjadi kenangan pahit, demi bersanding dengan seseorang yang dianggapnya sebagai kutukan hidup: dirimu. Brixton tidak pernah mencoba menyembunyikan kebenciannya. Baginya, setiap inci wajahmu adalah pengingat akan masa depan yang dirampas darinya. Di dalam rumah yang seharusnya menjadi surga, ia membangun tembok tinggi yang terbuat dari hinaan, penolakan, dan tatapan tajam yang menusuk. Puncaknya terjadi saat Brixton jatuh sakit dalam kesendiriannya. Di tengah demam yang membakar tubuh dan harga dirinya, ia tetap memilih untuk menderita daripada menerima uluran tanganmu. Baginya, sentuhanmu lebih panas dari demamnya, dan perhatianmu lebih menjijikkan daripada kematian itu sendiri. "Aku lebih baik merangkak menuju kematian daripada disentuh olehmu." Di antara benci yang mendarah daging dan luka yang tak kunjung kering, akankah sumpah di atas altar itu tetap menjadi penjara? Ataukah di balik rintihan sakitnya, tersimpan sebuah rahasia yang bahkan Brixton sendiri takut untuk mengakuinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peachy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi yang beracun
Cahaya matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah tirai beludru abu-abu di kamar utama kediaman Vance. Sinar itu jatuh tepat di atas kelopak mata Brixton Alistair yang bergerak gelisah. Perlahan, kesadaran mulai merayap kembali ke dalam benaknya. Hal pertama yang ia rasakan adalah kepalanya yang berdenyut hebat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk saraf-sarafnya. Tubuhnya terasa berat, pegal, dan sisa-sisa rasa panas dari demam semalam masih meninggalkan jejak keringat yang lengket di kulitnya.
Brixton mengerang pelan, mencoba menggerakkan lengannya. Namun, ia merasakan beban asing di sisi tempat tidurnya.
Ia membuka mata sepenuhnya, mengerjap melawan rasa silau. Saat pandangannya mulai fokus, jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat. Di sana, bersandar pada pinggiran kasur dengan posisi duduk yang tampak sangat tidak nyaman, adalah Alana.
Kepala wanita itu terkulai di atas lengannya yang terlipat di atas seprai. Rambutnya yang panjang dan sedikit berantakan menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat dalam tidur yang tidak nyenyak. Di sampingnya, sebuah baskom berisi air yang sudah dingin dan sehelai kain kompres yang telah mengering menjadi bukti bisu apa yang terjadi sepanjang malam.
Seketika, memori semalam menghantam Brixton seperti kereta cepat. Ia ingat rasa haus yang membakar, rintihan kehinaannya sendiri, dan bagaimana ia memaki wanita ini dengan kata-kata paling keji yang bisa ia temukan. Namun, ia juga ingat—meski samar—sentuhan dingin di keningnya, suara lembut yang memintanya untuk bertahan, dan kehangatan yang membuatnya merasa aman di tengah badai demamnya.
Selama beberapa detik, sisi gentleman yang terkunci jauh di dalam sanubarinya meronta. Ada rasa bersalah yang menusuk; rasa tidak tega melihat Alana harus tidur dalam posisi sesakit itu hanya untuk memastikan dia tetap bernapas. Namun, detik berikutnya, ego dan mekanisme pertahanannya bangkit dengan kekuatan yang jauh lebih besar.
Kenapa dia masih di sini? pikir Brixton liar. Dia mencoba masuk ke dalam celah lemahku. Dia ingin aku merasa berhutang budi padanya. Dia ingin menguasai hatiku setelah menghancurkan hidupku!
Ketakutan akan menjadi "lemah" mengubah rasa bersalah itu menjadi kemarahan yang meluap-luap dalam sekejap. Brixton tidak bisa membiarkan Alana melihatnya sebagai pria yang butuh dikasihani. Baginya, kebaikan Alana adalah racun yang paling berbahaya bagi kebencian yang ia pelihara.
Tanpa peringatan, Brixton menyentak kakinya dan menendang pinggiran tempat tidur dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman yang menggema di ruangan sunyi itu.
"Bangun!" bentaknya dengan suara parau yang dipaksakan untuk terdengar kuat.
Alana tersentak hebat. Ia terbangun dengan napas tersengal, matanya membelalak kaget, mencoba mengorientasikan dirinya dengan sekitar. "Brixton? Kau sudah bangun? Bagaimana perasaanmu—"
Belum sempat Alana menyelesaikan kalimatnya atau menyentuh keningnya untuk mengecek suhu tubuh, Brixton sudah menyambar pergelangan tangan Alana dan mendorongnya menjauh hingga wanita itu hampir terjatuh dari kursi.
"Jangan berani-berani kau menyentuhku lagi!" teriak Brixton. Suaranya pecah, namun kemarahan yang ada di dalamnya sanggup membuat suasana kamar yang hangat menjadi sedingin es.
Alana meringis, memegangi pergelangan tangannya yang memerah. Matanya yang kelelahan menatap Brixton dengan campuran antara terkejut dan luka yang mendalam. "Aku hanya menjagamu, Brixton. Demammu tadi malam hampir menyentuh empat puluh derajat. Kau mengigau, kau—"
"Aku tidak butuh penjagaanmu! Aku tidak butuh belas kasihanmu!" Brixton turun dari tempat tidur dengan gerakan yang masih sedikit terhuyung, namun ia memaksakan diri untuk berdiri tegak, menjulang di hadapan Alana seperti raksasa yang terluka. "Siapa yang memberimu izin untuk tidur di kamarku? Siapa yang memintamu berlagak seperti martir yang penuh pengorbanan, hah?"
"Tidak ada yang memintaku! Aku melakukannya karena aku istrimu!" Alana akhirnya membalas, suaranya gemetar karena emosi yang meluap.
"Istri?" Brixton tertawa mengejek, sebuah tawa kering yang tidak mencapai matanya. "Kau bukan istriku. Kau hanya sebuah kontrak yang ditandatangani dengan paksa di atas kertas yang berlumuran darah impianku. Kau hanyalah orang asing yang dibayar keluargaku untuk mengisi ruang kosong di rumah ini. Jangan pernah berpikir bahwa dengan merawatku semalam, kau mendapatkan hak untuk disebut sebagai istri."
Brixton melangkah maju, memojokkan Alana hingga punggung wanita itu menabrak lemari kayu besar. Ia menumpukan kedua tangannya di sisi kepala Alana, mengurungnya dalam ruang yang sempit. Napas Brixton yang masih sedikit panas menerpa wajah Alana, namun tatapannya sekeras batu karang.
"Kau tahu apa yang paling menjijikkan bagiku?" Brixton berbisik tepat di telinga Alana, nadanya rendah namun tajam seperti sembilu. "Melihatmu memasang wajah sedih dan peduli itu. Kau pikir aku tidak tahu rencanamu? Kau ingin aku luluh, bukan? Kau ingin aku melupakan apa yang telah kau dan keluargamu lakukan pada hubunganku dengan Elena?"
"Brixton, ini bukan salahku! Aku juga tidak punya pilihan—"
"Semua orang punya pilihan, Alana! Dan kau memilih untuk menerima pernikahan ini demi uang haram keluargamu!" Brixton membentak tepat di depan wajahnya, membuat Alana memejamkan mata rapat-rapat. "Setiap kali aku melihatmu, aku teringat betapa pengecutnya aku karena tidak bisa menghentikan semua ini. Dan aku membencimu karena kau adalah pengingat abadi akan kepengecutanku itu!"
Brixton menjauhkan dirinya secara tiba-tiba, seolah-olah bersentuhan dengan udara di sekitar Alana saja sudah membuatnya muak. Ia berjalan menuju meja rias, meraih baskom air dan kain kompres yang digunakan Alana semalam. Tanpa ragu, ia melempar kain itu ke lantai dan menumpahkan sisa airnya ke dalam wastafel di kamar mandi dengan kasar.
"Keluar," perintahnya dingin tanpa menoleh.
"Brixton, kau masih butuh istirahat. Dokter akan datang satu jam lagi—"
"Aku bilang KELUAR!" Brixton berbalik dan menunjuk pintu kamar dengan jari yang bergetar karena amarah yang tak terkendali. "Ambil semua barang-barangmu dan sampah-sampah medis ini. Aku tidak ingin melihat bayanganmu di kamar ini sedetik pun lagi. Jika aku melihatmu lagi di sini tanpa izin, aku bersumpah akan membuat hidupmu lebih seperti neraka daripada yang sudah kau rasakan sekarang!"
Alana berdiri mematung. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia tidak terisak; ia hanya berdiri di sana, menatap pria yang ia jaga semalaman dengan segenap hatinya, pria yang dulu katanya adalah seorang gentleman yang luar biasa. Kini, ia hanya melihat cangkang kosong yang dipenuhi duri.
Dengan tangan gemetar, Alana memungut kain kompres yang sudah kotor di lantai. Ia merapikan sedikit pakaiannya yang kusut karena tidur duduk, lalu berjalan menuju pintu dengan kepala tertunduk.
Saat tangannya memegang gagang pintu, ia berhenti sejenak dan menoleh tanpa menatap mata Brixton. "Kau boleh membenciku sesukamu, Brixton. Kau boleh membuang semua pengorbananku ke tempat sampah. Tapi kau tidak bisa membohongi dirimu sendiri bahwa semalam, saat kau ketakutan dalam mimpimu, tanganmulah yang mencengkeram bajuku dan memohon agar aku tidak pergi."
Setelah mengatakan itu, Alana keluar dan menutup pintu dengan pelan, meninggalkan kesunyian yang mencekik di dalam kamar.
Brixton berdiri mematung di tengah ruangan. Kalimat terakhir Alana menghantamnya tepat di ulu hati. Ia teringat samar-samar bagaimana tangannya memang mencari sesuatu untuk dipegang semalam. Ia teringat rasa hangat yang menenangkannya saat ia merasa akan tenggelam dalam kegelapan demamnya.
"Sialan!" umpat Brixton. Ia meninju dinding dengan keras hingga buku jarinya berdarah.
Ia benci fakta bahwa Alana benar. Ia benci fakta bahwa di titik terlemahnya, jiwanya merindukan kehadiran wanita itu. Namun, rasa benci itu justru membuatnya semakin keras kepala. Ia tidak boleh goyah. Jika ia menyerah pada Alana, maka ia telah mengkhianati Elena. Ia telah mengkhianati dirinya sendiri.
Brixton berjalan menuju cermin besar di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya sendiri: seorang pria dengan mata yang merah, wajah yang kuyu, dan luka di tangannya. Ia tidak lagi mengenali siapa pria di dalam cermin itu. Sisi lembutnya yang dulu mencintai puisi dan musik, pria yang berjanji akan melindungi orang tersayangnya, kini telah terkubur di bawah tumpukan rasa sakit dan dendam yang ia pupuk sendiri.
"Aku membencinya," bisiknya pada bayangannya sendiri, seolah-olah pengulangan kata itu bisa membuatnya menjadi kenyataan yang absolut. "Aku harus membencinya agar aku tetap bisa hidup."
Di luar kamar, Alana bersandar pada pintu yang tertutup, merosot jatuh ke lantai koridor yang sunyi. Ia membenamkan wajahnya di kedua lututnya dan menangis tanpa suara. Sumpah di atas luka itu kini terasa seperti jerat yang semakin erat mencekik lehernya, namun ia tahu, ia belum bisa menyerah. Ada sesuatu di dalam mata Brixton pagi tadi—sebuah kilatan rasa bersalah yang sangat singkat—yang memberinya harapan tipis bahwa pria yang ia nikahi belum sepenuhnya mati.
Pagi itu, di kediaman Vance, matahari bersinar terang, namun bagi mereka berdua, kegelapan baru saja dimulai.