"Jangan menggodaku, Rania.” Radit mundur satu langkah, tapi Rania justru mendekat. Tangannya menyentuh dada pria itu, perlahan turun sambil tersenyum nakal. “Kamu yang datang sendiri malam-malam begini,” bisiknya.
Lalu bibirnya menempel di leher Radit, menggigit pelan, meninggalkan jejak merah. “Anggap aja… ucapan selamat datang, dari Mbak janda muda.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rapat Dadakan
Sementara di sisi lain lantai eksekutif, Radit sudah kembali ke ruangannya. Seorang pria paruh baya, mengenakan jas mewah berwarna krem, sudah menunggunya dengan dua asisten di sisi kanan-kiri.
Radit menerima tamunya dengan profesional, menyilangkan kaki dan berbicara tenang.
Di saat yang sama…
Langkah sepatu terdengar memasuki lantai utama. Mengenakan kemeja putih dengan celana formal hitam, Reyhan tampak sangat rapi.
Sesaat Reyhan sempat melewati ruang Rania. Tapi dari kaca buram, ia hanya melihat siluet samar perempuan itu. Rania tampak menunduk, sibuk bekerja. Reyhan tak berhenti. Ia terus melangkah.
Begitu sampai di depan ruangan Radit, ia memberi ketukan sopan sebelum masuk.
Tok. Tok.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
"Sorry, ganggu sebentar. Aku bawa laporan untuk ekspansi. Ada data yang mungkin bisa bantu negosiasi kamu.”
Radit berdiri dan mengangguk. “Pas banget. Duduk, Rey. Ini Pak Dany dari Event Global Singapura. Kita lagi bahas venue dan konten.”
Reyhan mengangguk sopan ke tamu Radit, lalu duduk di samping sang kakak.
Tamu mereka terkesan. “Wah, sepertinya Pak Raditya punya adik yang bukan hanya tampan, tapi juga cerdas.”
Radit terkekeh. “Terlalu banyak pujian nanti dia sombong, Pak.”
Radit dan Reyhan saling pandang. Lalu tertawa seolah hal tadi bisa mencairkan suasana.
Masih berada di ruangan yang sama, mereka pun menyaksikan bagaimana perwakilan investor asing itu menyampaikan berbagai harapan dan ketentuan untuk kerja sama dengan perusahaan yang kini dipimpin Radit.
Setelah pembicaraan panjang dan penjelasan teknis, akhirnya Pak Dany berdiri dari tempat duduknya. Ia menjabat tangan Radit dan Reyhan secara bergantian.
“Perusahaan Anda sangat menjanjikan, Tuan Radit. Tapi kami tidak hanya menilai dari potensi. Kalau orang-orang inti Anda tidak solid, kami khawatir kerja sama ini bisa berantakan di tengah jalan.”
“Saya mengerti, Pak Dany. Kami akan pastikan semuanya berjalan sesuai harapan Anda.”
Pak Dany melirik jam tangannya sejenak, lalu menambahkan, “Saya akan kembali ke Singapura besok pagi. Sebelum itu, saya ingin menerima proposal lengkap yang sudah diperbarui. Saya harap bisa sampai ke email saya malam ini juga.”
Pernyataan itu cukup mengejutkan.
Begitu Pak Dany dan timnya meninggalkan ruangan, Reyhan langsung menoleh ke arah kakaknya.
“Kita harus rapat sekarang.”
“Iya. Internal. Semua kepala divisi. Termasuk Rania,” sahut Radit cepat.
Tanpa membuang waktu, Reyhan langsung menghubungi beberapa kepala departemen.
"Sial... Mereka butuh semuanya malam ini. Kalau telat, kerja sama bisa batal.”
Ia menekan tombol interkom dan berbicara tegas.
“Rania, segera ke ruang rapat. Bawa semua file promosi bulan ini. Ini penting.”
"Baik, Pak. Saya segera ke sana.”
---
Tak lama kemudian, Rania datang. Ia mengetuk pintu dua kali sebelum masuk.
“Maaf agak telat, saya sempat membalas beberapa email klien,” ujar Rania dengan nada netral.
“Gak masalah. Kita mulai sebentar lagi,” jawab Radit.
Ia bersandar santai di kursinya, menatap Reyhan dalam diam.
“Ada yang salah?” tanya Reyhan, menangkap tatapan itu.
“Enggak. Cuma belum biasa kamu bantuin aku dari dalam kantor.”
Reyhan terkekeh ringan. “Sama. Aku juga belum biasa lihat kamu jadi bos. Biasanya kamu yang bantu Papa dari belakang layar.”
Belum sempat Radit membalas, pintu kembali terbuka. Beberapa kepala divisi masuk, menempati posisi masing-masing.
Rania duduk, membuka tablet dan meletakkannya di meja.
Rapat pun dimulai.
Suasana berjalan cukup formal dan tertib. Rania menjelaskan rencana promosi, menampilkan visual layout dan perhitungan bujet dengan percaya diri.
Reyhan memperhatikan dengan seksama, sesekali mengangguk. “Kamu urus semua ini sendiri?”
“Dengan tim,” jawab Rania.
“Impresif. Aku gak nyangka kamu bisa sejauh ini... maksudku—”
“Perempuan yang gak kuliah?” potong Rania sambil tersenyum tajam.
Reyhan sempat tercekat. Radit nyaris tertawa, tapi menutup mulutnya dengan tangan.
“Tenang aja. Banyak juga yang kaget. Tapi dunia kerja itu bukan soal penampilan dan gelar. Selama kamu bisa adaptasi, kamu gak akan kalah,” lanjut Rania dengan tenang.
Seketika ruangan hening. Semua mata menoleh ke arah Rania, namun ia tetap tenang dan menunduk sedikit, kembali menatap layar tablet.
Rapat berakhir dengan kesimpulan bahwa semua tim akan bekerja lembur malam itu. Deadline proposal untuk Pak Dany tak bisa ditawar.
Setiap kepala divisi mulai meninggalkan ruangan satu per satu. Reyhan tampak masih ingin berbicara, namun Radit sudah berdiri dan memberi isyarat pada Rania untuk menunggu sebentar.
“Rania, tetap di sini dulu. Ada yang mau saya bahas secara pribadi.”
Reyhan menangkap momen itu, menatap Rania, lalu berpamitan singkat.
“Saya ke ruangan sebelah dulu ya.”
“Silakan, Pak Reyhan,” jawab Rania cepat, kembali profesional.
Begitu pintu tertutup, Radit menarik napas dalam.
“Maaf, malam ini kita bakal pulang larut."
Rania yang masih berdiri di sisi meja hanya mengangguk pelan.
“Padahal tadi siang aku sempat mikir... malam ini kita bisa keluar sebentar. Makan atau... ya, sekadar ngobrol.” lanjut Radit
Rania menoleh, matanya sejenak menatap Radit. “Kamu yang ngajak, kamu juga yang sibuk sendiri.”
“Iya. Aku lupa dunia bisa jungkir balik cuma karena satu tanda tangan dari investor.”
Ia berjalan ke sisi ruangan, mengambil sebotol air dari dispenser kecil, lalu menawarkannya ke Rania.
“Kamu kecewa, ya?”
Rania tak segera menjawab. Ia mengambil botol itu.
“Bukan soal kecewa atau enggak. Aku cuma nggak suka dikasih harapan lalu diundur tanpa kabar. Dari kemarin kamu bilang, ‘Tunggu aku setelah jam kantor’, aku tunggu. Tapi kamu malah sibuk sendiri.”
Radit mendekat, menyandarkan tubuhnya ke meja, bersisian dengannya.
“Maaf... Aku emang harusnya ngabarin. Tapi semalam aku terlalu fokus ke pertemuan itu. Lagian... kamu tahu kan, investor asing suka rewel.”
“Iya, aku ngerti. Tapi tetap aja,” Rania menatap lurus ke layar tablet yang kini mati. “Aku tuh... cuma pengen dihargai.”
Radit terdiam. Ia menunduk sedikit.
“Kalau bukan karena kerjaan gila ini, aku pasti lebih milih dinner di luar. Bahkan... aku udah reservasi tempat makan favoritmu. Tapi ya sudahlah, rencana bisa diatur ulang. Yang penting, kamu jangan jauhi aku."
“Aku nggak pernah mendekat padahal.”
Radit nyengir miring. “Iya. Tapi aku yang makin nempel.”
Rania menahan senyum.
Namun sebelum ia sempat membalas, ponsel Radit bergetar di meja. Sebuah pesan masuk dari Reyhan.
Kepala divisi konten minta revisi data keuangan di poin 4 dan 5.
Radit membaca sekilas, lalu menatap Rania lagi.
“Kita lanjutin nanti, ya? Aku harus ke ruangan Reyhan dulu. Biar proposal itu gak keteteran.”
Rania mengangguk. “Ya, pergi sana. Aku juga masih harus benerin file desain yang kacau gara-gara rapat tadi.”
Radit menyentuh puncak kepala Rania pelan, sekilas.
“Nanti malam, kalau kamu belum tidur... kabarin aku. Kita ngobrol sebentar, walau cuma lewat video call.”
“Oke. Tapi kalau aku udah tidur, jangan salahin aku.”
“Kalau kamu tidur, aku yang bakal mimpiin,” sahut Radit sambil tersenyum, lalu berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar, ia sempat menoleh.
“Jangan terlalu capek, ya. Aku tau kamu paling gak suka lembur.”
“Aku juga tau kamu paling gak bisa menolak permintaan investor.”
Radit hanya tertawa kecil.