NovelToon NovelToon
SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

SECRET VOWS: Istri Rahasia Sang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Pernikahan rahasia / Perjodohan
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Unnie

Azka Mahendra, pewaris muda Mahendra Group, dikenal dingin, arogan, dan ditakuti di sekolah elitnya. Hidupnya yang sempurna berubah saat ia dipaksa menikah secara rahasia dengan Nayla, gadis sederhana yang bahkan tak pernah ia inginkan.

Di sekolah, mereka berpura-pura saling membenci. Azka memperlakukan Nayla dingin dan menyakitkan, sementara Nayla bertahan di balik senyum palsu dan sikap kerasnya. Namun ketika ancaman, perundungan, dan rahasia keluarga mulai menyeret Nayla ke dalam bahaya, sisi posesif dan protektif Azka perlahan muncul bersamaan dengan perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Di antara perjodohan, luka, dan rahasia yang saling mengikat, akankah mereka tetap terjebak dalam pernikahan tanpa cinta, atau berani mengakui perasaan yang diam-diam tumbuh di antara kebencian mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24_TINGKAHNYA YANG ANEH

Azka masih berdiri di teras ketika pintu di belakangnya terbuka perlahan.

Ibu Nayla keluar dengan langkah ragu. Tangannya saling menggenggam di depan perut, wajahnya terlihat canggung, seolah sedang berhadapan dengan sesuatu yang terlalu besar untuk ia pahami.

“Azka…” panggilnya pelan.

Azka menoleh. “Iya, Bu.”

Nada itu sopan. Tapi tetap datar.

Ibu Nayla menarik napas, lalu berkata dengan hati-hati, “Masuk lagi, Nak. Nggak enak Nayla ngobrol sendirian.”

Azka mengangguk. “Baik.”

Ia masuk kembali ke ruang tamu. Nayla menoleh begitu melihat Azka duduk kembali di sofa. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu Nayla cepat mengalihkan pandangan.

Ayah Nayla berdehem kecil. “Azka… terima kasih sudah mau mengantar Nayla ke sini.”

“Sama-sama, Pak,” jawab Azka. “Itu sudah tanggung jawab saya.”

Kata tanggung jawab membuat Nayla mengernyit pelan.

Ibu Nayla menuang teh ke dalam cangkir, tangannya sedikit gemetar. Ia menyodorkan satu pada Azka dengan dua tangan.

“Minum dulu, Nak.”

Azka menerimanya. “Terima kasih.”

Keheningan kembali jatuh.

Tidak ada yang berani berbicara terlalu banyak. Setiap kata terasa seperti harus dipilih dengan sangat hati-hati. Nayla bisa merasakannya, rasa segan orang tuanya, jarak yang tercipta karena nama besar Azka.

Itu menyakitkan.

“Ayah,” ujar Nayla akhirnya, memecah sunyi. “Aku kangen masakan Ibu.”

Ibu Nayla tersenyum, sedikit lega. “Ibu masak sayur asem sama ikan goreng. Sederhana.”

“Itu favorit aku,” jawab Nayla cepat.

Ayah Nayla berdiri. “Kalau begitu, kita makan.”

Mereka pindah ke ruang makan kecil. Meja kayu itu hanya cukup untuk empat orang. Azka duduk agak kaku, sementara Nayla duduk di samping Ibunya.

Saat makanan disajikan, Nayla makan dengan lahap. Ia sengaja. Ia ingin orang tuanya melihat bahwa ia baik-baik saja. Bahwa ia tidak kehilangan dirinya.

Azka memperhatikan.

Cara Nayla tertawa kecil saat Ibunya menegurnya karena makan terlalu cepat. Cara ia membantu merapikan piring tanpa diminta. Cara ia terlihat… menjadi dirinya sendiri.

Azka baru menyadari, Nayla berbeda di rumah ini. Lebih hidup. Lebih hangat. Dan ia, tanpa sadar, adalah orang asing di dunia itu.

“Kamu jarang pulang,” kata Ayah Nayla pelan. “Kami kirain kamu sibuk.”

Nayla menunduk. “Maaf.”

Azka meletakkan sendoknya. “Itu salah saya.”

Semua mata tertuju padanya.

“Saya terlalu mengatur waktu Nayla,” lanjut Azka. “Mulai sekarang, dia bebas datang kapan saja.”

Nayla menoleh cepat. Matanya membesar sedikit.

Ibu Nayla terdiam, lalu tersenyum tipis. “Terima kasih, Nak.”

Makan malam itu berakhir dengan suasana yang sedikit lebih ringan, meski tetap canggung. Saat berpamitan, Ibu Nayla memeluk Nayla lama.

“Jaga diri,” bisiknya. “Kalau capek, pulang.”

Nayla mengangguk, menahan air mata.

***

Di perjalanan pulang, mobil melaju dalam keheningan.

“Kamu nggak harus ngomong kayak tadi,” kata Nayla pelan.

Azka menatap jalan. “Aku tahu.”

“Terus kenapa?”

Azka terdiam cukup lama sebelum menjawab, “Karena itu rumah kamu. Bukan penjara.”

Nayla menoleh. Dadanya menghangat, tapi juga perih.

Lampu kota mulai bermunculan di kejauhan.

Diperjalanan itu pulang terasa aneh. Jalanan ramai. Klakson bersahutan. Lampu kendaraan memantul di kaca mobil. Tapi di dalam mobil itu, sunyi terasa begitu tebal, seolah ada jarak yang tak kasatmata di antara mereka.

Azka menyetir dengan fokus. Tangannya mantap di setir, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di jalan. Sesekali ia melirik ke arah Nayla yang duduk diam di kursi penumpang, menatap lurus ke depan.

Biasanya Nayla akan memecah hening. Dengan komentar asal, atau sekadar keluhan kecil. Tapi kali ini, tidak.

Azka berdehem pelan.

“Apa ada sesuatu,” ucapnya akhirnya, “yang perlu kamu beli?”

Nayla menoleh sekilas, lalu menggeleng kecil. “Nggak ada. Langsung pulang aja.”

Nada suaranya datar. Tidak dingin. Tapi tegas.

Azka mengangguk. “Iya.”

Mobil terus melaju hingga akhirnya memasuki halaman rumah Mahendra yang luas dan terang. Begitu mobil berhenti, Azka membuka sabuk pengaman dan hendak turun—

Namun tangan Nayla lebih dulu menarik lengannya.

“Masuk,” kata Nayla singkat.

Azka terkejut. Ia menoleh, tapi Nayla sudah lebih dulu membuka pintu dan berjalan cepat ke arah rumah, masih menarik pergelangan tangannya.

“Nayla—” Azka hendak protes, tapi langkahnya justru mengikuti.

Ia menurut. Dan itu membuatnya heran.

Begitu sampai di dalam rumah, Nayla tidak langsung naik ke kamar seperti biasanya. Ia justru berhenti di ruang tamu, menoleh tajam ke arah Azka.

“Duduk.”

Azka berkedip. “Hah?”

“Duduk,” ulang Nayla.

Tanpa tahu kenapa, Azka duduk di sofa. Punggungnya tegak, alisnya sedikit berkerut. Ia menatap Nayla yang berdiri di depannya dengan ekspresi serius.

“Kamu kenapa?” tanya Azka akhirnya.

Nayla tidak menjawab.

Ia berbalik dan melangkah cepat ke arah lemari kecil di sudut ruangan. Azka memperhatikannya tanpa berkedip. Cara Nayla membuka laci, membongkar isinya, lalu menghela napas kecil saat menemukan yang ia cari.

Sekotak P3K.

Nayla kembali ke ruang tamu dengan kotak itu di tangannya. Ia meletakkannya di meja, lalu duduk di hadapan Azka.

“Kamu mau ngapain?” tanya Azka, bingung.

“Ngobatin,” jawab Nayla pendek.

Azka mengernyit. “Ngobatin apa?”

Nayla mendengus pelan. “Nggak usah banyak tanya.”

Nada itu membuat Azka terdiam.

Ini… aneh.

Nayla yang biasanya defensif, sekarang justru terlihat seperti seseorang yang terbiasa mengatur. Tangannya cekatan membuka kotak P3K, mengeluarkan kapas dan cairan antiseptik.

“Kenapa berantem?” tanya Nayla pelan, tanpa menatap matanya.

Azka terdiam sejenak. “Aku belain kamu.”

Nayla berhenti bergerak.

Ia mengangkat wajahnya, menatap Azka lurus. Tidak marah. Tidak tersenyum. Hanya… menilai.

Beberapa detik berlalu dalam diam.

“Deket sini,” kata Nayla akhirnya.

Azka refleks sedikit maju.

Nayla mengangkat tangannya, menyentuh sudut bibir Azka dengan hati-hati. Ada memar samar di sana. Jarinya berhenti sesaat, seolah ragu.

Azka meringis pelan saat kapas menyentuh lukanya.

“Perih,” gumamnya.

Nayla melirik cepat. “Makanya.”

“Kenapa?”

“Sok-soan nggak mau diobatin pas di UKS,” jawab Nayla tanpa basa-basi. “Ternyata sakit juga ya?”

Azka terdiam.

Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya. Bukan sakit. Tapi perasaan asing yang membuat tenggorokannya sedikit tercekat.

Nayla mengobati dengan sangat hati-hati. Gerakannya pelan, nyaris lembut. Sesekali Azka meringis, dan Nayla otomatis mengurangi tekanannya.

“Kamu tuh,” ujar Nayla pelan, “kalau marah, nggak mikir panjang.”

Azka menatapnya. “Kalau aku diem aja, kamu bakal kenapa-napa.”

Nayla berhenti.

Tangannya menggantung di udara, sangat dekat dengan wajah Azka.

“Kamu pikir aku selemah itu?” tanya Nayla.

Azka tidak langsung menjawab. Matanya bertemu dengan mata Nayla. Jarak mereka terlalu dekat untuk diabaikan.

“Enggak,” jawab Azka jujur. “Tapi aku tetep nggak bisa diem.”

Nayla menarik tangannya perlahan, kembali mengobati luka kecil di pipi Azka.

“Kamu nggak perlu selalu jadi tameng,” ucap Nayla lirih. “Kadang… cukup berdiri di samping.”

Kalimat itu sederhana. Tapi Azka merasakannya seperti tamparan pelan.

Setelah selesai, Nayla menutup kotak P3K dan berdiri.

“Udah,” katanya.

Azka menatapnya. “Makasih.”

Nayla mengangguk kecil. “Istirahat.”

Ia melangkah pergi menuju tangga, meninggalkan Azka sendirian di ruang tamu.

Azka menyentuh sudut bibirnya pelan. Masih terasa perih. Tapi entah kenapa, dadanya justru terasa hangat.

Tiba-tiba sudut bibirnya terangkat tipis, sambil memperhatikan Nayla seolah memantau langkah tiap langkah gadis itu menaiki tangga menuju kamarnya.

1
Unnie
Happy reading guyss🤗🤭
Erni Anwar
😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!