"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tanggung jawab
Ara duduk dengan punggung tegak di kursi yang berada di depan meja kerja Dokter Jacob, jari-jarinya saling meremat ujung rok dengan kuat. Dada Ara terasa semakin sesak, seolah-olah setiap napas yang ia hirup hanya menambah beban di dalam jiwa.
Di depannya, Dokter Jacob berdiri dengan wajah yang mencoba tetap tenang, meskipun terlihat jelas pemilik wajah blasteran Asia-Amerika itu merasakan kecemasan yang sama dengan yang Ara rasakan.
"Kita hanya perlu melakukan tes kehamilan dengan alat ini, Ara," ujar Dokter Jacob dengan suara yang pelan, namun tetap tegas seperti biasanya. Walaupun Dokter Jacob sudah sangat yakin akan kehamilan Ara hanya dengan memeriksa denyut nadinya saja, tapi Dokter Jacob tetap ingin memastikan dengan alat medis.
Rumah sakit tempat Dokter Jacob bekerja selalu menyediakan alat tes kehamilan, jadi Ia tidak perlu repot mencarinya keluar.
"Baik Dokter." Ara mengangguk patuh, Ara berjalan gontai menuju kamar mandi yang letaknya masih berada di ruangan dokter Jacob.
Beberapa minggu belakangan ini, tubuh Ara memang memberikan tanda-tanda yang membingungkan, tapi Ara yang tidak memiliki pengalaman dalam hal kehamilan, tentu Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi pada dirinya.
"Ara cepatlah! Atau pintunya akan aku dobrak."
Dokter Jacob menunggu Ara di depan pintu kamar mandi dengan gelisah. Tangannya sesekali terangkat bersiap untuk mengetuk pintu tersebut karena Ara tak kunjung keluar, namun Ia urungkan karena tidak ingin membuat Ara semakin gelisah.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti abad, akhirnya Ara selesai melakukan tes. Keduanya berdiri berdampingan, mata keduanya terfokus pada alat tes kehamilan di tangan Ara.
Jantung Ara berdegup kencang sampai terasa ingin meledak, dan dia bisa merasakan detak jantung Dokter Jacob yang sama-sama cepat di sebelahnya.
Detik demi detik berlalu. Kemudian dua garis biru muncul dengan jelas. Dunia seakan berhenti berputar untuk keduanya.
"Dokter...aku hamil." suara Ara hanya bisikan, tapi penuh dengan kesedihan yang tak tertahankan.
Dokter Jacob menunduk, telapak tangannya menutupi wajah kusutnya dengan kasar. Kedua hati yang berdegup kencang tadi sekarang seolah-olah terhenti, tersesat di tengah kegelapan yang tiba-tiba menyelubungi mereka berdua.
"Tuhan, kenapa semua ini terjadi padaku? Bagaimana aku bisa menghadapi ibuku sekarang?" Ara tak bisa menyembunyikan kekecewaannya kala hasil tespack tersebut menunjukan 2 garis biru.
Tangis Ara menggema, memenuhi seisi ruang kerja Dokter Jacob.
Suara tangisnya memang tidak keras, tapi penuh dengan kesedihan yang menyayat hati siapapun yang mendengarnya, seperti duri yang tiba-tiba muncul lalu menusuk dirinya dari setiap sudut ruangan yang semula sunyi itu. Bahu Ara naik turun, seiring dengan suara isak tangisnya yang semakin menjadi, sampai badannya terasa lelah dan melayang seperti daun kering yang terbawa oleh angin.
Hamil di luar nikah. Tak pernah terbayangkan dalam pikiran Ara sebelumnya. Dia hanya gadis muda yang diam-diam jatuh cinta pada dokter tampan yang selama ini merawat ibunya, seorang gadis bodoh yang rela memberikan apapun pada pria pujaan hatinya.
Tapi kini, masa depan yang hancur seakan menari-nari di pelupuk mata, semua harapan yang Ara punya seolah lenyap dalam sekejap.
“Tenanglah Ara, aku akan bertanggung jawab untukmu.”
Suara Dokter Jacob terdengar lembut di telinga Ara. Dokter Jacob memegang bahu Ara yang masih gemetar, mengelusnya perlahan dengan jari-jari yang hangat, dengan maksud untuk menenangkan.
"Benarkah?" Ara mengangkat wajahnya, matanya berbinar penuh dengan harapan. Seperti orang yang menemukan pelita di tengah kegelapan.
“Kamu… akan menikahiku?” tanyanya dengan suara yang tergagap.
Dokter Jacob hanya tersenyum tipis, senyuman yang terlihat sangat dipaksakan. Garis-garis di dahinya terlihat jelas, seolah dia sedang berjuang dengan apa yang akan dia ucapkan.
“Bertanggung jawab bukan berarti harus menikahi mu, Ara,” katanya perlahan, tapi tetap tegas.
“Lagi pula aku sangat mencintai istriku, Yasmin. Aku tidak mungkin mengkhianati pernikahan kami.” Lanjut pria berkulit putih itu dengan lirih.
Mendengar ucapan Dokter Jacob, harapan di mata Ara seketika memudar, digantikan oleh kesedihan yang bahkan lebih dalam lagi dari sebelumnya.
“Tapi jangan khawatir Ara, aku menjamin kamu tidak akan mengalami kesulitan selama mengandung benihku. Semua kebutuhanmu akan aku penuhi.” Ucap Dokter Jacob dengan nada meyakinkan.
Ara menganggukan kepalanya perlahan. Ia mengerti dengan kondisi Dokter Jacob, Ia juga tidak mau menjadi penghancur rumah tangga orang lain. Ara tidak berani bermimpi lagi Dokter Jacob akan menikahinya. Pria itu mau bertanggung jawab atas perbuatannya saja itu sudah cukup bagi Ara, bahkan jika itu berarti dia harus menghadapi semua ini sendirian nanti.
Tangis Ara mulai mereda, digantikan oleh ketenangan yang suram.
Bersambung.