Angin siang itu berhembus cukup kencang, memainkan helai rambut panjang milik Jelita yang sedang duduk santai di selasar universitas. Bagi Jelita, dunia hanya sebatas apa yang bisa dilihat oleh mata dan logika. Baginya, cerita hantu hanyalah dongeng pengantar tidur untuk orang-orang penakut.
"Hari ini kita nggak ada kelas! Gimana kalau kita ke gedung kosong sebelah," Ajak salah satu teman Jelita yang bernama Dinda. Matanya berkilat penuh rencana tersembunyi.
Jelita mengangkat alisnya sebelah, menatap Dinda dengan tatapan remeh.
"Buat apa kita kesana? Kamu mau ngajak mojok ya?" selidik Jelita sambil tersenyum tipis.
"Kamu kan nggak pernah takut dan nggak pernah percaya hal kaya gitu. Kita mau tantang kamu kesana untuk uji nyali," Kata Dinda tegas.
"Bener juga! Lumayan hiburan di saat lagi kelas kosong," sambung Ira yang tiba-tiba bergabung, memberikan dorongan ekstra agar Jelita terpojok.
Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan.
Oke, Siapa Takut? Ayok
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 PROMOSI DINDA
Langkah kaki mereka bergema di lorong menuju kelas. Dinda masih sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena angin kencang tadi, sementara Ira tampak lebih waspada, sesekali melirik ke arah bayangan Jelita di lantai.
Begitu mereka duduk di barisan tengah, Jelita menghela napas panjang dan merogoh tasnya untuk mengambil buku catatan. Namun, jemarinya menyentuh sesuatu yang asing sebuah benda berbentuk kotak dengan permukaan yang sangat halus dan dingin.
"Eh? Apa ini?" gumam Jelita sambil menarik benda itu keluar.
Sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat kini berada di atas meja. Namun memancarkan aroma kayu cendana yang sangat kuat, aroma khas milik Arjuna.
"Waduh! Apa itu, Jel? Perasaan tadi pagi kamu nggak bawa kotak perhiasan," celetuk Dinda yang matanya langsung hijau melihat kotak mewah tersebut. Ia segera mendekatkan kursinya ke arah Jelita.
Ira menghentikan aktivitas menulisnya.
"Jel... jangan-jangan itu dari dia lagi?"
Dengan tangan sedikit gemetar, Jelita membuka tutup kotak beludru tersebut. Seketika, cahaya berkilau memantul di mata mereka bertiga.
Di dalam kotak itu ada sebuah tusuk konde kuno yang terbuat dari perak murni dengan hiasan batu safir biru di ujungnya.
Bentuknya sangat indah, menyerupai kelopak bunga yang sedang mekar, namun ada aura magis yang terasa sangat kuat memancar darinya.
Di balik tutup kotak, muncul tulisan tinta emas yang perlahan terbentuk di atas kain beludru:
"Gunakan ini, Ratu Kecilku. Agar setiap mata yang memandangmu tahu bahwa kau telah bermahkota, dan agar aku bisa selalu membelai rambutmu meski dari kejauhan."
Saat Jelita menyentuh tusuk konde itu, ia merasakan aliran energi dingin yang menenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya, seolah-olah Arjuna sedang memeluknya dari belakang.
"GILA! Itu safir asli, Jel!" jerit Dinda tertahan, takut dosen dengar.
"Ira, lihat! Hantu zaman dulu kalau kasih kado nggak tanggung-tanggung. Ini kalau dijual bisa buat bayar UKT kita sampai lulus!"
"Dinda! Jangan sembarangan, itu benda keramat," tegur Ira, meski matanya juga tak berkedip melihat keindahan benda itu.
"Jel, kamu mau memakainya? Di kampus?"
Jelita terdiam sejenak. Ia merasa jika ia tidak memakainya, Arjuna mungkin akan merasa tersinggung, dan ia tidak ingin ada kejadian aneh lagi di kelas seperti tadi di koridor.
Dengan perlahan. Jelita menyanggul rambutnya dengan gerakan anggun, gerakan yang ia pelajari dari para dayang di istana semalam dan menyematkan tusuk konde perak itu.
Begitu benda itu terpasang, aura Jelita semakin terlihat berwibawa. Wajahnya yang cantik kini tampak memiliki pesona mistis yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa segan untuk berkata kasar.
"Gimana?" tanya Jelita pelan.
"Kamu cantik banget, Jel. Tapi jujur, aku jadi merinding," bisik Dinda.
"Kamu beneran kelihatan kayak permaisuri yang lagi nyamar jadi mahasiswi. Aku jadi merasa harus sungkem setiap mau ngajak kamu jajan."
Tiba-tiba, suhu di dalam kelas yang tadinya panas karena kipas angin mati, mendadak menjadi sejuk dan nyaman tepat di area meja mereka bertiga duduk. Seolah-olah Arjuna sedang memastikan dirinya tidak kepanasan selama jam pelajaran.
"Wah, Arjuna benar-benar sangat effort sekali! Apakah pelayannya juga akan se-effort bosnya?" seru Dinda dengan mata berbinar-binar. Ia menyenggol lengan Jelita dengan semangat.
"Jel, tolong katakan pada Arjuna, aku mau daftar jadi kekasih hantu! Daripada jomblo begini, lebih baik pacaran dengan hantu romantis. Pasti sangat menyenangkan, tiap hari dikasih perhiasan antik!"
Ira hanya bisa menepuk dahi mendengar celotehan Dinda yang semakin di luar nalar, sementara Jelita tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.
Jelita menggelengkan kepalanya. "Dinda, kamu yakin? Kamu tidak takut kalau setiap malam harus berurusan dengan dunia yang dingin dan gelap?"
"Kalau hantunya setampan yang kemarin dan se-effort ini? Aku siap lahir batin, Jel! Tolong ya, tanyakan apakah Nakula atau Bimasena masih jomblo," lanjut Dinda tanpa rasa takut sedikit pun.
Tiba-tiba, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening saat Pak Broto masuk ke dalam kelas, beliau dikenal sebagai dosen sejarah yang tidak hanya ahli dalam naskah kuno, tapi juga konon memiliki penglihatan yang tajam terhadap hal-hal tak kasat mata.
Begitu melangkah ke depan kelas, langkah Pak Broto terhenti. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya tertuju tepat pada Jelita. Beliau mengernyitkan dahi, seolah melihat sesuatu yang sangat besar dan kuat sedang berdiri tepat di belakang kursi gadis itu.
"Selamat pagi semuanya." ucap Pak Broto pelan, namun matanya tetap tak lepas dari tusuk konde yang dikenakan Jelita.
"Sepertinya kelas kita pagi ini sangat ramai, ya?"
Dinda langsung terdiam dan bersembunyi di balik buku besarnya, sementara Ira mendadak kaku.
Pak Broto berjalan mendekati meja Jelita, suhu udara di sekitar mereka semakin dingin seolah-olah Arjuna sedang menjaga Jelita dengan kewaspadaan yang tinggi.
"Tusuk konde yang bagus, Jelita," ujar Pak Broto dengan nada penuh arti.
"Perak murni dari era kerajaan yang hilang sangat langka. Kamu harus hati-hati, benda seperti itu biasanya memiliki penjaga yang sangat setia."
Jelita hanya bisa tersenyum sopan sambil menahan degup jantungnya.
"Terima kasih, Pak. Ini pemberian dari seseorang."
"Saya tahu," balas Pak Broto singkat sebelum kembali ke depan kelas.
Sepanjang pelajaran, Dinda diam-diam menulis di secarik kertas dan menggesernya ke arah Jelita:
[Jel, serius ya! Bilang ke Arjuna, kalau dia punya stok pelayan tampan lagi, aku siap lahir batin!]
Jelita hanya bisa tersenyum tipis. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan sebuah bisikan halus yang hanya bisa ia dengar sendiri.
"Sampaikan pada temanmu dunia kami tidak semudah yang dia bayangkan. Tapi, kegigihannya cukup menghiburku."
Jelita tersentak. Arjuna rupanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan Dinda.
Begitu Pak Broto menutup kuliahnya dan keluar dari ruangan, Dinda langsung menyergap Jelita. Ia sudah tidak sabar menagih jawaban atas surat lamarannya tadi.
"Gimana, Jel? Sudah kamu bilang belum ke Arjuna? Apa katanya?" tanya Dinda antusias sambil membereskan tasnya dengan terburu-buru.
Jelita menarik napas dalam-dalam, menatap Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Dinda, kamu harus hati-hati dengan apa yang kamu ucapkan. Sepertinya, Arjuna tidak pernah benar-benar meninggalkan kita sendirian."
Ira yang sedang memasukkan laptopnya langsung berhenti. "Maksudmu?"
"Tadi saat kamu bicara soal pelayan tampan dan ingin jadi kekasih hantu, Arjuna langsung menjawabnya di telingaku," bisik Jelita pelan.
Mata Dinda membelalak.
"SERIUS?! Dia jawab apa? Dia setuju? Dia mau kasih aku Nakula?"
Jelita menggeleng tipis. "Dia bilang, sampaikan pada temanmu dunia kami tidak semudah yang dia bayangkan. Tapi, kegigihannya cukup menghiburku."
Hening sejenak.
Dinda terdiam, ekspresi wajahnya berubah dari senang menjadi kaku.
"Dia dengar semuanya? Berarti dia dengar juga pas aku bilang mau dapet perhiasan biar bisa bayar UKT?"
"Sepertinya begitu," jawab Jelita.
"Mampus aku." gumam Dinda, tiba-tiba merasa merinding.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa seolah ada sosok tinggi besar yang sedang menertawakan kebodohannya dari bayangan ruangan kelas.
"Tapi bentar dia bilang menghibur, kan? Berarti dia nggak marah? Berarti ada peluang dong!"
Ira menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir dengan sahabatnya itu.
"Dinda, fokus! Itu artinya kamu sedang diperhatikan oleh penguasa alam gaib. Bukan peluang pacaran, tapi peluang kamu diculik kalau salah bicara!"
Plus Ira & si berisik Dinda. Kombinasi maaaauuut... 🤣🤣🤣
Tiba2 ke inget lagu ini... Kesian jg si Arjuna. Tapi ya itulah hdp. 2 alam tidak mungkin bersatu...
Semangat ya Thor. Tuyulku ngikut nih. 🤣