NovelToon NovelToon
Hantu Tampan Si Mesum

Hantu Tampan Si Mesum

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Dunia Lain / Spiritual / Hantu / Suami Hantu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Angin Siang Itu Berhembus Cukup Kencang, Memainkan Helai Rambut Panjang Milik Jelita Yang Sedang Duduk Santai Di Selasar Universitas. Bagi Jelita, Dunia Hanya Sebatas Apa Yang Bisa Dilihat Oleh Mata Dan Logika. Baginya, Cerita Hantu Hanyalah Dongeng Pengantar Tidur Untuk Orang-Orang Penakut.​"Hari Ini Kita Gak Ada Kelas! Gimana Kalau Kita Ke Gedung Kosong Sebelah," Ajak Salah Satu Teman Jelita Yang Bernama Dinda. Matanya Berkilat Penuh Rencana Tersembunyi.​Jelita Mengangkat Alisnya Sebelah, Menatap Dinda Dengan Tatapan Remeh. "Buat Apa Kita Kesana? Kamu Mau Ngajak Mojok Ya?" Selidik Jelita Sambil Tersenyum Tipis.​"Kamu Kan Gak Pernah Takut Dan Gak Pernah Percaya Hal Kaya Gitu. Kita Mau Tantang Kamu Kesana Untuk Uji Nyali," Kata Dinda Tegas.​"Bener Juga! Lumayan Hiburan Di Saat Lagi Kelas Kosong," Sambung Ira Yang Tiba-Tiba Bergabung, Memberikan Dorongan Ekstra Agar Jelita Terpojok.​Jelita Tertawa Kecil, Sebuah Tawa Yang Mengandung Kesombongan. "Oke, Siapa Takut? Ayok Kita Kesana."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Langkah kaki mereka bergema di lorong menuju ruang kelas. Dinda masih sibuk merapikan rambutnya yang berantakan karena angin kencang tadi, sementara Ira tampak lebih waspada, sesekali melirik ke arah bayangan Jelita di lantai.

​Begitu mereka duduk di barisan tengah, Jelita menghela napas panjang dan merogoh tasnya untuk mengambil buku catatan. Namun, jemarinya menyentuh sesuatu yang asing—sebuah benda berbentuk kotak dengan permukaan yang sangat halus dan dingin.

​"Eh? Apa ini?" gumam Jelita sambil menarik benda itu keluar.

​Sebuah kotak beludru berwarna hitam pekat kini berada di atas meja. Kotak itu tidak memiliki merk, namun memancarkan aroma kayu cendana dan melati yang sangat kuat—aroma khas milik Arjuna.

​"Waduh! Apa itu, Jel? Perasaan tadi pagi kamu nggak bawa kotak perhiasan," celetuk Dinda yang matanya langsung hijau melihat kotak mewah tersebut. Ia segera mendekatkan kursinya ke arah Jelita.

​Ira menghentikan aktivitas menulisnya. "Jel... jangan-jangan itu dari dia lagi?"

​Dengan tangan sedikit gemetar, Jelita membuka tutup kotak beludru tersebut. Seketika, cahaya berkilau memantul di mata mereka bertiga.

Di dalam kotak itu terbaring sebuah tusuk konde [tusuk rambut] kuno yang terbuat dari perak murni dengan hiasan batu safir biru di ujungnya. Bentuknya sangat indah, menyerupai kelopak bunga yang sedang mekar, namun ada aura magis yang terasa sangat kuat memancar darinya.

Di balik tutup kotak, muncul tulisan tinta emas yang perlahan terbentuk di atas kain beludru: "Gunakan ini, Ratu Kecilku. Agar setiap mata yang memandangmu tahu bahwa kau telah bermahkota, dan agar aku bisa selalu membelai rambutmu meski dari kejauhan."

Saat Jelita menyentuh tusuk konde itu, ia merasakan aliran energi dingin yang menenangkan mengalir ke seluruh tubuhnya, seolah-olah Arjuna sedang memeluknya dari belakang.

"GILA! Itu safir asli, Jel!" jerit Dinda tertahan, takut dosen dengar. "Ira, lihat! Hantu zaman dulu kalau kasih kado nggak tanggung-tanggung. Ini kalau dijual bisa buat bayar UKT kita sampai lulus!"

​"Dinda! Jangan sembarangan, itu benda keramat," tegur Ira, meski matanya juga tak berkedip melihat keindahan benda itu. "Jel, kamu mau memakainya? Di kampus?"

Jelita terdiam sejenak. Ia merasa jika ia tidak memakainya, Arjuna mungkin akan merasa tersinggung, dan ia tidak ingin ada kejadian aneh lagi di kelas seperti tadi di koridor.

​Dengan perlahan, Jelita menyanggul rambutnya dengan gerakan anggun—gerakan yang ia pelajari dari para dayang di istana semalam—dan menyematkan tusuk konde perak itu. Begitu benda itu terpasang, aura Jelita semakin terlihat berwibawa. Wajahnya yang cantik kini tampak memiliki pesona mistis yang membuat siapapun yang melihatnya akan merasa segan untuk berkata kasar.

​"Gimana?" tanya Jelita pelan.

​"Kamu... kamu cantik banget, Jel. Tapi jujur, aku jadi merinding," bisik Dinda. "Kamu beneran kelihatan kayak permaisuri yang lagi nyamar jadi mahasiswi. Aku jadi merasa harus sungkem setiap mau ngajak kamu jajan."

​Tiba-tiba, suhu di dalam kelas yang tadinya panas karena kipas angin mati, mendadak menjadi sejuk dan nyaman tepat di area meja mereka bertiga duduk. Seolah-olah Arjuna sedang memastikan "ratunya" tidak kepanasan selama jam pelajaran.

​"Wah, Arjuna benar-benar sangat effort sekali! Apakah pelayannya juga akan se-effort bosnya?" seru Dinda dengan mata berbinar-binar. Ia menyenggol lengan Jelita dengan semangat. "Jel, tolong katakan pada Arjuna, aku mau daftar jadi kekasih hantu! Daripada jomblo begini, lebih baik pacaran dengan hantu romantis. Pasti sangat menyenangkan, tiap hari dikasih perhiasan antik!"

Ira hanya bisa menepuk dahi mendengar celotehan Dinda yang semakin di luar nalar, sementara Jelita tertawa kecil melihat tingkah sahabatnya itu.

Jelita menggelengkan kepalanya. "Dinda, kamu yakin? Kamu tidak takut kalau setiap malam harus berurusan dengan dunia yang dingin dan gelap?"

​"Kalau hantunya setampan yang kemarin dan se-effort ini? Aku siap lahir batin, Jel! Tolong ya, tanyakan apakah Nakula atau Bimasena masih jomblo," lanjut Dinda tanpa rasa takut sedikit pun.

Tiba-tiba, suasana kelas yang tadinya riuh mendadak hening saat seorang dosen senior masuk. Namanya Pak Broto, beliau dikenal sebagai dosen sejarah yang tidak hanya ahli dalam naskah kuno, tapi juga konon memiliki "penglihatan" yang tajam terhadap hal-hal tak kasat mata.

​Begitu melangkah ke depan kelas, langkah Pak Broto terhenti. Matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya tertuju tepat pada Jelita. Beliau mengernyitkan dahi, seolah melihat sesuatu yang sangat besar dan kuat sedang berdiri tepat di belakang kursi Jelita.

​"Selamat pagi semuanya..." ucap Pak Broto pelan, namun matanya tetap tak lepas dari tusuk konde yang dikenakan Jelita. "Sepertinya kelas kita pagi ini sangat... 'ramai' ya?"

​Dinda langsung terdiam dan bersembunyi di balik buku besarnya, sementara Ira mendadak kaku. Pak Broto berjalan mendekati meja Jelita, suhu udara di sekitar mereka semakin dingin seolah-olah Arjuna sedang memasang pagar betis.

​"Tusuk konde yang bagus, Jelita," ujar Pak Broto dengan nada penuh arti. "Perak murni dari era kerajaan yang hilang... sangat langka. Kamu harus hati-hati, benda seperti itu biasanya memiliki 'penjaga' yang sangat setia."

​Jelita hanya bisa tersenyum sopan sambil menahan degup jantungnya. "Terima kasih, Pak. Ini... pemberian dari seseorang."

​"Saya tahu," balas Pak Broto singkat sebelum kembali ke depan kelas. "Seseorang yang sangat kuat. Pastikan kamu menjaga komitmenmu padanya, atau seisi kampus ini akan merasakan hawa dinginnya."

Sepanjang pelajaran, Dinda diam-diam menulis di secarik kertas dan menggesernya ke arah Jelita:

[Jel, serius ya! Bilang ke Arjuna, kalau dia punya stok pelayan tampan lagi, aku siap lahir batin!]

​Jelita hanya bisa tersenyum tipis. Namun, di dalam hatinya, ia merasakan sebuah bisikan halus yang hanya bisa ia dengar sendiri.

​"Sampaikan pada temanmu... dunia kami tidak semudah yang dia bayangkan. Tapi, kegigihannya cukup menghiburku."

​Jelita tersentak. Arjuna rupanya mendengarkan setiap kata yang diucapkan Dinda!

Begitu Pak Broto menutup kuliahnya dan keluar dari ruangan, Dinda langsung menyergap Jelita. Ia sudah tidak sabar menagih jawaban atas surat cinta "lamarannya" tadi.

​"Gimana, Jel? Sudah kamu batin belum ke Arjuna? Apa katanya?" tanya Dinda antusias sambil membereskan tasnya dengan terburu-buru.

​Jelita menarik napas dalam-dalam, menatap Dinda dengan tatapan yang sulit diartikan. "Dinda... kamu harus hati-hati dengan apa yang kamu ucapkan. Sepertinya, Arjuna tidak pernah benar-benar meninggalkan kita sendirian."

​Ira yang sedang memasukkan laptopnya langsung berhenti. "Maksudmu?"

​"Tadi... saat kamu bicara soal pelayan tampan dan ingin jadi kekasih hantu, Arjuna langsung menjawabnya di telingaku," bisik Jelita pelan.

​Mata Dinda membelalak. "SERIUS?! Dia jawab apa? Dia setuju? Dia mau kasih aku Nakula?"

​Jelita menggeleng tipis. "Dia bilang: 'Sampaikan pada temanmu... dunia kami tidak semudah yang dia bayangkan. Tapi, kegigihannya cukup menghiburku.'"

​Hening sejenak.

​Dinda terdiam, ekspresi wajahnya berubah dari senang menjadi kaku. "Dia... dia dengar semuanya? Dari tadi? Berarti dia dengar juga pas aku bilang mau dapet perhiasan biar bisa berhenti bayar UKT?"

​"Sepertinya begitu," jawab Jelita.

​"Mampus aku..." gumam Dinda, tiba-tiba merasa merinding. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, merasa seolah ada sosok tinggi besar yang sedang menertawakan kebodohannya dari balik bayangan lemari kelas. "Tapi bentar... dia bilang 'menghibur', kan? Berarti dia nggak marah? Berarti ada peluang dong!"

​Ira menggelengkan kepala, benar-benar tidak habis pikir dengan mental baja sahabatnya itu. "Dinda, fokus! Itu artinya kamu sedang diperhatikan oleh penguasa alam gaib. Bukan peluang pacaran, tapi peluang kamu diculik kalau salah bicara!"

1
Mingyu gf😘
Arjuna jahat
Mingyu gf😘
sadar jelita sadar
Stanalise (Deep)🖌️
Ya, kalau setannya kayak gini visualisasi nya siapa yang ga kepincut. Beneran 🐊 nih the mycth
Stanalise (Deep)🖌️
Tapi thor, sebenarnya nih si Jelita dia emang bisa nglihat atau ngga Thor? #Bertanya dengan nada lembut. 🥺
Greta Ela🦋🌺
Jangan woi. Hantu ini gak tahu tempat, dah tahu sekarang lagi jam kuliah malah diganggu
Greta Ela🦋🌺
Ya wajib lah dengerin dosen. Kocak amat lu
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ganteng gini mah🤣
Greta Ela🦋🌺
Hantunya ini ngada2 ya🤣
Blueberry Solenne
Cape banget Ini yang Jadi temen-temennya, harus rebutan Jelita sama Hantu
Wida_Ast Jcy
tidak semudah itu juga kali. kalau teror berakhir otomatis ceritamu tamat donk. ya kan thor
Wida_Ast Jcy
Bukan masalah begitu jelita. namanya juga sahabat mungkin mereka ingin membantu. dan kesian harus membiarkan dirimu
studibivalvia
merinding tapi bikin terang-sang ya kan jel? 🤣
chemistrynana
ALAMAKK TAKUTNYA
arunika25
memangnya hantu tampan itu lebih menakutkan dari hantu biasa. suka posesif gitu padahal baru ketemu.😱
Ani Suryani
hantu cabul
CACASTAR
jujur cerita ini rada bikin merinding tapi campuran romantika saat penggambaran tokoh ya muncul..hantu kok tampan sih
CACASTAR
kenapa jadi gerah bacanya yaaa🤭
CACASTAR
kak Jing Jing ilustrasinya bikin salfok 😄
Blueberry Solenne
Leluhur si Jelitanya jahat banget, wajar lah si Arjuna nuntut haknya, eweh tapi serem ya bagaimana mungkin dua makhluk beda alam bersatu
Greta Ela🦋🌺
Apa2an sih ini hantu. Sadarlah woi kalian ini beda dunia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!