Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ten Spesial?
Di belahan kota yang lain, malam merangkak naik.
Yuzuriha dan tiga anggota Nightshade lainnya menjalankan misi dengan penuh kerahasiaan.
Keempatnya mengenakan pakaian khusus Nightshade: jaket berbulu yang menampilkan simbol organisasi di bagian punggung.
Mereka menempati posisi strategis di atas gedung-gedung yang berbeda, berkomunikasi melalui headset untuk menjaga koordinasi.
Di sebuah gedung yang cukup dekat dengan target, seorang pria bernama Kayle mengamati dengan cermat menggunakan teropong.
"Target terlihat..." lapor Kayle melalui headset.
"Sepertinya dia sedang mengemas dokumen," lanjutnya.
Di gedung yang agak jauh dari Kayle, Fin memfokuskan diri.
Fin mengaktifkan Ten. Energi kuning langsung menyelimuti tubuhnya dan sniper mainan yang ia pegang. Dalam sekejap, senapan mainan itu berubah menjadi senapan sungguhan yang futuristik.
"Target keluar menggunakan mobil, dikawal oleh beberapa pengawal," suara Kayle terdengar di headset Fin.
"Dimengerti..." jawab Fin singkat sambil mulai membidik.
"Ada empat mobil yang keluar, termasuk mobil target... Fokus tembak bannya saja," perintah Kayle.
"Siap..." balas Fin. "Sniper aktif... Proyektil kecil berujung lancip," gumamnya.
Seketika, senapan Fin merespons perintahnya. Ia mengunci bidikan pada ban mobil.
DOR!
Satu mobil oleng dan menabrak pembatas jalan.
DOR!
Dua mobil menyusul, kehilangan kendali akibat ban yang pecah.
Mobil ketiga dan keempat juga berhasil dilumpuhkan oleh tembakan jitu dari Fin.
Yuzuriha dan seorang anggota lain bernama Frederica melompat dari atap gedung mereka.
Yuzuriha melepaskan jarum dari ikatan rambutnya dan mengaktifkan Ten. Energi merah menyelimuti tubuhnya, mengubah jarumnya menjadi senjata yang lebih besar dan tajam.
Di sisi lain, Frederica mengaktifkan Ten. Energi ungu melingkupi tubuhnya dan kacamatanya. Hanya lensa kacamatanya saja yang mengalami perubahan.
Dengan gerakan gesit, mereka berdua berlari menuju empat mobil yang sudah berhenti itu.
Para pengawal target melihat kedatangan Yuzuriha dan Frederica. Tanpa ragu, mereka menembaki keduanya secara membabi buta.
Dengan mudah, Yuzuriha menangkis semua peluru yang mengarah padanya.
Yuzuriha bergerak maju dengan cepat, hingga ia berdiri tepat di hadapan salah satu pengawal.
"A-apa!..." Pengawal itu terkejut melihat kecepatan Yuzuriha.
Yuzuriha menendang dagu pengawal itu dengan keras. Satu pengawal tumbang. Yuzuriha melesat mengelilingi mobil. Tiba-tiba, sebuah peluru meluncur ke arah kepalanya.
DOR!
Yuzuriha sempat memejamkan mata, mengira ajalnya telah tiba. Namun, ternyata tidak. Peluru itu berhasil dihalau oleh peluru Fin yang melaju lebih cepat.
"H-hampir saja," gumamnya sambil mengelap keringat di dahinya. "Fin! Terima kasih ya!" Yuzuriha melambaikan tangan ke arah tempat Fin berada.
Yuzuriha segera melesat dan menebas tubuh pengawal yang menembaknya dengan jarumnya. Dengan tusukan demi tusukan yang mematikan, tubuh pengawal yang menghalangi Yuzuriha dengan cepat berlubang.
Di sisi lain, Frederica masih terus diberondong peluru.
Namun, ia dengan mudah menghindari semua serangan itu. Meskipun peluru dimuntahkan dengan deras ke arahnya, Frederica mampu menghindarinya dengan sangat mudah.
Pasalnya, lensa kacamatanya memiliki kemampuan yang luar biasa. Frederica bisa melihat tiga detik ke masa depan, yang memungkinkannya untuk menghindari setiap peluru yang datang.
"S-sial!! Kenapa tidak ada yang kena!" gerutu salah satu pengawal.
Frederica tiba di hadapannya.
"Ingin tahu kenapa?"
Frederica meninju wajah pengawal itu dengan keras.
"Karena... aku bisa melihat masa depan."
"Masa depan katamu!" sahut pengawal itu sambil mengambil senapan mesin ringan (SMG) dari dalam mobil.
Pengawal itu menembak secara brutal. Tentu saja Frederica bisa menghindar, namun ada beberapa peluru yang mengenainya.
Frederica terus maju. Ia menunduk dan menendang senapan SMG pengawal itu, lalu memukulnya dengan keras hingga pingsan.
Satu pengawal lagi menyerangnya dari belakang, namun kepala pengawal itu tiba-tiba berlubang.
Hal itu disebabkan oleh tembakan dari Fin yang lagi dan lagi mengenai sasaran dengan tepat.
Yuzuriha dan Frederica bertarung dengan hebat. Satu demi satu, pengawal tumbang di hadapan mereka.
Dan akhirnya, tidak ada lagi pengawal yang mampu bertahan. Yang tersisa hanyalah mobil utama, yang di dalamnya terdapat target mereka: seorang pejabat korup.
Pejabat itu sudah diselidiki oleh mata-mata Nightshade.
Dan ternyata, dia adalah pejabat yang mengkorupsi uang rakyat.
Frederica membuka pintu mobil itu dengan paksa.
"Halloo... Hari ini dapat berapa duit?" sapa Frederica dengan nada mengejek.
"A-a-a-a-ampunnn..." Pejabat itu mengompol di celana karena ketakutan.
"Hei, hei, Frederica, dia mengompol di celana, tuh!" Yuzuriha tertawa melihatnya.
Pejabat yang duduk di kursi belakang mobil itu langsung ditendang oleh Frederica hingga pingsan. Tujuan utama mereka bukanlah pejabat itu, melainkan sebuah koper berisi dokumen dan rekaman CCTV yang ia bawa.
Ya, dokumen itu berisi laporan untuk ketua Justice, yaitu Voda. Kai, pemimpin Nightshade, mengincar dokumen itu karena mungkin ada petunjuk yang berguna.
Dan rekaman itu diduga berisi rekaman pejabat itu yang mengambil uang pajak secara diam-diam.
Rekaman itu akan diserahkan kepada mata-mata Nightshade dan akan disampaikan kepada ketua badan keamanan.
Tak lama kemudian, seorang pengemudi Nightshade datang menjemput mereka. Kali ini bukan Juichi, melainkan pengemudi biasa yang menjadi bagian pendukung di organisasi Nightshade.
Mereka semua masuk ke dalam mobil dengan tenang.
Yuzuriha melihat keluar dari jendela mobil.
"Shuchan saat ini sedang apa ya..." gumamnya pelan.
"Hah? Kau bilang apa?" Frederica sedikit mendengar gumaman Yuzuriha.
"Tidak... tidak apa-apa," jawab Yuzuriha sambil tersenyum.
Mereka tiba di Kediaman Nightshade sekitar pukul 11.12 malam.
Yuzuriha langsung menuju ruang pelatihan.
Ia membuka pintu ruang itu dan melihat ruangan latihan yang sebagian hancur.
...----------------...
...Di sisi lain, saat Yuzuriha dan timnya menjalankan misi......
Shun masih berlatih bersama Kai.
Kali ini, Kai berencana untuk menyuruh Shun menggunakan benda lain.
"Shun... Coba pakai benda lain," perintah Kai.
Shun menoleh ke arah Kai. Wajahnya yang konyol seolah mengejek Kai, mengatakan bahwa tidak mungkin ia bisa menggunakan lebih dari satu benda.
"Boss... kau bodoh, ya?" tanya Shun dengan nada mengejek.
Kai memukul kepala Shun.
"Coba saja!"
"Baiklah, baiklah," jawab Shun sambil menggosok kepalanya.
Kali ini, Shun mengambil sebuah perisai kayu. Ia mulai mengaktifkan Ten. Energi hitam dan merahnya mulai terlihat, stabil, dan memancarkan aura yang indah namun mengerikan.
Energi itu menyelimuti Shun dan merambat ke perisai kayu itu. Perisai itu berubah menjadi perisai besi berwarna hitam dan merah.
Shun melongo, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"B-Boss... b-bisa!"
Kai menjelaskan lagi bahwa Ten Shun itu spesial. Karena Ten yang pernah muncul 200 tahun lalu itu, bisa digunakan untuk mengendalikan lebih dari satu benda.
"Baiklah... Kau coba-coba lagi," kata Kai.
Shun mencoba lagi, dan untuk yang ketiga kalinya...
Shun muntah darah. Kepalanya terasa pusing, dan ia merasa ingin pingsan. Untungnya, di sana ada dokter Nightshade, dia adalah Dr. Wero.
Dr. Wero mengaktifkan Ten. Energi hijau muda menyelimuti tubuhnya, lalu merambat ke suntikan kusam yang ia pegang.
Suntikan itu berubah menjadi suntikan yang lebih bagus dan futuristik.
"Ya ampun, Boss, bukannya ini berlebihan?" gumam Dr. Wero sambil menyuntikkan cairan ke tubuh Shun.
"E-eh?..." Shun melihat kedua tangannya. "Tidak pusing lagi."
Kai menjelaskan, "Yahhh... Sayang sekali, mungkin batasmu hanya sampai tiga benda saja." Kai tersenyum khas dan tertawa.
"Apanya yang lucu!" protes Shun.
Kai mengatakan lagi bahwa kali ini Shun akan melawan Emon sebagai lawan latihan. Pasalnya, jika Shun ingin ikut menjalankan misi, ia harus bisa bertarung.
Shun berhadapan dengan Emon. Dulu mereka berada dalam satu sel, namun sekarang mereka akan bertarung satu lawan satu.
Emon mengaktifkan Ten. Energi putih menyelimuti tubuhnya dan gada berduri dengan rantai yang ia pegang. Gada itu tidak mengalami banyak perubahan.
"Aku tidak akan menahan diri, Shun," kata Emon memperingatkan.
Shun, yang staminanya sudah pulih, mengambil benda yang mirip belati dan mengaktifkan Ten. Energi hitam dan merah menyelimuti tubuhnya dan benda itu.
Benda itu berubah menjadi belati sungguhan yang tajam, dengan bilah berwarna hitam, gagang berwarna merah, dan tampilan futuristik.
"Mohon kerja samanya!... Emon!"
Pertarungan dimulai.
Emon melaju dengan cepat, menyebabkan tanah yang ia pijak retak. Meskipun tubuhnya besar dan berotot, Emon mampu bergerak dengan gesit.
Begitu juga dengan Shun. Meskipun ia masih amatiran, berkat Ten yang menyelimuti tubuhnya, ia merasa lebih ringan, yang membuat gerakannya menjadi lincah.
Emon menyerang lebih dulu. Ia melemparkan gadanya. Shun berhasil menghindar dengan menunduk, namun saat ia berdiri lagi, ia terkena hantaman gada berduri itu.
Pasalnya, Emon menarik gada itu dengan rantai yang memanjang.
Shun masih berusaha untuk bangkit.
"Sepertinya kau tidak menahan diri, ya," kata Shun sambil meludah darah.
"Tentu saja!" jawab Emon sambil kembali melemparkan gada berduri itu.
Kali ini, gada itu membesar, bola berduri itu menjadi lebih besar dari bola basket.
Shun kesulitan untuk menghindar, namun ia masih bisa menghindar.
Shun mencoba mendekat, namun serangan yang dilancarkan oleh Emon membuatnya kesulitan.
Tanah demi tanah hancur akibat serangan Emon. Tubuh Shun sudah babak belur.
"Jika satu seranganmu mengenai Emon, kau menang, Shun!" teriak Kai yang menonton dari samping.
"Baiklah kalau begitu," jawab Shun sambil melesat maju.
Shun memegang belatinya dengan cara yang berbeda. Emon yang melihat itu seolah sedang menyaksikan seorang profesional dalam bertarung.
Shun berada tepat di depan muka Emon. Ia melesatkan serangan belati secara horizontal.
Emon berusaha menghindar, namun ia melakukan kesalahan. Langkah mundurnya membuatnya dengan cepat terpojok saat melawan pengguna belati.
Pasalnya, Shun terus-menerus melancarkan serangan, dan sampai akhirnya Shun berhasil mengenai Emon.
Goresan horizontal dari bawah mata ke mata.
"A-apa..." Emon terkejut.
Shun juga terkejut.
"H-horee!... Aku berhasil! Kau lihat, Boss, aku berhasil!" Ia melompat-lompat kegirangan, hingga akhirnya ia pingsan.
Kai mendekat dan menggendong Shun.
"Sepertinya kau kelelahan, ya... Pertarungan yang menakjubkan, Shun," kata Kai sambil tersenyum.
...----------------...
...Sekarang Pukul 11.35...
"Begitulah ceritanya..." ucap Dr. Wero.
Yuzuriha tersenyum tipis.
"Begitu ya... Shuchan sudah lumayan berkembang."
Dr. Wero menceritakan semua yang terjadi di ruang pelatihan kepada Yuzuriha.
Entah kenapa, Yuzuriha merasa sedikit kecewa karena Shun sudah tidur. Niatnya, Yuzuriha ingin menceritakan misi yang baru saja ia selesaikan kepada Shun.
Tapi Shun malah tidur...