NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tergadai

Cinta Yang Tergadai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:477
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Senada

Ini tentang Anin yang berusaha menjaga api cinta dalam rumah tangganya agar tetap menyala kala badai datang menggoyahkan–menguji cinta dan keutuhan rumah tangganya dengan Harsa yang telah banyak memberi bahagia. Haruskah ia gadaikan cinta mereka dengan perasaan sesaat?
....
Kamu adalah cinta yang datang layaknya hujan, membasahi saat aku merasa paling gersang. Namun, sayangnya kamu pergi bagai puing yang belum pernah sempat kugenggam.
~Sekala Bumi
....
Aku pernah tersesat diantara persimpangan gelap, kamu hadir menemukanku diantara pekatnya malam yang hampir menelan. Sayangnya diantara ribuan pilihan kau malah meninggalkanku sendirian tanpa pernah kau perjuangkan.

Kini ... aku tak lagi sama. Ragaku telah bertuan, walau pada kenyataannya separuh hatiku masih ingin menggenggammu.
~Anindyaswari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Senada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Nyatanya sesimple itu

Demikianlah keseharian Anin selama dua tahun berturut-turut, sangat monoton. Anin sadar, menjadi ibu rumah tangga memang peran yang sangat mulia, tapi juga tak mudah, karena menuntut fisik dan mental yang benar-benar harus siap selama 24 jam. Pekerjaan yang tak pernah masa pensiunnya. Mulai dari mengurus anak, beres-beres rumah, juga sekaligus menjabat sebagai menteri keuangan nyaris dilakukan sepanjang karir sebagai istri. Terlihat mudah, tetapi harus multi-tasking. Butuh kesabaran tak terbatas. Sering memicu kelelahan dan stres jika tanpa dukungan sepadan.

Kadang kala Anin rindu masa lajang. Rindu masa di mana ia hanya perlu mengurus diri sendiri tanpa haru memikirkan semua hal. Tetapi inilah hidup, ia sadar bahwa ternyata pernikahan tak sesimple hanya perihal cinta. Namu, jauh menyusup lebih dalam dan luas. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri. Kadang Anin memang rindu ingin terbang. Ia rindu bisa kerja dan melintasi berbagai tempat seperti saat jadi Pramugari dulu. Ia ingin punya kegiatan lain, tetapi ia sadar kini langkahnya sangatlah terbatas, ada Zura yang harus diutamakan lebih dari apa pun dan juga ada Harsa yang harus turut andil dalam setiap keputusan yang akan diambil.

Walau kadang berat, tapi Anin sangat menikmati keseharian ini. Apalagi Harsa menyokongnya dari segala arah. Ia sangat bersyukur untuk itu.

“Yey, akhirnya selesai juga, Zura,” ia berseloroh riang menatap anaknya yang selalu ia libatkan dalam obrolan apa pun, hal yang membuat bayi 17 bulan itu sangat pandai berceloteh di usianya ini.

Zura sendiri tengah sibuk ke sana ke mari di halaman belakang, masih lengkap dengan pakaian tidurnya semalam. Dia memang sudah bangun sejak setengah enam tadi, tepat saat Nana pamit pulang untuk pergi bekerja.

Dan kini ia baru saja selesai menjemur pakaian di halaman belakang.

“Ayo, Ra, masuk. Kita mandi.” Diraihnya keranjang laundry berwarna putih itu. Lalu dengan sabar Anin menunggu Zura melangkah ke arahnya yang sudah berdiri di ujung pintu. Tangan Anin terurai, maraih Zura untuk digandeng masuk.

“Man di? Nyam-nyam?” tanya anak Harsa itu dengan cadel, ciri khas anak-anak.

Dengan mata berbinar Anin lantas menatap Zura. Bibirnya mengulas mendengar apa yang dilontarkan. “Zura mau lapar?” tanyanya yang lantas dijawab anggukan riang oleh bestie yang keluar dari rahim sendiri.

Ia lalu melangkah sendiri menuju meja makan. Menunjuk kursi, mengisyaratkan bahwa dia ingin naik dengan usahanya sendiri.

Sungguh Anin senang sekali melihat perkembangan anaknya. “Tempat Zura bukan di situ, di sini.” Ia lalu membawa Zura ke kursinya sendiri setelah menarik kursi yang nangkring di pinggir area dapur itu.

Lalu mengambil mp-asi yang sudah ia masak lebih dulu. Menaruhnya di depan Zura. Dengan berbinar langsung disambut oleh si bayi gembul.

“Gak boleh banyak goyang, ya. Nanti jatuh!” peringat Anin lagi setelah mengambilkan botol air minum untuk Zura.

“Mama mau taruh ini dulu ke kamar mandi.” Anin menunjuk ke area kamar mandi, masih berbicara memberi pengertian pada anaknya. Memperingati agar si bayi tak banyak gerak selama ia tinggal dan berharap ia bisa diajak kerjasama.

.

.

Di belahan bumi yang lain. Tepatnya di tanah Sulawesi.

Harsa dan Angga yang baru bangun menjelang siang itu tampak tengah menikmati sarapan dengan dilayani Wida, si anak ketiga tentunya.

“Papa mana?” tanya Angga di sela mengunyah makanan.

Sementara Harsa, si anak sulung itu lebih banyak diam setelah tadi sempat bertanya banyak hal pada Wida. Menanyakan ke mana kedua keponakannya, menanyakan ke mana adik iparnya dan bagaimana kabar keluarga almarhum ibunya di kota itu. Ia sudah bertanya seperti wartawan dan kini energinya sudah habis. Dan diam adalah pilihan akhir.

Wida yang hanya duduk menemani dua kakak laki-lakinya pun ikut tertarik untuk mengunyah walau tadi ia sudah sarapan lebih dulu. “Katanya mau ke makam Ibuk dulu,” ujar Wida seraya menjumput sebuah bakwan untuk dicemil.

“Tadi lama ko na tunggui.”

Angga pun manggut-manggut mendengar jawaban adiknya. Walau menetap di Jakarta, ia jelas tak akan lupa dan paham betul apa yang Wida ucapkan meski aksen mereka sangat berbeda.

“Sore pi kita juga ke kuburannya, ibuk, Angga,” papar Harsa menyahuti. Ia juga ternyata tak lupa memakai logat daerahnya. Tentu saja, meski besar di Semarang dan sudah menetap di Jakarta lebih dari sepuluh tahun, ia juga tak akan pernah melupakan logat kampung halaman ibunya.

Rumah ini adalah peninggalan almarhum Ibuk. Yang mana atas kesepakatan bersama mereka sepakat agar Wida lah yang menetap di rumah ini, tak perlu buat rumah lagi untuk ditinggali. Toh, sayang rasanya jika rumah yang lumayan besar ini dibiarkan tak terurus. Apalagi memang hanya Wida satu-satunya saudara yang menetap di Kota sang ibu. Sehingga setiap kali mereka berkunjung ke kota ini, sudah pasti tujuan utamanya adalah rumah ini. Begitu pula dengan Wijaya Adiguna yang terbilang sering berkunjung dengan istri mudanya.

Setelah sarapan, lalu mandi. Waktu dzuhur pun sudah selesai dan Wijaya Adiguna juga sudah kembali dari ziarah kubur. Kini anak dan ayah itu tengah berkumpul di ruang tamu. Bersiap membahas hal penting.

Auranya tampak suram mencekam. Apalagi jika melihat bagaimana kediaman Harsa yang menatap Papanya dengan nanar, tajam menelisik. Kilatan emosi jelas ada dan terselubung di relung mata.

Berbeda dengan Angga. Sosok yang lebih santai dengan pembawaan ceria itu tampak sibuk dengan ponselnya sembari menunggu Papanya selesai dengan kepulan asap yang dibiarkan memenuhi ruang tamu. Wijaya Adiguna tengah sibuk sendiri dengan batang kanker diantara celah jemari yang memang sudah seperti sahabat karibnya sendiri.

“Anak-anak kalian apa kabar?” tanya Wijaya membuka obrolan dengan senyuman yang terurai di ujung bibir. Jika diperhatikan lamat-lamat, senyumnya agak mirip Harsa saat sedang menyeringai. Ah, bukan mirip Harsa. Lebih tepatnya Harsa yang mirip Papanya.

Dan jelas pertanyaan itu ditujukan pada Angga dan Harsa, bukan Wida. Karena Papanya sudah tiba di sana lebih dulu dan jelas telah banyak mengobrol dengan anak ketiganya itu. Jadi, Angga yang sadar diri dengan cepat menatap Papanya. “Baik, Afi tahun depan mau masuk paud.” Ia menjawab dengan tangan yang masih sibuk mengusap-usap benda pipih tersebut.

Angga melirik Harsa yang acuh, tak tertarik menjawab pertanyaan Wijaya. Ia sibuk sendiri, membaca buku dengan judul Filosofi Teras dari Henry Manampiring, yang entah darimana asalnya buku itu tiba-tiba ada di genggamannya.

Semua yang ada di ruangan itu tahu pasti jika Harsa sengaja melakukan hal tersebut demi untuk menghindari basa-basi dengan Papanya. Mereka paham Harsa terlalu banyak menyimpan amarah dan dendam. Meski waktu berlalu, tetapi amarah dan kekecewaan itu tak pernah benar-benar reda.

Bahkan apa yang Harsa lakukan pun tak lepas dari tatapan ibu tirinya, wanita itu melirik Harsa dan Wijaya secara bergantian. Ia lalu menghembuskan napas sebelum akhirnya berkata. “Kami selalu berencana mau berkunjung, tapi Papamu terlalu sibuk. Ini saja kalau nggak penting-penting amat, mungkin gak ke sini.“

Wanita yang semua anak kandung Wijaya sebut gundik itu memang demikian. Dia terlalu ahli dalam pencitraan. Entah siapa yang mau dikelabui di saat semua sudah hapal mati dengan gerak-gerik dan rencananya. Ia tak lebih hanyalah wanita yang penuh topeng. Terlalu ahli main peran. Kalau kata Anin pada Harsa, ibu tiri suaminya itu kalau jadi artis pasti akan jadi langganan Villain dan akan langganan penghargaan saking pronya.

“Tapi kami gak nyangka pas Wida bilang kalian mau nyusul untuk bahas ini.”

“Padahal Papa kalian aja bisa loh kalau cuma urus ini. Kan gampang.” Wanita itu masih terus berceletuk tanpa rasa malu. Padahal jelas-jelas tak ada satu pun yang mau mendengarkan. Selain jago akting, dia juga tebal muka.

Harsa muak melihatnya. Kebencian pada wanita yang menjadi penyebab retaknya hubungan almarhum Ibu dan Papanya ini kian meningkat saat Papa resmi menjadikannya ibu tiri mereka. Wanita ini bahkan sangat tak tahu posisi, selalu menampakkan diri seolah ingin menunjukkan betapa dominannya ia dalam keluarga ini. Harsa muak karena ia selalu merasa punya kendali atas mereka. Bahkan setelah beberapa kejadian besar yang pernah terjadi, tapi wanita ini seakan tak peduli. Terus melenggang bagai tak punya malu.

 Emosi Harsa seperti ingin tersulut jika mengingat bagaimana penderitaan dan luka yang dipikul ibunya semasa hidup karena dua manusia laknat di hadapannya ini. Jika tak bisa mengontrol diri, mungkin vas bunga di rak sampingnya sudah ia lemparkan padanya.

Di tengah perasaan kesal yang membuat kepala dan sekujur wajahnya terasa mendidih. Kata-kata Anin tiba-tiba terlintas di benak Harsa.

“Kalau kamu mau bertindak ceroboh, setidaknya ingat anak kamu, mas. Emang gak kasian kalau dia harus dilabeli anak dari Harsa si anak durhaka?!”

“Anindiyaswari istri jaksa yang ternyata anak durhaka?”

Kalimat itu berhasil membuatnya mengulas senyum di tengah emosi yang meletup. Mengingat bagaimana ekspresi Anin tadi malam saat mengkhawatirkannya lantas membuat Harsa lebih mudah meredam emosi. Memang benar kata istrinya, ia harus selalu mengingat mereka jika ingin bertindak ceroboh. Ia lalu menghembuskan napas pelan.

Wida yang sedari tadi melihat gerak geriknya pun mulai bisa bernafas lega melihat Harsa kini tampak lebih rileks dengan menyandarkan tubuh ke sofa. Tangannya tak lagi sibuk mencengkram seperti tadi. Wida tahu, diantara saudara mereka, Harsa lah satu-satunya yang paling menentang dan masih menaruh dendam.

“Kalau kamu, anakmu gimana Harsa?” Wijaya mengalihkan tanya pada Harsa. Sungguh, ia pun sadar dengan gerak-gerik anaknya itu. Melihat bagaimana Harsa masih menaruh dendam padanya selalu berhasil membuatnya was-was. Ia masih trauma jika mengingat bagaimana terakhir kali Harsa mengamuknya dulu lantaran istrinya bertengkar dengan Maurin dan Dira.

“Baik.”

Wijaya manggut-manggut. Ia baru ingin melanjutkan tanya, tapi Harsa malah menyela dan langsung bertanya ke inti. Padahal dia masih ingin tahu bagaimana perkembangan cucu dan menantu yang jarang ditemui.

“Jadi, kali ini apa tujuan Papa jual tanah Mama?”

“Kenapa tanpa konfirmasi ke kita dulu, paling nggak ke saya?”

“Saya anak sulung. Seharusnya Papa tanya persetujuanku lebih dulu kalau ada hal seperti ini. Bukan malah dapat kabar gak mengenakkan dari orang lain.”

“Pelan- Pelan Harsa, kamu mau buat Papamu mati cepat?” Si ibu tiri menginterupsi. Pertanyaan beruntun Harsa bikin Wijaya pegang dada, pria paruh baya itu berusaha mengatur napas.

Angga dan Wida juga tampak khawatir. Mereka menatap Harsa dengan wajah meringis karena terlalu blak-blakan.

“Weh, Harsa. Pelan-pelan, kasian Papa.” Pelan-pelan Wida memperingatkan. Takut kakak sulungnya itu tersinggung dan akan menyemprotnya.

Angga pun tak mau ketinggalan. “Kita dengar dulu alasannya, pelan-pelan.” Ia yang tahu betapa sensitifnya Harsa jika menyangkut soal Papa pun berusaha menenangkan.

Kening Harsa menyerngit, ia menatap Papa dan ibu tirinya secara bergantian. Ia menyunggingkan senyum di ujung bibir, lebih ke mengejek. Sungguh ia muak. Kali ini ia tak mau pakai hati lagi. Sudah cukup si Wijaya menjual tanah tanpa izin dan sepengetahuan mereka. Padahal sebagai anak mereka semua berhak tahu. Apalagi ini jelas hak mereka sebagai ahli waris.

“Cobalah dengar Papamu dulu Harsa. Jangan selalu mengedepankan emosimu seperti ini.” Ibu tiri kembali bersuara dan Harsa masih diam, ia kelihatan tenang meski hasrat ingin menendang.

“Udahlah, Ma. Kamu diam dulu, biar Papa yang bicara.” Wijaya yang tak ingin istrinya semakin dibenci karena terlalu ikut campur pun menyuruhnya untuk diam. Ia tahu bagaimana anak-anaknya sangat membenci wanita ini.

Ia lalu menatap ketiga anaknya secara bergantian, terutama Harsa. “Papa kira kamu sudah tahu, Harsa?!”

Harsa menatap bingung bersamaan dengan Wida dan Angga menoleh padanya yang duduk sendirian di sofa single.

“Papa kira mertua kamu sudah mengabarkan, orang dia yang ngasih saran.”

“Makanya Papa rasa gak perlu ngasih tahu. Tahunya pas dengar Wida bilang kamu sama Angga marah, ya Papa kaget.”

“Meski dibilang ini oeluang bagus, tapi Papa juga gak akan ngejual kalau kalian gak setuju.”

Wijaya masih berkata panjang lebar. Yang mana membuat Harsa dan Angga semakin mengeryit tak mengerti. Serentak mereka balik menatap Wida, meminta penjelasan dari adiknya itu.

Wida menggeleng tak tahu seraya menaikkan kedua bahu. “Saya ndak tau apa-apa.”

“Tapi kau tau kalau tanahnya mau dijual?” tuding Harsa tak habis pikir. “Kalau tau kenapa bukan kau yang langsung kabari kita.”

Angga pun yang agak geram ikut menyergah. “Iya, harusnya kau kabaru juga kami, Wida. Ini malah om Arif yang telepon. Katanya Papa di sini, mau jual tanah lagi.”

“Ya, saya juga ndak tahu. Papa cuma bilang pasti kalian setuju kalau ini, karena mertuanya Harsa juga tahu. Jadi bilang ka, ndak usah saja dikabari. Toh pasti kau sudah tau dari mertuamu.” Wida menjelaskan sambil sesekali menatap Harsa karena memang ia yang dirasa jadi topik utama.

Sungguh Harsa makin tak mengerti karena mertuanya beberapa kali disebut. “Ini maksudnya mertuaku tahu atau gimana?” tanyanya penasaran sekaligus heran kenapa nama mertuanya ikut terlibat.

“Ya, jadi kan katanya di daerahnya sana ada kebun yang mau dijual. Katanya sudah berisi, sawitnya baru mulai berbuah, ada cokelatnya juga. Jadi, Papa rasa bagusnya tanah kalian di sini itu dialihkan ke yang berpenghasilan. Hasilnya bisa kalian nikmati tiap bulan. Entah kalian bagi rata gajinya atau mau bagi tanahnya terus kelola sendiri kan bisa.”

Hars hanya bisa mendesah pelan mendengar penjelasan Papanya. Ia dan Angga saling tatap, sebelum akhirnya Angga berkata.

“Ya, kalau begitu sih saya setuju. Apalagi tanah di pinggir kota kan mahal, bisa dapat lumayan kalau dialihkan ke perkebunan.”

“Nah, makanya itu juga saya ndak kasih tahu kalian. Saya juga piki begitu, tapi pas kalian marah-marah, bilang mau ke sini yaa kaget ka juga, lah.” Wida menimpali dengan setengah terkekeh. Suasana yang awalnya tegang jadi agak mencair.

“Makanya itu jangan langsung emosi. Bicara baik-baik, kan bisa.”

“Ck, sudah, Ma. Kamu diam dulu,” tegur Wijaya, tak mau istrinya ikut campur. Apalagi hal ini sensitif. Makin ke sini ia makin tak mau egonya menang, sungguh kali ini ia tak ingin ada keributan dengan anak-anak. Ia pun sudah lelah terus-menerus dimusuhi, terutama oleh Harsa. Membuat wanita itu memutar mata kesal, merasa hak bicaranya dirampas.

Di saat semua tampak tenang dan mulai larut atas mencairnya suasana tegang. Ia malah diliputi hal yang masih mengganjal di hati, yaiutu tentang keterlibatan mertuanya. Jika benar, seharusnya mertuanya bisa langsung mengabarinya atau paling tidak menghubungi Anin. Sehingga ia tak perlu panik dan buru-buru seperti tadi malam.

“Ini yang tahu mertua laki-lakiku atau yang perempuan?” tanya Harsa penasaran.

“Pak haji Indra, beliau tahu. Memangnya Anin gak dikasih tahu?”

Harsa menggeleng. Ia tersenyum miris sambil memalingkan wajah ke arah lain. Sambil menghembuskan napas kecewa ia menggerutu kesal. Entah kenapa kali ini rasanya ia bisa merasakan dengan jelas berada di posisi istrinya. Bagaimana rasanya tak dianggap dan bahkan hal yang menyangkut keluarga suaminya ia tak diberitahu. Harsa merasa dadanya yang sesak, sakit karena Anin tak diberitahu.

Soal mengalihkan tanah ke lahan yang berpenghasilan ia jelas setuju. Dan jika benar demikian harusnya ia tak perlu repot-repot terbang jauh-jauh jika Ayah mertuanya paling tidak mengabari Anin atau dirinya.

Sungguh Harsa pun merasa tak dianggap. Ia marah karena Anin lagi-lagi diperlakukan begini.

1
kalea rizuky
klo harsa selingkuh cerai nin harsa ini g bs move on kayaknya dr mantannnya
kalea rizuky: orang pendiem itu malah yg rawan selingkuh kak /Curse//Curse/
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!