NovelToon NovelToon
Sorry, I Love You My Enemy

Sorry, I Love You My Enemy

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:92
Nilai: 5
Nama Author:

Rayya Assyura tidak pernah menyangka, ketika menerima laporan tentang karyawan terbaik yang direkomendasikan langsung dari cabang luar negeri adalah Devan Yudistira. Pria yang paling ia benci sejak masa remaja. ketika menginjakkan kaki di rumahnya sebagai anak tukang kebun.

Rayya masih mengingat jelas bagaimana papanya begitu menyukai kepribadian Devan, cerdas, santun, pekerja keras, hingga tanpa ragu menyekolahkannya di SMA elit yang sama dengannya. Lebih dari itu, sang papa bahkan meminta Devan menjaga Rayya di sekolah.

kehidupan rayya sempat tenang ketika mendapati devan mendapat beasiswa kuliah di oxford university.

namun kharisma devan sekarang membuat rayya dipaksa berpikir ulang.

apakah kebencian masih dipertahankan atau takdir justru mempermainkan mereka berdua. bagaimana kisah selanjutnya? mari kita saksikan..

kesal

Setengah jam berlalu dengan lambat. Angin mulai terasa lebih dingin, bayangan matahari merayap memanjang di antara anak-anak tangga, sementara suara rombongan yang sudah lebih dulu turun kian samar. Tidak ada tour guide, tidak ada bantuan yang datang.

Rayya menghela napas pelan. Ia menatap ke bawah. deretan tangga yang harus dilewati masih panjang.

“Aku coba jalan sendiri,” ucapnya akhirnya, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Devan.

Ia bertumpu pada lututnya, berdiri perlahan. Baru dua langkah menuruni anak tangga, wajahnya langsung berubah. Alisnya mengerut, rahangnya mengeras menahan nyeri yang kembali menyambar pergelangan kakinya.

Devan yang sejak tadi memperhatikan tanpa banyak bicara, langsung berdiri di hadapannya. Tanpa menunggu persetujuan, ia berbalik dan sedikit menunduk.

“Naik,” katanya singkat, nada suaranya tegas.

Rayya menggeleng cepat.

“Nggak. Aku nggak mau terus merepotkan kamu lagi.”

“Kaki kamu belum siap,” jawab Devan datar, namun matanya serius.

“Kalau dipaksa, kamu bisa tambah cedera. Kita kehabisan waktu.”

Rayya masih mencoba melangkah satu kali lagi, seolah ingin membuktikan bahwa ia mampu. Namun langkah itu berakhir dengan erangan kecil yang gagal ia sembunyikan.

Devan berbalik lagi, kali ini lebih dekat.

“Rayya,” ucapnya, suaranya diturunkan,

“ini bukan soal hutang budi. Ini soal keselamatan kamu.”

Ia kemudian mencondongkan tubuhnya, hampir memaksa Rayya naik ke punggungnya. Rayya ragu sepersekian detik, wajahnya memanas karena malu dan perasaan tak enak yang menumpuk. Namun rasa nyeri dan kondisi yang tidak memungkinkan membuat pertahanannya runtuh.

“Maaf…” gumam Rayya lirih saat akhirnya melingkarkan tangannya di leher Devan.

Devan mengangkat tubuh Rayya dengan mantap. Tidak ada keluhan, tidak ada gerakan tergesa. Langkahnya stabil, seolah beban di punggungnya tidak berarti apa-apa.

“Kamu nggak perlu minta maaf,” jawab Devan singkat.

Perjalanan turun terasa jauh lebih sunyi. Rayya awalnya masih terjaga, matanya menatap sisi bukit yang mulai diselimuti cahaya keemasan sore. Ia bisa merasakan detak jantung Devan dari punggungnya, teratur, menenangkan. aroma tubuh Devan yang jantan, entah mengapa membuat kelopak matanya terasa berat.

Tanpa sadar, kepalanya bersandar di bahu Devan. Pegangannya mengendur.

Devan menyadarinya beberapa langkah kemudian. Ia menoleh sedikit, memastikan Rayya benar-benar tertidur. Langkahnya otomatis melambat, seolah takut mengguncang tidur Rayya.

“Tidur juga…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.

Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya. asing, namun tidak ia tolak.

Tak lama kemudian, mereka melihat Tommy duduk di salah satu undakan besar dekat jalur bawah. Kemejanya tampak sedikit basah oleh keringat, napasnya masih belum sepenuhnya teratur. Ia menoleh ketika mendengar langkah kaki.

Tatapannya langsung tertuju pada Rayya yang tertidur pulas di punggung Devan.

Rahang Tommy mengeras. Ada rasa kesal yang tak bisa ia sembunyikan, bercampur rasa bersalah karena dirinya tak sanggup berada di posisi itu. Ia bangkit setengah berdiri.

“Kakinya gimana?” tanya Tommy, berusaha terdengar biasa.

“Masih bengkak,” jawab Devan singkat, tanpa berhenti melangkah.

“Dia ketiduran.”

Tommy menatap Rayya lama, lalu menghela napas berat.

“Aku… benar-benar nggak kuat lagi tadi.”

Devan mengangguk kecil. Tidak ada nada menyalahkan.

“Aku tahu.”

Kalimat singkat itu justru terasa menampar Tommy lebih keras dari kata-kata panjang mana pun.

Mereka melanjutkan perjalanan turun bersama, namun jarak di antara mereka terasa jelas. Rayya tetap tertidur, tidak menyadari ketegangan sunyi yang mengiringi langkah mereka.

Ketika akhirnya mereka tiba di bawah dan rombongan mulai berkumpul untuk agenda selanjutnya, mengejar matahari terbenam.

Tommy berdiri tak jauh dari mereka, menyaksikan momen itu dengan perasaan yang sulit ia uraikan. Ia tersenyum tipis pada Rayya, namun di dalam hatinya, ada kegelisahan yang mulai tumbuh, perasaan bahwa ia mungkin sedang tertinggal, bukan oleh siapa pun, melainkan oleh seseorang yang sejak awal tidak pernah ia anggap sebagai ancaman.

Devan mengantar Rayya yang masih terlelap ke arah Pak Surya dan Mama Mariana. Langkahnya tetap hati-hati, seolah takut sedikit saja guncangan akan membangunkan Rayya dengan cara yang tidak nyaman. Namun begitu ia menurunkan Rayya perlahan, kelopak mata Rayya bergerak, lalu terbuka.

Rayya tersentak kecil saat menyadari posisinya dan lebih parah lagi, menyadari tatapan kedua orang tuanya.

“Rayya?” suara Mama Mariana lembut, namun senyumnya sulit disembunyikan.

“Kamu ketiduran?”

Rayya langsung duduk tegak, pipinya memanas.

“Aku, aku nggak sengaja, Ma.” Ia melirik cepat ke arah Devan, lalu menunduk. Rasa malu itu datang bertubi-tubi, apalagi ayah dan ibunya jelas sudah memahami apa yang terjadi di jalur pendakian tadi.

Pak Surya hanya terkekeh kecil, menepuk bahu Devan dengan bangga.

“Terima kasih, Dev. Kamu sudah banyak membantu hari ini.”

Devan mengangguk sopan.

“Sama-sama, Pak. hanya kebetulan saya yang ada di dekat rayya.” sahutnya sopan.

Tak lama kemudian, Devan meminta pihak tour untuk memanggil tim medis. Begitu mereka menaiki kapal phinisi, seorang dokter naik dan langsung memeriksa pergelangan kaki Rayya. Rayya meringis pelan saat kaki itu disentuh, namun dokter bekerja cekatan, mengompres, membalut, dan memastikan tidak ada cedera serius selain keseleo yang cukup parah.

“Kakinya harus banyak istirahat,” ujar dokter tegas.

“Jangan dipaksa berjalan. Kalau perlu, kaki diangkat saat duduk.”

Rayya mengangguk patuh. Devan berdiri tak jauh dari sana, memperhatikan tanpa ikut campur. Entah mengapa, kehadirannya justru membuat Rayya merasa lebih tenang.

Sore itu, kapal phinisi melaju perlahan. Matahari mulai turun, langit berubah jingga keemasan. Rombongan menikmati senja dengan penuh suka cita, berfoto, bercanda, dan saling berbagi cerita. Rayya pun ikut tersenyum, duduk dengan kaki terangkat, menikmati pemandangan yang begitu indah.

Namun di balik senyumnya, hatinya terasa tidak tenang.

Pandangan Rayya berulang kali tertuju ke satu arah ke Devan, yang berdiri di sisi kapal, menatap laut dan matahari tenggelam dengan ekspresi tenang. Rayya sadar, sejak kejadian di jalur pendakian hingga sekarang, ia belum benar-benar mengucapkan terima kasih dengan layak. Rasa sungkan, gengsi, dan perasaan campur aduk menahannya terlalu lama.

Akhirnya Rayya menarik napas, bertekad menghampiri Devan.

Namun baru saja ia menggeser tubuhnya, sebuah bayangan datang lebih dulu ke hadapan Devan.

Wilona.

Wilona berdiri cukup dekat, tersenyum ramah, terlalu ramah. Gesturnya terbuka, suaranya dibuat lembut. Ia jelas berusaha menarik perhatian Devan, menanyakan banyak hal tentang pekerjaannya, pengalamannya di luar negeri, bahkan hal-hal pribadi dengan cara yang seolah tidak canggung.

Devan, yang merasa tidak enak hati, berusaha bersikap normal. Jawabannya sopan, singkat, dan terukur. Ia tidak ingin terlihat kasar, terlebih saat Pak Daniel ikut mendekat dan dengan antusias mengenalkan putrinya lebih jauh.

“Wilona ini memang aktif,” kata Pak Daniel sambil tertawa.

“Saya pikir kalian bisa banyak bertukar pikiran.”

Devan tersenyum sopan.

“Tentu, Pak.”

Dari kejauhan, Rayya menyaksikan semuanya. Dadanya terasa menghangat oleh perasaan yang sulit ia beri nama. Ada rasa kesal, tidak beralasan, ia tahu, namun juga ada rasa kecewa yang samar. Ia tidak suka melihat Devan dikelilingi perhatian seperti itu, apalagi setelah apa yang baru saja mereka lalui.

Rayya memalingkan wajahnya, kembali menatap matahari yang hampir sepenuhnya tenggelam. Cahaya senja tetap indah, namun hatinya tidak setenang sebelumnya.

Dan di saat itulah Rayya mulai menyadari sesuatu yang mengganggunya sejak tadi:

bukan hanya rasa terima kasih yang tertahan di dadanya, melainkan perasaan lain yang perlahan, namun pasti, mulai tumbuh tanpa ia minta. ia pun memanggil tommy yang baru bergabung dan ingin mengatakan sesuatu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!