NovelToon NovelToon
Legenda Sang Bayangan

Legenda Sang Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Action / Kultivasi Modern
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: kansszy

sebuah kisah tentang perjalanan pulang, melalui pertarungan demi pertarungan, kesedihan demi kesedihan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kansszy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24

Kejatuhan Desa Scarlet tidak mematikan ambisi mereka—hanya mengubah bentuknya. Di balik wajah penyesalan dan pembenahan diri, sisa-sisa elit Scarlet masih bernafas dalam kebencian. Mereka tidak melupakan satu nama: Kenzy Tong. Dan lebih dari itu, mereka tidak pernah benar-benar menerima bahwa Keluarga Tong masih hidup.

Scarlet sadar akan satu hal: mereka tidak bisa bergerak sendiri.

Pilihan mereka jatuh pada Keluarga Lin, sebuah keluarga ninja tua yang terkenal licik dan pragmatis. Lin tidak memiliki musuh abadi maupun sekutu setia—yang mereka miliki hanyalah keuntungan. Bagi Scarlet, Lin adalah pintu terakhir menuju pembalasan.

Pertemuan berlangsung di tempat netral, jauh dari desa mana pun. Wakil Scarlet datang dengan kepala tertunduk, bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai penawar. Mereka membawa informasi yang selama ini disembunyikan: lokasi persembunyian sisa Keluarga Tong, jalur penghubung rahasia, dan satu janji besar—jika Tong lenyap, pengaruh lama mereka akan diwariskan pada Lin.

Kepala Keluarga Lin mendengarkan tanpa emosi.

“Keluarga Tong sudah lama dianggap punah,” ucapnya datar. “Mengapa kami harus mengotori tangan untuk bayangan masa lalu?”

Jawaban Scarlet singkat namun tajam. “Karena selama Tong ada, tidak akan pernah ada kedamaian. Kenzy hidup. Dan selama dia hidup, Scarlet tidak akan pernah benar-benar bangkit.”

Nama itu membuat ruangan hening.

Keluarga Lin tahu reputasi Kenzy. Seorang ninja tanpa klan, tanpa wilayah, namun mampu menjatuhkan desa besar dari dalam. Bagi Lin, Kenzy bukan sekadar ancaman—ia adalah variabel yang tidak bisa dikendalikan. Dan Lin membenci hal-hal yang tak bisa dikendalikan.

Kesepakatan pun terjalin, bukan dengan jabat tangan, melainkan dengan keheningan panjang.

Sementara itu, jauh dari intrik tersebut, Keluarga Tong hidup berpindah-pindah. Mereka bukan lagi keluarga besar, melainkan garis darah yang dijaga ketat. Mereka belajar dari kehancuran Aokawa: bertahan berarti tidak terlihat. Kenzy sering mengawasi dari kejauhan, memastikan jalur aman, membaca tanda-tanda bahaya yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup lama di bayangan.

Namun firasat buruk datang lebih cepat dari perkiraan.

Jejak Lin terlalu rapi. Terlalu tenang. Itu bukan gaya Scarlet. Kenzy tahu—musuhnya kini belajar. Mereka tidak lagi menyerang dengan api, melainkan dengan perhitungan.

Saat seorang pengintai Tong tidak kembali, Kenzy mengerti satu hal: perang kedua tidak akan dimulai dengan teriakan, tetapi dengan penghapusan diam-diam.

Scarlet ingin menghancurkan Tong untuk menutup masa lalu. Lin ingin melakukannya demi kendali masa depan. Dan Kenzy berada di tengahnya—bukan lagi sebagai anak yang selamat, melainkan sebagai pelindung terakhir darah Tong.

Jika Scarlet dan Lin berpikir Kenzy akan kembali menjadi bayangan yang lari, mereka salah. Karena kali ini, Kenzy tidak datang untuk membongkar kebenaran.

Ia datang untuk mengakhiri siklus.

Kepala Keluarga Lin, Lin Weishen, tidak dikenal sebagai petarung terkuat, tetapi sebagai otak paling berbahaya di dunia ninja. Ia tidak mengalahkan musuh dengan pedang, melainkan dengan membuat mereka saling menghancurkan. Ketika ia memutuskan memburu Keluarga Tong, itu bukan karena dendam—melainkan karena Kenzy adalah anomali yang tak bisa diprediksi.

Dan Lin membenci ketidakpastian.

Kenzy tahu satu hal sejak awal: menghadapi Lin secara langsung adalah kesalahan. Maka ia memilih medan yang sama—perang informasi. Kenzy membiarkan beberapa jejak Tong sengaja terlihat. Bukan lokasi penting, melainkan jalur kosong. Lin menggigit umpan itu, mengirim unit pengintai terbaiknya.

Namun yang mereka temukan hanyalah ruang hampa dan pesan sederhana terukir di batu: “Kau bergerak terlalu cepat.”

Lin tersenyum saat membaca laporan itu. Kenzy bukan pelarian biasa. Maka Lin membalas dengan taktik klasiknya—menyebar rumor. Ia mengirim kabar palsu ke klan netral bahwa Keluarga Tong sedang membangun kekuatan untuk membalas dendam. Dalam waktu singkat, tekanan politik meningkat. Tong mulai terisolasi.

Kenzy menunggu sampai rumor itu mencapai titik puncak.

Lalu ia memukul balik—tanpa satu pun serangan fisik. Kenzy menyusup ke jaringan informasi Lin dan mengganti sebagian laporan internal. Perlahan, Lin menerima data yang saling bertentangan: lokasi Kenzy yang berbeda, jumlah pasukan Tong yang tidak masuk akal, ancaman dari klan lain yang sebenarnya tidak ada.

Lin berhenti mempercayai bawahannya sendiri.

Di saat yang sama, Kenzy menghubungi satu orang yang Lin abaikan: Scarlet. Ia membocorkan fakta bahwa Lin berniat mengambil alih pengaruh Scarlet sepenuhnya setelah Tong musnah. Kecurigaan tumbuh. Aliansi yang rapuh mulai retak.

Puncaknya terjadi di Lembah Shiro, tempat Lin merencanakan penyergapan terakhir. Pasukan Lin bergerak penuh, tetapi medan sudah dibaca Kenzy jauh hari. Jalur logistik diputus. Unit depan menerima perintah berbeda dari unit belakang. Tidak ada pertempuran besar—hanya kekacauan terkontrol.

Di tengah kekacauan itu, Kenzy akhirnya muncul di hadapan Lin.

Tidak ada pedang terhunus. Hanya dua orang yang saling menatap.

“Kau bukan datang untuk membunuhku,” kata Lin tenang.

“Benar,” jawab Kenzy. “Aku datang untuk menghentikanmu berpikir kau selalu menang.”

Kenzy meletakkan gulungan terakhir—bukti pengkhianatan Lin terhadap sekutunya sendiri, rencana penguasaan wilayah, dan manipulasi yang siap meledak jika tersebar. Lin memahami maknanya dalam sekejap. Jika ia bergerak, semua runtuh.

Untuk pertama kalinya, Lin Weishen kalah tanpa dilukai.

Ia menarik pasukannya. Bukan karena takut, tetapi karena ia tahu—melanjutkan berarti kehancuran total. Duel itu berakhir tanpa sorak, tanpa darah, namun jelas siapa pemenangnya.

Kenzy pergi sebelum fajar. Ia tidak menghancurkan Lin, tidak membunuhnya, tidak menghapusnya dari peta. Ia melakukan hal yang lebih kejam bagi seorang manipulator: mengambil kendali permainan.

Sejak hari itu, Keluarga Lin berhenti memburu Tong. Dan dunia ninja belajar satu pelajaran baru—bahwa ada bayangan yang tidak bisa ditangkap, karena ia selalu selangkah lebih dulu berpikir.

1
Adi Arkan Imani
bagus
KanKaaan!!!
cocok buat orang yang lagi mencari cerita dan inspirasi
Adi Arkan Imani
lumayan
kansszy: heeheeee maksih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!