“Oke. Tapi, there's no love and no *3*. Kalau kamu yes, saya juga yes dan serius menjalani pernikahan ini,” tawar Linda, yang sontak membuat Adam menyeringai.
“There’s no love? Oke. Saya tidak akan memaksa kamu untuk mencintai saya. Karena saya juga tidak mungkin bisa jatuh cinta padamu secepat itu. Tapi, no *3*? Saya sangat tidak setuju. Karena saya butuh itu,” papar Adam. “Kita butuh itu untuk mempunyai bayi,” imbuhnya.
***
Suatu hari Linda pulang ke Yogyakarta untuk menghadiri pernikahan sepupunya, Rere. Namun, kehadirannya itu justru membawa polemik bagi dirinya sendiri.
Rere yang tiba-tiba mengaku tengah hamil dari benih laki-laki lain membuat pernikahan berlandaskan perjodohan itu kacau.
Pihak laki-laki yang tidak ingin menanggung malu akhirnya memaksa untuk tetap melanjutkan pernikahan. Dan, Linda lah yang terpilih menjadi pengganti Rere. Dia menjadi istri pengganti bagi pria itu. Pria yang memiliki sorot mata tajam dan dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tianse Prln, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Romansa Malam Hari
Malam itu, setelah orang tua Adam pulang, Linda dan Adam duduk berdua di ruang tamu. Lampu temaram membuat suasana terasa hangat, tapi juga intim. Di antara sisa aroma masakan dan gelas teh yang belum dibereskan, ada keheningan yang tak biasa.
Adam meraih tangan Linda, menggenggamnya dengan lembut. “Aku tahu omongan orang tuaku tadi bikin kamu nggak nyaman,” katanya pelan.
Linda menggeleng. “Enggak kok, Mas. Aku cuma... kadang masih nggak percaya kita sampai di titik ini.”
Adam menatapnya, matanya penuh ketulusan. “Aku juga. Tapi belakangan ini aku bersyukur setiap hari, karena kamu ada di sini sebagai istriku.”
Linda tersenyum, tapi air matanya mulai menggenang. “Dulu aku pikir aku nggak layak dicintai. Setelah semua yang terjadi... setelah kamu gagal menikah dengan Rere, lalu aku menjadi wanita pengganti, pokoknya setelah semua luka itu, aku pikir duniaku sudah hancur.” Linda menyelesaikan kalimatnya sambil menghela napas.
Adam mengusap pipinya dengan ibu jari. “Kamu layak untuk dicintai, Lin. Bahkan lebih dari layak. Duniamu juga tidak akan hancur, karena kamu kuat, kamu tulus, dan kamu nggak pernah berhenti berjuang. Itu yang bikin aku... merasa nyaman sama kamu.”
Linda menunduk, suaranya bergetar. “Aku takut, Mas. Takut kehilangan kebahagiaan ini, rasanya seperti sulit untuk dipercaya. Aku takut kalau suatu hari nanti kamu sadar aku nggak cukup, atau aku bukan wanita sempurna.”
Adam menarik Linda ke pelukannya, memeluknya erat. “Dengerin aku. Kamu cukup. Kamu lebih dari cukup. Dan aku nggak akan pergi ke mana-mana. Kita usahakan tetap bersama, apapun yang terjadi.”
Linda memejamkan matanya dalam pelukan Adam, membiarkan air matanya jatuh tanpa ditahan. Di dada Adam, ia merasa aman. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar dihargai tanpa syarat.
Setelah beberapa saat, Adam berbisik di telinganya, “Aku punya satu pertanyaan.”
Linda mengangkat wajahnya, matanya masih basah. “Apa?”
Adam tersenyum, lalu merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil beludru biru, lalu membukanya perlahan.
Cincin sederhana berkilau indah di dalamnya.
“Linda... maukah kamu jadi ibu dari anak-anak kita, sahabat hidupku, dan... cinta terakhirku?”
Linda terdiam. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang keluar. Hanya air mata yang semakin deras, dan senyum yang tak bisa ia tahan.
“Ya, aku mau,” jawabnya, suara itu nyaris seperti bisikan.
Adam memeluknya lagi, kali ini dengan tawa kecil yang penuh haru.
Di luar, langit Jakarta masih gelap, tapi di dalam hati mereka, cahaya baru telah menyala.
Romansa mereka bukan sekadar kisah cinta. Itu adalah kisah dua jiwa yang saling menyembuhkan. Dan malam itu, mereka memilih untuk melangkah bersama, menuju masa depan yang belum pasti, tapi penuh harapan.
***
Jesika berdiri di depan jendela apartemennya malam itu, memandangi kerlip lampu kota yang tak pernah tidur. Tangannya menggenggam secangkir teh yang sudah dingin, tapi ia tak peduli. Di dalam dirinya, badai tak kunjung reda.
Dia membuka ponsel, membuka kontak Pak Rudi. Jari-jarinya sempat ragu, tapi akhirnya ia mengetik sebuah pesan singkat.
...Pak Rudi, saya sudah bertemu Bu Gina. Saya diberhentikan. Saya tidak tahu harus bilang apa, kenapa Anda tidak memberitahu saya kalau Anda dimutasi?...
Pesan itu dikirim, tapi tak ada balasan. Jesika menatap layar ponsel, berharap ada penjelasan, ada pembelaan, atau setidaknya satu kata, yaitu maaf.
Tapi yang dia dapat hanya keheningan.
Jesika duduk di lantai, dress biru tuanya kini kusut, dan air matanya mulai menetes butir demi butir. Bukan karena kehilangan pekerjaan semata, tapi karena rasa tak berharga yang untuk pertama kalinya menyergap. Selama ini dia pikir dia punya tempat, punya pengaruh, punya nilai. Tapi nyatanya, dia bukan siapa-siapa.
Jesika meringkuk di bawah jendela, memeluk tubuhnya yang terbasuh dingin angin malam. Sejak lahir dia tidak mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, dia dibuang di panti asuhan, hidup di tempat itu hingga usia 5 tahun, sampai akhirnya ada sepasang suami istri yang mengadopsinya. Awalnya dia hidup bahagia, tapi saat orang tua angkatnya bangkrut, dia ditinggalkan begitu saja. Sejak saat itu dia hidup sendiri, tapi dengan kecantikan rupanya, jalan yang ditujunya selalu mulus, semua yang dia inginkan pasti akan tercapai. Itu membuatnya berpikir bahwa apa pun yang dia mau pasti akan dia dapatkan.
Dan kini, dia ditampar oleh kenyataan bahwa rasa angkuh adalah kebodohan yang tak terhingga.
***
Linda berdiri di depan cermin di kamar utama, melepaskan anting dan menyisir rambutnya pelan. Gaun kerja sudah berganti piyama satin lembut berwarna krem. Di belakangnya, Adam bersandar di ambang pintu, mengenakan kaus abu-abu dan celana santai. Matanya menatap Linda dengan cara yang berbeda malam itu—bukan hanya kagum, tapi penuh rasa memiliki.
“Kamu cantik pakai piyama itu,” ucap Adam pelan. Dia berjalan mendekat, menatap Linda dari pantulan cermin, lalu tiba-tiba merengkuh tangan wanita itu dalam pelukannya.
Linda tersenyum kecil, dia menyentuh tangan Adam yang melingkar di pinggangnya. "Terima kasih," ucapnya sambil tersipu malu.
Adam menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Linda, menghirup aroma wangi tubuh sang istri yang membuatnya candu.
“Sebentar lagi... semua orang akan tahu." Linda berkata pelan.
Adam mengangguk. “Dan aku tidak sabar melihat wajah mereka saat tahu kalau kamu istriku.”
Linda menggigit bibirnya, lalu berbalik menghadap Adam. “Kamu yakin dengan resepsi ini?”
“Yakin. Karena aku ingin dunia tahu bahwa kamu adalah milikku. Walaupun awalnya kamu hanya istri pengganti, tapi sekarang kamu adalah wanita yang aku inginkan untuk menjadi teman hidupku.”
Mereka saling menatap. Tak ada kata-kata yang bisa menggambarkan rasa yang tumbuh di antara mereka malam itu. Hanya keheningan yang hangat, dan sentuhan yang pelan tapi penuh makna.
Adam mengangkat tangan Linda, mengecup jemarinya satu per satu. “Terima kasih sudah bertahan bersamaku.”
Linda menggeleng pelan. “Aku tidak bertahan. Sikapmu yang membuatku memilih tetap di sini.”
Adam tersenyum, lalu menarik Linda dalam pelukannya.
"Tidur yuk," ajak Adam.
Tak lama kemudian lampu kamar diredupkan, hanya cahaya kuning temaram dari lampu nakas yang menyinari sudut-sudut ruangan.
Linda duduk bersila di atas ranjang, piyama satinnya jatuh lembut di kulit. Sedangkan Adam duduk bersandar di sandaran kepala ranjang, satu tangan memegang buku yang sudah lama tidak dibacanya, satu tangan lagi mengusap pelan punggung Linda.
"Mas."
"Hm?" Adam menoleh.
“Aku masih tidak percaya sebentar lagi kita akan resmi jadi pasangan yang diketahui publik,” gumam Linda, matanya menatap langit-langit. “Artinya aku harus siap-siap jadi bahan gosip kantor.”
Adam tertawa pelan. “Aku udah jadi bahan gosip sejak email undangan itu dikirim. Beberapa direktur bahkan nanya apakah aku nikah sama artis.”
Linda menoleh, mengangkat alis. “Dan kamu jawab apa?”
“Aku bilang... lebih dari artis. Dia penulis skenario hidupku.”
Linda menahan tawa, lalu melempar bantal kecil ke arah Adam. “Gombal banget.”
Adam menangkap bantal itu dengan mudah. “Tapi kamu suka, kan?”
Linda pura-pura berpikir. “Hmm... lima dari sepuluh.”
“Lima? Hanya lima?” Adam berpura-pura tersinggung. “Itu nilai buat gombalan atau buat aku?”
Linda menyeringai. “Gombalannya. Kamu... tujuh setengah.”
Adam menghela napas dramatis. "Oke. Aku akan berusaha naik jadi delapan sebelum resepsi. Lalu sembilan setelah resepsi. Dan sepuluh setelah jadi ayah."
"A-ayah?"
"Iya. Ayah dari anak-anak yang lahir dari rahim kamu."
DEG!
Linda terdiam. Dia gugup sekaligus salah tingkah.
"Kalau kamu mau, kita bisa mulai buat calon anak kita malam ini," goda Adam.