Arthur tumbuh di bawah perlindungan seorang pelayan tua yang setia, tanpa pernah benar-benar memahami ayahnya dan apa yang telah ia tinggalkan. Ketika waktu mulai merenggut kekuatan pelindung lamanya, Arthur dipaksa menghadapi dunia yang selama ini dijauhkan darinya dunia yang dibangun di atas hutang lama, keputusan sunyi, dan enam nama yang tidak pernah disebutkan secara utuh.
Sedikit demi sedikit, Arthur menemukan bahwa kebaikan ayahnya di masa lalu telah membentuk takdir banyak orang, namun juga meninggalkan retakan yang kini mengincar dirinya.
Di antara latihan, pengkhianatan yang tidak terucap, dan sosok-sosok yang mengawasi dari kejauhan, Arthur harus memilih:
meneruskan warisan yang tidak lengkap atau menyerah bahkan sebelum ia sempat memutuskan...
baca novelnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DavidTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 - Kesadaran
Upaya Penyembuhan
Antara Penawar dan Harga yang Harus Dibayar
Sayap timur rumah Marquis Florence kembali diterangi cahaya lampu kali ini bukan untuk pengawasan, melainkan untuk harapan yang rapuh. Tirai tebal ditutup rapat. Para pelayan disuruh menjauh. Hanya orang-orang tertentu yang diizinkan masuk.
Di dalam kamar itu kini hanya ada:
Lucien Florence, masih terbaring tanpa sadar
Marquis Florence, berdiri tegang di sisi ranjang
Arthur
Elrian
Seren
Gareth (baru bangun tidur)
Toxen
dan lima tabib agung kepercayaan Florence
Arthur meletakkan gulungan kertas di meja kecil, lalu membukanya perlahan.
Huruf-huruf matra itu terlihat semakin aneh di bawah cahaya lilin seolah bergerak, atau mungkin hanya mata yang mulai lelah.
Salah satu tabib agung menelan ludah.
“Ini bukan tulisan medis biasa.”
Arthur mengangguk.
“Karena racunnya juga bukan racun medis.”
Persiapan Penawar
Bahan-bahan disusun satu per satu.
Akar Nerthra direndam dalam air hangat hingga mengeluarkan cairan pahit berwarna hijau gelap. Serbuk tulang serigala merah hasil perburuan lama keluarga Florence dicampur perlahan, bukan diaduk, melainkan ditaburkan.
Elrian memperhatikan setiap langkah.
“Urutannya penting ,” katanya.
“Jika terbalik, efeknya bisa… mengunci racun.”
Arthur mengangguk.
Ia membaca ulang baris terakhir.
“Darah segar dari seseorang yang memutuskan untuk tetap hidup.”
Arthur menghela napas pelan.
“Aku,” katanya.
Marquis Florence menoleh cepat.
“Tidak.”
Arthur menatapnya tenang.
“Ini bukan pengorbanan,” katanya.
“Ini pernyataan.”
Toxen menegang, namun tidak menghentikan Arthur.
Arthur menggoreskan pisau kecil di telapak tangannya. Darah menetes—tidak banyak, tapi cukup.
Saat darah menyentuh ramuan,
warna cairan itu berubah perlahan menjadi merah tua berkilau.
Tabib-tabib menahan napas.
Matra yang Tidak Boleh Salah
Arthur membaca matra itu pelan.
Bukan dengan suara keras.
Bukan dengan keyakinan mutlak.
Melainkan dengan pengakuan.
Setiap suku kata terasa berat, seolah ia menyebut sesuatu yang tidak ingin disebut dunia.
Saat matra terakhir diucapkan,
urat kehitaman di tubuh Lucien bergetar.
Marquis Florence menggenggam ranjang.
“Lucien…Anak ku”
Saat Kritis
Lucien terbatuk keras.
Tubuhnya melengkung, napasnya tersengal.
Tabib bergerak cepat, namun Arthur mengangkat tangan.
“Tunggu sebentar.”
Cairan hitam keluar dari sudut bibir Lucien bukan darah, bukan lendir.
Bau logam memenuhi ruangan.
Lalu… napas Lucien menjadi lebih teratur.
Warna pucat di wajahnya perlahan memudar.
Urat kehitaman itu memucat tidak hilang sepenuhnya, tapi mundur.
Gareth menghela napas panjang.
“Ia hidup lagi oh yeahhhhh.”
Marquis Florence terduduk, lututnya gemetar.
Setelahnya
Lucien tidak bangun malam itu, untuk sekarang.
Namun matanya bergerak di balik kelopak.
Tanda kesadaran mulai kembali secara perlahan.
Tabib agung menunduk pada Arthur.
“Selama kami hidup, belum pernah melihat penawar seperti ini.”
Arthur menutup gulungan itu kembali.
“Dan semoga kalian tidak perlu melihatnya lagi.”
Marquis Florence menatap Arthur lama.
“Mulai malam ini, Arthur” katanya,
“kau bukan sekadar tamu lagi bagi kediaman kami.”
Arthur menatap balik.
“Aku juga tidak datang sebagai sekutu, tuan” katanya pelan.
“Aku datang sebagai peringatan.”
Marquis Florence mengangguk.
“Dan peringatan… jarang disukai.”
Saat Arthur meninggalkan kamar itu,
ia merasakan sesuatu berubah.
Bukan di Florence.
Di dalam dirinya.
Ia telah menggunakan pengetahuan yang seharusnya tidak ia miliki.
Dan dunia cepat atau lambat akan menagih balasannya.
Di luar kamar, sebuah bayangan bergerak menjauh.
Vastorci kini tahu:
Arthur Fireloren tidak bisa dibiarkan hidup terlalu lama.
Serangan Balasan Dari Vastorci
Bukan Pedang, Melainkan Pola
Florence tampak damai keesokan harinya.
Terlalu damai.
Pasar tetap buka. Penduduk tertawa. Para knight berjaga seperti biasa. Tidak ada tanda pergerakan pasukan, tidak ada terompet, tidak ada panji perang.
Arthur justru merasa tidak nyaman.
Ia berdiri di balkon penginapan, memandangi jalan batu yang berkilau oleh embun pagi.
“Jika si Vastorci ingin membalas,” gumamnya,
“ia tidak akan mengirim pasukan.”
Toxen berdiri di sampingnya.
“Karena pasukan bisa dilihat,” jawabnya.
“Dan Vastorci tidak suka terlihat.”
Tahap Pertama: Informasi Palsu
Menjelang siang, seorang pelayan penginapan datang tergesa.
“Tuan Arthur, ada sesuatu terjadi” katanya gugup,
“ada kabar dari pasar katanya keluarga anda sedang memobilisasi knight di wilayah selatan Tirpen. Orang-orang bilang… Marquis Fireloren bersiap menyerang Florence dengan alasan balas dendam.”
Arthur menoleh pelan.
Hoaks cuy.
Metode lama, tapi efektif.
Menciptakan kesan agresi lebih dulu, agar pihak lain bereaksi berlebihan.
Cara ini pernah dipakai oleh pendiri Kekaisaran Dravosk untuk memicu perang, memecah aliansi, atau membenarkan kejahatan.
Arthur tersenyum tipis.
“Terlalu cepat, mereka telah bergerak” katanya.
“Ayahku tidak pernah bergerak tanpa menyembunyikan jejak.”
Namun ia mencatat satu hal penting:
Vastorci sedang menguji respons, bukan menyerang langsung.
Tahap Kedua: Gangguan Logistik
Malamnya, Toxen kembali dengan wajah serius.
“Gudang bahan makanan keluarga Florence tiga puluh karung gandum rusak, tuan muda” lapornya.
“Air di sumur belakang tercemar minyak pahit. Tidak mematikan, tapi cukup membuat orang-orang yang minum jatuh sakit.”
Arthur mengangguk pelan.
Ini metode klasik.
Bukan pembunuhan, tapi pelemahan perlahan:
membuat prajurit lelah, Para tabib sibuk, moral menurun.
Di dunia, ini dikenal sebagai attrition non-militer perang tanpa medan tempur.
“Tidak ada korban,” kata Gareth.
“Tapi semua orang perlahan mulai curiga satu sama lain.”
Arthur mengepalkan tangan.
“Itulah tujuan mereka membuat skenario ini.”
Tahap Ketiga: Upaya Eliminasi Sunyi
Serangan sesungguhnya terjadi saat fajar.
Bukan di aula.
Bukan di jalan.
Bukan saat Arthur dijaga ketat.
Melainkan di tempat paling sepele.
Arthur sedang mencuci tangannya di halaman belakang penginapan, sendirian, hanya ditemani satu knight Sir Alexis.
Seekor burung kecil jatuh ke tanah mati mendadak.
Arthur berhenti.
Ia mencium udara.
Ada bau samar…
minyak pahit yang sama seperti di sumur.
Arthur langsung mundur setengah langkah.
Knight senior menoleh tajam, lalu melihat ujung gagang senjata nya.
Lapisan tipis hampir tak terlihat.
Racun kontak.
senjata dilapisi racun lambat, korban tidak mati seketika, kematian tampak alami.
Arthur tidak terluka karena ia tidak menyentuh apa pun.
Ia menatap ke atap penginapan.
Tidak ada siapa-siapa.
Namun ia tahu:
ia baru saja lolos dari metode pembunuhan yang sangat profesional.
Reaksi Arthur
Arthur tidak marah.
Ia justru tenang secara mengerikan.
“Vastorci,” katanya pelan,
“kau tidak mencoba membunuhku.”
Gareth menatapnya.
“Lalu apa?”
“Kau sedang memetakan aku.”
Ia menoleh ke knight senior.
“Panggil semua pengawal Fireloren” perintahnya.
“Mulai hari ini, jangan anggap dirimu hanya prajurit.”
Knight itu terdiam.
Arthur melanjutkan:
“Di dunia ini, ada perbedaan antara orang yang mengayunkan pedang, dan orang yang menentukan kapan pedang harus diayunkan.”
Arthur memandang para knight Fireloren yang sedang berkumpul.
Ia menyadari sesuatu yang selama ini hanya dirasakan samar.
Tidak semua knight berada di tingkatan yang sama, meski mengenakan armor dan memakai senjata yang serupa.
Ada: mereka yang hanya mengikuti perintah, mereka yang membaca medan, dan sangat sedikit yang memahami niat lawan sebelum mereka bergerak.
Ayahnya pernah menyebut ini dulu, bukan sebagai pangkat resmi,
melainkan sebagai ranah kesadaran tempur.
Arthur belum menyusunnya menjadi sistem.
Tapi malam itu, ia tahu satu hal:
Vastorci tidak takut pada pedangnya.
Vastorci takut pada pikirannya.
Serangan Vastorci gagal.
Namun pesan itu jelas:
Arthur kini menjadi target aktif, permainan telah naik tingkat, dan musuh tidak lagi bermain dengan aturan kehormatan.
Arthur berdiri di Florence, wilayah orang lain, dengan senyum tipis yang tidak mencapai matanya.
“Kalau begitu, Vastorci” gumamnya,
“aku juga tidak akan bermain sebagai ksatria yang TERHORMAT.”
tentang orang jadi pembunuh gitu aja, kalau penasaran boleh di baca🔥