Perkenalkan, author merupakan orang desa di pinggiran kota Trenggalek.
Makasih yang sudah mampir. Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak.
Semoga terhibur. Happy reading.
Apa salahku, mengapa semua terasa tak adil bagiku?
Cahaya Senja adalah seorang gadis remaja yang berprestasi namun tak pandai bersosialisasi hingga membuatnya tak banyak memiliki teman. Tekanan dari keluarga yang membuatnya demikian. Pertemanannya sangat dibatasi, dan yang tak boleh ada di kamusnya adalah berteman dengan laki-laki. Tanpa Senja tahu, ini semua dilakukan karena adanya luka di masa lalu.
Bertahun-tahun Senja hidup dalam kekangan, hingga akhirnya dia masuk di bangku SMP. Dia mulai merasakan indahnya persahabatan, dan saat mulai timbul rasa penasaran terhadap lawan jenis, hadirlah sosok laki-laki yang membuatnya merasa nyaman. Hari-harinya mulai berwarna, semangat belajar yang kian membara, tidak hanya dalam prestasi juga dalam kehidupan.
Ada cinta, ada hasrat, ada rindu, ada asa, dan ada mimpi yang mulai dia pahami.
"Aku ingin dekat dengannya, tapi tak tahu harus berbuat apa jika bersamanya."
"Pacar? Pacaran itu bagaimana? Apakah untuk dekat aku harus belajar pacaran?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berbeda
Sore menjelang, matahari hendak kembali ke peraduan. Siang pun mulai tenggelam dan akan berganti malam.
"Aya sering-sering ya main ke sini," kata Ria.
"Iya Mbak," jawab Senja.
"Ayo Ay, keburu gelap nanti," ucap Arti yang sudah berada di atas motor.
Senja pun beranjak dan mulai naik di jok
motor yang akan dikemudikan kakak iparnya.
"Kita pulang dulu ya, assalamualaikum," pamit Arti pada kedua adik dan ibunya.
"Wa'alaikum salam," jawab Ria Ula dan ibu Ine sambil melambaikan tangan.
Motor pun berjalan dengan kecepatan standar. Dibalik boncengan kakak iparnya, Senja nampak tersenyum sambil menatap langit yang berwarna jingga.
Aku lahir dikala senja. Aku menjadi cahaya kala semua tengah gelap gulita. Setidaknya itu yang dikatakan oleh Ibu. Tapi kenapa cahaya yang tercipta kala senja ini malah kehilangan sinarnya? Entahlah.
Senja asik bermonolog dalam hati. Sungguh dia merasa tidak memiliki cahaya dalam dirinya. Dia tak mampu melangkah jika tidak diarahkan oleh seseorang di sampingnya. Semua gelap. Apa yang dia mau apa yang dia inginkan tak pernah berarti apa-apa. Semua berlandaskan sebaiknya. Itulah yang dia rasa.
Tak terasa kini mereka telah sampai di teras rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Senja yang lebih dulu melenggang memasuki rumah.
"Wa'alaikum salam, dari mana saja kamu?" tanya Anton yang kini tengah menonton TV.
"Dari rumah Mbak Arti Mas," jawab Senja.
"Betah banget jam segini baru pulang, ngapain aja?" tanya Anton tanpa menatap Senja.
Senja menunduk hatinya terasa nyeri. Baru saja dia merasakan asyiknya berbincang dengan teman sebaya, sekarang dia di interogasi layaknya tersangka. Padahal dia masih dalam pengawasan kakak iparnya, tidak mungkin dia akan main-main yang tidak jelas.
"Maaf Mas, tadi kerjaan Ibu lagi banyak jadi Arti bantuin dulu. Aya nggak kemana-mana kok, cuma main sama adik-adik Arti," terang Arti yang baru saja masuk rumah menyusul Senja.
"Kamu mandi dulu gih," bisik Arti pada adik iparnya.
Dengan cepat Senja berjalan melewati Anton kakaknya.
"Loh Ay, Mas belum selesai ngomong!" ucap Anton dengan nada meninggi.
"Arti permisi ke belakang dulu Mas," pamit Arti pada kakak iparnya.
Anton tak menjawab, namun ada emosi dalam sorot matanya.
"Ada apa Nak?" tanya ibu Ami tiba-tiba.
Setelah pamit dari hadapan kakak iparnya, Arti memang mengayun langkah cepat hingga ia tak sadar keberadaan ibu mertuanya yang kemudian menahan pergelangan tangannya.
"Maaf ya Bu, Arti tadi ngajak Aya ke rumah Ibu terus pulangnya kesorean," jelas Arti yang merasa bersalah akan perlakuan yang baru saja diterima Senja dari kakaknya.
Ibu Ami memandang menantunya dengan senyum namun matanya nampak sendu.
"Nggak apa-apa kok, selepas magrib bantuin Ibu bikin pecel lele ya."
"Iya Bu."
"Sekarang kamu bersih-bersih," titah ibu kepada menantunya.
Arti hanya tersenyum dan mengangguk kemudian kembali berjalan melewati mertuanya. Tak lama setelah itu adzan maghrib pun berkumandang. Setelah itu semua menjalankan kewajibannya dengan khusyuk.
"Wah, ini mah udah siap semua," gumam Arti seorang diri begitu ia memasuki dapur. Lele sudah digoreng, sayur sudah dipotong-potong dan dicuci, bahan-bahan sambal pun sudah siap ulek di atas cobek.
"Sudah selesai kamu salatnya," tanya ibu yang baru saja memasuki dapur dan melihat menantunya tengah berdiri mengamati makan malam yang sedikit lagi siap.
"Iya Bu, terus ini Arti mesti ngapain?"
"Bikin sambel ya, Ibu mau nyiapin piring sama nasinya".
Arti mengangguk kemudian meracik bahan-bahan sambel kemudian mengulek nya.
"Jangan ambil hati ya kalau Anton ngomong apa gitu, dia emang ngejaga Aya banget banget banget, sampai cenderung mengekang adiknya itu. Kalau kamu menilai Atma itu tegas sama Aya, kalau Anton itu lebih lagi. Aku tahu mereka sayang sama adiknya, tapi aku kadang juga kasihan sama Aya."
Arti hanya mengangguk menanggapi ucapan mertuanya.
"Mereka takut Aya bernasib sama dengan mendiang Kakak perempuannya."
Arti menghentikan sejenak aktivitasnya. Ingin sekali dia bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan almarhumah kakak iparnya. Kenapa Senja harus menanggung ini semua, sementara kejadian itu terjadi saat Senja masih balita dan belum mengerti apa-apa.
Mati-matian dia menahan hasrat ingin tahunya, karena dia merasa ini belum tepat waktunya. Untuk menetralkan pikirannya, dia segera melanjutkan aktivitasnya mengulek sambel yang ada di hadapannya.
"Udah pas," ucap ibu saat mencicipi sambal buatan menantunya. "Langsung taruh di meja ya," lanjutnya.
Arti dan ibu pun sibuk menyiapkan makan malam hingga satu persatu anggota keluarga pun datang bermunculan di ruang makan.
Namun ada satu yang kurang. Senja belum tiba di ruang makan.
"Aya tadi magrib di masjid Mas?" tanya Arti pada suaminya.
"Nggak tuh, aku ke masjid cuma berdua sama Mas Anton," jawab Atma.
"Aku panggil aja dulu deh," ucap arti sambil beranjak dari samping suaminya.
Namun Atma menahan tangannya. Arti pun menoleh sambil mengernyit seolah bertanya kenapa. "Biarin aja, nanti dia jadi manja sama kamu, lebih repot lagi kalau dia akhirnya ngelunjak," ucap Atma.
Anton yang tengah memandang keduanya pun seolah turut membenarkan ucapan adiknya meskipun tanpa suara, dan Arti paham itu semua. Arti pun hanya menghela nafas, dan akhirnya kembali duduk di samping suaminya. Dan akhirnya mereka semua pun makan bersama tanpa keberadaan Senja.
Sementara itu di rumah Arga.
"Yah, Arga kok udah diajarin nyetir mobil sih yah, dia kan masih kecil."
Arga merengut mendengar ucapan ibunya, kemudian dia mencomot keripik talas yang tadi sore baru dibuat oleh ibunya.
"Nggak apa-apa Bu, lha wong Arga juga nggak pernah keluyuran pakai mobil kok. Suatu saat pasti berguna kalau dari sekarang sudah dilatih."
"Iya, berguna buat nganterin anak gadis orang," ucap ibu sambil melakukan hal yang sama dengan Arga.
"Hah?! Anak siapa?" kaget ayah.
Saat itu juga mulut Arga berhenti otomatis dari kegiatan mengunyah nya.
"Itu loh iparnya Arti, Artinya Ibu Ine," jelas ibu sambil mengunyah keripik talas.
"Loh kok bisa? Kamu pacaran sama dia," kaget ayah yang kini dibarengi dengan nada menggoda.
Arga hanya menggelengkan kepala karena mulutnya tengah penuh dengan keripik talas yang baru saja dijejalkan nya untuk menetralisir kegugupan karena dia ingat betul bahwa anak gadis yang dimaksud adalah Senja.
"Tanya aja sama anakmu ini Yah, nganterin nya sama Ibu lagi," seorang ibu yang juga menggoda anak laki-lakinya.
"Wah sabar dulu dong Nak, masa sudah mau dikenalin sama calon besan."
Mendengar ucapan ayahnya, Arga segera menelan kripiknya agar dapat segera membuka suara daripada obrolan kedua orang tuanya semakin tak jelas alurnya.
"Yah, Bu, dengerin ya. Pertama Arga nggak pacaran sama Senja, kedua Senja masih kecil," terang Arga berharap kedua orang tuanya segera berhenti menggodanya.
"Oh namanya Senja," ucap ayah.
"Kok Senja sih? Kamu lagi mikirin Senja ya, Ibu kan nggak nyebutin nama dia."
Arga cengo, dia merasa masuk ke dalam jebakan yang baru saja dibuat oleh ibunya. Sudah cukup sudah Arga merasa tak ada gunanya berdebat dengan kedua orangtuanya.bDia kesal berada di posisi ini, namun di saat yang sama dia juga merasa bahagia. Yang mana, dia memiliki kedua orang tua yang begitu pengertian menghadapi remaja seperti dirinya. Dia bebas melakukan apapun selama itu masih dalam batas wajar.
Seolah terhipnotis dengan kata-kata ibunya, pikirannya kini benar-benar tertuju pada Senja. Menjadi remaja dengan banyak larangan, itulah Senja yang ada dipikirannya. Tak tahu tingkat akurasi atas kesimpulannya, yang jelas itu yang mampu dia tangkap setelah beberapa kali berinteraksi dengan Senja. Senja kecil, semoga kamu baik-baik saja.
TBC
Alhamdulillah, done.
Yang udah mampir makasih ya.
Jangan lupa tinggalkan jejak.
Kritik dan saran sangat author harapkan.
Terima kasih banyak,