"Gue lahirin anak lo, lo bawa dia pergi sama lo. Sementara gue pulang ke Papa dan pergi jauh dari sini. Kita lupain semua yang terjadi disini. Lo lanjutin hidup lo dan gue lanjutin hidup gue. Itu rencananya,” jelas Alana.
Entah bagaimana Alana bisa terbangun dalam sebuah kamar asing dengan seorang pria di sampingnya. Tapi bukan itu masalahnya.
Masalahnya, video mereka malam itu diputar di momen yang paling Alana tunggu setelah kelulusan yaitu penghargaan dirinya sebagai siswi paling berprestasi.
Cerita ini remake dari tulisanku Dalam Pelukan Dosa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 - Berhenti Hidup
Dunia berputar cepat seperti biasa, namun dunia kecil Alana berhenti bergerak.
Rutinitas setiap paginya adalah mengecek to do list yang dia buat. Tapi melihat to do list yang biasanya padat sampai kekurangan waktu, kini kosong tanpa jadwal apapun, Alana merasa kosong.
Semua fasilitas dari Dharma sudah ditarik. Rencana kuliah Alana sudah dibatalkan. Tidak ada yang harus Alana lakukan sekarang.
Selain, tetap hidup.
Tapi untuk hidup pun, rasanya Alana sudah tidak ingin.
Tatapan mata Alana berubah kosong. Dia tidak menangis, tidak pula berteriak marah. Hanya diam. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
Wajah Alana memang biasa tanpa ekspresi, tapi kali ini benar-benar tidak ada ekspresi. Kosong. Seperti tidak ada kehidupan di wajahnya.
Setiap pagi, perutnya mual. Dia ke kamar mandi untuk muntah hingga tubuhnya terasa lemas. Lalu dia kembali ke kamar untuk duduk diam di tepi ranjang berjam-jam tanpa melakukan apapun. Hanya menatap lantai dengan tatapan kosong.
Tidak benar-benar menatapnya.
Sesekali, Alana berjalan kembali ke kamar mandi ketika perutnya kembali terasa mual. Langkahnya terseret.
Menjelang malam, biasanya Alana baru bangun dari tepi ranjang. Dia berjalan menuju balkon, hanya untuk duduk diam berjam-jam menikmati angin malam. Walaupun Alana tidak benar-benar menikmati itu.
Tatapan wajahnya tetap kosong, tanpa ada cahaya kehidupan.
Kini, setiap hari, sepanjang hari, tidak ada sesuatu yang Alana lakukan. Dia hanya terus membuka mata karena dia masih hidup.
“Assalamualaikum.”
Rayyan masuk ke dalam rumah. Lampu sensor di area pintu menyala otomatis, menerangi area depan pintu. Rayyan menunduk, melepas sepatu, lalu menaruhnya di bawah kabinet yang ada di sisi kiri pintu, seperti biasa.
Rayyan berjalan masuk. Dia mengedarkan pandangan. Apartemen itu tampak rapi. Sofa tetap di posisi yang sama, bantal sofa terlihat tidak tersentuh. Meja kayu bersih tanpa noda ataupun gelas bekas. Di bagian dapur, wastafel bersih, piring dan gelas tersusun rapi seperti saat Rayyan meninggalkannya.
Rayyan mendekat ke meja makan. Dia menaruh kantong plastik berisi bakso di meja makan. Tangannya otomatis membuka tudung saji. Ayam goreng dan sup sayur yang dimasak pagi tadi masih di tempatnya. Dingin, tidak berkurang sesendok pun.
Bahkan kertas notes yang Rayyan buat untuk Alana memanaskan sup sayur itu masih menempel rekat di mangkuk. Vitamin yang sudah dia pilah untuk pagi dan siang pun tidak bergerak dari posisinya.
Rayyan menghembuskan napas perlahan, lalu menoleh ke arah balkon.
Alana duduk diam disana. Sama sekali tidak terganggu, bahkan tidak menyadari keberadaan Rayyan. Punggungnya tegak sempurna. Tatapannya tertuju ke arah luar, membelakangi Rayyan.
Rayyan masuk ke dalam kamar untuk meletakkan jaket dan kunci motor pada tempatnya. Pandangannya jatuh pada mangkuk berisi sarapan Alana yang tergeletak diam di atas nakas. Rayyan mengambil mangkuk itu. Bau tidak sedap mulai tercium dari bubur ayam buatannya pagi tadi.
Rayyan membawa mangkuk itu keluar, membuang isinya ke tempat sampah, lalu mencucinya sekalian mencuci tangan.
Rayyan mengambil mangkuk bersih, menuangkan bakso hangat ke dalamnya, lalu mengambil air hangat, vitamin, dan cardigan Alana. Setelah semuanya siap di atas nampan, dia berjalan ke balkon.
Dia meletakkan nampan di meja kecil, uap dari bakso pelan-pelan naik ke udara dingin. Rayyan menyampirkan cardigan itu ke bahu Alana.
“Di sini dingin, Na,” ucap Rayyan pelan.
Alana diam. Tidak menepis. Tidak pula menjawabnya.
Rayyan akhirnya menunduk, memakaikan cardigan itu ke tubuh Alana. Baru dari dekat, Rayyan dapat melihat wajah Alana dengan jelas. Pucat, mata cekung, lingkaran hitam tebal di bawah mata. Bibirnya pecah-pecah. Kulit wajahnya kering. Rambutnya kusut seperti tidak disentuh berhari-hari.
Rayyan mengambil gelas air hangat dan mendekatkannya.
“Minum dulu ya, Na.”
Alana tidak menjawab, namun membuka sedikit bibirnya, membiarkan Rayyan membantunya minum. Rasa hangat perlahan mengalir dari mulut, tenggorokan, hingga perutnya yang dingin.
Rayyan berjongkok di depan Alana. Tangannya meraih kedua tangan Alana. Dingin.
Rayyan mengusap lembut punggung tangannya.
Rayyan tersenyum. “Gue tahu lo suka disini. Tapi, emangnya lo nggak dingin disini terus?”
Tidak ada jawaban. Alana tetap menatap jauh, kosong.
Rayyan menatap Alana lebih lama. Lalu, tatapannya turun dan berhenti di perut Alana.
Rayyan menghela napas. Rayyan merasa khawatir dengan kondisi Alana. Dia juga khawatir dengan kondisi kandungannya. Bagaimana janin mungil itu bisa bertahan jika Alana seperti ini?
Rayyan menarik kursi dan duduk di depan Alana. Dia mengambil mangkuk bakso.
“Gue beliin lo bakso,” ucap Rayyan sambil mengaduk bakso itu. Uap hangat keluar lebih tebal dari bakso itu.
“Tadinya gue mau masak aja di rumah. Tapi pas di jalan, gue lihat mamang bakso di jalan. Terus gue inget lo. Kayaknya bakso enak pas udara lagi dingin banget gini.”
Rayyan bicara terus meski tahu Alana tidak mendengar atau peduli. Dia memotong bakso kecil-kecil, lalu menyuapkannya.
Alana diam. Bibirnya terkatup rapat.
“Makan dulu, Na. Lo belum makan dari pagi.”
Alana tetap diam.
Rayyan menghela napas kecil. “Lo butuh makan buat lo tetep hidup, Na. Lo masih mau lihat Papa lo lagi, kan?”
Ucapan Rayyan itu membuat Alana menoleh, perlahan. Manik mata keduanya bertemu. Rayyan tersenyum lembut.
“Dikit aja,” ucap Rayyan lagi sambil menggerakkan sendoknya.
Alana akhirnya membuka mulut sedikit. Rayyan menyuapinya dengan hati-hati. Alana mengunyah pelan, seperti orang yang tidak benar-benar tahu apa yang dia telan. Rayyan tersenyum. Rayyan terus menyuapi sampai setengah mangkuk habis. Setelah itu Alana menutup mulut rapat, tidak mau membuka lagi.
Rayyan menghela napas. Setidaknya ada makanan yang masuk ke tubuh Alana.
Rayyan mengambil vitamin, menyerahkannya pada Alana. Alana menurut, meminumnya sendiri tanpa bicara.
Rayyan memperhatikan rambut panjang Alana yang kusut. Rambut itu bergerak pelan ketika udara dingin menerpanya. Baju yang Alana pakai masih sama seperti kemarin.
“Mandi yuk,” ajak Rayyan.
Tidak ada reaksi.
Rayyan diam sejenak. “Atau ganti baju aja. Tapi better mandi sih, biar lo jadi seger,” ucapnya yang lebih terdengar seperti kepada dirinya sendiri.
Alana bergeming, tidak menjawab.
“Ayo! Gue siapin baju lo,” lanjut Rayyan.
Rayyan bangkit, memegang lengannya dan menariknya pelan, memaksanya berdiri. Alana menurut, tapi tubuhnya pasif, seperti boneka.
Dia membawanya ke kamar mandi, menyiapkan handuk dan baju bersih.
“Lo mandi ya,” ucap Rayyan yang berdiri di depan Alana di kamar mandi.
Alana bergeming, tatapannya kembali kosong seperti semula.
Rayyan menghela panjang. “Na.”
Rayyan mengguncang lengan Alana pelan untuk menariknya ke dunia nyata. “Mandi.”
Alana tetap diam.
Tidak bisa dibiarkan.
“Lo bisa buka baju sendiri?” tanya Rayyan yang terdengar seperti pertanyaan bodoh.
Alana tetap tidak menjawab.
Rayyan mengangguk pelan. “Kalau gitu gue bukain.”
Saat Rayyan mengangkat tangannya hendak menyentuh baju Alana, Alana menoleh cepat. Tatapannya datar, tapi jelas tidak kosong.
“Bercanda.”
Rayyan menyengir kecil. Lalu dia menambahkan santai, “tapi enggak kok. Kalau lo nggak bisa buka baju sendiri, gue yang bukain. Kalau lo nggak bisa mandi sendiri… gue mandiin.”
Dia mengedikkan bahu. “Sama gue itu santai. Lo tinggal pilih, mau lakuin sendiri atau gue bantuin.”
Rayyan menatap Alana. Tatapan keduanya beradu dalam diam.
Sesaat kemudian Alana mendorong tubuh Rayyan, lalu menutup pintu kamar mandi.
Rayyan tersenyum kecil. “Nah, gitu.”
Selagi Alana mandi, Rayyan membereskan bekas makan Alana. Dia juga menyempatkan diri untuk memakan bakso miliknya sebelum dingin. Setelah itu, dia mencuci piring dan gelas yang kotor.
Setelah semuanya selesai, Rayyan masuk ke dalam kamar. Alana sudah selesai mandi. Dia memakai baju yang disiapkan Rayyan dan seperti biasa… duduk di tepi ranjang, menatap lantai dengan tatapan kosong.
Rayyan mendekat, mengambil moisturizer yang tergeletak di atas meja, lalu berdiri di depan Alana. Rayyan sedikit menunduk. “Muka lo kering banget, Na.”
Perlahan dia mengusapkan moisturizer itu ke wajah Alana, membalurkan dengan lembut.
“Lo harus rutin pakai moisturizer ini dua kali sehari, biar muka lo nggak kering,” ucap Rayyan.
Alana tidak protes, tidak bergerak, hanya diam.
Setelah selesai, Rayyan mengambil sisir dan duduk di belakangnya. Dia menyisir rambut Alana perlahan, hati-hati supaya tidak menyakiti kulit kepalanya.
Postur tubuhnya santai seolah itu adalah hal yang biasa dia lakukan.
“Rambut lo kusut, Na. Pasti kelamaan kena angin di balkon,” ucap Rayyan santai.
Setelah beberapa saat, Rayyan selesai menyisir rambut Alana. Dia juga mengikat rambutnya.
Begitu selesai, Rayyan berdiri di depan Alana, seperti memastikan hasil karyanya.
“Udah selesai,” ucapnya kemudian.
Sesaat dia menatap Alana. Lalu dia tersenyum kecil. “Lo kayaknya lebih cocok rambut pendek.”
Rayyan tersenyum santai. Dia berbalik badan untuk menaruh sisir, meninggalkan Alana yang masih duduk diam. Tapi kali ini, sedikit lebih rapi, sedikit lebih hangat, sedikit lebih terlihat seperti manusia hidup
...----------------...