Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kandidat Pertama
Restoran Le Grande, Sore Hari
Le Grande sore itu tenang, cahaya keemasan jatuh lembut dari jendela-jendela tinggi. Di sisi kanan restoran, area playground berdinding kaca berwarna pastel dipenuhi tawa anak-anak. Giska sudah melepas sepatu kecilnya, berlari ke arah perosotan begitu Reon melepas genggamannya.
“Di situ aja ya, jangan jauh-jauh,” pesan Reon.
“Siap, Ayah!” jawab Giska riang, lalu menghilang di antara bola-bola plastik.
Ravindra memperhatikan itu dengan anggukan puas. Pas, pikirnya. Semua tampak berjalan sesuai rencana.
Tafana sudah menunggu di meja tengah. Penampilannya sederhana tapi rapi, tidak berlebihan, justru terasa utuh. Ada jarak halus dalam cara Tafana duduk. Tegak, rapi, seperti tamu penting, bukan istri yang menunggu suami pulang.
Ravindra menarik kursi, lalu berdiri tegak, seolah sedang memperkenalkan aset terbaiknya.
“Reon,” katanya, sedikit bangga, “perkenalkan ini Tafana. Tafana, ini Reon. Dokter di rumah sakit keluarganya.”
Tidak ada yang aneh. Setidaknya di kepala Ravindra.
Namun Tafana tidak langsung tersenyum. Tatapannya berhenti di wajah Reon lebih lama dari seharusnya. Seperti melihat sesuatu dari masa lalu yang tiba-tiba berdiri di depan mata.
Reon lebih dulu tersenyum. Senyum orang yang sudah tahu.
“Reon Alundra, kan?” suara Tafana pelan, nyaris ragu.
Reon mengangguk kecil. “Hai lagi, Tafana.”
Udara di meja itu berubah.
Ravindra berkedip, senyumnya mengeras. “Kalian… saling kenal?”
Tafana dan Reon saling pandang sepersekian detik.
“Kami pernah,” kata Reon, agak canggung.
“Pacaran,” sambung Tafana singkat.
Ravindra tersenyum, refleks, sebelum menyadari senyum itu tidak lagi tahu harus diarahkan ke siapa. Ini salah langkah… atau justru bagus? pikirnya.
Mereka tetap duduk. Makanan datang.
Percakapan mengalir—tentang masa kuliah, teman-teman lama, dan warung mie ayam dekat perpustakaan yang dulu jadi langganan. Tentang versi muda mereka yang terlalu idealis.
“Kamu sama istri… sudah pisah?” Tafana bertanya hati-hati.
Reon menggeleng. “Istriku meninggal, setelah melahirkan Giska.”
“Oh.” Tafana tercekat. “Maaf. Aku nggak tahu.”
“Nggak apa-apa.” Reon tersenyum tipis. “Dulu aku naif banget ya. Minta cepat-cepat nikah. Tahunya nikah itu berat banget... apalagi jadi orang tua. Sumpah, dulu aku buta sebelum menjalaninya beneran," katanya dengan nada menyesal. "Maafin aku ya, dulu sempat minta kamu nikah cepat."
Tafana mengangguk pelan. “Sekarang kamu tahu, kan? Aku juga baru tahu nih, setelah dijalani beneran."
“Baru tahu apa?”
“Bahwa sekeras apa pun kita berusaha, kalau bukan kita orang yang dituju… kita nggak akan bisa dianggap spesial.”
Reon menangkap kedalaman itu. “Dan sekeras apapun mencoba, namanya nasib nggak bisa dipaksakan.”
Di seberang meja, Ravindra memandangi mereka. Tafana tertawa kecil, tawa yang dulu hanya ia dengar di rumah. Kini tawa itu menghadap pria lain.
Dadanya terasa ganjil. Ravindra menarik napas pelan, terlalu pelan untuk disebut lega.
Bukan marah atau cemburu utuh. Lebih seperti sisa rasa memiliki yang lupa mati.
Protektif yang terlambat, pikirnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak yakin apakah pertemuan ini adalah solusi atau awal kehilangan yang benar-benar final.
-oOo-
Mobil melaju tenang menembus jalan sore. Lampu kota mulai menyala satu per satu, memantul di kaca jendela. Sopir fokus ke depan. Reon duduk di kursi penumpang depan, sesekali melirik spion. Di bangku belakang, Tafana dan Giska sudah seperti menemukan dunia kecil mereka sendiri. Kepala saling mendekat, tawa berbisik, jari-jari kecil sibuk memainkan tas Tafana. Giska bersandar ke sisi Tafana tanpa diminta, kepalanya nyaris menyentuh lengan perempuan itu.
“Maaf ya,” kata Reon akhirnya, suaranya sedikit kaku. “Aku bawa putriku. Aku cuma mau jujur tunjukin aku yang seutuhnya. Bahwa kami sepaket.”
Tafana menoleh, tersenyum ringan. “Nggak apa-apa. Aku malah senang bisa kenal Giska.” Ia mengusap rambut anak itu. “Dia lucu.”
Giska terkikik, lalu tiba-tiba mendongak. “Yah, ke supermarket dulu yuk. Serealku habis. Susu kotakku juga. Terus lemku juga… di supermarket jual lem nggak ya?”
Reon refleks memutar badan sedikit. “Giska. Kita kan mau anterin Kak Tafana pulang.”
“Sekalian kan bisa, Yah,” bujuk Giska polos. “Ajak aja Kak Tafana. Siapa tahu dia juga ada yang mau dibeli.”
Tafana mengangguk setuju. “Iya. Aku juga mau ke supermarket bareng. Tiba-tiba pengin beli es krim.”
“Ih, aku juga mau es krim!” Giska berseru cepat.
Reon mendesah, jelas kelabakan. “Tapi sekali ini aja ya. Besok jangan,” katanya, sok galak.
Tafana tertawa kecil, menatapnya dengan mata hangat. “Kamu bapak-bapak banget sekarang.”
Reon tersenyum malu, menunduk sedikit. “Ya emang bapak-bapak, Taf.” Ia ragu sepersekian detik, lalu melirik ke belakang. “Kamu… nggak mau ya sama bapak-bapak?”
“Mau aja,” jawab Tafana jujur. “Asal cocok. Kita lihat pelan-pelan aja ya.”
Telinga Reon memerah.
Di supermarket, mereka berjalan beriringan. Giska mendorong troli kecil dengan penuh keseriusan, menunjuk rak sereal seolah sedang memimpin misi penting. Tafana memilih es krim sambil mendengarkan cerita Giska tentang sekolah dan teman-temannya. Reon mengawasi dari dekat—protektif, tapi membiarkan.
Di lorong dingin itu, di antara bunyi roda troli dan pendingin udara, ada rasa hangat yang tidak dipaksakan. Tidak ada janji. Tidak ada label. Hanya tiga orang yang tertawa ringan, seperti keluarga kecil yang belum berani menyebut dirinya keluarga.
-oOo-
Saat Tafana tiba di rumahnya, suasananya begitu kontras. Keheningan menyambutnya, membuatnya sejenak rindu celoteh Giska, gadis kecil yang sepanjang sore tadi menemaninya.
Saat baru sampai ke rumah, anehnya pesan langsung masuk ke ponselnya, dari Ravindra.
"Kamu sudah sampai di rumah? Cuma mau memastikan kamu aman."
Kenapa pas sekali timingnya? pikir Tafana, merasa lucu.
Ia mengirimkan balasan, singkat. "Baru aja sampai."
Suara pesan masuk lagi. Ravindra membalas, "Kalau boleh tahu. Dulu apa yang membuat kalian berpisah? Sebagai bahan evaluasi aja, aku kan Mak Comblang di sini."
Tafana mengernyit, lalu tersenyum tipis. "Kami masih muda waktu itu, baru lulus kuliah. Reon malah langsung ajak aku nikah. Aku nggak menyanggupi. Jadi dia memutuskan cari calon lain."
Di kediamannya, Ravindra membaca pesan itu, dan langsung mengerti. Sekarang ia tahu masalah di antara mereka. "Remeh," gumamnya dengan seringaian.
Saat sudah memakai piyama, ponsel Tafana bergetar, pesan dari Reon.
Reon: "Maaf ya tadi kami banyak ngerepotin kamu. Giska emang sering maksain. Nanti aku peringatkan dia."
Tafana: "Nggak apa-apa. Aku malah senang, jadi dibelanjain banyak. Terima kasih ya. Jangan galak-galak sama Giska, dia manis tau!"
Reon: "Begitu ya? Kalau ayahnya manis nggak?"
Tafana yang sedang minum sontak tersedak karena membaca pesan itu.
Tafana: "Tergantung. Bisa ganti topik?"
Reon: "Bisa. Tadi aku lupa nanya, kesibukan kamu apa? Selain proses sidang cerai dengan orang itu tentunya."
Tafana tertawa kecil melihat cara Reon menyenggol tentang Ravindra.
Tafana: "Aku suka desain pakaian. Lagi seru bangun brand pakaian bareng Sierra."
Reon: "Wih. Kamu banget tuh."
Tafana tertegun sejenak.
Tafana: "Kamu masih ingat?"
Reon: "Masih lah. Kamu kan kuliahnya fashion design. Tapi kayaknya Ravindra nggak tahu soal ini ya? Soalnya dia bilang kamu nggak kerja."
Tafana: "Dia emang nggak peka, jadi nggak tau banyak tentang aku. Nggak perlu tahu juga. Kita-kita aja."
Reon: "Noted. Aku mau tidurin Giska dulu ya."
Tafana: "Eh, udah malam juga ya. Aku juga mau tidur deh."
Reon: "Have a nice dream, Tafa."
Tanpa sadar senyum Tafana tersungging.
Panggilan itu lagi, pikirnya terkenang.
Tafana: "Gud nite, bapack."
Di rumah lain, tempat seorang anak perempuan berbaring di kamarnya, ada pria yang tersenyum dengan rona kemerahan di pipinya.
Baru saja Tafana mau tidur, datang panggilan dari Ravindra. Wanita itu mengangkatnya ogah-ogahan.
"Halo?"
"Halo. Aku cuma mau tanya, gimana kandidat ini? Sudah cocok? Atau perlu opsi lain?" suara Ravindra menginterogasinya.
"Sabar dong," Tafana menjeda. "Baru ketemu sekali. Mana bisa dipastikan."
Ravindra terdiam sejenak, seperti berpikir. "Jadi butuh pertemuan berapa kali lagi?"
Tafana memutar bola matanya. "Nggak tahu, ini bukan sistem yang bisa dikalkulasi, Rav." kemudian ia tercenung. "Sebentar, tadi kamu bilang, ada opsi lain?"
"Ya, aku bisa aja mencarikan pria lain untuk kamu. Berarti yang ini ada minusnya ya? Apa?" tanya Ravindra, hampir terdengar antusias.
Tafana menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia teringat cara Reon spontan menahan Giska saat hampir menabrak rak es krim—cepat, refleks, terbiasa.
"Gimana ya? Bukannya aku nggak suka Giska. Tapi aku nggak yakin bisa menjadi ibu sambung yang baik. Itu amanat yang... berat."
Ravindra terdiam sepersekian detik, lalu terdengar lagi. "Aku mengerti. Kalau begitu, aku mulai cari opsi lain dari sekarang."
"Oke. Terima kasih ya, udah ganggu jadwal tidurku." ucap Tafana blak-blakan. Tidak mau sungkan lagi pada pria ini.
"Oh maaf, Sleeping Beauty. Sleep well!" jawab Ravindra, tak kalah tengil, sebelum menutup sambungan.
Tafana menyadari dua pria itu sama-sama ingin mengatur hidupnya—dan kali ini, ia tidak berniat menyerahkannya pada siapa pun.
batu kali kau dapatkan
yang kamu pilih malah obralan, padahal ada yang eksklusif
yang katanya sahabat tapi menusuk s
dari belakang 😓😓