Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 23
Setelah selesai mencuci piring dan mematikan semua lampu ruangan, arun berjalan menuju kamarnya untuk istirahat. Diluar sana hujan semakin deras sesekali petir saling bersautan, ditengah malam yang sunyi ini suara petir begitu jelas di telinga membuat para manusia semakin mengeratkan selimutnya.
Arun masuk kamar tapi tidak melihat mita di atas kasur, arun mengira mungkin mita sedang di dalam kamar mandi tapi ketika arun berjalan menuju kasurnya arun melihat mita duduk di pinggir bawah kasur dengan posisi memeluk lututnya dan menggelamkan wajah di tangannya.
“Mita” arun kaget sasat menyentuh tangan mita, tubuh mita dingin dan bergemetar, keringat bercucuran ditubuh mita bahkan sebagian bajunya sudah basah karena keringat.
Tiba-tiba arun dilanda khawatir dengan kondisi mita, saat tadi mereka makan kondisi mita baik-baik saja tidak ada gejala-gejala apapun tapi kenapa tiba-tiba kondisinya sangat memprihantinkan “mita kamu kenapa?” tanya arun
“Abian, aku takut” ucap mita masih dalam keadaan memeluk lututnya.
Disaat yang bersamaan arun merasa kesal dan khawatir, kesal karena mita menganggap dirinya adalah mantan kekasihnya itu, dan khawatir dengan kodisi mita yang sepert ini.
Arun mencoba mengangkat kepala mita agar melihat kearah arun, dan menangkup wajah mita dengan kedua tangan arun “Ini Arun mit bukan Abian” ucap arun lembut menatap mita penuh kasih sayang.
Cukup sekali mita menganggap dirinya abian, arun tidak sudi jika dirinya dianggap abian lagi.
Mita menatap arun dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. “Arun?” ucap mita pelan dengan bibir yang gemetar, arun mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya.
Mita langsung memeluk tubuh arun. kalau aja arun tidak kuat menahan tubuhnya mungkin tubuhnya akan terjungkal kebelakang karena dorongan pelukan mita.
Arun membalas pelukan mita dan mengusap punggung mita pelan. “gak usah takut lagi, udah ada aku” arun membisikan pelan ketelinga mita mencoba menangkan wanita dipelukannya ini.
Arun biasa merasakan tubuh mita yang bergemetar begitu hebat di pelukannya, entah apa yang membuat mita seperti ini. Apakah ada panggilan telepon lagi keponsel mita?.
Setelah bebarapa lama duduk di lantai Arun mengangkat tubuh mita yang masih dalam pelukannya keatas kasur, gemetar pada tubuh mita perlahan mulai hilang dan tangisannya pun sudah mulai tidak terdengar di telinga arun.
Kenapa wanita yang dalam pelukannya ini begitu terlihat lemah, rasa ingin melindungi makin kuat pada diri arun. tak ingin lagi melihat kondisi mita yang seperti ini.
Arun mencoba melepaskan pelukan mita pada tubuhnya tapi mita malah makin mengeratkan pelukannya “janga tinggalin aku run, aku takut” ucap mita.
“aku nggak akan ninggalin kamu, aku mau ngambil air minum dulu biar kamu lebih tenang”
Mita menggelengkan kepalanya di dada arun tak mau melepaskan pelukannya, arun tersenyum mendapati tingkah mita yang seperti ini, seperti seorang anak yang tak ingin di tainggalkan oleh ayahnya.
“airnya minumnya ada di atas nakas, aku hanya perlu menjulurkan tanganku tapi kalau kamu meluknya erat kaya gini, aku susah buat ngambil air minumnya”
Mita mengangkat kepalanya dari dada arun kemudian melihat kearah nakas dan mendapati air yang di bawanya tadi setelah makan malam bersama arun. sudah menjadi kebiasaan mita selalu membawa air ketika akan tidur karena merasa tenggorokannya kering setelah bangun tidur.
Mita melepaskan pelukannya pada tubuh arun. arun mengambil air putih di atas nakas memeberikannya pada mita. Setelah minum mita kembali memeluk tubuh arun, mita merasa begitu aman dalam pelukan, rasa hangat pada tubuh arun membuat mita nyaman dan tenang. rasa takut pada dirinya sekarang sudah hilang dan rasa ngantukpun mulai mita rasakan.
“ganti baju dulu ya, baju kamu basah sama keringat” ucap arun sambil mengelus kepala mita
Mita nenggelengkan kepalanya di dada arun bertanda tak mau
“nanti masuk angin loh, lagian nggak nyaman juga kalau tidur bajunya basah” arun masih mencoba membujuk mita agar ganti baju karena tak ingin mita masuk angin
Tak ada jawanban dari mita. Mita masih diam dalam pelukan arun
“aku ambilin dulu bajunya ya” arun melepaskan pelukan mita dan mengambil kaos miliknya di lemari. Arun menyerahkan kaos tersebut kepada mita agar segera mengganti bajunya yang basah karena keringat.
Mita yang sudah mengantuk dan setengah sadar langung membuka bajunya dan memakai kaos yang diberikan arun. arun yang melihat penampakan yang luar biasa di hadapannya langsung melototkan matanya. Arun mengira mita akan ke kamar mandi untuk ganti baju karena biasanya juga mita ganti baju dikamar mandi tapi sekarang mita ganti baju di hadapanya yang jaraknya sangat dekat. Arun bisa sangat jelas melihat tubuh bagian atas mita yang polos. Apalagi dua gunung kembar milik mita yang begitu menggiurkan di mata arun tanpa ada kain yang menghalangi.
Benda kenyal yang beberapa jam yang lalu arun mainkan sekarang terlihat jelas di matanya dan langsung terscan bentuknya di otak arun.
Arun menelan salavinya dengan susah payah, mencoba mengendalikan jantungnya yang berdetak tak beraturan,
kenapa aku selalu di hadapkan dengan keadaan seperti ini? Kalau aku punya peyakit serangan jantung mungkin sekarang jantungku sudah tidak berdetak lagi.
Arun yang masih dalam keadaan terkesima tersadar kembali saat mita kembali memeluk tubuh arun. ingin sekali rasanya arun berteriak frustasi, sekarang dada arun merasakan dua gunung kembar mita di dadanya, sebenarnya sejak awal mita memeluknya arun sudah merasakan benda kenyal itu menempel pada dadanya tapi arun tidak menghiraukannya karena khawatir akan kondisi mita.
Arun mengusap wajahnya mencoba menenangkan dirinya karena benda yang di dalam celananya sudah mengeras sempurna.
Tubuh mita sudah tenang tidak bergemetar lagi tapi sekarang tubuh arun yang tidak tenang dan bergemetar karena mancoba Menahan nafsu yang sudah mengusai tubuhnya.
Arun membaringkan tubuh mita pelan di atas kasur, menarik selimut sampai bahu mita, ketika arun ingin beranjak dari kasur untuk pergi ke kamar mandi mata mita kembali terbuka dan menarik ujung baju arun “jangan pergi run, aku nggak mau di tinggal sendirian” ucap mita pelan.
Kaki arun yang sudah di atas lantai kembali naik keatas kasur, memebalikan badan menghadap mita. Bukannya tadi dia udah tidur, kenapa bangun lagi?aduh, aku udah nggak kuat lagi pengen cepet ngebebasin ni burung dari sangkarnya.
“kamu tenang aja aku disini ko, nggak akan kemana-kamana” ucap arun sambil tersenyum kecut.
Mita menarik tangan arun agar tidur didekatnya, dan arunpun merebahkan tubuhnya di samping mita. Akhirnya arun merasakan tubuhnya berbaring di atas kasur, punggungnya lumayan pegal karena hampir satu jam lebih berpelukan dengan mita dalam posisi duduk.
Mita kembali memeluk arun dan kembali tidur sedangan Arun berusaha memejamkan matanya mencoba untuk tidur tapi tetap aja pusat inti tubuhnya masih berkedut menyesakan meminta untuk dipuaskan. Ingin mengubah posisi tidurpun susah karena pelukan mita pada tubuhnya membuat arun sulit bergerak bebas.
Arun melihat mita yang tertidur pulas sambil memeluk tubuh arun, enak banget si kamu tidur mit, padahal kamu udah nyiksa aku dari tadi. juniorku yang di bawah celana minta dipuasin.
...----------------...
Makasih yang udah baca cerita ini. Semoga kalian menikmati alur ceritanya ya, sebenarnya aku udah nggak sabar pengen buat mita cepet jatuh cinta sama arun tapi ya gimana ya mita susah banget move on dari abian. Jadi harus sabar nunggu mita buat membuka hatinya buat arun. biar arun nggak tersiksa lagi wkwkwk. Oke jangan lupa like, komen dan votenya guys.