Menerima laki-laki yang di kenalkan oleh sosok yang bernama Ayah itu seperti membuka pintu derita bagi Maura. Apakah Maura menderita karena perlakuan sang laki-laki atau perasaan bersalah pada keluarganya....
Yuk lanjut episode baru cerita aku....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kain Seragam
"Turun dulu yuk. Lida mau kasih sesuatu buat Mas." Ajak Maura saat mobil Radit berada di halaman rumah Maura.
Radit mengikuti langkah Maura. Maura menyapa Pak Budi dan Bu Tias terlebih dahulu di ikuti Radit. Kemudian Radit duduk di teras rumah sementara Maura masuk ke dalam untuk menemui sang Adik yang sudah berada di dalam.
"Dek, emang dia mau?" Tanya Maura ngga yakin.
"Coba dulu. Yuk kedepan." Ajak Maulida.
Sampai depan rumah Maulida menyalami Radit seperti biasa, di susul Maura dengan nampan di tangannya berisi minuman dan beberapa camilan. Kemudian mereka bertiga duduk bersama di teras rumah.
"Abang, Abang udah tau kan kalo Lida mau nikah bulan depan?" Tanya Maulida.
"Hm.. Belum." Jawab Radit singkat.
Maulida menatap sang Kakak dan tersangka hanya diam menunduk seolah tak mendengar percakapan antara Maulida dan Radit. Maulida merotasi matanya mengerti.
"Hm.. Maaf ya Bang. Sepertinya ada yang lupa ngasih tau Abang. Begini Bang, jadi Lida mau nikah bulan depan sama Pacar Lida namanya Dito. Nah, ini ada batik buat seragam sama Kakak. Kain batik biasa sih Bang bukan yang mahal. Barangkali Abang ngga keberatan buat pake di acara nikahan Lida." Ucap Maulida menjelaskan.
"Hm boleh. Sudah jadi baju atau harus di jahit?" Tanya Radit.
"Masih kain Bang. Kalo abang punya tukang jahat sendiri boleh. Atau mau di jahit sama tukang jahit kita juga boleh. Nanti di ukur sama Kakak aja sekalian. Kalo baju buat ibu sama Ayah udah di jahit barengan sama baju Ibu sama bapak nya Mas Dito." Jelas Maulida.
"Kain Lala mana?"
"Ada di dalam. Abang mau lihat?" Tanya Maulida.
"Bawa saja. Nanti sekalian kita jahit di butik langganan Bunda." Radit.
"Eh, aduh ngga usah Mas. Nanti punya aku di jahit si sini aja." Maura.
"Ngga apa-apa sekalian aja. Besok kita ke sana. Mas besok ngga banyak kerjaan kok." Radit.
"Tapi Mas." Sanggah Maura.
"Ngga ada tapi Maura." Radit.
Kemudian Maulida mengambilkan kain untuk Maura dan menyerahkannya pada Maura.
"Itu untuk 3 potong ya Kak. Acara siraman, akad sama resepsi. Di plastik kain udah ada tulisannya." Maulida.
"Hm.." Jawab Maura.
"Punya Abang juga 3 dong?" Radit.
"Iya Bang. Ngga apa-apa kan?" Maulida.
"Ngga apa-apa. Makasih ya Da abang udah di kasih seragam juga." Radit.
"Sama-sama Bang. Lida juga makasih banget nih sama Abang karena abang udah mau pake kain biasa dari Lida sama Mas Dito." Maulida.
"Kain sama aja yang penting kita nyaman." Radit.
"Ya udah Lida masuk dulu ya Bang." Pamit Lida.
"Iya silahkan."
"Ini di simpen aja besok jangan lupa di bawa pas ke kantor. Atau simpen di mobil aja biar ngga lupa." Radit.
"Simpen di mobil aja kayanya deh." Maura.
Kemudian Radit menyimpan paper bag berisikan kain tersebut ke dalam mobilnya.
"Kamu mandi gih. Terus kita ke rumah. Oma sama Bunda nanyain kamu terus." Ajak Radit.
"Tapi besok kerja Mas." Maura.
"Mas ijinin sama Ayah sama Ibu biar kamu bisa nginep di rumah. Nanti kamu bisa bobok sama Oma kalo kamu takut." Radit.
"Ngga usah Mas. Nanti Lala pulang naik taksi aja deh." Maura.
"Kalo itu big no dong. Mas yang antar kamu pulang kalo maunya pulang." Radit.
Maura masuk untuk membersihkan diri dan Radit meminta ijin pada Pak Budi dan Bu Tias. Dan Mereka memberi ijin asalkan Maura kembali di antarkan pulang.
Lanjut iya lanjut...