NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Perjaka

Dinikahi Duda Perjaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / CEO / Cinta setelah menikah / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Duda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lidya Amalia

Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan

Keesokan harinya, Zara sudah bersiap dengan seragam kerjanya.

Dua tahun ini, Zara bekerja sebagai admin di salah satu bank ternama.

“Mulai kerja?” tanya Reynan.

“Iya.”

“Mau saya antar?” tanya Reynan lagi.

“Gak usah,” jawab Zara.

“Memangnya kamu udah siap, jadi bahan omongan teman-teman kantormu?” tanya Reynan.

Seketika Zara terdiam, lalu ia menghela napas. “Y-ya sudah,” jawabnya lirih.

Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering, menandakan jika ada pesan masuk.

Zara pun mengambil ponselnya, lalu membaca pesan itu, dan—

Prak!

Ponsel yang Zara pegang, terjatuh.

“Siapa?” tanya Reynan.

“K-kak Lea,” jawab Zara lirih, tubuhnya lemas, lalu tidak lama, tubuh Zara pun terhuyung.

“Eehh …” Reynan dengan cepat menangkap tubuh Zara. “Duduk dulu,” kata Reynan, seraya membawa Zara duduk di sofa.

Setelahnya, Reynan mengambil ponsel Zara yang terjatuh.

Ingin melihat apa isi di layar itu, tapi layar itu sudah mati.

“Kenapa?” tanya Reynan.

Zara ingin menjawabnya. Namun mulutnya seolah terkunci dengan air mata yang keluar tanpa diminta.

Isak tangisnya mulai terdengar, napasnya pun sedikit berat.

“Tenang dulu,” kata Reynan seraya mengusap bahu Zara.

Seolah mengerti apa yang Zara butuhkan, Reynan pun segera mengambil air minum dan memberikannya pada Zara.

“Tarik napas pelan-pelan, lalu hembuskan,” titahnya. Setelah Zara meminum air dengan dua tegukan.

Zara pun melakukannya hingga beberapa kali. Sampai dimana ia pun merasa baikan.

Namun, ia seolah tidak punya tenaga lagi untuk bicara. Maka, Zara memberikan ponsel itu pada Renan setelah ia membuka kuncinya.

“Serius ini?” tanya Reynan dengan kaget, setelah melihat dan membacanya.

“Apa mungkin ini bohongan?” tanya Zara lirih.

Namun—

“Siapa?” tanya Zara pada Reynan. Dimana ponselnya berdering masih di tangan Reynan.

“Ayah,” jawab Reynan.

“Angkat,” titahnya.

“Iya, Yah?” tanya Zara, setelah panggilan itu diangkat oleh Reynan.

“Kalo Lea kirim pesan, jangan kamu buka ya, Za.” Budi bicara dengan suara bergetar.

“S-sudah aku buka, Yah.” Begitu jawab Zara, dengan terbata dan suaranya serak serta lirih.

“Astagfirullah …”

“Yah, ini beneran? M-mereka …” Zara tidak melanjutkan ucapannya. Tenggorokannya tercekat dan air mata kembali luruh.

“Za … A-Ayah …”

“Mereka tega sama Zara, Yah? Memangnya Zara salah apa sama mereka?” Potong Zara, dengan napas memburu penuh emosi.

Reynan yang merasa iba. Ia pun merangkul bahu Zara, untuk menguatkan.

Di seberang sana, Budi memejamkan matanya. Air matanya pun, sama luruhnya.

Sebagai orang tua, ia tidak bisa menjaga dan melindungi anaknya.

Bahkan yang menyakitinya masih saudara dan ya … ia pun tidak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu gak salah, Za. Mereka yang salah, mereka yang jahat. Maafin Ayah. Ayah gagal melindungi kamu,” ucap Budi.

“Apa ini sudah mereka rencanakan? Om Hanung tega sama aku, Yah?” tanya Zara lagi di sela isaknya.

“Tenang saja, Za. Jika memang begitu, kebahagiaan tidak akan pernah mereka dapatkan. Allah pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi.”

“Yah … hiks … hiks … hati aku sakit, Yah. Di sini aku seperti orang bodoh. Orang yang tidak tahu apa-apa. Mereka pasti menertawakan aku ‘kan, Yah?”

“Sudah, Nak. Kamu jangan berpikir yang enggak-enggak. Setidaknya, saat ini kamu terselamatkan oleh lelaki pecundang seperti si Danish itu. Ayah doakan, pernikahan kalian akan langgeng, selalu diberkahi dan selalu berlimpah ruah kebahagiaan.”

Panggilan pun terputus. Zara masih dengan tangisnya.

“Kamu mau datang?” tanya Reynan.

“Gak sudi,” jawab Zara.

“Salah itu. Seharusnya kamu datang, angkat kepalamu. Tunjukkan pada mereka, jika kamu baik-baik saja.” Reynan menjeda ucapannya.

“Jangan lupa, gandeng saya. Tunjukkan pada mereka, bahwa suamimu lebih tampan dan lebih oke,” lanjut Reynan.

Zara menyipitkan matanya. Mata yang bengkak dan berkaca-kaca itu.

“Gak salah? Bukannya mereka terkagum, melainkan malah mengejek nantinya,” kata Zara.

“Loh, kok?”

“Iya-lah. Menikah dengan duda, pengangguran pula,” jawabnya.

Reynan berdecak. “Intinya, saya duda, bukan? Pengangguran juga?” tanya Reynan.

“Ya tetap, mereka mikirnya akan begitu.”

“Ya … oke … untuk masalah itu. Tapi … untuk penampilan? Saya jauh lebih oke. Saya tampan, tubuh saya oke. Tubuh idaman para wanita,” ucapnya dengan bangga.

Zara berdecak.

“Gimana?” tanya Reynan. “Setidaknya, saya lelaki baik-baik.”

Zara mengusap sisa jejak air matanya. “Sudahlah, nanti saya pikirkan lagi.” Zara beranjak dari duduknya, ia pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.

Tidak ada gunanya ia menangisi pria macam Danish dan sepupu macam Lea.

Lebih baik ia kembali bersiap untuk pergi bekerja.

Sakit hati? Tentu. Namun tidak perlu berlarut-larut.

Menangis? Sudah. Untuk mengeluarkan emosional. Itu wajar.

Perkiraannya, jika besok mereka (Danish dan Lea) menikah, berarti selagi masih pacaran dengannya, Danish dan Lea mempunyai hubungan di belakangnya. Dan dengan kaburnya Danish, pasti sudah mereka rencanakan.

“Bang Sat, memang,” gumam Zara, seraya mengusap wajahnya dengan handuk.

***

“Ayah … Ibu … Aku kerja dulu,” kata Zara, ia pergi ke rumah orang tuanya untuk mengambil mobil.

“Iya, Nak. Hati-hati,” ucap Lia, seraya mengusap bahu sang anak.

“Aku gak apa-apa, Bu. Tenang aja,” kata Zara dengan senyumnya.

Senyum yang– dipaksakan untuk kuat.

“Ibu tahu,” jawab Lia. Namun begitu, matanya sudah mengembun.

Tidak ada Nenek Sofa di sana. Karena kemarin, Nenek Sofa di jemput untuk ke rumah Hanung.

Zara kembali tersenyum.

“Ayo,” kata Reynan.

“Memangnya anda bisa mengendarai mobil?” tanya Zara.

“Kamu meremehkan saya?”

“Ya … siapa tahu anda gak bisa. Nanti bukannya sampai kantor, malah sampai ke—”

“Sampai ke Jepang, gak apa-apa. Itu lebih bagus, sekaligus bulan madu. Iya, gak, Bu?” Reynan memotong ucapan Zara. Seolah ia tahu, akan kemana arah bicaranya.

Lia terkekeh kecil, dengan mata yang masih mengembun.

“Iya … segera agendakan jadwalnya untuk bulan madu,” seloroh Lia.

“Bagus itu. Nanti Ayah yang beli tiketnya,” sahut Budi.

“Ish … Ayah ini,” kata Zara.

“Iya, betul kata Ibu. Kalian harus bulan madu,” ujar Budi.

“Setuju, Yah.” Reynan turut bicara, dengan gaya tengilnya dan itu langsung mendapatkan pelototan dari Zara.

Reynan langsung nyengir kuda. “Ayo masuk. Katanya mau ke kantor, nanti telat.”

Zara pun setuju, ia langsung pamit pada Budi dan Lia.

Reynan yang mengendarai mobil itu. Budi dan Lia menatap mobil itu hingga jauh dari pandangan.

“Rey orangnya asik ya. Yah,” ucap Lia.

“Iya … semoga hadirnya Reynan membuat hidup Zara lebih berwarna,” kata Budi. Mengingat Zara adalah anak tunggal, tidak punya saudara sedarah dan satu rahim.

“Dan Zara hidup bahagia dengan Rey, pernikahannya langgeng sampai maut memisahkan. Apapun cobaannya, jangan Engkau kasih melebihi batas kemampuan mereka ya Allah,” lanjut Budi.

“Aamiin …” Lia turut mengaminkan doa dari suami untuk anaknya.

***

“Ish … Za. Suami lo cakep juga, ya. Jauh sama si Danish mah,” ucap Dian, teman Zara.

“Tapi duda,” sahut Cia. Teman Zara juga, tapi mulutnya gak bisa bohong.

“Duda juga gak apa-apa,” ujar Dian. “Eh, Za. Malam pertama gimana? Gacor gak?” lanjutnya, dengan mata yang ia kedipkan satu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!