Nafisa, gadis istimewa yang terlahir dari seorang ibu yang memiliki kemampuan istimewa. Tumbuh menjadi gadis suram karena kemampuan aneh yang dimiliki.
Melihat tanda kematian lewat pantulan cermin, membuatnya enggan bercermin seumur hidupnya. Suatu ketika ia terpaksa harus berdamai dengan keadaannya sendiri, perlahan ia mulai berubah. Dengan bantuan sang sahabat, ia menolong orang-orang yang memiliki tanda kematian itu sendiri.
Simak kisah menarik Nafisa, kisah persahabatan dan cinta, juga perjuangan seorang gadis menerima takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ERiyy Alma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cermin 24
“Mau bareng Bro?” Pandu menepuk pundak Arjuna dari belakang, di susul Haikal yang masih sibuk menutup resleting tasnya.
“Nggak dulu deh,” jawab Arjuna.
“Hyung mah mau jemput si indigo, Bre,” ungkapnya.
“Nafisa, dia punya nama, indiga indigo gue slepet juga lu,” gertak Arjuna berpura-pura hendak melayangkan pukulan.
“Ampun Hyung, ampun.” Haikal terkekeh pelan, ketiganya berjalan beriringan menuju parkiran motor khusus siswa. Saat itulah Alena datang mendekat, berlari-lari kecil memanggil nama Arjuna.
“Arjun, tunggu!”
“Weh, mau ngapain tuh si lampir?” bisik Haikal yang langsung mendapatkan tinju kecil dari Pandu, “ya udah deh Hyung, kita duluan yak, temuin saja sendiri tuh cewek,” imbuhnya. Arjuna mengangguk membiarkan kedua temannya pulang terlebih dulu. Alena terengah-engah, tersenyum manis menatap Arjuna.
“Ada apa?”
“Aku mau ngomong sama kamu,” jawab gadis itu.
“Ngomong apa? bicara aja di sini.”
“Nggak bisa Arjun, kita ke kafe sebelah yuk, aku traktir deh.”
Arjuna melihat segerombol anak-anak kelas X yang baru keluar dari kelas, agaknya mereka sedikit terlambat.
“Maaf, aku nggak bisa kalau sekarang, soalnya aku ada janji.”
“Ya udah, aku ikut kamu aja, aku nggak apa-apa kok.” Aluna masih berusaha mencari kesempatan untuk berbincang dengan Arjuna, gadis itu ingin meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Arjun, di hatinya masih tak yakin jika lelaki itu yang menghapus semua file di flashdisknya.
“Maaf, aku nggak bisa. Kalau memang mau bicara sekarang silahkan, kalau tidak maka tidak perlu lagi.”
Arjuna melihat Fisa dan Nuria berjalan ke arahnya, ia terpaksa berpamitan karena Alena yang tak kunjung bicara apapun. Lelaki itu berlari-lari kecil mendekati Fisa dan Nuria, lantas terlibat obrolan ringan dimana Nuria sedang menggodanya.
“Kak Arjun, rumah kalian itu beda arah, tapi hampir tiap hari antar Fisa pulang, yakin diantara kalian cuma teman?”
Fisa memukul pundak temannya itu, sementara Arjuna hanya tersenyum. Tanpa mereka sadari Alena memandang iri dari kejauhan, gadis itu berniat memberi kesempatan Arjuna untuk jujur dan akan memaafkannya, tapi Arjuna menolaknya demi Fisa membuatnya meradang. Alena semakin dendam, hatinya tersulut api amarah yang berkobar, ia janji akan membuat perhitungan dengan gadis bernama Nafisa dan temannya Nuria itu.
***
Malam semakin larut, suara katak menjadi nyanyian di tengah gerimis di luar sana, rintik di atas genting menjadi musiknya, ditambah gesekan daun oleh angin seolah membentuk sebuah melodi indah penenang jiwa, penghantar tidur nyenyak seorang lelaki yang tengah berbaring di atas ranjang.
Lelaki itu adalah Arjuna Fatih, yang sayangnya tak bisa tidur akibat kejadian tadi siang sepulang sekolah. Ia dengan sengaja menghindari Alena, bukan karena takut tapi Arjuna juga tak tahu kenapa ia merasa tak nyaman. Dipandangnya sebuah flashdisk di tangan, saat itu ia memindahkan semua isi file di flashdisk Alena, dan hingga detik ini masih belum berani membukanya.
“Hah…” Arjuna menghela nafas lagi, berguling ke kanan ke kiri. Sementara hujan di luar rumah turun semakin deras. Pintu kamarnya diketuk dari luar, Arjuna mempersilahkan orang di luar untuk masuk.
“Belum tidur Nak?” tanya mamanya.
“Belum Ma, ada apa?”
“Tidak, mama cuma lagi bikin susu buat adikmu, jadi bikinin kamu sekalian, minum dulu gih mumpung masih hangat, cocok dingin-dingin begini,” katanya.
Arjuna menerima pemberian tante yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri itu, mengucapkan terimakasih sebelum menikmati susu hangat tersebut. Shella mengangguk, matanya memindai kamar Arjuna, di atas meja ia menemukan foto dalam bingkai yang belum pernah dilihatnya selama ini.
“Itu, foto kapan? baru ya?”
“Oh itu, iya Ma. Itu teman Arjun yang meninggal beberapa hari lalu, yang Arjuna ceritakan kemarin loh. Namanya Hana, itu saat kami menemaninya di rumah sakit, dan tak menyangka itulah momen terakhir kebersamaan kami dengan Hana.”
Shella berjalan mendekati meja, meraih bingkai foto dan memindai satu persatu wajah teman-teman Arjuna, ada perasaan sesak di hati mendengar nasib gadis bernama Hana itu. “Umur benar-benar tidak ada yang tahu, kasihan sekali masih sangat muda harus pergi karena penyakit, padahal sebentar lagi bisa lulus. Makanya Arjun kamu juga jaga kesehatan, anak-anak di kelas akhir rawan capek dan terserang penyakit.” Shella mengusap air mata.
Arjuna tersenyum mendekati ibunya, “kenapa ibu menangis, Hana sudah sakit-sakitan dari kecil, itulah penyebabnya. Kalau Arjun insya Allah akan tetap sehat dan temani mama dan ayah hingga masa tua kalian kelak,” katanya.
Shella mencubit pipi lelaki itu, ia tak menyangka anak laki-laki kelas 6 SD yang menangis karena orang tuanya meninggal itu sudah sebesar ini, sebentar lagi lulus SMA dan kuliah. “Kapan kamu jadi sebesar ini, Nak,” kata Shella.
Shella kembali memandang bingkai foto di tangannya, keningnya berkerut tatkala menatap wajah seorang gadis yang tengah dirangkul putranya itu. “Nak, ini siapa yang kamu rangkul?”
“Astaga, Mama pangling ya? itu kan Fisa, dia cantikkan?”
“Hah? beneran Fisa? sejak kapan dia peduli penampilan begini, biasanya kan awut-awutan ini anak, sampai-sampai ibunya marah-marah terus tiap hari.”
Arjuna tersenyum tipis, “dia sudah berubah Ma, dia sekarang sudah nggak takut cermin, bahkan membantu Hana menyelesaikan masalah-masalahnya sebelum meninggal.”
Shella terperangah, masih tak percaya dengan ucapan putranya itu. “Yang benar kamu? tapi, kenapa Kia nggak bilang apa-apa pada mama ya?”
Arjuna mengedikkan bahu, “sudahlah Ma, Arjun mau tidur dulu, lebih baik Mama tidur juga pasti ayah sudah nunggu di kamar,” kata lelaki itu. Shella tersenyum, diam-diam mengambil gambar potret kebersamaan Arjuna, Fisa dan teman-temannya itu menggunakan ponsel, ia berencana menanyakan hal ini pada sahabatnya. Setaunya Kia masih terus mengeluhkan putri tunggalnya itu, bahkan tadi pagi Kia masih menelepon dan mengeluh padanya.
“Selamat malam Mama,” ucap Arjuna begitu Shella keluar kamar dan bersiap menutup pintu.
“Malam juga Son… love you.”
Arjuna hanya tersenyum, Shella menganggapnya seperti putra kandung, tak pernah membeda-bedakan antara dirinya dan Reynar yang merupakan putra kandung pamannya itu. Oleh karena itu Arjuna merasa sangat beruntung, dan berencana membalas kebaikan keluarga pamannya ini seumur hidupnya.
...