valerie agtha colla yang harus mengulang hidupnya karena sebuah kesalahan dimasa lalu. penyesalan yang ia kira hanya untuk sementara nyatanya membuatnya terpuruk, hingga tuhan memberinya kesempatan untuk merubah jalan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nilan sastia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24
****************
"Axcelio vaken colla" jawab valerie.
"aku tahu itu, maksudku aku siapanya kamu valerie" tanya axel mengulangi pertanyaannya tadi.
"suami" jawab valerie pelan.
"suami siapa?" tanya axel lagi.
"suamiku" jawab valerie.
"lalu mengapa kamu melemparku pada wanita lain? Segitu tak sukanya kah kau valerie padaku?" tanya axel sedikit mencengkram dagu valerie.
"lalu aku harus bagaimana? Sedangkan kamu menikmatinya" ucap valerie menatap tajam mata hazel milik axel.
"aku tidak menikmatinya valerie, aku menunggu reaksimu" jawab axel.
"oh, ya?. Reaksi apa yang lo tunggu dari gue?" tanya valerie gadis itu mendorong tubuh axel yang masih mengurungnya ditembok.
cup....
Deg dorongan valerie langsung melemah saat bibirnya sengaja dikecup oleh axel. Oh, astaga bisa bisanya axel mengecup bibirnya disaat ia sedang protes seperti ini.
Blushhh wajahnya terasa panas dan ia yakin jika saat ini wajahnya sudah memerah seperti tomat matang.
"sudah berulang kali valerie tapi kamu tetap ngeyel" ucap axel tangan yang tadinya sedang memegang dagu valerie. kini beralih memegang pergelangan tangan gadis itu yang terus berusaha mendorong tubuhnya.
"lepas axel"
"kenapa aku harus melepaskanmu?"
"aku mau pulang"
"kamu belum menjawab pertanyaanku valerie"
"pertanyaan yang mana?" tanya valerie yang sudah melupakan tentang pembahasan mereka karena kecupan dibibirnya yang mendadak itu.
"mengapa kamu melemparku kepada wanita lain valerie" ucap axel.
"maksudnya gu.. M.. A.ku gak ngerti" alibi valerie ia menoleh kearah lain.
"jangan fikir aku gak tahu maksud kamu valerie. Sering meninggalkan aku dengan wanita itu dan selalu menghindar" ucap axel.
"lalu gue harus apa? Harus mengamuk gak jelas? Dia teman dekat lo sedangkan gue? gue siapa Axel? Perempuan yang gak lebih dari istri diatas kertas yang baru kenal setelah 1 minggu nikah itu maksud lo?" tanya valerie mendongak menatap mata hazel milik axel dengan tatapan entah axel juga tidak pahami.
"kata siapa pernikahan kita hanya diatas kertas?" tanya axel heran saat mendengar ucapan valerie barusan.
"dan itu kenyataannya axel. Kita hanyalah 2 orang yang tidak saling mengenal dan dipaksakan oleh keadaan untuk bersatu" jawab valerie.
"jujur val, aku gak ngerti kemana arah pembicaraanmu ini. Namun, yang harus kamu tahu status kita sah dimata hukum dan agama. Suka tidak suka aku adalah suami kamu sekarang, bukan hal yang wajar untuk kamu mengoporku pada wanita lain yang seperti barang" terang panjang kali lebar axel.
"kamu fikir gue mau? Gak sama sekali axel. Namun gue sadar posisiku disini hanyalah orang baru dihidupmu. Katakan gue harus apa disaat lo baik baik saja dan menerima kehadirannya disamping lo. gue hanya orang baru, baru mengenal lo hanya lewat nama bukan dari kepribadian lo. Sedangkan dia? Dia mengenali lo lebih dari yang gue banyangkan lalu sikap seperti apa yang harus gue lakuin." jeda valerie ia tengah berusaha dengan keras agar air matanya tidak jatuh dipipinya.
"pernikahan kita tidak ada yang tahu, sedangkan kita baru saja mengenal terus gue... Guue bertengkar dengan gadis lain dengan alasan apa sedangkan statusku apa?." ucap valerie lagi.
"apa yang lucu?" tanya valerie karena melihat axel yang sedang terkekeh.
"gue cuman memberikan lo waktu dengannya. harusnya, lo itu berterima kasih ke gue! bukan malah marah gak jelas kayak gini" gerutu valerie membuat tawa axel mendadak berhenti.
"apa maksudmu?" tanya axel lelaki itu menatap tajam valerie.
"bukankah dia teman dekatmu? Gue gak mau jadi pelakor disini!." ucap valerie cuek lagi ia mendorong lagi badan axel. Karena axel tidak siap sehingga badan lelaki itu terhuyung kebelakang dan valerie menggunakan itu untuk pergi dari kungkungan axel.
"semakin ngelantur. Hm?" axel dengan cepat mengangkat tubuh mungil valerie dan mendudukannya diatas meja.
"axel jangan keterlaluan!" pekik valerie saat axel meremas bokong valerie dengan gemas. Saat ini posisinya sangat intim bagaimana tidak axel berdiri diantara kedua paha valerie.
"keterlaluan sama istri sendiri itu bukan masalah val" seringai axel terus meremas bok*ong valerie.
"shhhhh," desah valerie menggigit bibir bawahnya.
"jadi kamu ingin status?" tanya pelan axel tepat ditelinga valerie.
Valerie tanpa sadar mengangguk membuat senyuman axel mengembang sempurna.
"kamu sudah punya status valerie dan diakui oleh agama dan negara apa itu belum cukup?" tanya axel lagi dengan suara rendahnya.
Valerie menggeleng sempurna memang benar statusnya diakui oleh negara dan agama. Namun, apakah salah jika ia menginginkan pengakuan dari axel. Yah, maklumlah wanita itu mahluk yang sangat ajaib. Tak mau kalah, selalunya benar terus dan permintaannya diluar nurul eh,diluar nalar.
"ya sudah kamu maunya apa?" tanya axel ia menunduk dan melihat wajah valerie.
"mau pulang" mood valerie tiba tiba hancur mendengar pertanyaan axel. Jika saja membunuh itu bukan dosa sungguh ia ingin membunuh axel sekarang juga. Bagaimana bisa ada manusia tak peka seperti axel itu.
"oke. Valerie mau kamu memulai hubungan yang baru denganku?" tanya axel membuat valerie segera menoleh kearah axel.
"hubungan baru?" tanya valerie bingung.
oh, astaga ingin rasanya axel menggigit valerie sekarang juga sungguh rasanya kesal bercampur gemas. Karena gadis itu sejak tadi sudah menguji kesabarannya. Benar kata pepatah wanita adalah sesuatu yang paling rumit. Untung cinta jika tidak sudah lama axel meninggalkannya. Kesabarannya sudah mulai menipis namun, apa daya hatinya terlalu nyaman berada didekat wanita itu.
"valerie agatha colla maukah kamu menjadi pacarku?" tanya axel terus menatap bola mata valerie yang begitu meneduhkan hati.
"hah?" jadi begini rasanya ditembak? Dulu dikehidupan pertamanya gadis itu yang menembak kelvin. Dan sekarang axel tengan menembaknya ternyata rasanya seperti sedang melayang keudara saking senangnya.
"aku tak menerima penolakan dan sekarang kamu adalah pacarku" ucap axel lagi.
"mana ada seperti itu?" valerie memicingkan matanya kearah axel membuat lelaki itu terkekeh gemas.
cup...
Axel mengecup pipi valerie singkat membuat gadis itu semakin blushing.
Drtttt... Drtttt... Drtttt...
Ponsel axel bergetar disdalam saku celananya. Ia meraih ponselnya tanpa beranjak selangkah pun dari valerie. Saat melihat nama pemanggil yang tertera diponselnya itu axel tersenyum lalu mengangkat telepon tersebut.
"yaa"
"........
"iya"
"......
"ok" jawab axel kemudian dia mematikan sambungan teleponnya lalu beralih menatap wajah valerie yang sudah mengalihkan pandangannya kesamping.
"apakah tembok itu lebih menarik?" tanya axel ia mendekatkan wajahnya kewajah valerie.
"hmm?" valerie menoleh dan saat itu juga ujung hidungnya menyentuh pipi axel dengan sempurna.
Oh, my got. Jantung valerie berdetak tak karuan ia malu sangat malu. Bagaimana bisa ia seceroboh itu, ia tak tahu jika wajah axel tepat berada disampingnya.
cup...
Axel kembali mengecupi pipi valerie yang selalu membuatnya ketagihan. Seakan ada magnet yang terus menatiknya untuk mengecupi dan terus mengecupi pipi dan bib*r gadis itu.