"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman
"Apa betul Aya? " tanya Haura gusar.
"Nggak mi, abang itu berlebihan. Nikah aja belum dua bulan kok, lebay ih."
Rama tersenyum, "Maaf Mi, Rama cuma bercanda. Aya melayani Rama dengan baik kok. "
Haura bernafas lega. "Syukurlah, Umi kira Aya benar-benar mengabaikanmu."
Aya melotot memperingatkan Rama. Rama melipat bibir menahan senyum.
Setelah mengobrol cukup lama, keduanya berpamitan.
Di dalam mobil, Aya masih terlihat kesal. Ia memilih diam daripada melampiaskan emosinya.
"Maaf, abang cuma becanda. Abang nggak bisa nahan diri godain kamu."
"Ya lihat-lihat juga dong konteks candaannya. Aku nggak pernah cerita ke umi soal hubungan abang dengan perempuan lain. Aku nggak mau umi sedih, bang. Selama ini aku beralasan merahasiakan pernikahan cuma karena soal kerjaan."
Rama tertegun, "Oke, abang paham. Abang minta maaf sudah kelewatan. Mau abang cium biar kamu lebih tenang? "
"Hish.. yang ada aku makin kesal."
Rama hanya tersenyum.
Setelah melewati perjalanan panjang dengan situasi yang masih canggung. Mereka akhirnya sampai dirumah. Melihat motor barunya terparkir manis di teras rumah, Aya bergegas turun dan memeriksa keadaannya antusias.
"Bener-bener perempuan, materi memang pengobat segalanya, " gumam Rama lirih.
Ia masuk ke dalam rumah mengambil kunci motor yang digantung Raka di lemari khusus.
"Aya, kita panasin dulu motornya baru kamu coba bawa keliling ya."
Aya mengangguk senang. Hilang seketika rasa kesal dan canggungnya tadi.
Rama mengeluarkan isi bagasi. Helm, jaket, alat perbengkelan mini, first Aid pouch, jas hujan. Aya melihat satu-persatu bonus barang yang diberikan dealer dengan senyuman yang terus tersungging di bibirnya.
JGEER
JGEER
BRRM.. BRRM..
Rama membersihkan debu yang menempel di body motor. Ia menatap Aya yang begitu bahagia dengan motor pemberiannya. Tiga puluh juta sama dengan yang diberikan Rama pada Amel, tapi kesan syukur Aya jauh lebih menghangatkan hati Rama.
Mungkin karena Aya selalu hidup sederhana, ia lebih mudah mengekspresikan rasa syukur. Berbeda dengan Amel yang terbiasa hidup hedon. Makan di resto mewah, barang branded, liburan ke luar negri. Padahal mereka sama-sama berasal dari keluarga sederhana tapi berbeda jauh dalam menyikapi gaya hidup.
Rama menghampiri Aya yang merapikan barang-barang yang dibongkar nya tadi, lalu mendekapnya dari belakang.
Aya sempat terpaku, tapi berusaha terlihat tenang. Ia belum benar-benar terbiasa dengan kebiasaan Rama seperti itu.
"Kamu senang? " bisik Rama di telinga Aya.
"Alhamdulillah, iya bang. Terima kasih ya, " jawab Aya malu-malu.
"Alhamdulillah, berarti ada hadiah juga dong buat abang? "
Aya tercekat, senyumnya menguap seketika.
otak reptilnya memberi sinyal untuk lari, otak nalarnya bergegas mencari alasan.
"Kayaknya sudah bisa dicoba ya bang.. udah dari tadi kan panasinnya, " elak Aya melepaskan diri dari dekapan Rama.
Ia bergegas menghampiri motor, menaikinya dan melepas standar ganda. Aya membelokkan stang dan memutar gas, tanpa melirik Rama sedikit pun. Ia khawatir aksi kaburnya terbaca.
Rama mengerti Aya menghindar, tapi ia biarkan. Rama tak mau merusak momen bahagia Aya sekarang, ia akan tetap menagih nanti.
CEKLEK
Raka keluar berpakaian kasual dengan rambut tertata rapi dan sepatu Converse putih.
"Mau kemana? "
"Diajak ketemuan sama Robi. Ternyata dia kerja di perusahaan karet tempat aku mau magang nanti bang, jadi ngobrol-ngobrol cari info. "
Rama mengangguk mengerti.
"Besok, mama papa pulang sore. Kamu bisa jemput nggak khawatir aku nggak keburu."
"Oke, nanti aku yang jemput. Nanti mau mampir juga ke sana."
"Aya mana? "
Rama mengangkat sedikit kepalanya ke arah pekarangan, menunjuk Aya yang tersenyum senang mengendarai motor barunya.
Raka ikut menatap Aya, ia tertegun.
'Senyuman itu, ' batinnya. Tak sadar Raka ikut tersenyum dan Rama melihat tatapan Raka yang begitu hangat.
'Apa Raka penggemar rahasia Aya?' batin Rama.
Dering handphone Raka membuyarkan renungan mereka.
"Aku berangkat bang."
Rama mengangguk. Raka menuju pajero yang terparkir di samping rumah sambil menjawab telpon.
"Alhamdulillah.. bagus bang. Jadi semangat ke kantor besok, " ujar Aya sambil memarkir motornya kembali ke teras.
"Harus dong, biar abang senang pemberiannya bermanfaat."
Aya terkekeh.
TIIN
Pajero melintas depan teras, Rama hanya mengangguk.
"Itu Raka? " tanya Aya kemudian.
"Iya, mau ketemuan sama sohibnya."
"Robi ya? " tanya Aya lagi.
"Kamu kok tahu. " Rama menatap Aya lekat, antara curiga dan kesal.
"Tahu lah, kan Robi juga teman Aya. Mereka memang selalu berdua kemana-mana."
Rama hanya diam. Aya berlalu mengambil tasnya di motor, lalu melihat ekspresi Rama yang tiba-tiba kesal.
Aya menggandeng lengannya, lalu..
CUP
Aya mengecup pipi Rama. " Ini bonusnya, " ujarnya terkekeh.
Rama sontak menatap Aya, "Cuma itu? " tanya Rama.
Aya buru-buru kabur ke dalam rumah. Rama bergegas mengejarnya.
***
"Aaah.. capeknya, " keluh Amel sambil melempar belanjaannya ke atas sofa hotel.
BRUG
Ia melemparkan diri ke atas kasur.
"Bener-bener deh kamu, Mel. Belanja nggak kira-kira, " omel Alya.
"Haaah...penghibur ku cuma ini Al."
"Kamu mesti hemat, kalau beneran Rama nggak kasih bulanan lagi gimana? "
"Apa aku pulang lebih awal aja ya, ngerusuhin resepsinya? Haduh mana udah ke beli tiket hari senin lagi."
"Eh Mel, gimana kalau kamu hubungi Rama. Ini kesempatan bagus buat kamu ancam dia, biar dia kirim lagi uang buatmu? sekaligus kamu pastikan bulananmu bakal tetap lancar."
"maksudmu gimana? "
Alya duduk di sisi ranjang menjelaskan rencananya.
"Tapi dia udah blokir nomerku. Gimana aku bisa ancam dia?"
Alya mengambil ponselnya. "Dia nggak tahu nomerku kan? " tanya Alya
Amel mengangguk.
"Mana nomernya? biar aku yang bicara. Kamu pura-pura ngamuk ya. nangis kenceng."
Amel menyerahkan ponselnya yang sudah menampilkan nomer Rama di layar.
"Oke, terhubung berdoa saja dia menjawabnya. kalau aku kasih kode, kamu pura-pura nangis ya."
"Halo, "
"Halo, ini siapa? " tanya Rama di balik telpon
"Aku Alya, Jangan tutup telponnya. Aku mau bicara soal Amel. "
Alya memberi kode, suara tangisan Amel mendayu seperti orang yang putus asa.
"Kamu dengar?? Alya tahu kamu mau ngadain resepsi dengan cewek kampungan mu itu. Dia menangis terus dari tadi. Kamu tega ya, Rama."
"Huuu.. ramaaa kenapa kamu tinggalin aku, " ujar Amel membuat suaranya begitu memelas.
Rama terdiam di balik telpon, ia mendengar jelas tangisan sedih Amel.
"Alya, jelas-jelas dia juga tidur dengan laki-laki lain di sana. Untuk apa aku peduli dengannya."
"Rama, dia tak benar-benar tidur dengan laki-laki itu. kamu pasti dipermainkan sama orang yang mengirim foto itu. Kenapa kamu percaya begitu saja? disini kami cuma liburan, dan ke club untuk minum saja. nggak melakukan yang lain."
"Rama, Amel nekat mau mengacaukan acara resepsimu. Aku sudah berusaha menahannya. Dia sudah beli tiket kepulangannya jumat besok. Jangan salahkan aku kalau acaramu berantakan dan jadi headline di media."
"Ramaaa.. aku hancurkan acaramu awas saja.. jangan halangi aku Alya.. aku benci kamu ramaa."
Rama terdiam mendengar teriakan memilukan dari Amel. Ia akhirnya menyerah.
"Oke-oke, aku minta bantuanmu. Aku kirim tambahan uang untuk kalian, tolong tahan dia sampai acara ku selesai, bujuk dia atau ajak dia ke kota lain. Nanti kami bicara setelah acara ku selesai. "
Alya menyeringai, 'Kena kamu Rama. '
"Oke, aku kirim no. rekening ku nanti aku ajak dia berkeliling ke tempat lain. Kalau kamu tak tepati janjimu, jangan harap aku bantu."
Alya mematikan telponnya dengan senyuman puas.
"Yes, berhasil Mel. Hahahahaha. "
Alya masuk ke aplikasi pesan lalu mengirim no. rekeningnya.
"Pintar juga otakmu Al. Kok kamu tahu Rama nggak tegaan? "
"Ya begitulah kalau mau kuasai hatinya, harus tau kelemahannya dimana."
Suara notif m-banking masuk ke ponsel Alya.
"Gilaaa.. coba kamu lihat Mel, Lima puluh juta. Nggak habis-habis duitnya Rama. Kita aman Mel. "
Amel berseru ikut bahagia, tak menyangka ide Alya bisa sesukses itu.
***
"Hai, Bro.. Wah makin gagah aja dari brunei, " sapa Robi sambil berdiri memburu Raka memeluknya.
"Bisa aja kamu, bi. Apa kabar? "
"Ya beginilah, pegawai swasta. Yang penting ada buat ngopi, rokok sama kuota. Aman hidup, " sahut Robi santai sambil terkekeh.
"Setidaknya kamu sudah kerja lebih cepat dari aku. Aku malah baru mau magang."
"Tapi modal S2 mu itu bakal ngamankan posisimu di perusahaan. Aku cuma pekerja kasar tamatan SMA. Nggak bisa ngoyo."
"Betul juga sih. Ngomong-ngomong kamu ingat Aya nggak? "
"Cahaya? ingatlah.. kenapa? jangan bilang kamu masih suka sama dia? Kamu nggak nyari di Brunei sana? "
" Aku nggak ada waktu cari cewek disana Rob, apalagi beda culture bakal sering ribut nanti. Aya.. sudah jadi istri abangku? "
"APA??! Jadi kakak iparmu? "
Raka mengangguk lesu, Robi menepuk keningnya tak percaya.