NovelToon NovelToon
Istri Di Atas Kertas

Istri Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Dark Romance
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira ohyver

​"Menikahi ku atau melihat ayahmu membusuk di penjara?"

Elena tidak punya pilihan. Demi melunasi utang yang dijebak oleh Arkan—pria masa lalunya yang kini menjadi penguasa angkuh—ia setuju menjadi istri di atas kertas. Namun, di balik kemewahan rumah Arkan, Elena bukanlah nyonya, melainkan budak. Ia dijambak, diludahi, bahkan dipaksa melayani selingkuhan suaminya sendiri.
​Setiap hari adalah neraka, hingga Arkan melampaui batas dengan menyentuh satu-satunya alasan Elena untuk hidup.

​Di saat Elena hampir menyerah, sosok pria dari masa lalu yang menghilang selama lima tahun kembali. Ia bukan lagi pemuda desa yang miskin, melainkan putra mahkota dinasti mafia yang haus darah.

​"Siapa pun yang menyentuh milikku, hanya punya satu tempat: liang lahat."

​Pembalasan dendam dimulai. Ketika Sang Mafia menjemput ratunya, istana emas Arkan akan berubah menjadi abu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira ohyver, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Babu dalam Gaun Mewah

​Cahaya matahari pagi yang masuk menembus jendela kaca raksasa di kamar itu tidak membawa kehangatan bagi Elena.

Sebaliknya, sinar itu terasa seperti alarm yang menyeretnya kembali ke kenyataan pahit setelah hanya tertidur selama dua jam di atas sofa sempit yang membuat seluruh badannya kaku dan pegal.

Elena terbangun dengan posisi meringkuk, mendekap foto ayahnya erat-erat di dada. Elena menoleh ke arah ranjang besar di tengah ruangan; Arkan sudah tidak ada di sana, hanya menyisakan sprei sutra yang berantakan, saksi bisu atas malam yang ingin Elena hapus selamanya dari ingatannya.

​Dengan langkah gontai dan sendi-sendi yang terasa nyeri, Elena bangkit. Dia baru saja hendak melangkah menuju kamar mandi ketika pintu kamar terbuka dengan kasar tanpa ketukan.

​Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang terlalu mencolok untuk ukuran pagi hari masuk ke dalam kamar. Dia adalah Mama Arkan, Ibu Widya. Perhiasan emas melingkar di leher dan pergelangan tangannya, berkilau seolah ingin menunjukkan pada dunia bahwa kemiskinan mereka di desa dulu telah terkubur dalam-dalam di bawah tumpukan uang.

​"Masih tidur?" suara Widya melengking, penuh dengan nada jijik. Menatap Elena yang masih mengenakan baju tidur satin pemberian pelayan semalam, yang ukurannya sedikit kebesaran di tubuh kurusnya.

"Kamu pikir ini di desa, di rumahmu sendiri, di mana kamu bisa bangun siang setelah matahari tinggi? Di rumah ini, semua orang bekerja. Termasuk kamu."

​Elena menunduk dalam, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sembab. "Maaf, Bu... saya baru saja bangun."

​"Jangan panggil aku Ibu! Kamu tidak pantas," bentak Widya sambil berjalan mengitari kamar, seolah memeriksa apakah ada debu yang menempel di furnitur mahal anaknya.

"Panggil aku Nyonya Besar, seperti pelayan lainnya. Karena di mata saya, kamu tidak lebih dari itu. Kamu hanya 'pembayar utang' yang beruntung bisa menginjakkan kaki di lantai marmer ini."

​Widya berhenti tepat di depan Elena, menatapnya dengan pandangan meremehkan.

"Dengar ya, Elena. Arkan mungkin menikahimu karena obsesi gilanya, tapi jangan harap aku akan menerimamu sebagai menantu. Bagiku, kamu tetaplah anak dari pria tua yang tidak tahu diri yang berutang pada keluarga kami. Jadi, lepaskan wajah melasmu itu. Cepat mandi, pakai pakaian yang pantas, dan turun ke dapur. Bi Inah akan memberitahu kamu apa yang harus dikerjakan."

​"Tapi... bukannya di sini sudah ada pelayan?" tanya Elena lirih, suaranya hampir hilang.

​Widya tertawa sinis. "Pelayan di sini digaji untuk bekerja. Sedangkan kamu? Kamu di sini untuk menebus dosa keluargamu. Apa kamu pikir makan dan tinggal di sini gratis? Sekarang cepat!"

​Setelah Widya keluar dengan bantingan pintu yang keras, Elena terduduk di tepi sofa. Elena merasa harga dirinya telah dipreteli habis-habis bahkan sebelum sarapan dimulai.

Dengan sisa tenaga yang ada, Elena membersihkan diri dan mengenakan pakaian sederhana yang ia temukan di lemari—sebuah gamis polos yang jauh dari kesan mewah.

​Saat Elena turun ke lantai bawah, Elena mendapati rumah itu sudah sibuk. Aroma kopi mahal dan roti panggang memenuhi udara, namun perut Elena terasa mual, tidak sanggup menerima makanan apa pun.

Elena menuju dapur dan bertemu dengan Bi Inah, pelayan senior yang menatapnya dengan tatapan antara kasihan dan takut.

​"Nona... eh, Nyonya Elena?" sapa Bi Inah ragu-ragu.

​"Panggil Elena saja, Bi," jawabnya dengan senyum tipis yang dipaksakan.

​"Nyonya Besar sudah memesan... katanya Nyonya harus membersihkan seluruh ruang makan dan teras belakang sebelum Tuan Arkan sarapan. Dan setelah itu, Nyonya harus membantu saya mencuci semua set kain meja dengan tangan. Katanya, mesin cuci tidak boleh digunakan untuk kain-kain itu."

​Elena tahu itu adalah cara Widya untuk menyiksanya secara fisik. Mencuci kain meja sepanjang sepuluh meter dengan tangan? Itu pekerjaan yang tidak masuk akal di rumah semodern ini.

Tapi, Elena tidak punya pilihan. Bayangan ayahnya yang sakit-sakitan kembali muncul di kepalanya. Dia tidak boleh membangkang.

​Elena mulai bekerja. Elena berlutut di lantai ruang makan, mengelap kaki-kaki meja kayu jati yang berat. Pelayan lain berlalu-lalang, beberapa menatapnya dengan iba, namun sebagian lagi—yang ingin mengambil hati Ibu Widya—justru berbisik-bisik sambil menertawakannya.

​"Lihat tuh, istri bos tapi kerjanya kayak kita," bisik salah satu pelayan muda dengan suara yang sengaja dikeraskan. "Lagian, siapa suruh miskin tapi sok kecantikan menolak Tuan Arkan dulu."

​Elena memejamkan mata, membiarkan kain lap di tangannya bergerak maju mundur dengan ritme yang stabil. Mencoba menulikan telinganya.

Di dalam kepalanya, Elena mencoba memutar kembali memori saat Eros mengajarinya memetik bunga liar di pinggir sungai. Membayangkan aroma tubuh Eros yang seperti sabun batangan murah dan wangi matahari. Kenangan itu adalah satu-satunya benteng yang melindunginya agar tidak benar-benar hancur saat itu juga.

​Tepat pukul delapan, Arkan turun. Dia terlihat sangat tampan dan berwibawa dengan setelan jas kerja berwarna gelap. Arkan berhenti di ambang pintu ruang makan, memperhatikan istrinya yang sedang berjongkok di bawah meja, mengelap sisa debu yang mungkin bahkan tidak ada.

Arkan berjalan mendekat, ujung sepatu kulitnya yang mengkilap berhenti tepat di depan tangan Elena yang sedang memegang lap basah.

​"Pekerjaan yang bagus, Elena," ucap Arkan pelan, suaranya terdengar sangat tenang, tapi penuh dengan racun.

"Bagaimana rasanya? Apakah lantai rumahku lebih nyaman daripada tanah di desamu?"

​Elena mendongak, menatap Arkan dengan mata yang menunjukkan kekosongan. "Sudah selesai, Tuan."

​Arkan sedikit terkejut mendengar panggilan 'Tuan', tapi sedetik kemudian dia tersenyum puas.

Dia sengaja menjatuhkan sedikit remah roti dari tangannya ke lantai yang baru saja dibersihkan Elena. "Masih kotor. Bersihkan lagi. Sampai benar-benar mengkilap."

​Elena tidak membantah. Dia kembali menunduk dan mengelap remah roti itu. Di atasnya, Arkan tertawa rendah sebelum duduk di kursi kebesarannya.

​"Oya, Elena. Siang nanti kolega bisnisku akan datang untuk makan siang. Aku ingin kamu yang memasak, tapi jangan berani-berani memunculkan wajahmu di depan mereka. Kamu masak di dapur, biarkan pelayan yang mengantar. Aku tidak mau mereka tahu kalau istriku terlihat seperti gelandangan pagi ini."

​Elena mengangguk pelan. Setiap kata yang keluar dari mulut Arkan adalah pukulan yang tidak meninggalkan lebam, tapi menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.

Elena terus bekerja, bahkan ketika tangannya mulai perih karena terkena cairan pembersih lantai yang keras. Dia terus saja bekerja, bahkan ketika dia melihat Arkan bermanja-manja dengan ibunya di meja makan, memamerkan kebahagiaan yang dibangun di atas penderitaannya.

...----------------...

​Di sudut dapur, sambil merendam kain meja di dalam ember besar, Elena menatap tangannya yang mulai memerah dan kasar. Elena teringat janji Eros lima tahun lalu di bawah pohon beringin tua. 'Tunggu aku, El. Aku akan pulang dengan sesuatu yang membuatmu tidak perlu lagi bekerja keras di ladang.'

​"Kamu bohong, Eros," bisik Elena lirih, air matanya jatuh satu per satu ke dalam air sabun yang berbusa. "Kamu nggak pernah datang. Dan sekarang, ladang yang aku impikan sudah berubah jadi neraka ini."

​Elena tidak tahu bahwa di belahan kota yang lain, di dalam sebuah gedung tinggi dengan pengamanan ketat, seorang pria dengan tato hitam di punggungnya sedang menatap sebuah foto lama yang sudah retak kacanya. Pria itu tidak tersenyum. Matanya dingin, sedingin es, namun ada api dendam yang menyala di dalamnya.

​"Sebentar lagi, Elena. Sebentar lagi," gumam pria itu sambil meremas surat kabar yang memajang foto pernikahan Arkan dan Elena.

​Hari pertama Elena di rumah Arkan belum berakhir. Dan beban yang ia pikul di pundaknya baru saja dimulai, saat suara bel rumah berbunyi, menandakan tamu pertama—yang juga akan menjadi sumber penderitaan barunya—telah tiba.

1
𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆ᴍᴜᴍᴜ
cetirinya menarik
gas up yng bnyk ka semoga makin sukses dikarya" nya aamiin 🤲
🥑⃟🧡⃟ᴡᴀͫɴᷲɢ ʏɪ ʟᴇɪ⁸
caeritanyabgus ka dan keren
smngat up kaka🤗
🧡⃟𝚉𝚑𝚘𝚞𝚔𝚎ͫ𝚌ᷴ𝚑ͫ𝚞ᷴ𝚗⁷
cerita bagus ka, penulisan juga rapi dan enak dipahami jdi gmpang kebawa isi novel
smngat up kaka🤗🤗
🧡𑇙ᴄнᷟєᷲηɢ тιαη χιαηɢ⁶
cerita luar biasa bagus ka
semangat cerita smpai pnjang dan semangat update juga kaka
novel kaka good
🧡⃟ᴢʜᴇͫɴᷲɢ ʜᴜɪ³𖤍ᴹᴿ᭄
bagus karyanya ,sukses selalu untuk kaka
semoga makin sukese disemua karya" nya
ceritanya bagus kak
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻᴅͫᴏᷰᴜͫʙᷰᴇʟˢ🧡
ceritanya bagus, penulisan juga rapih
dan mudah dipahami
semangat kaka untuk update iya
❤️⃟Wᵃfᴄͫᴇᷰɢͫɪᷰʟ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ☘𝓡𝓳
semoga Elena bisa selamat dari dendam msa lali wkwkwk
🍁🧡⃟ᴍᴜᷟғᷰᴀᷟɴᷴᴅʏ❣️ѕ⍣⃝✰
aku mampir kak smeoga makin sukses skedepannya
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dan orang2 yg akan menghancurkan Eros bisa dikalahkan sama Eros .
Eve_Lyn: hehehe...nyaman bacanya bunda? baca novel aku yang judulnya gara2 biji kedondong aku menikahi tapir dong bund...itu komedi rumah tangga,,habis baca istri di atas kertas meluncur kstu sbgai penawar nya bund.hihihi
total 1 replies
Ma Em
Semoga Elena dan Eros selamat dari orang2 yg akan berbuat jahat pada Eros .
partini
penasaran lanjut Thor
Arin
Arkan ini sakit jiwa. Psikopat sebenarnya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjut thor
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ni orang ya.. pengen ku lempar pakai kayu tuh mulut rasanya
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
ku tampol juga ya mulutmu arkan
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷❀ ⃟⃟ˢᵏ
sabar ya elena ngadepin arkan
Ma Em
Mampir Thor , tapi sepertinya ceritanya membuat hati sakit dan deg2 an dgn nasib Elena , semoga Elena bisa menghadapi cobaan dgn sabar tapi jgn diam Elena hrs bisa melawan .
Eve_Lyn: terimakasih Bunda...iya bund..alurnya bakalan berkembang kok..tapi aku bakalan bawa pembaca ngilu sama penderitaan elena dulu hehehe...sekali lagi makasih yaa bund..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!