Rumah boneka yang selalu dimainkan oleh gadis kecil bernama Mariana merupakan malapetaka bagi sang sepupu, Lucas Nova dan sang adik, Keane Nova.
Kejadian itu dimulai saat keduanya diminta oleh paman dan bibi mereka untuk menginap selama liburan sekolah dan menemani sang gadis kecil bermain.
Liburan untuk menemani Mariana berubah menjadi bencana karena teror dari rumah boneka kecil dan makhluk halus yang mencoba membunuh mereka.
Apakah liburan itu akan menjadi hari kematian ketiganya yang harus terjebak dengan teror dan kutukan dari rumah boneka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Rumah Boneka bag. 1
"Keane?"
Lucas terus memanggil nama sang adik. Dia tidak mendengar jawaban dari mulut Keane namun terus memanggilnya.
"Keane? Jangan bercanda."
Wajahnya mulai sedikit pucat. Tangan Lucas berubah dingin dan dia mulai terlihat seperti akan menangis.
"Keane!!"
"Be...risik sekali, Lucas..."
"...!!" Lucas terkejut mendengar sang adik menjawabnya, "Keane?"
"Apa?"
"Kamu...baik-baik saja..." wajah Lucas terlihat sangat syok. Bersamaan dengan air matanya, dia tampak takut dan tangannya gemetar saat hendak menyentuh pipi sang adik.
Keane membuka matanya pelan dan melihat sang kakak menangis. Dengan memasang wajah tersenyum, dia menggoda sang kakak.
"Jahat sekali. Kau...mengira adikmu ini mati ya?"
"Itu...tidak seperti itu..." Lucas berusaha berdalih.
"Bohong. Aku ini kuat. Hanya...kehilangan darah sedikit tidak akan membuatku mati. Percayalah."
Lucas perlahan memeluk sang adik dan menangis tanpa suara. Keane berusaha bergerak dan memeluk sang kakak, "Aku hanya lelah. Hanya ingin...tidur sebentar. Sekarang justru tidak bisa tidur. Akan sangat aneh kalau sampai...kau berpikiran yang tidak-tidak dalam kondisi aneh seperti ini."
"Maafkan aku..."
"Tidak apa-apa. Biarkan aku bangun dulu."
Lucas membantu sang adik untuk bangun. Perlahan dia kembali mengobati luka Keane dan Keane berusaha menahan rasa sakitnya.
"Khh!"
"Tahan sedikit..."
"Iya."
Setelah sudah hampir selesai, Keane bertanya pada Lucas.
"Lu, aku ingin bertanya. Bagaimana kau bisa tau aku ada di sekitar tempat ini?"
"..." tangan Lucas terhenti sejenak saat mendengar Keane bertanya. Setelah itu dia melanjutkan sentuhan terakhirnya dan begitu selesai mengobati sang adik, Lucas menceritakan semua yang dialami.
"Tidak lama setelah kamu diseret pergi, Paman Edwin mengejarmu bersama denganku namun kami terpencar."
"Lalu dimana pak tua itu?" tanya Keane.
Lucas hanya menggelengkan kepalanya, "Aku sempat terpencar dan bertemu lagi dengannya. Entah kenapa perasaanku tidak enak dan aku memutuskan untuk mencari rumah boneka milik Mariana. Saat aku berhasil sampai di ruang tamu, aku melihat boneka yang ada di dalam rumah boneka itu menunjukkan lokasi kita yang sebenarnya dan..."
"Dan apa?"
"Paman Edwin yang ada bersamaku setelah dia mencarimu lebih dulu adalah makhluk mengerikan yang nyaris membunuhku."
"Apa?!" Keane menggerakkan tubuhnya secara tiba-tiba dan itu membuat lukanya terbuka kembali, "Ukh!" ringisnya.
"Keane! Jangan bergerak! Aku sudah berusaha menutup lukamu sebaik mungkin."
"Tidak tidak, lupakan itu. Tadi kau bilang kalau pak tua itu adalah makhluk sialan yang mencoba membunuhmu, kan?"
"Begitulah."
"Kejadiannya sama denganku! Aku juga bertemu denganmu dan ternyata kau yang aku temui itu adalah makhluk sialan yang mencoba membunuhku."
"Eh?!"
Keane menceritakan semuanya. Saat dirinya tersadar di kamar mandi dengan air berwarna merah, berjalan seorang diri dan seakan diikuti, melihat tubuh kakaknya yang ternyata beraroma plastik sehingga dia menyerangnya. Semua itu membuat Lucas pucat.
"Bagaimana bisa terjadi? Aku bahkan tidak bisa melihatmu beberapa waktu lalu..." Lucas semakin syok dan pucat.
"Aku tidak tau dan aku tidak mau tau. Sekarang, menemukan Mariana kecil kita, menemukan pak tua itu dan keluar dari sini untuk meminta bantuan adalah hal yang harus dilakukan. Dimana rumah boneka itu? Kita harus mencari yang lain."
"Rumah boneka itu ada di–...eh?"
"Ada apa?"
Lucas pucat dan mencari rumah boneka itu, "Aku tidak...menemukannya di sini. Bagaimana bisa?"
"Apa?!"
**
Di tempat lain, seseorang atau mungkin sesuatu membawa rumah boneka itu. Dari tubuhnya, keluar tetesan darah dan jejak darah itu membasahi seluruh lantai yang dilaluinya.
Di lantai, terdapat sosok yang tidak sadarkan diri. Itu adalah sosok seorang gadis kecil dan di pojok ruangan yang tidak diketahui, ada sosok gadis kecil lain yang duduk sambil menangis.
"Hiks...aku mau pulang..."
"Lucas...Keane...ayah...ibu...hiks..."
Seseorang atau sesuatu yang membawa rumah boneka itu mendekati gadis kecil yang menangis. Dengan wajah mengerikan, dia meletakkan rumah boneka itu di dekatnya. Darah amisnya memang sangat menyengat dan wajah mengerikan itu sangat melekat dengannya, tapi hal itu sedikit aneh.
Terlihat tidak ingin menyakiti, tapi juga tidak tau apa tujuannya. Dia menatap Mariana dengan matanya yang melotot dengan bola mata yang mengerikan, kepalanya berputar 90 derajat dan memegang tangan Mariana yang membuat gadis kecil itu berteriak.
"Kyaaa!! Tidak!! Aku mau keluar dari sini!! Kyaaa!!"
Makhluk itu, jika dilihat dari dekat seperti anak kecil, memiliki rambut panjang sepinggang dengan kulit putih. Dia mengenakan dress yang mungkin awalnya berwarna putih atau pink sebelum dipenuhi oleh darah di seluruh tubuhnya.
Darah itu sama sekali tidak berhenti keluar dan yang dia lakukan adalah menarik tangan Mariana agar dia memegang benda yang baru dia bawa.
"Hiks...Lucas!! Keane!!" Mariana kecil yang sepertinya tidak terluka, kini hanya bisa menangis dan berteriak. Dia sangat ketakutan melihat sosok yang berada sangat dekat dengannya sekarang tetapi dia juga tidak bisa melepaskan diri dari sosok itu.
Dia menangis, sampai akhirnya dia melihat sekilas bahwa rumah boneka yang di hadapannya itu mulai sedikit berubah. Apa yang berubah?
Hal yang berubah adalah boneka di dalamnya. Boneka di dalam rumah boneka itu memperlihatkan bahwa Mariana sedang berhadapan dengan sebuah boneka gadis kecil yang manis. Dress berwarna pink yang dikenakan oleh boneka itu seperti merepresentasikan seperti apa sosoknya.
"Eh?" Mariana yang awalnya memberontak, kini mulai sedikit tenang. Makhluk yang memegangi tangannya pun menjadi sedikit tenang dan melepaskan tangan Mariana. Dia mendorong kembali rumah boneka Mariana seperti memberikannya pada gadis kecil itu.
"Apa...ini? Ini milik...Mariana?"
Makhluk itu hanya diam dan mengambil boneka-boneka kecil yang ada di dalam rumah boneka itu. Tanganya memang meneteskan darah, tapi dia tetap mengambil dan memberikannya pada gadis itu. Mariana tidak tau harus melanjutkan tangisannya karena takut atau bingung. Situasi ini sungguh di luar dugaan.
Apakah makhluk mengerikan itu adalah hantu yang mengganggu mereka atau ada hal lain di balik semua itu?
-Braaak
Tiba-tiba terdengar suara barang yang jatuh entah dari mana dan makhluk yang bersama Mariana itu tampak waspada. Dia melihat sosok lain yang terbaring di dekat tempat itu. Masih belum diketahui siapa dia namun ini mungkin sangat berbeda dari dugaan siapapun.
Mariana mungkin belum melihatnya, tapi di dalam rumah boneka yang ada di hadapannya sekarang, ada sosok mengerikan yang membawa sesuatu seperti senjata di tangannya.
Sementara itu, Lucas dan Keane masih dalam kepanikannya.
"Itu...satu-satunya petunjuk untuk menemukan Mariana. Bagaimana...bagaimana mungkin benda itu bisa hilang dalam pandanganku begitu saja?"