Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.
Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.
Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.
Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.
.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.
[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 014 : MAKAM TANPA BATU NISAN
Venesia menyambut mereka dengan wajah yang jauh dari kata romantis. Langit di atas laguna tampak seperti lebam yang membiru, sementara kabut tebal merayap di atas permukaan air yang hijau pekat dan berbau amis logam yang menusuk.
Di dermaga kayu yang sudah mulai lapuk, seorang pria paruh baya dengan pakaian serba hitam menanti dengan tubuh yang gemetar. Namanya Enzo.
Adio dengan sigap membuka kursi roda lipat yang ia bawa jauh-jauh dari Indonesia.
"Duduk, Hel. Tolong, sekali ini saja jangan membantah. Kamu baru saja melewati maut," perintah Adio dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
Rachel menatap kursi roda itu dengan pandangan dingin. Ia melangkah turun dari perahu motor, menapakkan kakinya pada dermaga kayu yang bergoyang pelan. Langkahnya memang tertatih, namun ia berdiri tegak.
"Aku punya kaki, Adio. Aku tidak mau masuk ke sana sebagai pasien yang pasrah," balas Rachel datar.
"Tapi sarafmu belum pulih total, Rachel! Jangan egois!" seru Adio frustrasi.
"Aku harus merasakan getaran tanah itu dengan kakiku sendiri agar aku tahu apa yang kita hadapi," sahut Rachel sambil menepis tangan Adio.
Enzo mendekat dengan wajah pucat pasi.
"Nona Rachel? Saya Enzo. Terima kasih sudah datang. Saya tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi."
"Langsung saja, Enzo. Untuk apa kau memanggilku jauh-jauh ke sini?" tanya Rachel sambil menahan nyeri di perutnya.
"Teman saya, Aris, seorang fotografer dokumenter. Dia masuk ke Poveglia tiga hari yang lalu dan tidak pernah kembali," suara Enzo bergetar.
"Tapi kengeriannya tidak berhenti di situ. Di saat yang sama Aris hilang, adiknya di Indonesia, Niko, mulai menderita penyakit aneh. Kulitnya menghitam dan membusuk seperti korban wabah pes abad pertengahan."
"Jadi kau pikir ada hubungan ghaib antara hilangnya Aris dan kondisi adiknya?" tanya Melissa sambil mengamati Enzo dengan curiga.
"Bukan sekadar hubungan, Nona. Orang pintar di sini menyebutnya The Plague Link—Jalur Wabah. Ada entitas di Poveglia yang menggunakan Aris sebagai 'pasien nol' untuk menghisap kehidupan Niko. Jika Aris mati di pulau itu, Niko akan mati di rumah sakit. Saya mohon, putuskan jalur itu!" tangis Enzo pecah.
Rachel menatap Adio sekilas, lalu beralih ke timnya.
"Bawa kami ke pulau itu sekarang, Enzo."
Perahu motor pribadi milik Enzo membelah kabut menuju Utara Laguna. Poveglia mulai terlihat di kejauhan, sebuah daratan yang tampak seperti luka terbuka di tengah laut. Mesin perahu tiba-tiba mati total sekitar seratus meter sebelum bibir pantai.
"Mesinnya tidak mau jalan," bisik Enzo ngeri.
"Kita harus menggunakan sekoci."
Saat kaki Rachel akhirnya menapak di tanah Poveglia, ia tersentak. Tanah itu terasa empuk secara tidak alami, berwarna kelabu kusam dan terbang seperti debu halus setiap kali diinjak.
"Mbak, kok lemah e ngeri ngene? Koyok ngidak awu sisa bakaran menungso!"
(Mbak, kok tanahnya ngeri begini? Seperti menginjak abu sisa bakaran manusia!)"
Marsya bergidik ngeri, menutup hidungnya rapat-rapat.
"Memang itu kenyataannya, Marsya. Ini bukan tanah, ini abu manusia," jawab Rachel pelan.
Tiba-tiba, Rara jatuh bersila di tengah lapangan gundul. Tangannya mencengkeram tanah abu itu dengan kuat. Matanya terpejam rapat, dan seketika kesadarannya tersedot mundur ke dalam lorong waktu yang penuh darah.
Di dalam penglihatan Rara, udara mendadak menjadi panas dan pengap oleh asap pembakaran.
Ia melihat tumpukan tubuh manusia dengan bisul-bisul bernanah hitam yang membusuk dilemparkan begitu saja ke dalam lubang api raksasa.
"Tolong! Anakku masih bernapas! Demi Tuhan, jangan lemparkan dia!" seorang wanita menjerit histeris, memeluk anaknya yang mungil.
Seorang petugas bertopeng paruh burung menusukkan tongkat besi panas ke punggung wanita itu.
"Dia sudah dikutuk oleh Tuhan! Masuk ke dalam api agar jiwamu bersih!" teriak petugas itu dengan suara parau di balik topengnya.
"Mama! Sakit, Mama! Panas!" jerit anak kecil itu saat tubuhnya terlempar ke dalam bara yang menyala-nyala. Suara kulit yang melepuh dan lemak manusia yang menetes memicu kobaran api menjadi simfoni mengerikan di telinga Rara.
Lalu, penglihatan itu bergeser ke tahun 1920. Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi cahaya lilin, seorang pasien pria diikat di atas meja besi yang berkarat.
Di hadapannya, seorang dokter dengan mata gila berdiri memegang bor manual yang berlumuran darah kering.
"Tidak... kumohon... jangan kepalaku lagi..." rintih pria itu dengan air mata darah yang mengalir.
"Ketenangan hanya bisa dicapai jika jiwamu tidak lagi memiliki tempat untuk berpikir," bisik sang dokter dingin. Krak! Dokter itu memahat tengkorak sang pasien tanpa bius. Suara bor yang menembus tulang tengkorak dan muncratan darah ke dinding membuat Rara ingin berteriak, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
Rara membuka matanya dengan sentakan hebat, tubuhnya mengejang hebat.
"Di sana..." suaranya parau, menunjuk ke arah sayap bangunan bawah tanah.
"Ruang isolasi nomor empat. Aris ada di sana, diikat di atas meja bedah itu. Cepat! Aku sudah melihat jalannya!"
Dengan instruksi Rara yang sangat detail, mereka bergerak maju. Namun, baru setengah jalan melintasi lorong yang dipenuhi lumut hitam yang lembap, sebuah tekanan ghaib yang sangat besar menghantam mereka.
Uhuk! Uhuk!
Rara tiba-tiba jatuh bersimpuh. Saat ia terbatuk, cairan merah kental menyembur dari mulutnya, menodai debu abu-abu di lantai. Satu per satu rekan Rachel—Marsya, Melissa, bahkan Pram dan Teguh—tumbang secara bersamaan, memuntahkan darah yang sama.
"Sialan kau!" geram Rachel, matanya berkilat penuh amarah menatap ke arah bayangan hitam di ujung lorong.
Adio meraih pergelangan tangan Rachel dengan sisa tenaganya.
"Hel... jangan... kita harus mundur..."
"Lepaskan, Adio!" Rachel menyentak tangannya. Sumpah demi apapun, jika menyangkut nyawa manusia yang kesusahan. Rachel tidak akan berhenti apapun rintangannya.
"Jika aku tidak ke sana sekarang, setan gila itu akan memakan korban lagi! Lihat teman-teman kita! Hanya aku yang masih berdiri! Aku yang akan ke sana!"
"Tapi luka operasimu bisa terbuka, Rachel!" teriak Adio parau.
"Biarkan saja terbuka! Lebih baik perutku robek daripada melihat Aris mati dan Niko membusuk! Aku yang masih berdiri! Aku yang akan ke sana!" tegas Rachel.
Rachel melangkah mantap, menyeret kakinya yang sakit menuju pintu maut itu. Tangannya menggenggam jimat yang kini berpendar keemasan terang.
Di dimensi yang berbeda, Nyai Ratu, Simbah Gautama, dan Abah Rachel tersenyum bangga menyaksikan keberanian itu.
"Inilah kenapa Rachel sangat istimewa," ujar Nyai Ratu dengan suara agung.
"Aku menyukainya sejak dia mengembuskan napas pertamanya. Dia maju tanpa ampun, bahkan saat raganya hancur."
Abah Rachel mengangguk pelan, tatapannya penuh kasih.
"Dia anakku. Dan dia tidak akan membiarkan siapa pun mencurangi kehidupan di depannya."
Rachel tidak mendengar itu, namun ia merasa sebuah kekuatan hangat mengalir ke jantungnya. Dengan satu sentakan keras, ia membuka pintu besi yang dingin itu.
Begitu pintu terbuka, bau busuk yang luar biasa pekat—campuran antara daging busuk, alkohol medis yang sudah kedaluwarsa, dan karat—langsung menyerang indra penciuman Rachel. Ruang isolasi nomor empat itu lebih mirip ruang jagal daripada ruang perawatan.
Dindingnya yang lembap ditutupi oleh ubin putih yang sudah pecah dan berubah warna menjadi kuning kecokelatan akibat noda darah yang telah mengering selama puluhan tahun.
Di tengah ruangan, sebuah meja bedah besi berdiri dengan kaki-kaki yang tertanam di lantai beton yang retak.
Aris terbaring di sana, terikat kuat oleh sabuk kulit yang mengoyak pergelangan tangannya. Di sekeliling meja itu, peralatan medis kuno berserakan dalam kondisi yang mengerikan; bor tulang manual yang berkarat, pahat-pahat bedah yang ujungnya masih menyisakan fragmen tulang manusia, dan baskom logam berisi cairan hitam yang kental dan bergelembung.
Penerangan di ruangan itu hanya berasal dari satu lampu gantung tua yang berayun pelan, menciptakan bayangan yang menari-nari secara gila di dinding.
Di pojok ruangan, deretan toples kaca berisi organ-organ manusia yang diawetkan dalam cairan keruh berjejer di rak kayu yang lapuk, seolah-olah mata dari organ-organ itu sedang mengawasi setiap gerak-gerik Rachel.
Di sana, di samping meja bedah, sosok Dokter Wabah itu duduk tegak. Paruh burung pada topengnya tampak berkilat tertimpa cahaya lampu yang redup.
Ia seakan sedang mengasah sebuah pisau bedah panjang di atas batu asah, menciptakan suara sring... sring... yang memekakkan telinga di tengah kesunyian yang mencekam.
"Sekarang giliranku, Dokter palsu," bisik Rachel sambil melangkah masuk ke dalam sarang maut tersebut.