Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Momen tak terduga
Jam istirahat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba, Anindia dan teman-temannya memutuskan untuk pergi ke kantin. Disaat ketiga temannya sudah berjalan lebih dulu, Anindia tiba-tiba saja menoleh ke arah Keanu dengan ekspresi khawatir. Keanu yang memahami langsung mengangguk kecil bahkan hampir tidak terlihat, seolah meyakinkan Anindia bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Melihat anggukan itu, Anindia pun tersenyum sedikit. Ia merasa bahwa Keanu sepertinya bisa menjaga rahasia. Tanpa pikir panjang, akhirnya ia pun melangkahkan kakinya menuju ke kantin bersama teman-temannya.
"Kalian mau makan apa hari ini?" Tanya Anindia kepada ketiganya.
Dara, Yudhi dan Edo pun langsung menyebutkan menu yang ingin mereka beli hari ini. Anindia bersikap biasa saja di depan teman-temannya, padahal sebenarnya ia sedang menyembunyikan satu rahasia besar.
Setibanya di kantin, Anindia dan ketiga temannya langsung memesan makanan dan minuman lalu mereka duduk bersama di meja kantin. Perbedaan kepribadian bukan menjadi penghalang untuk persahabatan mereka, namun justru sebaliknya.
Anindia yang ramah membuat suasana di antara mereka terasa santai. Dara yang blak-blakan, Yudhi yang humoris, serta Edo yang cool membuat persahabatan mereka semakin indah untuk dipandang. Sehingga tidak heran jika banyak murid lain yang ingin bergabung dalam circle mereka.
"Lo kayak gak ada beban hidup Nindi, mulus aja gue liat kayak jalan tol, " ujar Yudhi sambil menyandarkan kepalanya di atas meja kantin.
Anindia hanya tersenyum menanggapinya, Yudhi tidak tahu saja sebesar apa beban yang kini dipikul oleh Anindia. Ia sudah menikah dan tentu saja beban yang akan dijalaninya bukan seperti remaja pada umumnya.
"Semua itu tergantung bagaimana cara kita menanggapinya, Yudhi." Ujar Anindia pada akhirnya.
"Ya karena Nindi gak kayak lo, Yudhi. Nindi kalem, lo lebay!" Ujar Dara diiringi dengan tawa.
"Yee, gue mulu yang di serang," ujar Yudhi sembari melontarkan tatapan tajam kepada Dara.
Dara langsung meledak dalam tawa, merasa berhasil membuat Yudhi kesal. Sementara Anindia dan Edo hanya menggelengkan kepalanya, mereka sudah sangat terbiasa dengan situasi seperti ini.
"Gelut mulu, ntar jodoh," ujar Edo yang sedari tadi diam.
"Amit-amit!" Ujar Dara yang langsung menghentikan tawanya.
"Ogah!" Ujar Yudhi bersamaan dengan Dara.
Mendengar kekompakan keduanya, Anindia langsung tertawa kecil. Ia merasa lucu dengan tingkah teman-temannya. Tapi ada satu hal juga yang ditakutkan Anindia, ia takut akan kehilangan momen bersama para sahabatnya jika mereka mengetahui fakta bahwa Anindia sudah menikah.
Anindia hanya berharap bahwa pernikahannya dengan Keanu bisa dirahasiakan, setidaknya sampai hari kelulusan. Anindia belum siap jika harus kehilangan sekolah dan teman-temannya, karena ia tidak ingin dibilang murahan, meskipun Anindia tidaklah melakukannya.
Saat itu, pesanan mereka pun tiba. Anindia dan teman-temannya langsung menikmati makanan dan minuman mereka, diiringi dengan perbincangan yang membuat suasana terasa lebih ringan.
Sementara itu di waktu yang bersamaan, setelah Anindia menghilang dari pandangan, Keanu pun langsung beranjak dari kelas menuju ke kelas dua orang temannya, Niko dan Ariga. Mereka berdua berada di kelas XII IPA-4, yang mengharuskan Keanu untuk menaiki tangga karena kelas mereka berada di lantai tiga.
Keanu berjalan dengan langkah santainya, dengan kedua tangan yang ia sisipkan di balik saku celana. Sepanjang perjalanan menuju kelas temannya, pandangan murid-murid dari kelas lain langsung tertuju pada Keanu. Mereka merasa heran sekaligus takjub dengan perubahan Keanu.
"Cih, diliatin mulu. Emang aneh gue kayak gini?" Gumam Keanu pada dirinya sendiri.
Seakan merasa risih ditatap seperti itu oleh murid-murid lain, Keanu pun mempercepat langkahnya menuju ke kelas Niko dan Ariga. Langkahnya yang sebelumnya terlihat santai, kini justru terlihat seperti tergesa-gesa.
Tak berapa lama, tibalah Keanu di kelas temannya itu. Ia pun langsung masuk dan menghampiri Niko dan Ariga yang sedang duduk santai di atas bangkunya.
"Bro," sapa Keanu setelah berhenti tepat di dekat kedua temannya.
Niko dan Ariga langsung mengernyitkan dahi ketika melihat penampilan Keanu yang sekarang terkesan rapi, tidak seperti sebelumnya yang sangat berantakan. Bahkan keduanya memperhatikan Keanu dari atas ke bawah, seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Wah, ketua kita beneran tobat?" Ujar Niko yang akhirnya tertawa.
"Gue heran sumpah, apa yang buat lo berubah 360 derajat kayak gini? Kayak bukan Keanu yang gue kenal," ujar Ariga sembari menggelengkan kepalanya.
Keanu terdiam sejenak, ia tidak mungkin mengatakan bahwa ia berubah karena Anindia. Keanu pun memikirkan hal lain yang lebih masuk akal, berharap teman-temannya menerima alasannya.
"Bentar lagi udah lulus, gue juga rasa udah waktunya untuk berubah. Emang salah?" Ujar Keanu dengan nada dinginnya.
"Ya gak salah sih, cuma heran aja. Apa mungkin ada gadis yang merubah lo, bro?" Ujar Ariga sembari menaik-naikkan alisnya, berusaha menggoda sahabatnya itu.
"Nah iya, gue sepemikiran sama lo, Ga," ujar Niko menimpali.
Tebakan Ariga benar adanya, tapi Keanu tidak menunjukkan emosi apa-apa selain ekspresi wajah datarnya. Keanu justru melontarkan tatapan tajam kepada kedua temannya itu.
"Ekhem," ujar Keanu yang tiba-tiba saja berdehem, seakan ingin mengalihkan pembicaraan teman-temannya.
Niko dan Ariga hanya menanggapinya dengan tawa yang keras, seakan tidak percaya dengan reaksi Keanu yang berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.
"Gue rasa bener, ada cewek yang bikin lo berubah kayak gini," ujar Niko sembari menepuk punggung Keanu.
"Ya iya bro, lo kayak orang baru kenal cinta. Soalnya lo gak pernah sih kayak gini," ujar Ariga yang masih tertawa.
"Kayaknya lo beneran berubah, bro. Lo kayaknya mulai percaya cinta. Btw cewek mana nih yang bisa ambil hati lo?" Lanjut Niko sembari memukul-mukul meja karena tawanya.
Keanu merasa kesal ketika teman-temannya meledeknya seperti ini, seakan citra cool nya itu hilang seketika ketika tebakan keduanya tepat adanya. Keanu hanya melontarkan tatapan yang semakin tajam kepada keduanya, berusaha untuk bersikap normal meskipun jauh dari kenyataan.
"Gak, gue masih gak percaya sama yang namanya cinta. Gue cuma... Cuma berubah ya karena gue mau berubah aja," ujar Keanu dengan nada dinginnya.
"Iya-iya... Yang waras ngalah," ujar Ariga sembari menggelengkan kepalanya, membuat Keanu langsung mengumpat karena perkataan Ariga.
"Btw gue liat mobil lo di parkiran, lo gak bawa motor?" Ujar Niko mengalihkan pembicaraan.
"Motor gue di sita," ujar Keanu singkat tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Kenapa?" Ujar Niko dan Ariga serempak.
"Panjang ceritanya," jawab Keanu singkat, seakan tidak ingin menceritakannya kepada teman-temannya. "Ya udah gue balik dulu," lanjutnya sambil beranjak pergi.
Tanpa menunggu jawaban dari Niko maupun Ariga, Keanu langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruang kelas temannya itu. Keanu kembali berjalan melewati tangga tanpa membalas senyum dan sapa dari siswi-siswi yang berpapasan dengannya.
Sementara itu di meja kantin, Anindia berpamitan sejenak kepada teman-temannya karena ingin pergi ke toilet. Anindia pun langsung melangkahkan kakinya melewati koridor yang sepi, karena semua murid kebanyakan menghabiskan waktu di kantin atau di lapangan sekolah.
Saat melewati tangga yang menghubungkan langsung ke lantai dua, tiba-tiba saja Anindia berpapasan tepat dengan Keanu yang hendak menuruni anak tangga terakhir. Karena terkejut, Anindia hampir saja menabrak dada bidang suaminya itu.
Namun, refleks Keanu yang tanpa diduga, membuatnya langsung menangkap Anindia dengan satu tangannya ke belakang punggung Anindia. Untuk beberapa saat, manik mata mereka bertemu dan keduanya bisa merasakan perasaan aneh itu yang kembali menyeruak di dalam hatinya.
Cukup lama mereka bersitatap, akhirnya Keanu pun melepaskan tangannya dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Sementara Anindia merasa jantungnya kembali berdegup kencang dengan momen yang tidak diduga itu. Untungnya tidak ada yang melihat mereka, terlebih mereka pun masih berada di lingkungan sekolah saat ini.
"Hati-hati," ujar Keanu singkat sembari mengacak pucuk kepala Anindia singkat, sebelum akhirnya ia pun langsung melangkah pergi dari sana.
Degup jantungnya karena tatapan singkat itu saja belum sepenuhnya hilang di hati Anindia. Namun, tiba-tiba saja Keanu mengacak rambutnya, jelas saja membuat Anindia langsung terpaku di tempat.
Anindia menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Ia pun akhirnya melanjutkan langkahnya menuju ke arah toilet.
Keanu yang sudah berjalan menjauh dari Anindia, kini bisa merasakan keanehan pada dirinya sendiri. Ia tidak percaya bahwa ia mengacak rambut Anindia tadi. Terlebih baru kali ini ia berani seperti itu pada lawan jenis. Keanu menggelengkan kepalanya, berusaha menepis perasaan aneh yang baru saja muncul dalam dirinya itu.
Tapi, tanpa sadar Keanu menyunggingkan seutas senyum yang sangat jarang ditunjukkannya. Ia merasa bahwa ini merupakan kali pertamanya ia merasa seperti ini. Niat untuk melindungi Anindia kini semakin nyata di dalam dirinya. Rasa ingin melindungi Anindia bukanlah terasa seperti paksaan lagi, melainkan murni dari dalam hati Keanu.
Sementara itu di toilet, Anindia memandang dirinya di depan cermin setelah mencuci tangannya. Seutas senyum pun terukir di bibirnya, ia mulai merasa bahwa Keanu tidaklah sepenuhnya menyebalkan. Tapi Keanu justru memiliki sisi manis yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya.
"Keanu manis juga ya," gumam Anindia lirih pada dirinya sendiri.
Tersadar dari lamunannya, Anindia pun langsung menggelengkan kepalanya. Ia merasa sudah berpikir terlalu jauh, dan ia merasa bahwa sikap Keanu tadi hanya sebuah ketidaksengajaan saja.
Anindia pun menghela nafas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Setelahnya, ia pun langsung beranjak untuk kembali menghampiri teman-temannya di meja kantin.
Momen manis tanpa sengaja itu justru membuat keduanya salah tingkah sendiri. Mereka yang tidak pernah akur, kini tiba-tiba saja merasakan getaran aneh di dalam hati masing-masing. Tapi, apa yang akan terjadi setelah keduanya menyadari perasaannya sendiri?
^^^Bersambung...^^^