Seorang abdi negara yang berusia matang, di pertemukan dengan gadis muda yang tingkahnya mirip petasan.
~
"Okee, kalau gitu kita fix tidak ada apa-apa yaa?"
"Iya, saya fix benar-benar pacar kamu!" jelasnya lagi sambil menirukan gaya bicara gadis di depannya.
"Apa?"
"Ihh, Bapak jangan ngawur yaa!"
"Saya tidak ngawur, sudah kamu sebaiknya cepat istirahat."
"Tidak mau! Saya mau Pak Braja tarik kata-kata barusan."
"Pantang bagi saya menarik ucapan yang sudah saya katakan."
"Uhhh! Ranti over kesal, ia mendelik sambil memukul-mukul dada bidang pria tersebut. "Kalau begitu rasakan bagaimana punya pacar yang rewel dan juga merepotkan, satu lagi jangan sampai siapapun tau perihal ini, kalau tidak saya sunatt ulang burung bapak," ancamnya dengan raut ketus yang sayangnya nampak berkebalikan dan begitu konyol.
Mendengus geli, Braja mengangguk mengiyakan ucapan gadisnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kue Nastar bikin hati bergetar
"Bu," sahut Braja dengan raut lelah.
Sudah Braja duga, di balik sikap ibunya yang mengenalkannya kepada seorang perempuan pasti akhirnya akan begini. Beliau akan menuntut dan menyuruhnya segera untuk naik ke tahap yang lebih serius.
"Maya perempuan yang ideal, Mas. Dia cocok banget sama kamu."
"Iya saya tau, dia memang perempuan yang baik, tapi setidaknya beri saya waktu dulu, biarkan kami melakukan masa penjajakan dulu."
"Sampai kapan? Sebentar lagi kamu nugas dan itu pun pastinya gak sebentar. Udah kalian langsung tunangan aja, nihh ibu udah cari stelan yang bagus buat kalian," ujarnya santai seraya menunjukkan beberapa gambar.
Braja hanya meliriknya sekilas dengan tatapan malas. "Kami baru 2 hari kenal Bu, apa ya tidak terlalu buru-buru jika langsung seperti ini? Sedangkan saya pun juga tidak tahu bagaimana perasaan dia," ya meskipun Braja sudah menduga jika Maya tentu menyukai nya, terlihat sekali dari perangainya.
"Maya mau pasti, dia suka sama kamu, ibu jamin," eyelnya lagi.
Menghela nafas sabar berusaha untuk sebaik mungkin tak menyinggung ibunya. Sejenak ia terdiam sebentar menatap serius ke arahnya.
"Bisa saya minta, Ibu sekali saja tidak menjodohkan saya? Saya ingin mencari pendamping sendiri Bu,"
Indira yang semula nampak santai seketika terdiam, ia menutup majalah yang semula begitu menarik untuknya. Menoleh lamat, ia menatap rumit ke arah Braja.
Netra Ibu dan anak itu sejenak saling beradu pandang dalam hening. Indira menatap lekat sorot yang begitu mirip dengan mendiang suaminya.
"Sampai kapan? Sampai kapan Ibu harus nunggu? kamu sudah lebih dari cukup untuk berkeluarga," menarik nafas dalam," Katakan di mana salahnya Ibu mencarikan kamu jodoh," lanjutnya dengan suara yang terkesan dingin.
"Braja punya pilihan sendiri, Bu. Setidaknya kasi saya waktu sedikit lagi," mohonnya dengan raut lelah sekaligus frustasi.
Indira lantas menyerah, ia berdiri dari duduknya. "Sebelum kamu berangkat dinas wajib, bawa perempuan itu kemari."
Setelahnya Indira langsung melenggang pergi meninggalkan kamar anaknya.
Braja tercenung, ia hanya mendesah frustasi sambil meremat surainya asal. Lelah pikiran nyatanya lebih mendera dari pada penatnya fisik.
~
Ranti nampak duduk gelisah di meja makan, sesekali ia sedikit bangkit demi mengintip pintu yang tertutup rapat di atas sana, menunggu kehadiran seseorang yang sampai saat ini tak kunjung turun. Sejak dia sibuk berkutat di dalam dapur hingga lewat waktu makan malam begini, sosok yang ia tunggu tidak ada muncul tampak batang hidungnya. Entah kenapa pria itu kunjung datang.
Biasanya Pak Braja tak pernah telat dan selalu on time akan segala hal, sepengamatannya sihh ... Tapi entah kenapa malam ini Pria itu lalai tak seperti biasanya.
"Apa iya beliau masih kenyang yaa? Atau barang kali sedang sibuk? Ck, giliran di tungguin begini tidak ada muncul, tapi kalau gak di tunggu main muncul aja kaya hantu," decaknya mulai jenuh nan tidak sabar.
Tepat setelah ia menggerutu dan siap akan beranjak berdiri, sosok yang sedari tadi ia tunggu tau-tau lewat begitu saja di hadapannya.
Berjalan acuh tak sedikitpun menoleh atau sekedar melirik, sosok itu main lewat begitu saja ke arah belakang rumah. Ranti yang melihat itu lantas terbengong heran dengan mulut sedikit menganga.
"Kan ... Kan, bener katakuu, giliran gak jadi ku cari langsung nongol gitu aja."
Ia lantas segera berlari naik ke atas kamarnya dan mengambil sesuatu yang sedari tadi ia simpan rapat.
"Nahh, waktunya kamu unjuk gigi bestie." Ranti terkikik samar memperhatikan sekotak Nastar yang telah ia pindahkan ke kotak kecil berbentuk kodok.
Berlari menuruni tangga, ia berjalan mengendap-endap kala sampai di ambang pintu belakang rumah.
Seperti dejavu, sosok yang ia cari tengah duduk di kursi taman sambil merokok, bedanya kalau dulu ada kopi pait yang menemani, kalau sekarang ada neng Ranti manis yang menghampiri, Aihhh ....!
Berjalan mengendap sambil berancang-ancang ingin mengejutkan sosok yang kini tengah fokus menyesap cerutu, Ranti mendekat dan berdiri tepat di belakang sosok itu dan_
"Mau apa?"
Sekonyong-konyongnya, balik Ranti yang terjengkit kaget dengan raut tak santai.
"Ishhh ... Pak!"
Baru juga mau ngagetin, ehh malah dirinya sendiri yang kena, senjata makan tuan dong ini namanya.
Diam bergeming, tak sedikitpun Braja menghiraukan seruan Ranti di sebelahnya. Dengan gerakan lamat serta sorot menatap lurus ke depan, ia menikmati tiap sesapan dengan penuh rasa.
Merasa di acuhkan, Ranti seketika menghentak kesal dengan kening mengkerut menahan sebal.
"Pak."
"Hmmm."
"Pak!"
"Apa?" sahutnya datar.
"Kalau di panggil noleh bentaran napa sihh, aku di sini lohh bukan di situ," protesnya menunjuk dirinya sendiri dengan raut tertekuk namun terlihat lucu.
Braja lantas meletakkan cerutunya, menoleh sambil menghembuskan asap nikotin yang berpendar samar di depan wajahnya.
Dan sialann, demi apapun Ranti berani bertaruh jika Braja yang saat ini ia lihat berkali-kali lipat lebih menggoda dari biasanya.
Terpaku beberapa saat, Ranti lantas mengerjap cepat menetralkan desiran aneh, yang terasa tabu untuk dirinya.
"Kenapa diam?"
"Uhh? Ahh, enggak ini .... Uhmm ini aku ada sesuatu buat Bapak," jawabnya gugup dan menyodorkan tepak kodok yang terlihat menggelikan, saking groginya tangannya sampai gemetaran tak karuan.
"Tunggu sebentar."
"Huh?"
Braja bangkit dari duduknya dan berdiri menjulang di hadapan gadis itu, sontak Ranti mendongkak.
"Tadi kamu bilang mau bicara dengan saya, makanya sekarang saya berdiri di depan kamu," ujarnya tenang dan entah kenapa bariton suaranya yang berat serasa menggelitik di sekujur tubuhnya.
"Ohh, iya hahaha," tawanya garing. "Ini ada Nastar manis buat Pak Braja," ungkapnya kalem seiras dengan senyumnya yang manis.
Braja memperhatikan lekat wajah gadis itu. "Kamu sendiri yang buat?"
Diam, Ranti hanya nyengir lebar sebagai jawaban.
Sesuai dugaan, tentu kue itu bukanlah bikinannya sendiri, sebab Braja tau siapa pemilik asli kudapan tersebut terlebih ia tau gadis di depannya ini tidak ada waktu senggang untuk membuatnya.
Membuka dan Mengambil satu buah nastar, ia mengigitnya dengan gigitan besar sambil menatap serius manik bulat bersinar yang memandangnya ragu.
"Manis," ucapnya lirih.
"Huh?"
"Dia kecil dan terasa manis," giginya lagi. "mau di gigit kecil atau pun serakah, rasanya akan senantiasa manis dan membuat candu," timpalnya setengah berbisik sedikit menunduk.
Ranti kontan hanya diam tak mampu berkutik, entah kenapa ia tiba-tiba jadi sugugup dan se lemot ini. Heyy, sadar Ranti!
"Ranti."
"Humm?" sahutnya setengah linglung.
"Apa kamu menyukai saya?"
"Uhh?"
Heyyy, apa ini? Kenapa jadi begini? Ohh astaga kenapa kakinya tiba-tiba seperti jelly? jangan bilang kalau yang bergetar kini adalah hatinya bukannya Pak Braja. Ini sungguh di luar prediksi BMKG.
Tenang Ranti, tenang .... Kontrol raut wajah mu, ohh sial! Jangan biarkan pria di hadapanmu ini melihat semerah apa raut mu sekarang, yaa tuhan! Mana air, manaaa?
Mbok ... Tolongin!
Aku gemetaran!
...----------------🍁🍁🍁----------------...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
hhuuuuaaaaaaa 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
wesss tabok ae Ran....
jan macam² kamu BajaHitam...
s' BajaHitam ini ya...
klo smp rindu beneran ku tabok pake teflon keramat...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤭🏃🏃
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣