Rose baru sadar, ternyata selama ini dia hanya dijadikan Aurora sebagai alat untuk menghancurkan kehidupan keluarga Marcus.
Dan Sophia, anak yang selama ini dia rawat dengan cinta ternyata bukan anak kandungnya, melainkan anak kakak iparnya, wanita itu sengaja menukar anak mereka agar anaknya mendapatkan warisan keluarga Vale karena Aurora sendiri tidak memiliki hak di keluarga Vale. Sementara anak kandungnya Noah, di buang di panti asuhan oleh wanita itu, dan sialnya dia suka menyiksa anak itu karena anaknya yang diadopsi oleh keluarga kakak kandungnya.
Di ambang kematiannya dia baru tahu semua kebenaran itu, dia berdoa kepada Tuhan, meminta kesempatan kedua agar dia bisa memperbaiki semua kesalahan yang dia lakukan dan juga mencari Noah anak kandungnya dan dia berjanji untuk meninggalkan Marcus dan merawat anaknya sendiri.
Apakah Rose berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nenek Baru
"Nah Rose, untuk sementara kamu bisa memakai gudang ini sebagai rumahmu, kamu tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk menyewa tempat tinggal di luar sana." ucap Sarah saat memperlihat sebuah ruangan yang cukup besar, Sebenarnya ruangan ini biasa dia pakai sebagai gudang, tapi mendengar Rose yang ingin mencari tempat tinggal membuatnya langsung menelpon seseorang untuk membersihkan gudang juga mengisinya dengan perabotan seperti kasur dan juga kursi.
Sophia menatap takjub isi dari ruangan didepannya. Meskipun tidak semewah rumah papa nya tapi dia merasa tempat ini lebih nyaman karena tidak ada orang-orang yang akan mengganggu mama nya.
Rose menatap Sarah tidak enak. "Aku bayar sewanya ya Bu." tidak mungkin dia tinggal disini cuma-cuma.
Sarah menggelengkan kepalanya. "Tidak usah, tinggalah disini sampai kapanpun karena hitung-hitung kamu menjaga restoran ku." ucapnya mencari alasan. Dia sudah tahu jika Rose ingin membayarnya.
"Tapi ini sangat nyaman juga emm mewah." Rose bukan orang bodoh yang tidak tahu harga ranjang yang ada disini juga sofa empuk nya.
"Mewah apanya, itu hanya barang di rumahku yang tidak terpakai, daripada dibuang lebih baik ku letakkan di sini, Rose ibu mohon terima bantuan ibu, jangan sungkan tinggal disini, juga melihat dua anakmu membuatku merindukan cucuku." ucap Sarah sesekali mengelus pipi Sophia dan Noah bergantian.
dia memilih satu anak perempuan, tapi setelah menikah, anaknya itu ikut suaminya tinggal jauh dari sini bahkan dia jarang bertemu dengan cucunya yang mungkin sekarang masih TK.
"Kalau begitu aku akan bekerja keras di restoran." Rose berjanji setelah ini dia akan mengabdikan dirinya untuk bekerja di restoran Sarah. Wanita itu sangatlah baik.
Sarah mengangguk dia menepuk pundak Rose pelan. "Bolehkah aku menganggap mu anakku juga anak-anak ku sebagai cucuku?" pintanya dengan tulus.
Mata Rose membola dia menatap ragu wanita didepannya.
"Kalau tidak boleh tidak apa-apa." Sarah tersenyum manis, dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya sendiri.
"Eh em boleh Bu jika ibu tidak keberatan."
Mata Sarah mulai memanas. dia langsung menarik Rose dan memeluknya. "Terimakasih nak."
Sophia mengode Noah dan anak itu langsung paham. Jadi dengan cepat mereka ikut memeluk Sarah, dan wanita paruh baya itu beralih memeluk kedua cucunya itu.
"Mulai sekarang kalian harus memanggil ku nenek." pintanya yang diangguki dua anak itu.
"Iya nenek." sahut Noah dan Sophia bersamaan.
.....
Sementara itu.
Mia kembali ke panti dia merasa tempat ini kosong hingga seorang gadis datang. "Loh Tante kenapa di luar?" tanya Vira yang baru saja pulang dari jualan. Dia menurunkan sisa kue yang belum terjual dibawah, membuka pintu panti lalu masuk.
"Apa Rose tidak ada disini?" tanyanya menyusul anak itu.
Vira menggelengkan kepalanya, dia baru pulang dan tidak ada seorangpun didalam kecuali dirinya dan juga wanita itu.
Mia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, apa Rose mampir di suatu tempat?.
....
"Mama, ruangan ini sepertinya bukan gudang." Sophia menatap seluruh ruangan disini dengan tatapan curiga. Gudang mana yang ada kamar mandi didalam, juga ada tiga sekat ruangan, dua kamar dengan ranjang besar juga ruang tamu yang berisi sofa dan meja lengkap. Tidak hanya itu, ada sebuah televisi besar di ruang depan.
"Ini rumah bukan gudang." sambung Sophia yang langsung mendudukan dirinya diatas sofa. Menikmati keheningan malam yang terasa hangat ini. Kepalanya masih berdenyut nyeri karena jahitan di kepalanya yang belum kering.
Sementara Noah mencoba berkeliling, dia memandang takjub sebuah kamar yang memiliki dua ranjang yang terpisah, seolah itu sudah disiapkan untuk dirinya dan juga Sophia.
Dia mendekati Rose yang sibuk memasak di belakang. "Ma, sepertinya nenek sengaja membuat rumah ini untuk kita."
Rose menoleh ke arah Noah, mengangkat sebelah alisnya tanda dia tidak mengerti. "Ini gudang Noah kata nenek."
Anak itu menggelengkan kepalanya. "Ma, di kamar itu ada dua ranjang terpisah yang sepertinya untukku dan juga Sophia." Rose diam, dia mematikan kompornya lalu mengikuti langkah Noah yang menggiring nya ke sebuah ruangan.
Klek....
Matanya membola, benar kata Noah, kamar ini memiliki dua ranjang yang cukup luas. Dia baru melihat satu ruangan yang ada di samping, hanya ada satu kamar besar dan dia pikir itu untuknya.
Rose kembali memikirkan ucapan Sarah. Wanita itu tiba-tiba baik padanya juga memberinya gaji besar, dan apa tujuan wanita itu menolongnya seperti ini?. bahkan menganggap anaknya sebagai cucu.
.....
Marcus berusaha memejamkan matanya sejak satu jam yang lalu, tapi gagal. matanya kembali terjaga, jam sudah menunjukkan pukul setengah satu malam, dia tidak sabar untuk segera pergi menemui Rose. Kepergian wanita itu memiliki dampak yang sangat besar di hidupnya.
"Aku harus membawanya kembali." janjinya saat ini.
Percuma memiliki rumah besar jika isinya tidak lengkap, dia merindukan keberadaan wanita itu di sisinya.
.....
Isabella mendusal manja di pangkuan suaminya, dia terus menangis memikirkan penolakan Rose padanya. Sementara Nathan mengepalkan tangannya erat-erat. Dia ikut merasakan sedih saat mendengar cerita ibunya tentang penolakan Rose.
"Yah, kata Sarah dia ingin mengadopsi Rose. Aku tidak terima." Daniel mengelus punggung bergetar istrinya, Isabella masih saja menangis. Ibu mana yang tidak sedih saat melihat anak kandungnya mulai mengabaikannya.
"Dan juga ternyata selama ini Rose bekerja di restoran Sarah, Rose bekerja mencuci piring yah, bagaimana bisa anak yang kita sayangi berakhir menjadi tukang cuci piring." Isabella terus merancau, dia tidak bisa membayangkan betapa tersiksanya Rose menjalani hidupnya saat ini. Biasanya anak itu hanya diam sambil mengadahkan tangan untuk mendapatkan uang, sekarang anak itu bekerja keras demi mendapatkan uang.
"Sabar Bu, besok kita jemput bersama-sama." putus Daniel yang disetujui oleh istrinya.
Wanita itu menatap sendu wajah sang suami. "Jika Rose tidak mau pulang, aku akan mogok makan."
Kekanakan sekali.
....
Suasana hening terjadi di meja makan kediaman Vale. Robert, Catherine dan Aurora tengah menyantap hidangan malam yang terasa mencekam itu.
"Yah, besok kita ke restoran milik Sarah ya." pinta Catherine setelah mereka selesai makan.
alis Robert terangkat sebelah, menatap bingung Catherine.
"Kita harus membantu Marcus menjemput Rose." mata Robert membola mendengar ucapan sang istri.
"Rose sudah ketemu?" tanyanya yang diangguki oleh Catherine.
Aurora yang tidak tahu apa-apa hanya diam, dia tidak memiliki keberanian untuk bertanya ataupun menyela ucapan dua orang didepannya.. seperti biasa, dia hanya bayangan yang tidak terlihat di rumah ini.
"Sayangnya Rose seperti tidak ingin kembali pada anak kita." tubuhnya mendadak lemas. Melihat wajah kecewa Marcus membuatnya ikut kecewa.