NovelToon NovelToon
Takdirku Bersma Sikembar

Takdirku Bersma Sikembar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Romansa / Nikah Kontrak
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: yas23

Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

          ~Flashback on~

          Akram tengah menatap layar-layar CCTV yang menampilkan setiap sudut huniannya. Tempat itu sebenarnya tak pantas disebut apartemen biasa lebih menyerupai sebuah penthouse mewah, dengan luas yang nyaris tak berbatas, dipenuhi banyak ruangan yang tersusun rapi dan memberi kesan kekuasaan mutlak atas setiap jengkal ruang di dalamnya.

          Seringai curang terukir di wajahnya saat ia menyaksikan Tania yang bergerak bebas di area pantry. Tatapannya mengikuti setiap gerak Tania, memperhatikan dengan saksama apa saja yang gadis itu lakukan. Perlahan, Akram mulai memahami maksud di balik tingkahnya dan tanpa ragu, ia memutuskan untuk ikut terjerat dalam perangkap yang tengah disusun Tania khusus untuknya.

          “Kita lihat saja nanti kau atau aku yang akan terlelap selama tiga hari, sayang.” bisik Akram dengan nada mengancam.

          Tak lama kemudian, dugaannya terbukti. Tania muncul membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi. Ia mengenakan baju haram miliknya yang berwarna merah menyala, membalut tubuhnya dengan berani. Langkahnya anggun saat mendekat, setiap geraknya sengaja dibuat perlahan cukup halus, namun sarat godaan.

          Saat Tania meletakkan nampan itu di atas meja kerja Akram, ketajaman matanya langsung menangkap sesuatu yang janggal. Ada sisa serbuk halus menempel di gagang salah satu cangkir kopi yang dibawa Tania. Seakan semesta sedang memihaknya, Akram pun tanpa kesulitan mengetahui mana minuman yang seharusnya menjadi miliknya.

          Satu hal luput dari perhatian Tania. Saat Akram mengecupnya dan tubuhnya membelakangi meja kerja, pria itu bergerak cekatan. Dalam hitungan detik, posisi kedua cangkir ditukar tanpa menimbulkan kecurigaan. Kini segalanya berbalik arah rencana yang disusun Tania justru menjerat dirinya sendiri, membuatnya jatuh oleh senjata yang ia siapkan.

          “Kau benar-benar mengira aku akan membiarkanmu pergi begitu saja, Tania?” ujar Akram pelan. Seringai licik terukir di wajahnya, tampak dingin dan menakutkan.

          ~Flashback off~

          Romeo telah menuntaskan meeting nya. Kini ia bersandar, menatap Alya dari sudut sofa. Istrinya itu terlelap nyenyak setelah menghabiskan semua pesanan yang tadi ia minta. Pemandangan itu membuat Romeo mengernyit benar-benar tanpa malu sama sekali tak menjaga citra sebagai seorang wanita.

          “Biasanya wanita itu bersikap anggun, menjaga caranya makan. Tapi dia tidak,semuanya habis tanpa sisa, sampai-sampai aku tak kebagian untuk sekadar mencicipi.” gumam Romeo lirih.

          Perlahan Romeo bangkit dan kembali mendekati Alya. Bengkak di wajah istrinya itu kini mulai mereda, sebelumnya dokter telah memberikan cairan khusus untuk mengurangi pembengkakan di wajah dan tubuh Alya.

         Romeo terus memandangi Alya. Untuk pertama kalinya, ia mengakui dalam hati bahwa wanita itu memang cantik. Tanpa riasan apa pun, bahkan dengan sisa bengkak yang belum sepenuhnya hilang, Alya tetap memancarkan pesona. Di mata Romeo, kecantikan istrinya itu nyata,alami dan tak terbantahkan.

          “Pantas saja Satria dan yang lainnya begitu tergila-gila padanya. Harus kuakui, dia memang cantik.” decak Romeo kesal, menggerutu dalam hatinya sendiri.

          Romeo kembali menaikkan selimut Alya, memastikan tubuhnya tertutup dengan nyaman. Ia juga merapikan seprai di sekitarnya, meski sebenarnya kain itu tak berantakan ataupun kusut sama sekali.

          Romeo lalu mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Arjuna. Arjuna telah berjanji bahwa dia akan menginap di rumahnya selama Romeo berada di rumah sakit.

          “Ada apa?” Arjuna bertanya singkat, suaranya terdengar dingin ketika wajahnya muncul di layar, menjawab panggilan video dari Romeo.

         “Anak-anakku ada di mana?” tanya Romeo dengan nada lembut dan sopan.

          “Mereka sedang tidur, tenang saja. Malam ini mereka sudah makan, mandi, belajar, bercerita tentang kegiatan sehari-hari, dan akhirnya terlelap.” jawab Arjuna dengan tenang.

          “Tidurnya cepat sekali, biasanya mereka baru terlelap jam sepuluh. Sekarang baru jam sembilan, Arjuna.” keluh Romeo heran.

          “Anak lo bilang ibunya menyuruh tidur jam sembilan kalau sudah makan malam sejam sebelumnya. Lah, lo sendiri nggak tahu jadwal tidur anak lo?” geram Arjuna kesal.

          “Biasanya nggak seperti ini, sejak kapan diubah? Kok mau saja ya si kembar, tapi biasanya mereka berantem dulu sama Hana sebelum aku menyuruh mereka tidur.” jelas Romeo, wajahnya tampak bingung.

          “Karena anak-anak lo butuh sosok ibu, mereka tahu ucapan ibunya nggak boleh dibantah. Makanya mereka nurut saja. Anak kecil saja paham harus patuh pada ibunya, tapi lo kok nggak nurut sama istrimu?” gerutuk Arjuna kesal.

          “Kan konsepnya beda, kenapa malah gue yang dijadikan sasaran?” protes Romeo.

          “Gue kesel sama lo, Rom. Istrimu alergi tapi lo nggak peduli. Kalau lo nggak bisa menjadikannya ratu di hati lo, ya lepaskan saja. Gue siap kok menjadikannya ratu di hati gue.” tegas Arjuna serius.

          “Ucapkan itu sekali lagi, dan gue pecat lo sebagai sahabat.” kata Romeo dengan nada serius.

          “Wah, enak dong, gampang banget buat gue rebut Alya.” canda Arjuna sambil terkekeh.

          “Dasar sialan!” geram Romeo.

          Romeo segera memutuskan sambungan telepon, lalu hendak menyimpan ponselnya. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Bahkan, kode negaranya bukan Indonesia, melainkan berasal dari negara lain.

          “Siapa ini lagi?” decak Romeo kesal.

          Ia segera membuka pesan itu dan terkejut begitu mengetahui siapa pemilik nomor tersebut.

          “Akram…” gumamnya pelan, penuh keterkejutan.

          Dalam pesan itu, Akram meminta Romeo meluangkan waktu untuk bertemu dengannya di Paris. Ia menuliskan secara singkat siapa dirinya dan tujuan di balik permintaan pertemuan itu.

          “Mau apa dia? Aku lagi nggak pengen ribut. Selalu saja ada orang datang bawa masalah.” gerutuknya.

          Romeo tak segera membalas pesan itu. Ia memutuskan untuk lebih dulu meminta pendapat Satria dan beberapa sahabat dekatnya sebelum menanggapi.

          “Kalau dia memang berniat cari ribut, akan aku ladeni.” ucap Romeo dingin, penuh tekad.

          Sementara itu, di Paris, Akram telah memulai salah satu rencananya. Ia mengirim pesan kepada Romeo dan mengajaknya untuk bertemu. Mendapatkan nomor ponsel salah satu pengusaha terkaya di Indonesia bukanlah hal sulit baginya nomor itu ia ambil diam-diam dari ponsel Tania yang kini berada di tangannya.

          “Tidurlah selama tiga hari. Saat kau terbangun, hadiahnya akan membuatmu takkan pernah melupakannya seumur hidup.” desis Akram sebelum meninggalkan Tania, yang sudah tertidur pulas di atas ranjang.

         **********

          Keesokan harinya, kondisi Alya mulai menunjukkan perbaikan. Rindu pada si kembar membuatnya mendesak Romeo agar membawanya keluar dari rumah sakit. Namun, usaha itu sia-sia. Romeo menolak mengabulkan permintaannya sampai dokter kembali memberikan izin resmi, memastikan Alya benar-benar pulih.

          “Jangan membantah. Ikuti saja apa yang aku katakan.” ujar Romeo dengan nada dingin.

          Sikap Romeo kembali berubah,kali ini ia tak sehangat atau selembut kemarin. Perubahan itu membuat Alya bingung, bertanya-tanya dalam hati apakah ia telah melakukan kesalahan lagi.

          “Iya.” jawabnya pelan, tak berani membantah.

          Pagi itu, Romeo benar-benar kesal. Sebuah pesan masuk muncul di ponsel Alya tepat saat subuh. Tanpa ragu, ia langsung menatap layar dan membaca isi pesan itu dari notifikasi ponsel istrinya.

          Rahangnya seketika menegang saat matanya menangkap sebuah nama Zaki. Pria itu telah mengirimkan tiga pesan kepada Alya, menanyakan apakah mereka jadi bertemu di sebuah kafe sore nanti.

          “Tuan…” suara Alya terdengar ragu.

 

          “Hmm.” gumam Romeo. 

          Alya memejamkan matanya erat, merasakan beban bersalah. Suaminya bersikap dingin seperti ini membuatnya bertanya-tanya kesalahan apa yang telah ia lakukan. Padahal sejak malam tadi, ia hanya tidur hingga pagi ini.

          “Aku ada salah, ya?” tanya Alya pelan. 

          “Menurutmu sendiri?” tanya Romeo. 

          Alya menggeleng pelan, sungguh ia tak tahu apakah dirinya telah melakukan kesalahan atau tidak.

         “Baca ini.” kata Romeo sambil menyerahkan ponsel Alya. 

          “Maksud nya apa?” tanya Alya. 

          Keningnya berkerut saat melihat tiga pesan masuk dari Zaki. Dengan cepat, ia membuka pesan-pesan itu dan menatap Alya sekilas, penuh pertanyaan.

          “Seharusnya nggak ada yang salah kalau ini pesannya yang dia maksud, tapi kenapa dia marah?” gumam Alya dalam hati.

          “Kamu tahu kesalahanmu, kan, Alya?” tanya Romeo sambil menahan amarahnya.

          “Enggak, saya nggak melihat ada kesalahan di sini.” jawab Alya jujur.

          Rasanya Romeo ingin berteriak dan memaki di hadapan istrinya, tapi ia menahan diri. Bagaimana mungkin Alya tidak menyadari kesalahannya.

          “Kamu ada urusan apa sampai mau ketemu pria lain di belakangku?” selidik Romeo. 

          “Urusan apa? Oh, Zaki.” jawab Alya ragu.

          “Jangan sebut nama pria lain di depanku, Alya.” tegas Romeo dingin.

          “Ya, memang namanya Zaki. Mau bagaimana lagi? Saya cuma ada urusan kerja kelompok untuk tugas di kampus. Kenapa?” tanya Alya dengan polos.

          “Kamu tanya kenapa?” geram Romeo. 

          “Kamu kan sudah menjadi istriku, Alya. Bagaimana mungkin kamu bertemu pria lain di belakangku?” geram Romeo. 

          Alya tertegun, hatinya campur aduk. Bukankah hal seperti ini seharusnya melanggar perjanjian mereka. 

          “Aku ketemu dia untuk urusan penting, demi mata kuliahku, bukan untuk bermesraan.” balas Alya kesal.

          “Tetap saja, kamu seharusnya tidak pergi dengan pria lain setelah menikah.” ujar Romeo. 

          “Oh ya? Lalu bagaimana denganmu di malam pernikahan kita? Justru kamu yang pergi dengan kekasihmu dan hampir tak pulang, bahkan pulang dalam keadaan mabuk.” balas Alya tajam.

          Romeo terdiam. Kata-kata Alya memang benar, dan ia tak bisa lagi mengelak.

          “Tuan, bukankah kita sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan pribadi masing-masing? Apa Anda lupa?” tanya Alya tenang. 

          Romeo terdiam, dirinya pun tak mengerti mengapa kemarahannya bisa sebesar ini.

          “Apakah Tuan jatuh cinta padaku?” tanya Alya dengan suara pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!