EKSKLUSIF HANYA DI NOVELTOON.
Jika menemukan cerita ini di tempat lain, tolong laporkan🔥
Ayu tak pernah menyangka bahwa pernikahannya dengan Cakra yang baru berjalan satu bulan harus kandas begitu saja. Lelaki yang menjadi cinta pertamanya itu menghempaskannya bagai sampah. Dirinya terpasung sekian lama tanpa ada yang sudi menolongnya.
Pernikahan pertamanya itu sungguh menorehkan luka dan trauma mendalam baginya hingga ia tak bisa bersentuhan dengan lelaki manapun.
Disaat orang lain menjauhinya karena dianggap tidak waras, justru datang sosok lelaki berseragam cokelat yang pernah membuatnya tertawa di masa lalu namun dirinya juga yang pernah membuat lelaki itu kecewa. Akan tetapi, hanya laki-laki itulah yang kini bersedia mengulurkan tangan dan merangkulnya tanpa ragu disaat hidupnya terpuruk.
"Apa adanya kamu, aku selalu mencintaimu."
Akankah kemurnian cinta yang ada mampu menyembuhkan luka dalam pernikahan manis mereka yang tak akan mudah?
Simak kisahnya💋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 - Pernikahan Ayu dan Cakra
Akhirnya Cakra pun datang ke Solo membawa pensil kenangan dari Ayu. Cakra tidak tahu jika ada lelaki lain yang juga mencintai Ayu yakni Bayu Laksono.
Bayu datang lebih dulu ke Solo untuk melamar Ayu dengan membawa sebuah cincin emas bermata berlian 24 karat. Namun ditolak mentah-mentah oleh Ayu. Yang kemudian cincin itu dilemparkan oleh Ayu ke rumput-rumput di tanah lapang tempat mereka bertemu. Tak jauh dari kediaman mendiang Nenek Minah.
Ayu pun pulang dan Bayu sibuk mencari cincin itu di sepanjang tanah lapang tersebut yang sangat luas. Setelah berjuang selama lima jam akhirnya berhasil ia temukan cincin berharga tersebut. Lantas Bayu pun memutuskan pulang ke Bandung dengan batin yang kecewa.
Sehari setelah Bayu pulang, Cakra datang ke Solo dan langsung menyatakan keseriusan dirinya untuk meminang Ayu. Tentu saja Ayu sumringah melihat kedatangan laki-laki yang menjadi cinta pertamanya itu. Gayung pun bersambut akhirnya keduanya menikah di Solo tepatnya satu bulan setelah kedatangan Cakra saat melamarnya.
Ibunda Arjuna, Bening dan suaminya tentu hadir di pernikahan sederhana antara Cakra dan Ayu. Sebenarnya Ibunda Arjuna ingin membuat pesta pernikahan Ayu cukup meriah. Namun hal itu ditolak dari pihak Cakra terutama Ratna.
Ibunda Cakra tersebut tak ingin pesta pernikahan putranya dengan gadis miskin seperti Ayu dipublikasikan ke banyak orang. Cukup warga kampung daerah rumah Ayu saja di Solo yang tahu.
Sebab Ratna tahu jika Ayu hanya cucu angkat dari Nenek Minah. Otomatis keluarga Arjuna, bukanlah keluarga kandung Ayu tetapi hanya sebatas keluarga angkat saja. Akhirnya Bening dan Arjuna pun mengalah.
Hati Bayu kala itu tentu saja kecewa, sedih serta campur aduk. Setelah kematian ibunya dan dirinya kembali ke Batam, ia mendengar kabar pernikahan Ayu dengan Cakra dari Arjuna.
"Semoga kamu bahagia atas pilihanmu. Doakan aku di sini agar tetap kuat menerimanya dan menghilangkan cinta ini dari hatiku. Sangat menyiksa, Yu." Bayu pun hanya bisa membatin sendu seraya menatap langit kota Batam yang hari itu tampak mendung dan tak lama gerimis pun datang.
☘️☘️
Usai pernikahan, keesokan paginya Cakra dan keluarganya langsung memboyong Ayu ke Luar Jawa tepatnya ke rumah kedua orang tuanya di desa.
Ambar yang mendengar kabar pernikahan Cakra tentu saja tidak terima. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Sebab Cakra sudah satu tahun ini setelah mereka putus, sangat susah didekati.
Setibanya di rumah ibunya, Guntur dan Ratna langsung memasuki kamar mereka. Sedangkan Ayu sudah berada juga di dalam kamar pengantin. Cakra menyuruh Ayu untuk bersih-bersih diri dulu. Sedangkan Cakra memutuskan keluar ke teras untuk merokok sejenak. Jam menunjukkan pukul satu siang.
Saat di dalam kamar pengantin, Ayu sempat tertegun.
"Apa semua kamar pengantin seperti ini? Enggak ada bunga-bunga atau hiasan cinta. Huft !! Sama saja ternyata seperti kamar pengantin Bening dan Arjuna tempo lalu yang aku lihat sama si bujang lapuk," batin Ayu menatap sepi kamar pengantinnya tanpa ada sentuhan hiasan apa pun.
Deg...
Mendadak hatinya tanpa disuruh justru mengingat Bayu si bujang lapuk yang ia kecewakan tempo lalu.
"Maafkan aku. Semoga kamu segera bertemu dengan jodoh yang tepat menurut Allah," cicit Ayu seraya berdoa dengan tulus untuk Bayu.
Ayu pun bergegas mandi di mana dalam kamar pribadi Cakra sudah terdapat kamar mandinya.
Di teras, mendadak Cakra mendapatkan sebuah telepon penting.
Tut...tut...tut...
"Halo," jawab Cakra saat mengangkat telepon tersebut.
"Cakra, penting !! Kamu harus segera ke pelabuhan untuk berlayar. Bowo yang harusnya bertugas gantikan kamu selama cuti menikah barusan meninggal dunia kena serangan jantung. Aryo enggak bisa gantikan karena istrinya pagi tadi masuk rumah sakit mau melahirkan tapi sampai sekarang bayinya belum juga keluar. Segera berangkat ya karena nanti malam tugasmu berlayar," ucap Nano selaku pengatur jadwal berlayar nahkoda tempat Cakra bekerja.
"Astaga Nano, tega bener kamu. Aku baru saja sampai di rumah. Belum cium istri, icip-icip apalagi masukin. Sudah kamu suruh berlayar di laut bukan di kasur. Apa enggak ada anak lain lagi yang bisa gantikan aku? Mungkin Alfa, Gama, Beta bisa tukar jadwal sama aku. Please..." mohon Cakra.
"Mereka enggak bisa, Cakra. Kan mereka juga sedang bertugas ke area lain. Gimana sih kamu! Buruan ya. Aku tunggu," ucap Nano lalu ia menutup teleponnya secara sepihak.
Bip...
"Dasar Nano sialan!! Ganggu saja mau malam pengantin. Huft !!" umpat Cakra mendengus sebal.
Cakra pun akhirnya dengan terpaksa segera pergi untuk melaksanakan tugas berlayarnya. Dikarenakan pekerjaannya sebagai nahkoda memang terkadang jadwal kerja tak tentu dan harus siap dengan segala perubahan yang mendadak.
Ia pun harus segera bergegas ke pelabuhan mumpung hari masih siang. Sebab perjalanan dari rumahnya menuju pelabuhan memakan waktu sekitar 8-9 jam perjalanan darat.
"Maafin aku ya sayang. Mas harus pergi bertugas. Padahal kita belum sempat melakukan ritual malam pengantin," ucap Cakra dengan sendu seraya mengecup kening Ayu.
"Iya, Mas. Enggak apa-apa kok. Aku mengerti. Kamu bekerja juga demi aku dan keluarga. Semangat kerjanya ya, Mas. Jangan nakal di sana," cicit Ayu.
"Aku beruntung banget dapetin istri yang super pengertian kayak kamu, Yu. Paket komplit deh pokoknya. Hehe..."
"Ah, Mas bisa saja. Sudah sana buruan berangkat takutnya lama di jalanan nanti terlambat," tutur Ayu.
"Kamu tenang saja, Cakra. Ayu di sini baik-baik saja. Kamu buruan berangkat. Benar kata istrimu nanti kelamaan di rumah jadi telat," tutur Ratna.
Mereka semua tengah berada di teras rumah keluarga Cakra.
"Aku hanya pergi satu bulan saja. Setelah itu kita bisa berduel di kasur. Jangan lupa dandan yang cantik saat Mas pulang ya," bisik Cakra mesra di telinga Ayu. Seketika membuat bulu kuduk Ayu meremang.
Ayu pun hanya bisa menganggukkan kepalanya saja untuk menjawab bisikan mesra dari suaminya. Dia pun tersenyum malu.
Cakra pergi dengan senyum merekah melepas Ayu di rumah keluarganya yang ia percaya. Namun hidup tak dapat ditebak apa yang akan terjadi ke depannya.
Apakah kita bisa tetap tersenyum atau justru menangis ?
Bersambung...
🍁🍁🍁