NovelToon NovelToon
Ksatria Untuk Alisa

Ksatria Untuk Alisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Cinta pada Pandangan Pertama / Persahabatan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: kaka_21

Lampu jalan di depan rumah dinas Cakra berkedip, menyisakan bayangan panjang dan dingin di teras. Alisa berdiri di ambang pintu, menatap punggung Sancaka Naratama. Sanca mengenakan kaus gelap, dan bahunya tampak tegang. Mereka baru saja berdebat hebat tentang penugasan luar pulau mendadak yang diterima Cakra.

“Ayah pergi lagi, Sanca. Apa kau pikir aku tidak mengerti apa arti seragam itu?” Suara Alisa tercekat, ia berusaha keras menahan isaknya.

Sanca berbalik, tatapan matanya yang biasanya hangat kini terasa lelah. “Aku mengerti, Lis. Seragam itu artinya pengabdian. Ada risiko, ada jarak. Tapi ada kehormatan juga, yang dulu diajarkan Ayahmu padaku.”

“Kehormatan?” Alisa melangkah maju, napasnya memburu. “Honorku adalah ditinggalkan! Ibuku hilang. Satria memilih pergi demi nama keluarga. Dan sekarang, Ayah juga pergi lagi ke tempat berbahaya. Aku lelah mencintai orang yang selalu siap menghilang!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kaka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: UPAYA PENEBUSAN

Kepulangan Cakra kali ini tidak disambut dengan upacara atau keramaian di markas. Ia pulang dengan jip dinasnya saat matahari sudah mulai condong ke barat, tepat ketika Alisa sedang duduk di meja makan, sibuk dengan tumpukan buku cetak dan catatan sekolahnya. Suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal itu membuat Alisa tersentak. Ia segera merapikan alat tulisnya, mencuci muka agar tidak terlihat kusam karena belajar seharian, dan berlari ke pintu depan.

Cakra turun dari jip dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. Debu perjalanan masih menempel di seragamnya, dan lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa berbohong. Namun, saat melihat Alisa berdiri di ambang pintu, garis-garis tegas di wajahnya sedikit melunak. Ia tidak memeluk Alisa dengan ledakan emosi, ia hanya menepuk puncak kepala putrinya dan memberikan tas ranselnya untuk diletakkan di ruang tengah.

"Sudah makan?" tanya Cakra, kalimat pertama yang selalu ia ucapkan setiap kali kembali.

"Sudah, Yah. Tadi Bu Rini masak opor ayam," jawab Alisa sambil mengikuti langkah Ayahnya.

Cakra berjalan berkeliling rumah sebentar. Ia memperhatikan bagaimana Alisa mengatur semuanya. Rak sepatu yang tertata rapi sesuai ukuran, dispenser air yang terisi penuh, dan tumpukan pakaian yang sudah disetrika di atas meja ruang tamu. Semuanya tampak berjalan sempurna tanpa kehadirannya. Ada rasa bangga yang menyelinap di hati Cakra, tapi di saat yang sama, ada rasa perih yang lebih tajam. Putrinya baru saja melewati satu lagi fase pertumbuhan tanpa bimbingannya. Alisa bukan lagi anak kecil yang butuh diingatkan untuk menggosok gigi; ia sudah menjadi pengelola rumah dinas ini secara mandiri.

"Kamu terlalu rajin, Alisa. Harusnya kamu fokus belajar saja, biar Bu Rini yang urus pakaian," kata Cakra sambil duduk di sofa, memijat pangkal hidungnya.

Alisa duduk di kursi sebelah, menatap Ayahnya dengan tenang. "Aku tidak merasa repot, Yah. Malah senang ada kerjaan selain baca buku. Ayah lelah sekali, ya?"

Cakra hanya mengangguk pelan. Ia menatap Alisa cukup lama, menyadari bahwa seragam sekolah Alisa sudah mulai tampak kekecilan di bagian bahu. Ia melewatkan momen kapan putrinya itu bertambah tinggi. Rasa bersalah itu semakin menumpuk. Selama bertahun-tahun, ia mendidik Alisa untuk menjadi ksatria yang tegar, tetapi ia lupa bahwa ksatria juga butuh waktu untuk menjadi manusia biasa, seorang anak yang sesekali boleh manja.

"Besok hari Sabtu, kan?" tanya Cakra tiba-tiba.

"Iya, Yah. Kenapa?"

"Ayah tidak ada jadwal ke markas sampai Senin. Kita pergi ke kota. Ayah mau belikan kamu sepatu baru, dan mungkin... buku?"

Mata Alisa berbinar. Perjalanan ke kota berarti menempuh waktu dua jam melewati jalanan hutan dan perkebunan, tapi bagi Alisa, itu adalah petualangan. Terutama jika tujuannya adalah toko buku besar yang koleksinya jauh lebih lengkap daripada perpustakaan batalyon yang berdebu.

Keesokan harinya, perjalanan itu terasa berbeda. Cakra melepas seragam lorengnya dan hanya mengenakan kaos berkerah santai dan celana kain. Tanpa tanda pangkat di bahunya, ia terlihat seperti pria biasa, meskipun tatapan matanya tetap waspada. Di dalam mobil, mereka tidak banyak bicara. Alisa sibuk memandang ke luar jendela, sementara Cakra fokus pada kemudi. Sesekali, Cakra mencoba mencairkan suasana dengan menanyakan nilai-nilai sekolah Alisa, tapi percakapan itu selalu berakhir singkat.

"Ayah dengar dari Kapten Bima kamu sering ke perpustakaan markas," kata Cakra saat mereka mulai memasuki pinggiran kota.

Alisa sedikit tegang. "Iya, Yah. Hanya baca-baca saja kalau bosan di rumah."

"Bagus. Membaca itu menambah wawasan. Tapi Ayah harap kamu tidak hanya baca novel. Baca juga sejarah atau biografi orang sukses. Itu lebih berguna untuk masa depanmu," ujar Cakra dengan nada menasihati.

Alisa hanya mengangguk pelan. Ia tidak ingin mendebat Ayahnya hari ini. Ia tidak ingin merusak suasana damai ini dengan menjelaskan bahwa novel juga memberikan wawasan tentang perasaan manusia yang tidak ada di buku sejarah.

Setibanya di toko buku, Alisa seperti dilepaskan di taman bermain. Ia langsung menuju rak sastra dan fiksi remaja. Cakra mengikutinya dari belakang, tampak bingung melihat judul-judul buku yang menurutnya terlalu dramatis. Ia sesekali mengambil sebuah buku, membaca sinopsis di sampul belakang, lalu mengerutkan kening sebelum meletakkannya kembali.

"Kamu suka cerita tentang kesedihan begini?" tanya Cakra sambil menunjuk sebuah buku dengan sampul berwarna kelabu.

"Itu bukan tentang sedih, Yah. Itu tentang bagaimana orang bisa bangkit setelah jatuh," jawab Alisa sambil memilah beberapa buku.

Cakra terdiam. Ia baru menyadari bahwa selera bacaan Alisa adalah refleksi dari apa yang ia jalani selama ini. Alisa mencari jawaban atas dukanya melalui cerita orang lain. Cakra mendekat, mengambil dua buku yang sejak tadi dipegang Alisa dan belum diputuskan untuk dibeli.

"Ambil saja semuanya. Ayah yang bayar," kata Cakra.

"Benar, Yah? Tapi ini mahal," Alisa ragu.

"Tidak apa-apa. Anggap saja ini upah karena kamu sudah menjaga pangkalan dengan baik selama Ayah pergi," Cakra tersenyum tipis, mencoba bercanda dengan istilah militernya.

Setelah dari toko buku, mereka makan siang di sebuah kedai mi ayam langganan lama di dekat alun-alun kota. Suasana kedai yang ramai dan aroma kuah kaldu yang gurih membuat ketegangan di antara mereka perlahan mencair. Alisa mulai berani bercerita tentang teman-temannya di sekolah online dan kegiatannya menulis di buku biru.

"Ayah pernah punya buku harian?" tanya Alisa sambil menyeruput es jeruknya.

Cakra tertawa kecil, suara yang jarang sekali Alisa dengar. "Dulu waktu pendidikan tentara, Ayah wajib mencatat setiap kegiatan. Tapi itu isinya cuma laporan cuaca, jarak tempuh, dan jumlah peluru. Tidak ada yang romantis atau puitis seperti tulisan Ibumu."

"Aku baca buku merah marun Ibu," bisik Alisa, mengamati reaksi Ayahnya.

Gerakan tangan Cakra yang sedang memegang sumpit terhenti sebentar. Ia menatap mangkuk mi ayamnya dengan pandangan yang tiba-tiba kosong. "Oh, kotak itu. Ayah pikir kamu belum menemukannya."

"Isinya indah, Yah. Ibu sangat sayang pada Ayah."

Cakra meletakkan sumpitnya, lalu bersandar di kursi plastik kedai itu. Matanya menerawang ke arah jalanan yang ramai. "Ibumu itu satu-satunya orang yang bisa membuat Ayah merasa bukan cuma sekadar alat negara. Bersamanya, Ayah merasa punya rumah. Sekarang, kamu yang jadi alasan Ayah harus selalu pulang, Lis."

Momen itu terasa sangat berat bagi Alisa. Ia melihat sisi manusiawi Ayahnya yang selama ini disembunyikan di balik protokol dan perintah. Cakra yang tegar ternyata juga merasakan kerinduan yang sama dalamnya, tapi ia tidak punya 'buku biru' untuk menumpahkan semuanya. Cakra harus menelan semuanya sendirian agar Alisa tetap merasa aman.

"Ayah jangan khawatir. Aku akan selalu ada di sini. Aku tidak akan ke mana-mana," kata Alisa, mencoba menghibur.

Cakra menatap putrinya, ada rasa haru yang ia tekan kuat-kuat. "Terima kasih, Nak. Tapi suatu saat nanti, kamu akan punya duniamu sendiri. Kamu akan pergi kuliah, bekerja, dan mungkin punya keluarga. Ayah hanya ingin memastikan kamu siap menghadapi dunia itu."

Perjalanan pulang ke rumah dinas terasa lebih hangat. Alisa memangku tumpukan buku barunya, sementara Cakra sesekali menyenandungkan lagu lama yang diputar di radio mobil. Meskipun mereka tahu kesibukan dan penugasan luar pulau akan segera memisahkan mereka lagi, setidaknya untuk hari ini, mereka adalah ayah dan anak biasa.

Malam itu, sebelum tidur, Alisa membuka buku birunya. Ia tidak menulis tentang ketakutan atau mimpi buruk. Ia menulis tentang aroma toko buku, rasa mi ayam, dan senyum Ayahnya yang langka.

Hari ini Ayah mencoba menjadi bukan-ksatria. Dan aku menyukainya. Aku sadar, Ayah juga sedang berjuang dengan caranya sendiri untuk menembus dinding yang kami bangun masing-masing. Mungkin kami memang dua ksatria yang kikuk, tapi setidaknya kami berada di pihak yang sama.

Alisa memejamkan mata dengan perasaan lebih tenang. Upaya penebusan Cakra hari itu berhasil memberikan satu lapisan perlindungan baru di hati Alisa, sebuah keyakinan bahwa di balik seragam loreng yang dingin itu, detak jantung Ayahnya masih hangat dan selalu tertuju padanya.

1
panjul man09
disetiap kesulitan ada kemudahan ,disetiap kesedihan akan ada kebahagiaan , setelah hujan muncullah pelangi , author 👍👍👍👍👍
panjul man09
ujian hati dimulai
panjul man09
ceritanya sangat menyentuh hati ,kalimat yg digunakan jauh lebih berbobot daripada cerita novel yg lain ,authornya sangat pandai memainkan perasaan
panjul man09
👍😍👍😍👍😍
panjul man09
👍👍👍👍👍
panjul man09
cuman 2 pemerannya ? tdk ada pemeran ketiga ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
mereka memelukan sosok ibu
panjul man09
sebaiknya cakra menikah lagi
david 123
terharu Thor...ttp semangat ya ..cerita ini bisa sbg movitasi bagi anak yg berjuang mencari jadi dirix melalui bakat dan minat.
david 123
aduh baca sambil berderai air mata..alurx..keren..sangat menyentuh...hati...luar biasa Thor ..ceritamu ini...ttp semangat dg ide -ide cermelangx....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!