NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Koma

Raka berjalan gontai memasuki gedung rumah sakit dengan tubuh yang hampir roboh. Tangannya masih kotor, tanah basah dari pemakaman anaknya menempel di sela-sela jarinya. Wajahnya pucat, matanya sembab dan merah. Ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang menatapnya dengan pandangan kasihan atau bingung.

Yang ada di pikirannya hanya satu: Nadira.

Ia harus tahu bagaimana keadaan Nadira sekarang. Operasinya sudah selesai atau belum. Apakah dia sudah sadar. Apakah dia baik-baik saja.

Kakinya membawanya kembali ke lorong IGD, ke tempat ia terakhir menunggu. Tapi sekarang suasananya berbeda. Lebih sepi. Lebih sunyi. Dan entah kenapa, kesunyian itu membuatnya semakin takut.

Raka berhenti di depan ruang tunggu. Matanya mencari-cari sosok dokter yang tadi berbicara padanya. Tapi tidak ada. Hanya beberapa keluarga pasien lain yang duduk dengan wajah lelah dan cemas.

"Permisi."

Raka menoleh. Seorang dokter, dokter yang sama dengan tadi berjalan mendekat dengan ekspresi serius. Masih mengenakan seragam hijau operasi, masker sudah diturunkan, tapi wajahnya terlihat lelah.

Raka langsung berdiri tegak meski tubuhnya gemetar. "Dokter! Bagaimana keadaan Nadira? Operasinya sudah selesai?"

Dokter itu berhenti di depan Raka. Ada jeda, jeda yang membuat jantung Raka berdegup tidak karuan. Jeda yang terlalu lama.

"Operasinya sudah selesai," ucap dokter akhirnya. "Kami berhasil menghentikan perdarahan internal."

Raka menghela napas lega. "Syukurlah... syukurlah..." Ia hampir menangis lagi... kali ini karena lega. "Jadi dia... dia akan baik-baik saja, kan?"

Tapi dokter itu tidak tersenyum. Ekspresinya tetap serius. Bahkan ada bayangan kesedihan di sana.

"Kami berhasil menyelamatkan nyawanya," lanjut dokter pelan. "Tapi..."

Lagi-lagi kata "tapi" itu.

Raka merasakan dadanya sesak lagi. "Tapi apa, Dok? Kumohon... katakan padaku..."

Dokter menarik napas dalam. "Kondisi pasien mengalami trauma kepala yang cukup parah akibat benturan. Otaknya mengalami pembengkakan. Kami sudah melakukan tindakan maksimal, tapi... pasien masuk ke dalam kondisi koma."

Koma.

Kata itu jatuh seperti petir.

Raka merasakan seluruh dunianya runtuh untuk ketiga kalinya hari ini. Kakinya lemas, kepalanya pusing, napasnya tercekat.

"Koma?" ulangnya dengan suara parau. "Maksud Dokter... dia tidak sadarkan diri?"

"Ya," jawab dokter dengan nada penuh simpati. "Saat ini pasien dalam kondisi koma. Kami tidak bisa memastikan kapan dia akan sadar. Bisa beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan... atau..." Dokter itu tidak melanjutkan kalimatnya, tapi Raka tahu apa yang tidak diucapkan.

Atau mungkin tidak pernah.

"Tidak..." bisik Raka, suaranya gemetar hebat. "Tidak... tidak... tidak mungkin..."

Ia mundur selangkah, lalu selangkah lagi. Tangannya mencengkeram dadanya yang sesak. Napasnya memburu. Kepalanya berputar.

"Dok, kumohon..." Suara Raka mulai meninggi, nyaris berteriak. "Kumohon lakukan sesuatu! Apapun! Aku akan bayar berapapun! Kumohon selamatkan dia!"

"Kami sudah melakukan yang terbaik..."

"TIDAK!" Raka berteriak, air matanya meledak lagi, mengalir deras tanpa bisa ditahan. "Ini tidak adil! Dia tidak boleh seperti ini! Ini salahku! SALAHKU!"

Orang-orang di ruang tunggu menoleh, menatap Raka dengan pandangan terkejut dan kasihan.

Raka jatuh berlutut di lantai rumah sakit. Tangannya menutupi wajahnya yang basah oleh air mata. Tubuhnya bergetar hebat.

"Kenapa..." isaknya di antara tangisan. "Kenapa kamu ambil anakku... kenapa kamu ambil Nadira juga... kenapa..." Suaranya pecah, hancur, penuh kepedihan yang tidak bisa diungkapkan.

Dokter menepuk bahu Raka pelan. "Saya turut berduka. Kami akan terus memantau kondisi pasien. Untuk saat ini, yang bisa kita lakukan adalah berdoa dan berharap."

Berdoa dan berharap.

Kata-kata yang terdengar begitu hampa di telinga Raka.

Karena bagaimana ia bisa berdoa, sementara ia sendiri yang menghancurkan semuanya?

Raka meraung, suara tangisan yang keras, memilukan, penuh penyesalan yang merobek-robek dadanya dari dalam. Ia memukul lantai dengan tangannya berkali-kali, seolah ingin melampiaskan rasa sakit yang tidak tertahankan itu.

"MAAFKAN AKU, NADIRA!" teriaknya di tengah tangisan. "MAAFKAN AKU!"

Tiba-tiba pandangannya mengabur. Kepalanya terasa sangat pusing. Tubuhnya limbung, tidak kuat lagi menahan beban emosional yang terlalu besar.

"Pak? Pak, Anda tidak apa-apa?"

Suara dokter terdengar samar. Semakin jauh. Semakin tidak jelas.

Dan kemudian... gelap.

Raka tidak sadarkan diri.

---

Ketika Raka membuka matanya, yang pertama ia lihat adalah langit-langit putih yang asing. Cahaya lampu neon menyilaukan matanya. Ia berkedip beberapa kali, mencoba fokus.

Tubuhnya terasa berat. Tangannya terasa dingin. Ia menoleh dan melihat selang infus menempel di punggung tangannya, cairan bening mengalir pelan dari kantong plastik di atas.

Ia ada di ruang rawat inap.

Raka langsung panik. Ia bangkit dengan cepat, terlalu cepat sampai kepalanya pusing lagi tapi ia tidak peduli. Tangannya meraih selang infus dan mencabutnya dengan paksa.

"Ahhh!" Ia meringis saat jarum infus lepas, darah sedikit menetes dari bekas tusukan.

"Pak! Pak, jangan!"

Seorang suster berlari masuk, wajahnya panik melihat Raka yang sudah berdiri goyah di samping ranjang.

"Pak, Anda harus istirahat! Anda baru saja pingsan! Kondisi Anda lemah!"

"Aku harus melihat Nadira," gumam Raka dengan suara serak. Ia melangkah, tapi kakinya hampir menyerah. Ia sempoyongan, hampir jatuh, tapi berhasil menopang tubuhnya di dinding.

"Pak, tolong dengarkan saya..."

"AKU HARUS KE NADIRA!" bentak Raka dengan suara keras meski napasnya tersengal. "Aku harus... aku harus melihatnya..."

Suster itu menatap Raka dengan tatapan iba. Ia tahu tidak ada gunanya menghentikan pria ini. Dengan helaan napas, ia mengangguk.

"Baik, Pak. Tapi biar saya bantu. Anda tidak kuat jalan sendiri."

Raka tidak menolak. Ia membiarkan suster itu menyangga tubuhnya, membantu melangkah keluar dari ruang rawat. Setiap langkah terasa berat, tapi Raka memaksakan dirinya terus bergerak.

Mereka melewati lorong panjang, melewati ruang-ruang lain, hingga sampai di sebuah pintu kaca besar dengan tulisan: ICU - Intensive Care Unit.

Suster itu berhenti. "Pasien ada di dalam, Pak. Tapi Anda hanya boleh melihat dari kaca. Waktu jenguk terbatas."

Raka mengangguk lemah. Ia melangkah mendekati kaca besar itu dan hatinya hancur lagi.

Nadira.

Nadira terbaring di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang terlihat begitu kecil, begitu rapuh. Selang oksigen terpasang di hidungnya. Monitor jantung di sampingnya berbunyi pelan pip... pip... pip menandakan detak jantung yang masih berjalan, tapi lemah. Infus menempel di kedua tangannya. Kepalanya diperban. Wajahnya pucat seperti mayat.

Dan matanya... tertutup.

Tidak ada senyuman.

Tidak ada kehangatan.

Tidak ada Nadira yang ia kenal.

Raka jatuh terduduk di depan kaca itu. Tangannya menempel di permukaan kaca dingin, seolah ingin menyentuh Nadira yang ada di balik sana.

"Nadira..." bisiknya dengan suara serak yang hampir tidak terdengar. "Nadira, aku di sini... kumohon... bukalah matamu..."

Tapi Nadira tidak bergerak.

Raka menyeret tubuhnya, berdiri lagi dengan susah payah. Suster membantunya masuk ke dalam ruang ICU, hanya untuk beberapa menit, katanya.

Raka berjalan dengan langkah gontai menuju ranjang Nadira. Ia berdiri di sampingnya, menatap wajah pucat itu dengan air mata yang kembali mengalir.

Tangannya yang gemetar meraih tangan Nadira... tangan yang dingin, tidak bertenaga.

"Nadira..." isaknya pelan. "Maafkan aku... kumohon maafkan aku..."

Ia menundukkan kepalanya, dahinya menyentuh punggung tangan Nadira yang dingin itu.

"Aku janji... aku janji akan melakukan apapun asalkan kamu bangun..." tangisnya semakin keras. "Aku akan menikahimu... aku akan jadi yang terbaik untukmu... aku akan mencintaimu dengan sepenuh hatiku... kumohon... kumohon bangunlah..."

Tapi Nadira tetap diam. Tidak ada respons. Hanya suara monitor jantung yang berbunyi pelan—pip... pip... pip.

Raka mengangkat tangannya yang gemetar, menyentuh wajah pucat Nadira. Jari-jarinya mengusap pipi itu dengan lembut—pipi yang dulu selalu hangat, sekarang terasa dingin.

Ingatannya berputar. Ia teringat bagaimana Nadira selalu tersenyum padanya setiap pagi. Bagaimana wanita itu selalu menyiapkan sarapan dengan penuh kasih sayang. Bagaimana Nadira selalu memperlakukannya seperti seorang raja... padahal ia sendiri hanyalah pria brengsek yang tidak tahu diri. Pria yang menyia-nyiakan cinta yang tulus. Pria yang menghancurkan hati wanita yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

"Aku bodoh..." bisik Raka di antara isakannya. "Aku sangat bodoh, Nadira... Maafkan aku..."

"Pak," panggil suster pelan dari belakang. "Waktu jenguknya sudah habis. Anda harus keluar sekarang."

Raka tidak ingin pergi. Ia ingin tetap di sini, di samping Nadira. Tapi tubuhnya sudah tidak kuat lagi.

Dengan berat hati, ia melepaskan tangan Nadira, mencium kening wanita itu sekali... kecupan yang penuh penyesalan lalu berbalik keluar.

Tapi baru saja kakinya melangkah keluar dari ruang ICU, pandangannya kembali mengabur. Kepalanya berputar. Tubuhnya limbung.

"Pak!"

Dan untuk kedua kalinya, Raka jatuh... jatuh ke dalam kegelapan yang menelannya utuh.

---

Saat Raka membuka matanya lagi, ia melihat wajah yang familiar. Wajah temannya, Bayu yang duduk di kursi samping ranjang dengan ekspresi cemas.

"Raka! Syukurlah kamu sadar!" Bayu langsung berdiri, mendekat. "Apa yang terjadi? Suster bilang kamu pingsan lagi! Kondisimu..."

"Bayu..." potong Raka dengan suara serak. Air matanya mulai mengalir lagi tanpa henti, tanpa bisa dikontrol. "Bayu... aku kehilangan mereka..."

Bayu mengerutkan dahi. "Kehilangan siapa? Raka, tenang dulu..."

"Anakku..." isak Raka, suaranya pecah. "Anakku meninggal... dan Nadira... Nadira koma..."

Bayu membelalak. Wajahnya pucat. "Apa? Tidak mungkin... Raka, apa yang..."

"INI SEMUA SALAHKU!" teriak Raka tiba-tiba. Ia bangkit dari ranjang, tangannya memukul kepalanya sendiri berkali-kali dengan keras. "SALAHKU! SALAHKU! AKU YANG MEMBUNUH MEREKA!"

"Raka, hentikan!" Bayu langsung meraih tangan Raka, mencegahnya memukul dirinya sendiri. "Jangan seperti ini!"

Tapi Raka terus memberontak, terus memukul, terus menangis dengan keras.

"Lepaskan aku! Aku harus dihukum! Aku yang salah! AKU YANG MEMBUNUH ANAKKU DAN NADIRA!"

"RAKA, HENTIKAN!" Bayu memeluk Raka erat, menahan tubuh temannya yang memberontak. "Ini bukan salahmu! Dengarkan aku!"

Tapi Raka tidak mendengar. Ia hanya menangis, menangis dengan tangisan yang memilukan, tangisan seorang pria yang sudah kehilangan segalanya, tangisan penyesalan yang datang terlambat.

Dan di pelukan temannya itu, Raka meruntuhkan seluruh bebannya... beban rasa bersalah, beban kehilangan, beban cinta yang baru ia sadari ketika semuanya sudah terlambat.

1
Nurhartiningsih
kaya Nadira mau saja.
Nurhartiningsih
jangan bodoh Nadira....jangan mau balikan sama cowok durjana
Nurhartiningsih
menyesal makan tuh penyesalan
Nurhartiningsih
bodoh
Elin
jujur menurutku cerita ini cerita yg paling sedih dari awal sampe akhir sampe aku ikut nangis saking menghayati ceritanya,dari segi cerita bagus tapi endingnya aku gak puas...di awal cerita aku kasian sama Dira karna cintanya sendirian,hargadirinya di injak2,di anggap LC gratisan,semua pengorbanannya sia2....,tp tapi di akhir cerita aku juga kasian sama Raka karna dia tau salah dan mau berubah,dia berjuang buat dapatin maaf dari dira,dia dah kerja keras buat dapat uang lebih selama Dira di rawat sampe dia sendiri gak lupa sama kesehatannya sendiri,dia bertahan di samping Dira meski dia diperlakukan orang asing,dia berusaha jalin komunikasi meski pada akhirnya didiamkan,dan menurutku 3thn cukup buat Raka di beri kesempatan kedua...tapi terserah Thor ajalah.
JiDHan Bolu Bakar
gitu doang...pasti ada lanjutannya, beberapa tahun kemudian....😄
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
mbuh
biarkan Raka menangis darah dlu. itu tak sbrpa skitnya KRNA pengkhianatan dan khlngan anak
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
mbuh
la njuttttt
kalea rizuky
ujungnya balikan halah
Anonymous
Raka goblok
Denni Siahaan
bangun Nadira kasih kesempatan
Dew666
💥💥💥💥💥
Denni Siahaan
gak guna penyesalan mu Raka
Denni Siahaan
dasar Raka egois mau enaknya aja
Denni Siahaan
tingal kan Nadira jangan tolol
Soraya
yang nabrak Nadira kok gak ada kabarin
Soraya
mampir thor
Bunda SB: terima kasih kakak 🫰
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!