Bagi kebanyakan orang, aku adalah penjahatnya. Tapi bagi seseorang, aku adalah pelindungnya.
Clara Agatha, agen pembunuh bayaran kelas kakap di organisasi Blade. Hidupnya yang monoton membuat dia tak memiliki teman di organisasi, sampai pada akhirnya penghianatan dari organisasinya membawa dia ke dalam kematian.
Clara pikir semua sudah selesai, namun dia terbangun di raga orang lain dan menjadi ibu dua anak yang di buang suaminya. Clara tak tahu cara mengurus anak kecil, dia berpikir jika mereka merepotkan.
Namun, pemikiran itu berubah saat kedua anaknya menunjukan kebencian yang begitu besar padanya. Clara merasa aneh, bagaimana bisa anak polos seperti mereka membenci ibunya sendiri? Clara bertekad untuk mencari tahu alasannya, dan menuntut balas pada suami dan juga organisasinya yang telah membuat dia mengalami kejadian menyedihkan seperti itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Aurora tengah berjongkok di depan rak pakaian anak, jemarinya menyibak deretan kaus dan jaket berwarna netral. Riven berdiri di sampingnya dengan ekspresi datar, sementara Arjuna tampak lebih antusias, sesekali menunjuk hoodie yang menurutnya keren.
"Kau mau yang ini atau yang itu?" tanya Aurora lembut, memperlihatkan dua potong pakaian pada Riven.
Riven menimbang sebentar, lalu menunjuk salah satunya. Aurora tersenyum tipis dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Arjuna sudah lebih dulu mengambil jaket hitam dengan garis abu-abu. "Mommy, yang ini cocok buat aku, kan?"
"Cocok," jawab Aurora singkat, mengangguk.
Saat Aurora hendak berdiri, tiba-tiba pundaknya ditepuk dari belakang.
"Aurora."
Sentuhan itu membuat tubuh Aurora menegang. Dia menoleh seketika, dan dalam satu detik, raut wajahnya berubah dingin.
Delvin.
Pria itu berdiri tepat di belakangnya, mengenakan setelan kasual yang terlihat mahal, dengan senyum setengah mengejek yang terpahat di wajahnya. Namun di balik senyum itu, ada keterkejutan yang gagal dia sembunyikan, seolah tidak menyangka akan bertemu Aurora di tempat itu.
"Apa kabar?" tanya Delvin, nada suaranya terdengar ringan, tetapi matanya menelusuri Aurora dari ujung rambut hingga kaki, lalu beralih pada Riven dan Arjuna.
Aurora berdiri tegak, menepuk halus pakaian di tangannya, lalu meletakkannya kembali ke keranjang. Tatapannya lurus dan dingin, tanpa sedikit pun kehangatan.
"Ada perlu apa?" balas Aurora datar.
Delvin terkekeh pelan. "Wah, rupanya kau pandai marah juga." Pandangannya beralih pada kedua anak itu. "Aku tidak menyangka kau sudah berani muncul di tempat umum bersama mereka setelah meninggalkan aku."
Riven refleks melangkah sedikit ke depan Aurora, sementara Arjuna mengerutkan dahi, menatap Delvin dengan waspada.
Aurora sudah memberi tahu anak-anaknya jika dirinya dan Delvin sudah berpisah, yang artinya kedua orang dewasa itu tidak akan pernah bisa menjadi satu keluarga lagi.
Aurora menangkap gerakan itu. Tangannya terangkat, memberi isyarat halus agar Riven tetap tenang.
Lalu dia menatap Delvin lebih tajam. "Kalau hanya ingin berkata sarkas, sebaiknya kau pergi. Aku tidak memiliki waktu luang untuk mendengarkan omong kosong darimu."
Senyum Delvin menegang sesaat. "Aku hanya terkejut. Kupikir kau akan terus bersembunyi di lubang tikus."
Aurora mendengus kecil. "Tidak semua orang hidup untuk terus terikat pada masa lalu. Sudah waktunya bagiku membuang semua tentang kita ke dalam tong sampah."
Keheningan singkat tercipta di antara mereka. Sorot mata Delvin mengeras, seakan ada banyak hal yang ingin dia katakan, tetapi tertahan di ujung lidah. Di saat yang sama, Aurora bisa merasakan ketegangan itu, seperti benang tipis yang siap putus kapan saja.
"Ayo," kata Aurora akhirnya, menoleh pada kedua anaknya. "Kita lanjut cari yang lain."
Tanpa menunggu jawaban Delvin, Aurora mendorong keranjang dan melangkah pergi, meninggalkan Delvin berdiri di tengah lorong toko dengan senyum yang perlahan memudar.
Saat Aurora berhenti di depan tempat sepatu, sosok Delvin ternyata mengikutinya sejak tadi. Aurora sadar jika pria itu belum puas dengan semua jawaban yang dia berikan.
"Kau membeli pakaian baru? Untuk apa?" Tanya Delvin basa basi.
Dia berdiri di sebelah Aurora, mengamati wanita itu dari dekat. Namun, Aurora sama sekali tidak menoleh atau merespon pertanyaannya.
"Kau tuli?" Ejek Delvin seraya merebut sepatu berwarna hitam dari tangan Aurora. "Aku sedang bicara denganmu."
Helaan napas panjang terdengar, Aurora mendongak dan menatap wajah Delvin. "Aku tak berniat bicara denganmu."
"Wah, hanya karena kau sudah menjadi pewaris lagi kau sok jual mahal, ya?"
Aurora menatap Delvin dengan tenang, tanpa emosi berlebihan, tanpa amarah yang meledak-ledak. Tatapan itu justru membuat Delvin merasa seolah sedang dihakimi tanpa kata.
Dia meraih kembali sepatu hitam dari tangan Delvin dengan gerakan pelan namun tegas.
"Tolong jangan menyentuh barang yang sedang kupilih," ucapnya datar, berkelas, seakan sedang berbicara pada orang asing.
Delvin menyeringai. "Kau berubah."
"Anggap saja begitu," balas Aurora singkat.
Riven dan Arjuna berdiri di sisi Aurora. Riven menatap Delvin dengan sorot dingin yang terlalu dewasa untuk anak seusianya, sementara Arjuna menggenggam ujung baju Aurora, seolah memastikan wanita itu tetap di sana.
Aurora menyadari genggaman kecil itu. Tangannya terulur, membalas genggaman Arjuna dengan sentuhan menenangkan sebelum kembali menatap Delvin.
"Kau bertanya untuk apa pakaian ini?" lanjut Aurora, suaranya tetap rendah dan terkontrol. "Untuk masa depan mereka. Sesuatu yang tidak lagi menjadi urusanmu."
Delvin tertawa kecil, tapi kali ini terdengar kering. "Kau selalu pandai menusuk dengan kata-kata."
Aurora menggeleng pelan. "Tidak. Aku hanya jujur. Sejak kita berpisah, batas antara hidupku dan hidupmu sudah sangat jelas. Aku menyarankan kau mulai belajar menghormatinya, jangan bersikap seenaknya setelah kau membuangku seperti seonggok sampah."
Delvin mendekat setengah langkah. "Kau benar-benar berpikir aku bisa bersikap biasa saja melihatmu seperti ini? Kau salah Aurora."
Aurora mengangkat alis tipis. "Kau menyesal, Delvin?"
Kalimat itu meluncur dengan ringan, tetapi menghantam tepat di dada Delvin. Senyum sinis di wajah pria itu perlahan runtuh, digantikan ekspresi kaku yang sulit dia sembunyikan.
"Aurora—"
"Cukup," potong Aurora, nadanya tetap lembut namun final. "Aku datang ke sini sebagai ibu, bukan sebagai mantan istrimu. Jangan paksa aku bersikap tidak sopan di depan anak-anakku."
Keheningan kembali jatuh di antara mereka. Hiruk pikuk mall seolah menjauh, menyisakan ketegangan yang menyesakkan.
Aurora lalu menoleh pada Riven dan Arjuna. "Kita ke kasir, setelah itu pulang."
Kedua anak itu mengangguk serempak.
Aurora melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Delvin. Tidak ada keraguan, tidak ada keretakan. Di belakangnya, Delvin berdiri terpaku, menatap sosok wanita yang dulu selalu dia anggap akan tetap berada di sisinya kini sudah berjalan menjauh dengan martabat yang bahkan tidak bisa dia sentuh lagi.
"Sialan! Wanita itu benar-benar songong. Aku tidak bisa menerima perlakuan ini, aku harus melakukan sesuatu," gumam Delvin seraya menyunggingkan senyum sinis di bibirnya.