NovelToon NovelToon
AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

AKU SEHARUSNYA MATI DI BAB INI

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Isekai / Menjadi NPC / Masuk ke dalam novel / Kaya Raya
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

ongoing

Tian Wei Li mahasiswi miskin yang terobsesi pada satu hal sederhana: uang dan kebebasan. Hidupnya di dunia nyata cukup keras, penuh kerja paruh waktu dan malam tanpa tidur hingga sebuah kecelakaan membangunkannya di tempat yang mustahil. Ia terbangun sebagai wanita jahat dalam sebuah novel.

Seorang tokoh yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Kun A Tai, CEO dingin yang menguasai dunia gelap dan dikenal sebagai tiran kejam yang jatuh cinta pada pemeran utama wanita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#33

Pagi datang tanpa suara. Tidak ada alarm yang berbunyi, tidak ada cahaya yang menyilaukan. Wei Li terbangun karena kebiasaan lama jam biologis yang terbentuk sejak hari-hari ia harus bangun lebih awal demi kerja paruh waktu. Matanya terbuka perlahan, napasnya tenang, tubuhnya diam selama beberapa detik sebelum ia benar-benar bergerak.

Ia menatap langit-langit. Ada sensasi aneh di dadanya. Bukan cemas, bukan takut. Lebih seperti… antisipasi yang dingin. Seperti berdiri di depan pintu yang sudah lama terkunci dan tahu, hari ini, kuncinya akan berputar.

Wei Li duduk, mengayunkan kaki ke lantai. Telapak kakinya menyentuh permukaan dingin, membuatnya sepenuhnya sadar. Ia mengusap wajah, lalu menyisir rambut dengan jari-jarinya. Gerakan kecil, pelan, tapi penuh perhatian—seolah ia sedang mempersiapkan diri untuk sesuatu yang belum terlihat.

Di dapur, kopi sudah siap. Jae Hyun duduk di meja, satu kaki disilangkan di atas yang lain, ekspresinya santai. Tapi saat Wei Li masuk, matanya langsung terangkat. “Pagi,” katanya. Wei Li mengangguk. “Pagi.” Ia menuang kopi sendiri, tidak menambahkan gula. Saat mengangkat cangkir, tangannya berhenti sebentar di udara. Ia memperhatikan getaran halus di jari-jarinya nyaris tak terlihat, tapi ada.

Tenang, katanya pada diri sendiri. Ini cuma pagi. “Anda nggak tidur nyenyak,” komentar Jae Hyun. Wei Li menyesap kopi. “Tidur, aku baik-baik aja.” Jae Hyun menyeringai. “Itu jawaban orang yang nggak tidur nyenyak.”

Wei Li melirik, lalu duduk. Ia menyandarkan punggung ke kursi, melipat tangan di dada. “Ada update?” Jae Hyun mendorong tablet ke arahnya. “Ada. Dan ini… menarik.” Wei Li mencondongkan tubuh, membaca cepat. Alisnya sedikit berkerut, lalu mengendur. Ia menggeser tablet, menatap satu grafik lebih lama.

“Dia mulai nyari pola,” katanya pelan. Jae Hyun mengangguk. “Iya. Nggak frontal, tapi jelas.” Wei Li bersandar lagi. Ia menghembuskan napas pelan, bahunya turun sedikit. “Cepet juga.”

“Dia bukan pemain kecil,” jawab Jae Hyun..Wei Li tersenyum tipis. “Justru itu.” Pintu terbuka. Kun A Tai masuk, jasnya rapi seperti biasa. Ia berhenti sejenak, memperhatikan Wei Li sebelum bicara. “Kau sudah tahu,” katanya.

Wei Li mengangguk. “Dia mulai nyadar.” Kun A Tai mendekat, berdiri di belakang kursi Wei Li. Tidak menyentuh, hanya cukup dekat untuk membuat kehadirannya terasa. “Ini bukan kebetulan lagi,” lanjut Kun A Tai. “Dia menghubungkan titik.”

Wei Li menatap layar tablet sekali lagi, lalu meletakkannya di meja. Ia berdiri, menggerakkan bahu, lalu berjalan ke jendela. “Bagus,” katanya. Jae Hyun mengangkat alis. “Bagus?” Wei Li menatap ke luar. Kota bergerak seperti biasa orang-orang berjalan cepat, mobil saling menyalip, kehidupan berlangsung tanpa peduli pada perang kecil yang sedang dimulai di lapisan lain.

“Selama ini dia nganggep aku gangguan,” lanjut Wei Li. “Sekarang dia mulai nganggep gue variabel.” Kun A Tai berkata tenang, “Variabel bisa dihilangkan.” Wei Li mengangguk. “Atau dimanfaatkan.”

Ia berbalik, menyandarkan punggung ke jendela. Tangannya masuk ke saku celana, lalu keluar lagi, seolah tidak menemukan posisi yang nyaman. “aku harus hati-hati sekarang,” katanya. “Satu langkah salah, dia bakal tau ini aku.”

Kun A Tai menatapnya dalam-dalam. “Dan kau tidak boleh terlihat.” Wei Li tersenyum kecil. “aku tau caranya jadi bayangan.”

Hari itu berjalan lambat. Wei Li memilih keluar sendirian. Tidak ke tempat rahasia, tidak ke titik aman. Ia pergi ke pusat perbelanjaan biasa tempat yang ramai, berisik, dan penuh orang yang tidak saling peduli. Ia mengenakan pakaian sederhana. Rambutnya diikat asal. Tidak ada riasan berlebihan. Ia berjalan di antara kerumunan, tangannya kadang menyentuh rak, kadang menarik ujung lengan bajunya sendiri.

Suara-suara bercampur musik dari toko, tawa anak-anak, percakapan setengah terdengar. Wei Li membiarkan semua itu mengalir melewatinya. Ia berhenti di sebuah toko buku. Rak-raknya tinggi, baunya khas kertas dan tinta. Wei Li menyusuri lorong, jarinya menyentuh punggung buku satu per satu. Gerakannya pelan, hampir malas.

'Normal' pikirnya. 'Ini yang gue mau' Ia mengambil satu buku, membukanya sebentar. Huruf-hurufnya jelas, rapi. Ceritanya sederhana. Dan di tengah semua itu, Wei Li merasakan sesuatu bukan tatapan, bukan ancaman. Lebih seperti… ketidakhadiran yang terlalu rapi. Ia menutup buku, meletakkannya kembali. Bahunya menegang sedikit.

'kau sedang diuji' katanya pada diri sendiri 'Bukan diserang' Wei Li keluar dari toko, membeli minuman dingin, lalu duduk di bangku dekat jendela. Ia menyilangkan kaki, mengaduk minuman tanpa minum. Matanya mengikuti orang-orang yang lewat. Ia memperhatikan detail kecil cara seseorang memegang ponsel, langkah kaki yang terlalu sinkron, bayangan yang muncul lalu hilang. Tidak ada yang mencolok. Dan itu justru mencolok. Ponselnya bergetar. Pesan dari Jae Hyun.

JH: Tetap santai. Jangan berubah ritme.

Wei Li membalas cepat.

WL: Udah.

Ia meneguk minumannya, dinginnya menyentuh tenggorokan. Ia menghela napas, panjang, lalu berdiri. Sore menjelang ketika ia kembali. Apartemen terasa sama seperti pagi sunyi, rapi, aman. Tapi Wei Li tahu, rasa aman itu sekarang lebih rapuh.

Kun A Tai berdiri di ruang tengah, berbicara pelan di ponsel. Saat melihat Wei Li, ia mengakhiri panggilan. “Ada apa?” tanya Wei Li.

Kun A Tai menatapnya. “Shen Yu An melakukan langkah kecil.” Wei Li mencondongkan tubuh. “Ke mana?”

“Ke lingkaran ketigamu,” jawab Kun A Tai. “Bukan ke aset. Ke orang.” Wei Li membeku sesaat. Tangannya mengepal, lalu terlepas. “Siapa?” tanyanya.

“Belum ada yang disentuh,” kata Kun A Tai. “Tapi pertanyaan sudah diajukan.” Wei Li mengusap wajahnya, jari-jarinya menekan pelipis. “Dia mengubah pendekatan.” Kun A Tai mengangguk. “Dia ingin melihat reaksimu.”

Wei Li tertawa pendek. “Sial.” Ia berjalan mondar-mandir, langkahnya cepat tapi terkontrol. “Oke. Kalo dia main orang, aku nggak bisa diem aja.” Kun A Tai menatapnya tajam. “Hati-hati.”

Wei Li berhenti. Ia menatap Kun A Tai, ekspresinya serius. “aku tau batas ku.” Kun A Tai mendekat satu langkah. “Dan aku akan pastikan batas itu tidak dilewati.” Wei Li mengangguk.

Malam datang lagi. Wei Li berdiri di balkon, udara malam menyentuh kulitnya. Ia melipat tangan, lalu membuka lagi, mengusap lengan sendiri. Di bawah, kota menyala indah, dingin, dan tidak peduli. Dunia ini nggak berubah, pikirnya. Yang berubah cuma cara gue berdiri di dalamnya. Ia menyadari sesuatu dengan jelas malam itu. Shen Yu An tidak lagi bermain untuk menang cepat. Ia bermain untuk membaca. Dan Wei Li tahu, permainan membaca adalah yang paling berbahaya. Karena sekali pola terlihat, tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Wei Li menatap jauh, matanya tajam, napasnya stabil. “kau pengin pola?” gumamnya pelan. “ok aku kasih.” Ia berbalik, masuk ke dalam. Dan di balik pintu yang tertutup itu, dua pemain sudah bersiap bukan untuk menyerang, bukan untuk kabur. Melainkan untuk saling menunggu kesalahan pertama.

1
Midah Zaenudien
bgus sih cuma si wenli ini kurg bar2 terkesan ragu dn entahlah RS x stuk d tempat
Midah Zaenudien
boleh GK alur x GK muter2 dn peran sin Wen li ini lebih bar2 rasa x geram benar dlm mengmbil keputusan bnyk yg bikin kesal
BONBON
ceritanya sejauh ini bagus tetapi bahasanya belibet kek baca nopel terjemahan. rasa baca cerita AI juga😭, mungkin bisa diedit bahasanya...
Parno Pino
masih aman tapi...
Parno Pino
baru mulai baca
Parno Pino
seruu
Queen AL
nama sudah ke china-chinaan, eh malah keluar bahasa gue. tiba down baca novelnya
@fjr_nfs: maaf ya, terimakasih untuk masukannya
total 1 replies
@fjr_nfs
/Determined/
@fjr_nfs
/Kiss/
Milkysoft_AiQ Chhi
uhuyy Mangat slalu🤓💪
@fjr_nfs: /Determined/
total 1 replies
Jhulie
semangat kak
@fjr_nfs
jangan lupa tinggalkan like dan komennya yaa ☺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!